
Aku berkata ke arah komandan dan meminta dua pedang ke arahnya. Ia tidak mengatakan apapun kecuali memberikan senjata yang kuinginkan.
Berbeda dengan lawanku dia menatapku dengan tatapan mengejek.
"Kau takut bahwa pedang milikmu akan rusak saat bertabrakan dengan tombak milikku."
"Tidak juga, yang kukhawatirkan hanyalah jika aku tidak sengaja memotong tubuhmu."
"Omong besar, level satu tetap saja level satu."
Komandan memberikan isyarat 'Mulai' dan kami berdua melesat maju.
Aku memutar kedua pedangku untuk merubah arah ujung tombaknya hingga itu melukai sedikit bahuku. Dengan mempersempit jarak aku menendang perut musuhku dengan bagian lutut hingga dia mengeluarkan suara kesakitan sebelum aku kirim terbang menjauh.
"Kau sudah menyerah, aku cuma level satu bukan?"
"Aku tidak merasa sakit."
Di saat semua orang berteriak semangat ujung tombak lawanku menciptakan lingkaran sihir yang mengeluarkan petir ke segala arah.
Rion berkata ke arahku dengan sihir telepati.
"Sihirnya memang kuat hanya saja pengendaliannya sangat buruk, ada beberapa titik sihir yang tidak merata, jadi langsung tebas ke depan."
"Baiklah jika kau bilang begitu."
Aku memosisikan kedua pedangku dalam posisi siaga, jika dia melapisi senjatanya dengan sihir maka aku juga harus melakukan hal sama, aku melapisi bilahku dengan air hingga musuhku tertawa senang.
Air merupakan pengantar listrik yang baik hingga itu hanya menguntungkan musuhku tapi hukum seperti itu tidak berpengaruh padaku.
Dihitungan satu kami melangkah maju, kuayunkan pedangku dengan gerakan putaran sementara lawanku menusuk dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Ketika mata seorang dikejutkan dengan pertarungan kami aku diam selagi menghela nafas panjang.
"Aku yang menang."
Tombak di tangannya hancur berkeping-keping dengan bunyi cukup keras.
"Tombakku."
Sementara musuhku duduk tak berdaya aku menyerahkan pedang yang kupinjam.
"Pertarungan yang baik, maaf soal tombaknya."
"Jangan khawatir aku akan memberikan gantinya yang jauh lebih baik."
Komandan itu mengatakannya cukup santai dan aku mengangguk sebagai balasan.
Harty dan Valentine berjalan ke arahku.
"Teknik barusan luar biasa."
"Telan?"
"Hanya ungkapan jadi tak perlu dihiraukan, jadi apa yang harus kami lakukan?"
"Besok pagi kau bisa datang ke markas kami, untuk sekarang silahkan nikmati malam di kota ini."
Kami hanya berjalan pergi tanpa menoleh lagi ke belakang, menyewa satu kamar di penginapan aku meregangkan tubuhku di tempat tidur.
Valentine, Harty dan Rion dalam wujud elfnya sedang berdiskusi sesuatu yang tidak ingin kuketahui, saat mereka menoleh aku sudah keluar dari jendela hingga mereka berteriak dari atas.
"Kau ingin pergi kemana?"
__ADS_1
"Aku ingin beli makanan dulu, kalian tidur duluan?"
"Jangan melarikan diri."
Aku membeli jajanan pinggir jalan kemudian duduk di kursi panjang selagi melihat pemandangan kota ini pada malam hari, di mana orang-orang masih ada yang berlalu lalang di depanku.
Aku merasakan kehadiran yang cukup misterius jadi aku mengalihkan pandanganku ke samping dan menemukan seorang gadis kecil duduk di sebelahku dengan wajah tertutup tudung coklat.
"Jangan bercanda, ada hantu."
"Apa yang kau makan itu?"
"Ini cumi bakar, kau mau?"
Tidak, kurasa hantu tidak makan cumi bakar.
"Aku tidak punya uang."
"Ambilah ini gratis."
"Kalau begitu selamat makan."
Dia mengambil semuanya dan melahapnya dengan kedua tangan.
"Aku besok akan bekerja jadi lain kali aku akan membalasnya."
"Sepertinya kau bukan hantu?"
"Aku hanya gadis kecil biasa."
Ia melepaskan tudungnya untuk menampilkan rambut merah indah.
__ADS_1
"Namamu?"
"Nibela Cronil... aku tidur di sini saat malam hari."