
Colosseum adalah sebuah tempat yang bisa orang bayangkan dengan mudah, berbentuk sebuah lingkaran area ini dibagi menjadi dua bagian.
Pertama area petarung dan kedua area penonton.
Kami duduk di kursi paling depan selagi menyaksikan pertarungan awal yang dilakukan oleh seekor monster menyerupai singa dan beruang.
Kedua makhluk itu menunjukan kekuatannya hingga pertarungan sengit tidak bisa dihindari, orang-orang tampak bersorak-sorai seolah mereka haus akan hiburan.
"Lion apa kau akan membunuh monster jika kau melihat mereka?" tanya Diona.
"Aku bukan orang seperti itu, aku hanya membunuh monster yang menyerangku atau melukai orang lain, bahkan di guild aku hanya menyelesaikan permintaan yang tidak jauh dari itu."
Sebelumnya aku mengalahkan kelinci monster tapi itu semata-mata karena jumlah kelinci sangat banyak dan sering turun ke pemukiman manusia, jika orang-orang membiarkannya begitu saja mereka akan menghancurkan lahan pertanian dan membuat manusia mengalami kerugian.
Itu semata-mata kulakukan untuk melindungi banyak orang.
Aku melanjutkan.
"Apa kau pernah memikirkannya, monster mungkin saja hidup seperti kita dan kita tiba-tiba saja membunuhnya tanpa alasan, apa menurutmu kita lebih buruk dari monster."
"Jangan-jangan kau berniat."
Aku mengangguk mengiyakan.
Alasan aku datang ke sini adalah untuk melepaskan semua monster.
__ADS_1
Monster memang makhluk mengerikan tapi ekploitasi seperti ini sudah keterlaluan, orang-orang ini memang bodoh. Jika dibiarkan begitu saja bukan tidak aneh para monster di lain waktu akan balas dendam.
Saat kusadari pemenangnya adalah beruang.
Dua orang yang merupakan penjinak mulai memindahkan monster mereka ke dalam ruang tunggu.
Bagi yang telah mati aku rasa tubuhnya akan dijual atau dimakan.
Pertandingan kembali berlanjut dan orang-orang larut dalam hal itu, sampai.
"Bam"
Ledakan terjadi di sisi bangku penonton yang lain.
Kelelawar terbang, Orc bahkan sejenis monster langkah turut berada di dalamnya.
"Mereka?"
"Monster yang melarikan diri, dibanding mereka meninggalkan temannya mereka memilih untuk kembali, apa sekarang kau mengerti bahwa monster juga punya kehidupan yang mereka pertahankan... hukum rimba memang berlaku tapi apa yang kalian lakukan hanyalah membenci salah satu ras dan membuat kalian menutup diri dari kenyataan, terlebih kalian membuat mereka marah."
Hal ini kurasa tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian di kediaman Diona ini hanya sedikit masalah yang terjadi di luar itu.
Sementara orang-orang berhamburan aku turun ke arena bersama Diona. Rion yang sepenuhnya berada dalam bentuk pedang berkata.
"Para penjaga sepertinya cukup kewalahan melawan mereka, tapi apa kau yakin akan melepaskan seluruh monster dari sini... ada kemungkinan mereka akan menyerang manusia dan membunuh mereka."
__ADS_1
"Aku hanya akan mengirim mereka ke tempat asalnya, nah Diona apa kau tahu dari mana mereka tinggal?"
"Kalau tidak salah dari dungeon suci."
"Kalian menambahkan suci di akhir tempat itu."
Diona hanya tersenyum pahit kemudian kami telah sampai di bawah Colosseum yang menjadi ruang penangkapan.
Banyak sel yang ditempatkan di sini, bahkan setelah kekacauan ini ada beberapa penjaga yang masih melindunginya.
"Siapa kau?"
Aku melompat ke udara sebelum dia menoleh ke arahku, lutut yang kutekuk menghantam wajahnya lalu menjatuhkannya ke lantai hingga keributan itu memancing penjaga lainnya.
Tanpa menggunakan pedang aku memukul mereka dan menjatuhkan mereka dengan mudah tanpa perlu membunuhnya.
Tepat saat itu seekor harimau putih mengenakan pakaian dan berdiri dengan dua kaki muncul bersama pedang besarnya.
Dia mengayunkan pedangnya ke arahku dan aku berjongkok, kemudian melompat menghindar ke belakang tepat di samping Diona.
"Manusia keparat, aku tidak akan membiarkan kalian seenaknya."
Ekpresi Diona memucat, dia menutupi mulutnya tak percaya.
"Kau bisa bicara?"
__ADS_1