
Pertarungan kembali dilanjutkan dengan aku yang menyerang sebagai pembuka, Genjitsu tampak kewalahan saat aku menggunakan dua pedang sebagai serangan.
Aku menari-nari di udara memberikan tebasan beruntun, Genjitsu menepis satu pedang sementara satu lagi menghantam bahunya, seranganku cukup keras hingga membuatnya mengerang kesakitan.
Ketika dia akan membalasku aku mengenai pergelangannya hingga pedangnya jatuh dan dengan sedikit gerakan putaran tubuhnya diterbangkan jatuh ke lantai.
Aku mengulurkan tanganku padanya.
"Kau tak apa?"
"Serangan barusan benar-benar hebat, kau pasti sudah lama berlatih."
"Tidak, Genjitsu juga sangat hebat."
Sebelum aku dipanggil ke dunia ini aku telah banyak berlatih seni pedang. wajah Wisteria memucat.
"Ke-kenapa kau menang?"
Aku menarik pipinya.
"Kau punya niat tersembunyi kah."
"Saat kau kalah kupikir aku juga akan melayangkan satu dua pukulan padamu."
"Kau."
"Kalian berdua sangat dekat, aku tidak akan menggangu lagi... silahkan nikmati perayaannya."
Genjitsu lebih dulu pergi sebelum kami berdua. Orang itu sepertinya mencoba untuk mengetes kekuatanku karena dia puas aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Mengunjungi kios-kios di jalanan utama langkahku berhenti di depan kedai ramen.
__ADS_1
"Kau ingin mencobanya?" tanya Wisteria.
"Tentu saja, aku sudah lama tidak memakan ramen."
"Kalau begitu tunggu apa lagi, cepat masuk."
Aku terkejut dengan seorang yang berada di balik kedai ini, walau dia perempuan ia mengenakan kumis palsu dengan pakaian belang-belang.
"Selamat datang di kedaiku, kalian mau pesan apa?"
"Bukannya ini kedai ramen jadi aneh jika pedagangnya menanyakan mau apa lagi pada pelanggan," ucap Wisteria.
Si penjual memainkan kumisnya sementara aku merasa perutku sakit bahkan sebelum memesan apapun.
Bagaimana pun yang menjadi penjualnya adalah dewi yang sebelumnya telah merubah dunia ini.
Perpaduannya benar-benar tidak sesuai.
Karena terlanjur datang kemari mari coba beberapa masakan yang dibuatnya.
"Untuk pertama dua mangkuk sup ramen ekstra kuah dan lobak."
"Tidak ada daging?"
"Daging sedang mahal jadi aku tidak memasukannya ke dalam mangkuk, apa mau protes, mau gelut?"
Ini pertama kalinya ada penjual yang nyebelin seperti ini.
Dia sepertinya sangat bersenang-senang dengan aktingnya.
__ADS_1
Aku memasang wajah bermasalah sementara Wisteria telah mengambil sendok untuk merasakan apapun dari pesanan miliknya.
"Mienya sangat kenyal dan juga dagingnya sangat empuk."
"Bukannya daging mahal? Kenapa di mangkuknya ada daging?" protesku.
"Kau ini protes mulu... makanlah makananmu sendiri atau mau aku ambil lagi."
Aku menghela nafas panjang lalu memakannya dengan sumpit. Kupikir dewi ini sedang mengerjaiku tapi rasanya benar-benar enak.
"Tolong tambah lagi."
"Baik."
Wisteria sepertinya menyukainya, kalau dia bisa jeli tidak ada siapapun pelanggan yang berada di sini, orang-orang di belakangku bahkan hanya berlalu lalang seolah mereka tak pernah melihat tempat ini.
Ketika Wisteria tiba-tiba tertidur aku mengirim pertanyaan pada sang dewi Amnesty.
"Jadi apa yang dewi lakukan di sini, aku tidak yakin bahwa Anda hanya datang untuk berjualan ramen."
"Haha aku hanya ingin tahu seperti apa rasanya berada di dunia ini."
"Aku jelas tidak akan mempercayainya, tolong sebutkan alasannya.... aku berfikir bahwa ada sesuatu yang terjadi di dunia ini, itu rasanya seperti dewi sedang mengawasiku dari dekat."
"Sesuai yang diharapkan dari Lion, sebenarnya dunia ini akan hancur tak lama lagi."
Mendengar itu, aku hanya menghela nafas panjang.
Aku memang berfikir sesuatu yang buruk pasti akan terjadi.
__ADS_1