
Keesokan paginya Rion berteriak.
"Celanamu basah Lion."
Wajahku memerah.
"Biar aku melihatnya dengan jelas."
"Hentikan dasar dewi sesat, gara-gara kau merayuku aku memimpikan hal aneh tentangmu tadi malam."
"Heh, sekarang kau telah memasuki tangga kedewasaan jangan khawatir aku tidak akan mengatakan apapun tentang ini. Aku bersumpah."
Aku ingin menendang dewi ini keluar tapi itu tidak sopan jadi aku menarik kerah bajunya dan membawanya seperti anak kucing sebelum menjatuhkannya di depan pintu.
"Panggil aku jika kau memerlukan bantuanku."
Aku segera menutup pintu kamarku.
Dewi ini sungguh membuat masalah.
Setelah mempersiapkan semua perbekalan termasuk sarapan, kami semua pergi ke markas para penjaga kota ini.
Di tengah perjalanan Valentine berbisik ke arahku.
"Nah Lion.. Kenapa wajah Rion sangat senang, apa ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berdua?"
"Bukan apa-apa, tidak ada yang terjadi."
"Benar Valentine, kami hanya tidur seperti biasanya."
"Ini semakin mencurigakan."
Lain kali mari tidur di satu ruangan dengan empat tempat tidur berbeda.
__ADS_1
Harty yang memegangi perut buncitnya karena baru makan pun mengatakan hal sama sampai akhirnya kami tiba di markas tersebut.
Orang pertama yang menyambut kami adalah komandan yang kemarin.
"Kalian datang juga, Nibela juga."
"Aku kebetulan bertemu dengan mereka dan sekarang kami satu party."
"Itu jauh lebih bagus."
"Ngomong-ngomong quest seperti apa yang ingin kau berikan padaku?" kataku demikian.
"Ini soal beberapa titik yang dijadikan tempat perkemahan pasukan Raja Iblis Barat, aku ingin kalian menghadapinya... aku sudah mengirim seseorang untuk mengawasinya, sepertinya setiap tempat hanya dijaga oleh satu petinggi mereka."
"Begitu."
Aku menerima kertas yang disodorkan olehnya.
"Banyak sekali."
"Di mengerti, jika begitu akan kami lakukan sekarang."
"Terima kasih, aku akan membayar kalian jika berhasil."
"Itu sudah seharusnya."
Bukan hanya kota ini saja yang menjadi target melainkan desa di sekitarnya juga.
Kami pergi ke lokasi yang ditunjukkan dari kertas yang kubawa ini. Dari atas bukit aku bisa melihat sebuah perkemahan yang dijadikan markas sementara para iblis itu.
"Paling tidak ada 100 iblis di sana," ucap Nibela.
"Mari habisi mereka Lion, perutku sudah mengecil lagi."
__ADS_1
"Seberapa banyak yang akan kau masukan ke dalam mulutmu itu."
"Sebanyak yang kubisa," jawab Harty singkat sebelum disusul Valentine.
"Mereka terlihat sangat lemah aku pasti akan menghabisi mereka."
"Aku akan bergantung padamu."
"Baik."
Rion dalam wujud pedang di tanganku berkata.
"Nibela, sebelum ibumu ditangkap ke alam dewi dia berpesan untuk tidak menggunakan kekuatan Titan bukan?"
"Iya, sepertinya aku telah melanggarnya."
Ini pasti soal jejak saat ada di hutan waktu itu.
Rion melanjutkan.
"Mulai sekarang kau tidak perlu ragu, jika itu demi melindungi dirimu atau temanmu berubah saja, ini pesan ibumu juga."
"Aku mengerti... mama, terima kasih."
"Mari bergerak ke posisi yang ditentukan."
"Baik."
Aku bersama Nibela mengambil jalur kiri sementara sisanya jalur yang lain, Nibela menggunakan belati di tangan kanannya saat dia melompat ke arah musuh yang masih belum menyadari kami, gerakannya sangat terlatih, dengan ringan dia melukai lehernya tanpa suara.
Dia jelas pembunuh profesional.
Bahkan ketika keberadaan kami diketahui dia melepaskan belatinya menusuk iblis tepat sasaran.
__ADS_1
Setelahnya aku hanya menyadari bahwa pasukan penjaga sudah dihabisi dan hanya menyisakan iblis yang ada di dalam tenda.
Valentine dan Harty juga melakukan tugasnya dengan baik. Selama penyerangan itu akulah orang yang paling sedikit membunuh.