Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 342 : Pulau Paradise


__ADS_3

Sementara pria musuhku tersenyum pahit Wisteria terlihat terengah-engah.


"Nafasku akan habis, aaah, aaah, apa yang harus kulakukan Lion? Tubuhku terasa panas."


Jika melihat ini semua orang pasti akan salah paham, aku mengalihkan pandanganku ke arah pria sarung tinju yang kembali bangkit.


Dia selalu berkata bahwa dia kuat tapi sejauh ini aku sama sekali tidak bisa membenarkan perkataannya.


Pria itu melapisi sarung tinjunya dengan api meski begitu kuciptakan sihir air berbentuk naga dan selanjutnya dia terkapar tak sadarkan diri.


Sudah kuduga sampai akhir aku tidak mengerti bagian mana dirinya yang kuat itu, aku menyembuhkan Wisteria dan dia akhirnya dapat meringkus penjahat tersebut lalu memberikannya pada pasukannya sebelum mengikutiku ke gua yang dijadikan tempat persembunyian para bandit ini.


Dari luar aku bisa melihat kedua wanita sedang dikurung di dalam jeruji besi yang terikat dengan kereta sementara untuk Ernos dia diikat ke sebuah tiang dengan wajah babak belur.


Mereka jelas harus banyak berlatih lagi sementara untuk Yukisa dia tidak boleh ceroboh lagi.


"Siapa mereka itu?" Wisteria menunjuk dua pria yang berdiri dengan santai mengatur anak buahnya.


"Mereka pemimpin bandit ini juga."


"Kenapa ada tiga pemimpin dalam satu organisasi?"


"Itu karena pada dasarnya mereka ada tiga organisasi yang saling bekerja sama."


"Aah, jadi begitu."

__ADS_1


"Tidak ada alasan untuk takut, kita hanya harus menghajar mereka dan apapun yang terjadi kita harus menghindari bola tersebut."


"Dimengerti."


"Ayo."


Tidak seperti saat kami melawan pilar dari Henos semuanya terasa mudah, aku memukul mereka tanpa harus menggunakan pedang. Akan jauh lebih baik jika aku membebaskan dulu ketiga orang yang disekap agar mereka puas untuk membalas dendam.


Dan begitu aku membantu ketiganya mereka berubah menjadi hewan buas.


"Ini untuk kampung halamanku."


"Terima seranganku juga."


Sebuah gelombang tsunami menyapu kami, tentu aku juga berada di dalamnya hingga terbawa arus.


Sungguh aku menyesal telah melepaskan mereka.


***


Itu adalah hari yang selama ini kutunggu-tunggu semenjak masalah mendatangiku secara bergantian, walau hanya membutuhkan waktu sebentar tapi bagiku rasanya perjalanan ini telah cukup lama.


Singkatnya aku telah ada di pulau paradise yang mana merupakan pulau tengah laut yang jauh dari hiruk pikuk orang-orang.


Kecuali kau memiliki izin dari Kaisar kau tidak bisa masuk ke dalam sini. Ada semacam sihir penghalang dipasang disekitar pulau.

__ADS_1


Aku menggelar tikar di atas pantai putih selagi memasang payung juga agar cahaya matahari tidak mengenai wajahku, ngomong-ngomong wajahku masih mengenakan topeng.


Kau tahu akan aneh jika aku tiba-tiba diperkosa oleh semua wanita yang ikut bersamaku sekarang, lebih baik untuk amannya aku tetap harus menyembunyikan wajahku.


Wisteria muncul selagi membawa bola di tangannya.


"Bukan hal bagus hanya berbaring seharian, mari main denganku Lion."


Aku menatap Wisteria yang mengenakan pakaian renang dari bawah sampai ke atas, kulitnya memang terlihat sangat putih.


"Jika kau menatapku seperti itu aku akan jadi malu."


Itu adalah kata-kata yang tidak pernah diucapkan Rion sampai kapanpun.


"Bukannya pakaian renangmu terlalu minim."


"Menurutku ini lebih baik dibanding mereka berdua."


Aku melirik ke arah Wisteria tunjukkan dimana Hime dan Yukisa sedang bermain air.


"Mereka berdua telanjang," teriakku.


"Mereka bilang dengan melepaskan pakaian kau bisa merasa menyatu dengan alam dan rasanya sangat bebas."


"Tolong jangan lupakan kalau aku juga pria normal di sini," kataku lemas.

__ADS_1


__ADS_2