
Bunyi dentuman logam yang bertubrukan mewarnai penyerangan ini, Kanade memenggal kepala orang yang hendak menyerangnya, menciptakan hujan darah dari potongan leher musuhnya.
Sementara itu aku menepis serangan musuh dengan dua pedang kemudian menusukan pedangku tepat di jantungnya hingga roboh, sejauh ini belum ada raksasa yang ikut campur dari perang ini namun sebagai gantinya aku melihat seorang yang lebih kuat telah muncul.
Ia seorang pria dengan rambut menutupi satu matanya, bergerak dengan tenang saat para pasukan menargetkannya sebagai musuh ia menjentikkan jarinya menciptakan lingkaran sihir lalu saat kusadari seluruh kepala pasukan yang mendekatinya meledak dahsyat diserang oleh api.
Aku memperingati para pasukan untuk mundur dan hanya akan menentangnya satu lawan satu.
"Orang ini biar aku yang melawannya Lion, kau atasi orang yang bersembunyi di dalam bangunan itu."
Aku melirik ke arah bangunan yang ditunjuk Kanade dan melihat seorang muncul di samping bangunan tersebut dengan setengah tubuhnya tenggelam.
Rambutnya menutupi seluruh wajahnya.
"Namanya Amos berhati-hatilah."
"Aku mengerti."
Aku menggunakan sihir untuk mempercepat lompatanku ke arah sosok Amos. Mengayunkan pedangku aku menebas bangunan yang digunakannya sebagai persembunyian.
"Dia bisa menghindarinya kah."
Amos bergerak sangat bebas dia bisa berpindah tempat selagi menembus benda apapun, sekarang dia berbaring di aspal seolah seperti kolam berenang baginya.
__ADS_1
Aku melompat jatuh demi mendaratkan kakiku di tanah.
"Kau benar-benar berfikir bisa mengalahkanku, itu sangatlah mustahil kekuatan sihirku adalah membuat objek apapun tidak bisa menghentikanku bahkan jika pedang itu akan sulit memotongku."
"Kita lihat saja nanti lagipula jika itu benar maka seharusnya kau tidak perlu menghindari seranganku barusan.
Dia mendecapkan lidahnya sebelum menghilang ke dalam tanah, auranya seketika menghilang dengan mudah seolah berdiri di atas danau di mana seekor predator sedang bersembunyi untuk menerkammu dari kesunyian.
Amos melompat ke luar seperti ikan selagi menebaskan pedangnya, karena kurangnya refleks dia melukai bahuku dan menghilang setelahnya.
Setiap bangunan menjadi area pertarungannya jika begitu bagaimana jika aku berada di udara.
Aku melayang ke atas namun sebelum aku tahu apa yang terjadi, Amos muncul dari udara lalu menendangku jatuh ke bawah dia bersiap mengirim ujung pedangnya yang tajam hingga aku berguling menghindarinya.
Ledakan terjadi di tempat sebelumnya aku terbaring.
"Meski kau tahu, kau tidak mungkin bisa mengatasinya."
Amos kembali menyelam.
Jika aku tidak tahu keberadaannya di mana hanya perlu menghancurkan sekelilingku saja, aku mengayunkan pedangku ke segala arah menciptakan bilah-bilah angin yang memotong apapun di sekelilingku.
Setiap bangunan dan tanah terbelah menjadi dua bagian, memaksa Amos tidak keluar dari sekelilingku.
__ADS_1
Saat dia tidak mendekat hanya satu yang bisa dia lakukan yaitu jatuh dari atasku, aku menengok ke arah langit di mana Amos bersiap menusukan pedangnya dari atas.
Dengan posisi itu dia akan menyerangku dengan cara tiba-tiba, sayangnya aku telah menyadarinya.
Aku menghindarinya dengan sangat tipis, saat dia berusaha ingin menghilangkan keberadaannya. Aku menarik kakinya.
"Apa?"
"Persyaratan sihirmu kau harus menyentuh tanah atau bangunan bukan untuk bisa melewati dimensi lain, saat serangan sebelumnya kau seharusnya bisa menghilang di udara agar lebih efektif menyerang musuhmu tapi sayangnya kau tidak bisa melakukannya."
"Kau menyadarinya?"
"Mudah saja bagiku, sekarang... selamat tinggal."
"Gyaaaaah."
Aku melempar kembali sosok Amos ke udara.
Kemudian meluncur ke arahnya selagi menebaskan dua pedangku, memotongnya menjadi dua bagian sebelum mendarat dengan baik di bawah.
Aku sempat kehilangan keseimbanganku namun Rion dan Aira segera memegangiku.
"Sepertinya aku terlalu memaksakan diri."
__ADS_1
Bertarung dengan jangka panjang benar-benar melelahkan.
Aira dan Rion hanya tersenyum sebagai balasan.