Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 108 : Titan 70 Meter


__ADS_3

Aku melesat ke arah sosok yang menyebut dirinya Rumia, selagi membawa pedangku aku menciptakan sepuluh bayangan diriku untuk mengecohnya.


"Seorang dari dunia lain yang menjanjikan," katanya demikian.


Dengan santai Rumia menciptakan banyak lingkaran sihir di atas kepalanya yang mana masing-masing dari mereka menembakan bola api bahkan tubuhku yang asli harus terbang ke belakang.


"Dulu manusia mengambil tanah kami dan membuat tembok-tembok tinggi untuk membuat para ras Titan tidak bisa masuk, namun kami beradaptasi hingga kami bisa membentuk tubuh kami jadi seperti manusia, saat itu kami hampir menang sayangnya dewa-dewi turun dan menghancurkan semuanya tapi sekarang berbeda... kami telah mempelajari sihir bahkan jika harus melawan mereka kami akan menang."


"Lebih baik kau hentikan."


"Hentikan? Itu sungguh konyol, sebelum umat manusia punah kami tidak akan pernah berhenti."


Rumia mengulurkan satu tangannya dan berkata.


"Inferno Hell."


Api raksasa menyembur ke arahku, aku pun menggunakan pedang untuk menahannya namun sebagai dampaknya tubuhku menabrak dinding.


"Guakh."


"Kizuna, kau baik-baik saja?" tanya Charlotte.


"Aku tidak masalah, orang ini jelas sangat kuat bahkan hanya dalam wujud manusia."


"Ini masih pemulaan."


Sekarang Rumia menyerangku dari depan, dia mengirimkan tinju dan tendangan yang semuanya kutangkis dengan pedang.


Bagi Titan melawan senjata dengan tangan kosong bukan sesuatu yang mustahil.


Aku menebaskan pedangku menciptakan bilah angin yang meluncur dengan kecepatan tinggi.


"Shield."


Bilah itu langsung menghilang hanya dengan sebuah pelindung sihir. Sebagai serangan balasan aku dikirim kembali dengan sihir api hingga lagi-lagi darah keluar dari mulutku.


"Orang ini sangat kuat Kizuna, lebih baik gunakan kesempatan ini untuk melarikan diri, kita tidak perlu terlibat dengan ini semua."


"Sudah waktunya untuk mengakhiri ini," potong Rumia.


Rumia menciptakan lingkaran sihir yang lebih besar, saat dia selesai merapal sosok naga api menyeruak dan mengincar ke arahku.

__ADS_1


Sebelum aku bisa tertahan dua sosok muncul untuk melindungiku, dia adalah Rose dan Nia.


"Kalian berdua?"


"Anggap saja ini sebagai penebusan kami."


Keduanya hancur menjadi butiran roh dan menghilang seutuhnya.


"Mereka berdua."


"Mereka tidak mati, mereka akan muncul lagi setelah ratusan tahun sampai pembentukan tubuh mereka kembali sedia kala."


"Dasar roh pengganggu, tapi serangan berikutnya akan bisa membunuhmu."


Saat Rumia hendak melancarkan serangan kedua, sosok pria yang belum pernah kulihat muncul di atas atap hingga menghentikannya.


Dia memiliki rambut pirang dengan dua pedang di tangannya.


"Bagaimana jika aku juga ikut bertarung, spesialisku membunuh Titan."


"Kau?"


"Bilang pada atasanmu itu, jika kalian tidak menyerah kalian akan mati."


"Arogan sekali, kau yang menantang pemimpin kami waktu itu bukan."


"Namaku Ryker, ingat itu."


Dia melompat jatuh ke bawah tertuju pada Rumia, ini jelas kesempatan jadi aku meluncur ke depan bersiap menebasnya.


Tubuh Rumia seketika mengeluarkan asap.


"Akan kutunjukan kenapa ras Titan disebut ras yang setara dengan para dewa."


Sebelum serangan kami mengenainya sebuah ledakan angin tercipta membuat kami berdua terlempar jauh ke belakang, di saat asap mengepul ke udara, Rumia telah berubah menjadi sosok raksasa setinggi 70 M dengan tubuh diselimuti Zirah Besi.


Dia mengambil tanah dengan tangannya lalu memandatkannya dengan sihir sebelum melemparkannya ke arahku, tanpa terduga Ryker membawaku dengan gendongan putri selagi melompat ke sana kemari.


"Lebih baik kita mundur saja, akan merepotkan jika terus melawannya, terlebih pasukan bantuan dari kerajaan ini akan datang."


"Ah, iya."

__ADS_1


Beberapa meriam yang ditempatkan di atas benteng mulai menembaki sosok Rumia dari segala arah, bahkan senjata itu tidak bisa menghancurkan zirah pelindungnya.


Sebagai balasan dia mengambil tanah seperti sebelumnya lalu melemparkannya untuk menghancurkan meriam maupun tembok dengan mudah.


Apa benar kami bisa mengalahkan makhluk seperti itu.


Ryker menurunkanku di luar kota.


"Kurasa sudah aman."


"Terima kasih."


"Jaga dirimu baik-baik."


"Tunggu sebentar Ryker, namaku Kizuna sepertinya kau tidak memihak pihak kerajaan... siapa kau?


"Aku merupakan mantan ketua penjaga, sekarang aku bergabung dengan salah satu aliansi yang ingin membuat dunia ini lebih damai."


"Apa ada orang seperti itu?"


"Kau mungkin tidak menyangkanya tapi pemimpin kami adalah utusan dewi jahat, aku datang ke sini juga disuruh olehnya untuk menyelamatkan elf yang ditahan, sepertinya aku sudah banyak bicara... selamat tinggal."


Utusan dewi jahat memikirkan soal kedamaian adalah sesuatu yang aneh tapi aku ingin melihatnya secara langsung.


"Tunggu sebentar, aku juga ingin bergabung."


"Aku tidak yakin, kau mungkin mata-mata."


Charlotte menyela.


"Atas nama ratu roh aku menjamin dia mengatakan sesungguhnya."


"Ratu roh kah? Hingga sejauh itu."


"Aku tahu di mana para elf dikurung, kau pasti membutuhkan bantuanku."


"Baiklah, tapi jika kau berkhianat aku sendiri yang akan membunuhmu."


"Aku tidak akan melakukannya."


Dengan ini aku bisa mengambil jalan berbeda.

__ADS_1


__ADS_2