
Setiap makhluk hidup selalu terikat dengan sebuah pilihan yang menentukan takdir mereka.
Misal saat seseorang dihadapkan dengan dua jalan berbeda, apa yang akan mereka pilih? Kiri atau kanan? Dan apa yang akan mereka temukan di saat mereka memutuskan.
Hal itu juga yang terjadi dengan kemampuan Solo, saat dia menemukan bermacam-macam pilihan dia pertama akan memilih rute pertama, setelah dia selesai dia menyadari bahwa rute itu sulit dan lalu kembali ke titik awal pilihannya hingga membuat sebuah alur waktu sebelumnya yang bisa kita sebut x.
Di percobaan kedua dia memilih rute kedua, ketika mencapai akhir dia memutuskan untuk kembali lagi ke pilihannya dan itu menjadikannya rute y.
Ia terus mencobanya dan membuat rute lainnya menjadi z.
Pada akhirnya garis waktu yang seharusnya memiliki satu jalur kini berubah menjadi tiga jalur x+y+z\=0 lalu bagaimana agar jalur itu kembali sedia kala tanpa membuat lintasan paradox, jawabannya sederhana, dengan menyatukannya menjadi satu tanpa menghilangkan dirinya satu sama lain dan merubah hukum dunia di mana bahwa Solo sebenarnya ada tiga orang.
Itu juga terbatas dengan jumlah yang mereka buat.
Enam orang bernama Solo dengan wajah serta berpenampilan sama berdiri di atas bangunan hancur tanpa melakukan apapun. Jika mengasumsikan jumlahnya kemampuannya memiliki batasan di enam pilihan dan enam takdir yang berbeda.
Jika aku membunuh satu orang maka orang lain akan menciptakan pilihan baru untuk memunculkan Solo lainnya, hal yang harus kulakukan agar bisa mengalahkannya adalah dengan mengalahkan mereka secara bersamaan.
Orang ini jelas lebih kuat bahkan dariku atau Priest agung yang dia layani, orang ini mempunyai kemampuan cheat setara dewa.
__ADS_1
"Kau tidak mau menyerang, maka aku yang akan maju."
Solo bergantian menyerangku dengan senjata mereka, aku menepisnya meski begitu melawan enam bukan sesuatu yang mudah. Gerakan pedang kilat mereka sulit diprediksi hingga aku harus terlempar ke sana kemari dengan wajah babak belur.
Rion yang ikut bertarung dalam wujud pedangnya tampak bosan.
"Berhentilah bercanda, cepat habisi orang ini."
"Bicara memang enak sayangnya tidak ada sihir yang bisa kulakukan, semuanya tersegel."
Aku melihat kembali ke atas dan sebuah lingkaran sihir telah muncul di sana, lingkaran sihir yang sama seperti sebelumnya... 12 lingkaran sihir suci Algoritma, tidak. Mungkin sedikit berbeda.
Menghindarinya cukup sulit karena itu aku menerimanya tanpa membiarkan organ vitalku terkena juga selagi mengirim serangan balasan.
Mereka sama kuat sesuai dugaanku.
Sebelum ledakan sihirnya dijatuhkan aku harus segera menyelesaikannya.
Kuciptakan sebuah tanaman dari Magic Tree milikku mereka menjalar layaknya sebuah tentakel yang mengikat seluruh pergerakan mereka.
__ADS_1
Mengangkatnya ke udara lalu membanting satu persatu ke tanah dengan bunyi dentuman keras.
Aku memang tidak bisa menggunakan sihir di luar karena tertimpa langsung oleh 12 lingkaran sihir namun sepertinya aku bisa membuat sesuatu di dalam tanah tanpa terganggu.
Dari asap yang mengepul sosok Solo berlarian keluar untuk menghindari penggunaan Magic Tree. Mereka menambahkan cahaya di ujung senjata mereka untuk menusuk setiap tanaman yang kubuat menjadi sebuah ledakan kecil.
Satu Solo meluncur terbang ke arahku.
Aku memiringkan pedangku untuk menahannya kendati demikian itu meledak melemparkanku sejauh beberapa meter ke belakang, belum berhenti di sana Solo yang lain muncul di belakangku tanpa terduga.
Di udara aku tidak bisa menghindar jadi yang bisa aku lakukan menerima tendangannya dan membiarkan tubuhku menembus beberapa rumah dengan rentetan kehancuran menyertainya.
"Astaga Lion, mereka menghajarmu sampai babak belur... sepertinya lingkaran sihir di atas kita memberikan kekuatan padanya dan menyegel kekuatan musuh."
"Dari awal itu lebih masuk akal, jika dia meledakan kita, dia juga akan terkena bukan."
Keenam Solo berjejer di depanku sekali lagi aku melirik ke atas langit.
Sebelumnya Rion berkata bahwa sihir ini dibuat melalui 500 orang yang berdoa secara bersamaan, jangan bilang mereka ada di sisi lain kota.
__ADS_1