Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat

Terpanggil Ke Dunia Lain Oleh Dewi Jahat
Chapter 414 : Alteira


__ADS_3

Lantai 95 merupakan area gunung merapi, untuk melewatinya kami harus berjalan di sebuah batu kecil yang memiliki tingkat kesulitan tinggi, terlebih burung api keluar dari lahar yang lalu menyerang kami secara serentak.


Aku menggunakan sihir air untuk menyerang mereka dan itu cukup efektif dilakukan, yang lainpun melakukan apa yang telah mereka kuasai, singkatnya kami selalu berkerja sama dan saling membantu dalam setiap lantai.


Dengan sedikit perjuangan aku akan mengatakan bahwa ini adalah lantai 99 Labirin Besar.


Farida dan Siel bersujud rendah selagi menciumi lantai tanah.


"Mereka pasti sangat kewalahan," ucap Valentine yang mana membuatku mendesah pelan.


Sebenarnya Valentine juga sudah kesulitan bahkan sekarang dia tidak mengenakan alas kaki dan gaun barunya sobek di sana sini.


Harty dan Livia juga mengalami hal sama, jika menghitung keseluruhan dari awal kami masuk sampai sekarang kami jelas sudah berada di sini lebih dari dua bulan.


Aku jelas merindukan semua orang di kerajaan.


Livia datang setelah mengecek sekeliling lantai 99 yang sudah bebas dari monster.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya Anda harus melihat ini?"


Kami dibawa ke sebuah semak-semak yang rimbun dan saat itu dibuka tampak sebuah altar berdiri di sana, altar itu memiliki pola hexagon dengan beberapa pilar mengelilinginya.


"Ini adalah altar untuk teleportasi ke luar labirin," atas pernyataanku semua orang tampak senang.


"Jika begini kita tidak perlu kembali turun ke bawah, syukurlah," ucap Harty demikian.


"Sepertinya kau sangat senang."


"Aku ingin makan daging sebanyak-banyaknya."


"Mari temui pemilik labirin ini Livia."


"Baik tuan."


Kami naik ke lantai 100 di mana seluruh area di sini dipenuhi tanaman merambat, di depan kami tampak duduk seorang wanita dengan rambut hijau serta mengenakan gaun yang seutuhnya dibuat dari dedaunan.

__ADS_1


Namanya adalah Alteira.


Sihirnya mirip Magic Tree milikku namun itu lebih kepada kemampuan sihir dibandingkan berkah dewi seperti yang kumiliki.


"Tak kusangka Clarisa meminta seseorang untuk mengambil batu bintang kembali, padahal sebelumnya dia selalu bernegosiasi denganku, terakhir kali dia memberikanku pengetahuan yang kuinginkan."


Alteira adalah salah satu titan yang hidup di pulau bersama Julie, namun seiring Julie membawa manusia dia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pulau lalu mengurung dirinya sendiri di sini.


Awalnya di sini tidak kota namun seiring waktu para petualang mulai berdatangan dan guild akhirnya terbentuk.


Bagaimanapun dengan labirin yang memberikan banyak kekayaan mereka jelas tidak akan melewatkannya untuk membuat peradaban.


"Ada kesalahpahaman, aku tidak disuruh olehnya aku sendiri yang menginginkannya, aku tidak berniat untuk mencampuri apa yang kau lakukan demi rumahmu ini... yang kuinginkan hanyalah batu bintang di belakangmu lalu kami akan pergi... lagipula kaki tanganmu sudah tidak ada, jadi cara licik seperti itu tidak bisa dipakai lagi."


"Itu memang cara licik, kedepannya kurasa aku juga tidak ingin menggunakannya lagi, akan lebih baik mengirim monsterku untuk keluar dari sini dan memburu manusia."


Livia bergerak maju tanpa menjauhkan tangannya dari pedangnya.

__ADS_1


"Kau cukup arogan untuk seekor monster yang bisa bicara, apa tempat ini sebegitu pentingnya bagimu."


"Sudah jelas, hanya tempat ini satu-satunya yang kumiliki. Dengan mengambil mana orang-orang kuat maka labirin ini akan semakin berkembang dan semakin kokoh... tanah kelahiranku telah direbut manusia kemudian para dewa dewi itu malah mendukung mereka, aku hanya seseorang yang telah kehilangan rumahnya. Kecuali di sini aku tidak memiliki tempat lainnya."


__ADS_2