
Selepasnya aku diantar Aira dan Rion ke sebuah gerbang berbeda, aku sempat menanyakan ujian seperti apa yang akan kudapatkan namun keduanya menggelengkan kepala secara kompak.
Bukan mereka tidak ingin memberitahukanku akan tetapi keduanya benar-benar tidak tahu, tergantung siapa yang memasukinya ujiannya akan berbeda.
Aku membulatkan tekadku saat pintu terbuka lalu melangkah masuk ke dalam sebuah kegelapan, seolah ditarik sesuatu yang tak terelakan sensasi rasa sakit menerkam kepalaku.
Tubuhku terasa berat dan mual seolah kesadaranku telah direnggut seutuhnya dari dunia ini.
Semuanya gelap gulita, aku melihat setitik cahaya yang perlahan mulai bersinar, saat aku menyadarinya sebuah suara terdengar dari sampingku.
"Selamat pagi tuan muda, kini sudah waktunya Anda bangun."
Aku membuka mataku dan menemukan deretan wanita mengenakan pakaian pelayan telah menungguku di kamarku. Mereka semua membungkuk ke arahku dan aku membalas dengan nada setengah tidur.
"Pagi."
"Sekarang jadwal anda untuk masuk sekolah, kami sudah menyiapkan seragam SMA tuan."
"Begitu, aku akan mengenakannya sendiri kalian tunggu saja diluar."
"Kami mengerti."
Aku memegangi kepalaku seolah ada sesuatu yang kulupakan namun aku tidak tahu apa itu, untuk sekarang aku hanya harus bergegas mandi ke sekolah.
Aku menutup seragamku dengan Blazer dan merapikan rambutku sebelum memasang anting di telinga kiriku. Saat aku keluar aku akan menemukan dua wanita muda yang akan menemaniku kemanapun aku pergi.
"Karena masih ada kesibukan nyonya dan tuan besar akan pulang besok pagi."
"Begitu."
__ADS_1
Aku duduk di meja makan dan dua pelayanku dengan senang menyiapkan berbagai hal untukku, salah satunya mengoleskan madu di atas roti dan satu lagi menuangkan susu di gelasku.
Hanya perlu beberapa menit saja untuk menghabiskannya sebelum aku berangkat ke sekolah. Hampir seluruh hal memang dikerjakan oleh pelayanku hingga rasanya semuanya terasa membosankan.
Aku duduk di kelasku seperti biasanya tanpa mengundang siapapun untuk berbicara, aku yakin hari ini akan sama seperti sebelumnya.
"Yo Lion, kita akan bertanding sepak bola melawan sekolah lain kau ingin ikut, kami perlu satu orang lagi?"
"Kau mengajakku?"
"Tentu saja, bukannya kita berteman... kita juga sekelas."
"Apa yang kalian bicarakan?"
Seorang gadis tiba-tiba muncul di dekatku, dia memiliki rambut pirang yang diikat sanggul. Wajahnya lebih kearah Eropa dibanding Asia.
Jika tidak salah namanya Gracia.
"Jangan seenaknya mentang-mentang cewek aku tidak bisa berbicara dengan cowok."
"Topik pembicaraan kami ke arah seksual, apa kau masih mau bergabung?"
"... hii.. apa yang kalian bahas? Aku tidak ingin mendengarnya."
Dia pergi dengan wajah merah.
"Pokoknya Lion kau harus ada dilapangan sekolah nanti."
"Akan kuusahakan."
__ADS_1
"Baiklah, sampai nanti."
Aku bertanya ke arah pelayanku.
"Apa mereka berencana menghajarku nanti?"
"Saya meragukannya tuan, kami berdua sudah terlatih dalam ilmu bela diri bahkan jika seluruh sekolah ini menyerang kami, kami bisa mengalahkannya."
"Kurasa begitu, aku pasti akan tahu nanti."
Selepas bel sekolah Gracia muncul dari pintu, aku biasanya membiarkan temanku lebih dulu pergi sebelum aku tapi rasanya aneh bahwa ada seseorang yang menungguku.
Dia menundukkan kepalanya sebelum menatapku penuh tekad.
"Lion sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu."
"Padaku?"
"Itu.. sejak aku bertemu denganmu, aku selalu memperhatikan dirimu, jadi... maukah kau menjadi pacarku?"
"Eh?"
Salah satu pelayanku berbisik di telingaku.
"Bukannya ini bagus tuan muda, tuan selalu bilang suka dengan Gracia."
"Apa aku pernah bilang begitu?"
"Benar."
__ADS_1
Aku benar-benar tidak tahu, ada sesuatu yang hilang dari ingatanku tapi aku tidak tahu apa itu?
Yang bisa kulakukan hanyalah mengangguk memberikan persetujuan.