
Aku dan Karina berbagi selimut bersama di atas ranjang, dia berteriak imut dengan nafas yang terengah-engah dan aku benar-benar tidak ingin melakukannya sekarang, namun pikiran dan perbuatanku jelas bertolak belakang.
Kami sudah menikah dan dia mengajakku ke kediaman sementara di istana.
"Sudah selesai, kita tak melakukannya lagi?" tanyanya gelisah.
Dia mirip sekali dengan istriku yang lainnya.
"Kami harus segera pergi ke pulau Siren jadi cepat pakai bajumu."
"Sayang sekali, yah... lain kali kita bisa melakukannya lagi."
Karina mengenakan kembali pakaian dalamnya kemudian menutupnya dengan jubah pendeta, dia juga sedikit merapikan rambutnya yang acak-acakan. Aku bisa membayangkan reaksi para istriku nanti.
"Lion menikah lagi, mari buat pesta besar-besaran."
"Kita juga harus meminta uang bulanan kita ditambahkan."
"Aku setuju dengan uangnya."
Mereka pasti akan mengatakan itu, ucapkan selamat tinggal pada uangku yang akan keluar jauh lebih banyak nantinya.
"Aku sudah selesai Lion, mari pergi."
"Baiklah."
Aku juga sudah mengenakan pakaianku dan kami menemui Hualing dan Harty di perahu yang kami tinggalkan.
"Kalian sudah pergi dua jam loh."
__ADS_1
"Maaf membuat kalian menunggu, mari pergi sekarang."
"Kau baik-baik saja Karina?" tanya Hualing dan ia tersenyum sebagai balasan.
"Aku tidak ingin tahu bagaimana kalian tadi melakukannya."
Kami berlayar kembali hingga dua hari berikutnya kami telah sampai di pulau yang kami tuju. Pulau itu hanya berukuran kecil dengan penuh bebatuan, jelas tidak ada siapapun yang tinggal di sana.
"Apa peta ini salah?"
"Tidak, Livia dan Alteira sangat teliti dengan informasi... mereka tidak akan mungkin salah... ini memang pulau Siren, mungkinkah."
Aku meminta Hualing untuk turun ke bawah air setelah beberapa saat kepalanya keluar dari sana.
"Ada sebuah kota di bawah air," katanya.
"Bagaimana sekarang Lion, kita tidak bisa masuk ke dalam sana."
"Biar Harty dan Hualing saja yang masuk ke dalam sebagai perwakilan."
"Mustahil, mustahil, aku tidak pandai bernegosiasi," balas Hualing dan Harty memotong.
"Aku saja, aku pandai bernegosiasi."
"Tidak, tidak, jika kau yang melakukannya maka akan terjadi perang dunia setelahnya."
"Kenapa tidak?"
Naga memang kuat tapi mereka lebih sering mengandalkan otot.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku saja?"
"Karina, apa kau Siren juga?" ucap Harty.
"Tentu saja bukan, tapi aku bisa membuat pelindung di sekitarku dan masuk ke dalam air.. jika sendiri aku bisa melakukannya cukup lama."
Aku mengangguk mengiyakan dan akhirnya mengirim Hualing dan Karina untuk masuk.
Kita hanya menunggu mereka, beberapa menit kemudian mereka telah muncul kembali. Aku menaikan Karina ke dalam perahu lalu mendarat ke pulau dengan bebatuan tersebut.
Dari dalam air seekor wanita Siren melompat lalu duduk di atas salah satu batu, dia mengenakan mahkota di kepalanya jadi mari sebut saja Ratu Siren.
Sementara Hualing muncul dengan dua kakinya Ratu Siren berkata.
"Aku dengar bahwa kau menawarkan tempat tinggal pada kami."
"Itu benar, aku harap kalian mau menerimanya."
"Tapi apa kau tahu alasannya kenapa kami malah memilih tempat yang jauh dari semuanya di sini?"
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban dan ia melanjutkan.
"Kami para Siren sering ditangkap oleh manusia untuk dipekerjakan sebagai budak, apa kau yakin bahwa manusia tidak akan melakukan hal itu lagi pada kami?"
"Tentu saja, lagipula aku rajanya aku akan melindungi siapapun rakyatku, terlebih di sana kebanyakan bukan dihuni manusia."
Ratu Siren memiringkan kepalanya.
"Tolong ceritakan semuanya padaku."
__ADS_1