
Dalam perjalanan menuju wilayah neraka wajah Xiao Ziya tampak sangat cemas, dia sangat khawatir pada kondisi ayahnya saat ini untuk itu ia harus segera menemukan daun peri itu. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkannya walaupun harus bertarung dengan Xiliu untuk mendapatkannya.
Raja Richel yang masih berada di dalam cincin semesta milik Xiao Ziya merasa tak asing dengan daun peri, namun ia tak ingat dimana ia menemukan tumbuhan itu. Sepertinya sebagian ingatan Raja Richal menghilang akhibat terlalu lama terkurung disalah satu paviliun yang ada di Akademi Kekaisaran.
Tak lama kemudian akhirnya Xiao Ziya tiba di wilayah neraka, Xiao Ziya meminta Zier untuk masuk kembali kedalam cincin semesntanya. Setelah itu Xiao Ziya berjalana masuk. Para penjaga gerbang masuk wilayah neraka menyambut kedatangan Xiao Ziya dengan hangat, gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman.
Setelah itu Xiao Ziya melesat dengan cepat agar bisa segera sampai di istana neraka, hal yang dilakukan Xiao Ziya tentu saja membuat beberapa orang merasa heran, apalagi para penjaga gerbang masuk wilayah neraka, biasanya gadis itu akan menjawab dengan ramah.
"Apa yang terjadi pada ratu muda?." tanya seorang penjaga yang merasa keheranan dengan sikap junjungan mereka hari ini.
"Mungkin ratu sedang terburu buru, apakah kau tak bisa melihat raut wajah gelisah yang nampak jelas." jawab penjaga gerbang yang lain.
Xiao Ziya telah sampai di istana neraka, iya masuk dan langsung berjalan menuju ruang kerja milik Raja Artur. Entah mengapa Xiliu masih ada di sana apakah dia tak memiliki rumah atau bagaimana yang jelas Xiao Ziya sedikit tidak suka dengan kehadirannya.
"Wah wah ternyata gadis nakal ini datang menemuiku, ada perlu apa hingga kau terburu buru seperti itu." tanya Raja Artur sambil tersenyum untuk menggoda Xiao Ziya, mungkin ia tak tau jika gadis itu sedang kesal. Namun Xiao Ziya berusaha untuk menahan amarahnya, bagaimanapun ia memerlukan bantuan dari kakek tua yang ada di depannya itu.
"Apakah Yang Mulia Raja Artur tau dimana daun peri tumbuh?." tanya Xiao Ziya dengan nada bicara yang sedikit kesal.
Mendengar gadis itu menyebut tentang daun peri membuat Raja Artur dan juga Xiliu merasa terkejut, darimana gadis itu tau tentang keberadaan daun tersebut.
"Mengapa kau menanyakan soal itu?." tanya Raja Artur yang ingin tau alasan Xiao Ziya menanyakan tentang daun peri.
"Ayahku sedang sekarat sekarang tak banyak waktuku, beritau saja dimana daun itu aku akan membalas budimu itu nanti, dan cepatlah jangan membuatku menunggu terlalu lama." ucap Xiao Ziya yang semakin cemas karna kondisi ayahnya benar benar sangat parah.
Raja Artur terlihat sedang berfikir sejenak kemudian ia melihat kearah Xiliu setelah itu Raja Artur tersenyum dengan gelagat yang sangat mencurigakan. Melihat tingkah laku dari kakek tua yang ada di hadapannya itu membuat Xiao Ziya ingin menenggalamkannya di rawa rawa, mengapa Raja Artur sangat tidak mengerti bahwa saat ini Xiao Ziya sedang kejar kejaran dengan waktu.
"Benarkah kau akan membalas budi untuk hal ini?." tanya Raja Artur yang memastikan Xiao Ziya akan menepati kata katanya ataupun tidak.
"Nyawa ayahku bukanlah mainan yang bisa kubuat menjadi bahan bercandaan." jawab Xiao Ziya dengan tegas dan mata yang tajam.
Lalu gadis itu melihat ke arah Xiliu seinggatnya pria tua itu berasal dari dunia peri pastinya ia tau dimana daun peri berada.
"Cepatlah waktuku tidak banyak." ucap Xiao Ziya yang semakin mendesak dan tak ingin bersabar lagi.
Akhirnya Raja Artur menganggukkan kepala dan beecerita pada Xiao Ziya bahwa daun peri adalah sebuah tanaman ajain yang hanya tumbuh di dunia peri, tanaman itu sangat langka dan saat ini hanya ada di istana peri saja. Untuk mendapatkannya bukanlah hal yang mudah karna saat ini ratu dunia peri sedang tak ingin bertemu dengan siapapun.
Mendengar cerita dari Raja Artur membuat Xiao Ziya menghela nasfasnya sejenak, ia hanya bisa berharap semoga ayahnya masih bisa bertahan hingga ia bisa menemukan daun peri tersebut.
"Baiklah antar aku kesana, akan kulakukan apapun untuk mendapatkan daun peri itu." ucap Xiao Ziya, gadis itu terus memaksa Raja Artur untuk mengantarnya menuju dunia peri.
__ADS_1
Namun sayangnya Raja Artur ada urusan lain yang tak dapat ditunda sehingga ia meminta pada sahabatnya yaitu Xiliu untuk mengantar Xiao Ziya ke dunia peri. Itu sebuah pilihan yang sangat bagus karna Xiliu berasal dari sana.
"Baiklah aku akan membantu penerusmu ini, namun jika ia gagal mendapatkan daun itu karna ratu tidak setuju aku tak bisa membantunya." ucap Xiliu yang menyanggupi permintaan dari Raja Artur.
Xiao Ziya dan Xiliu pergi menuju sebuah ruangan disana ada sebuah batu sihir yang digunakan sebagai alat teleportasi, akan memnutuhkan waktu yang lumayan lama jika mereka hanya berjalan, terbang, ataupun menggunakan ilmu meringankan tubuh saja, lagipula Xiliu tak bisa ilmu meringankan tubuh sehingga mereka menggunakan batu sihir.
"Baiklah pengang tanganku nona, dengan batu sihir ini kita akan segera sampai ke dunia peri." ucap Xiliu yang menggenggam tangan Xiao Ziya dengan erar kemudian mereka berdua menyentuh batu sihir itu bersama sama.
Suatu pengalaman baru bagi Xiao Ziya berpergian menggunakan batu sihir, ia seperti melewati dimensi ruang dan waktu hal yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan.
"Apakah ini pertama kali bagimu?." ucap Xiliu yang mulai sedikit terbiasa dengan sikap menyebalkan dari Xiao Ziya.
"Iya ini pengalaman pertama untukku." ucap Xiao Ziya yang tak mampu menutupi rasa senangnya itu.
Tak lama kemudian mereka sampai disebuah hutan yang sangat lebat, anehnya pohon pohon yang ada di sana memiliki warna yang sangat beragam. Xiao Ziya tak henti hentinya merasa kagum.
"Apakah ini yang dinamakan dunia peri?." tanya Xiao Ziya dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaska.
"Iya kita telah sampai di dunia peri, sebaiknya kita harus bergegas meunu istana peri." ucap Xiliu yang memimpin jalannya.
Sepanjang perjalan banyak hal hal baru yang dilihat oleh Xiao Ziya, dunia peri benar benar menakjubka. Perjalanan menuju istana peri memanglah sedikit lama, dengan wilayah yang sangat luas dan hanya ada satu kerajaan yang memimpin.
"Bukankah itu tuan Xiliu mengapa ia berjalan bersama manusia." ucap salah satu peri yang melihat Xiliu yang sedang berjalan dengan gadis kecil.
"Apakah dia akan melakukan pemberontakan yang dibantu oleh para manusia?." tanya peri lainnya yang memandang tak suka ke arah mereka berdua.
Sedangkan Xiao Ziya yang mendengar semua itu hanya diam sambil memasang ekspresi dinginnya, ia benar benar tak peduli dengan ocehan para peri itu. Yang terpenting baginya saat ini adalah meyakinkan Ratu Peri untuk memberinya beberapa lembar daun peri. Xiao Ziya sudah berencana jika tidak bisa menggunakan cara halus maka ia akan menggunakan cara kasar.
Akhirnya mereka berdua sampai di depan istana yang menjulang tinggi dengan warna biru dan ungu yang mendominasi. Banyak batu permata yang dijadikan hiasan maupun penyangga bangunan. Xiao Ziya hanya memandang semua kemewahan itu dengan datar, jika manusia lain yang melihatnya pasti mereka akan sangat bernafsu untuk mendapatkan semua itu. Namun hal itu tak akan terjadi pada seorang Xiao Ziya yang memiliki gunungan koin emas dan juga permata, gadis itu juga bingung bagaimana cara menghabiskannya.
"Bukankah istana peri ini sangat megah? lihatlah pilarnya saja terbuat dari batu permata berwarna biru yang sangat cantik." ucap Xiliu yang sepertinya sedang memamerkan kemewahan istana peri.
"Bagiku itu biasa saja, bisakah kita cepat masuk kedalam?." tanya Xiao Ziya yang tak ingin membuang buang waktu lagi.
Xiliu hanya berfikir apa apaan sikap gadis yang ada di depannya, jika manusia lain pasti mereka sudah sangat histeris.
"Baiklah mari kita masuk kedalam, saya harap nona bisa menjaga sikap nanti." ucap Xiliu yang sedang menasehati Xiao Ziya agar gadis itu yak melakukan tindakan yang salah.
"Tergantung sampai mana kesabaranku pada mereka." ucap Xiao Ziya dengan singkat. Kemudiam gadis itu berjalan dan hendak masuk kedalam istana.
__ADS_1
Namun ada beberapa penjaga yang menghalanginya, Xiao Ziya menatap mereka dengan tatapan dingin. Para penjaga itu merasa nyawa mereka sedang terancam. Dalam sejenak jantung mereka seperti berhenti berdetak karna membeku. Mereka hanya bisa pasrah dan membiarkan seorang gadis manusia masuk kedalam istana.
Melihat tingkah dari Xiao Ziya membuat Xiliu hanya menggeleng gelengkan kepalanya, baru saja ia memperingati gadis itu namun gadis itu sudah bersikap seenaknya saja.
"Nona bisakah anda sedikit lebih lembut?." ucap Xiliu dengan nada yang pelan namun terkesan tegas.
"Lembut? maaf aku bukan lelembut." ucap Xiao Ziya yang masih berjalan tanpa menghiraukan wajah Xiliu yang tampak bingung dengan ucapan Xiao Ziya, ia tak mengerti apa itu lelembut? dan apa hubungannya dengan bersikap lembut.
"Jika nona bersikap seperti tadi maka nona tak akan mendapat apapun." ucap Xiliu yang berusaha memperingati Xiao Ziya dengan sedikit ancaman.
Xiao Ziya berhenti sejenak karna disebuah lorong ia melihat foto seorang pria yang tak asing untuknya, Xiao Ziyapun memejakan matanya sejenak untuk membaca buku yang ia temukan bersama pria misterius itu, ia membaca buku itu di dalam batinnya sehingga hanya memerlukan waktu yang sebentar.
Tak lama kemudian Xiao Ziyapun tersenyum penuh dengan arti sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu yang akan sangat menguntungkan untuk dirinya.
"Tuan Xiliu siapakan yang ada di dalam gambar itu." ucap Xiao Ziya sambil menunjuk foto besar yang baru saja ia lihat.
"Beliau adalah mendiang raja peri." ucap Xiliu tanpa maksut untuk menjelaskan lebih detail pada Xiao Ziya. Namun gadis itu merasa sangat puas dengan jawaban tersebut.
"Baiklah kita harus segera bertemu dengan Yang Mulia Ratu." ucap Xiao Ziya yang sangat bersemangat.
Xiliu mengantar Xiao Ziya hingga pintu depan aula pertemuan. Mereka memerlukan izin terlebih dahulu untuk bisa masuk kedalam sana.
Tiba tiba saja Xiao Ziya merasakan sebuab aura yang sangat tak bersahabat dengannya, akhirnya Xiao Ziya mengeluarkan aura penguasa yang ia miliki hingga aura yang menekannya tadi menghilang. Karna penasaran akhirnya Xiao Ziya menoleh kebelakang. Ia mendapati seorang pemuda dengan rambut hitam legam dan juga mata berwarna hijau sedang memandanginya dengan tajam.
"Hormat saya pada putra mahkota." ucap Xiliu yang sedang memberi penghormatan pada Putra Mahkota dunia peri.
Sedangkan Xiao Ziya hanya memandang wajah pemuda itu dengan datar tanpa berniat untuk memberika salam.
"Siapa gadis manusia yang sangat kurang ajar ini?." tanya Putra Mahkota Robert.
"Maaf Yang Mulia Putra Mahkota atas kelancangan gadis ini." ucap Xiliu yang langsung menagap tajam ke arah Xiao Ziya, tatapannya itu adalah sebuah isyarat agar Xiao Ziya mengucap salam pada putra mahkota.
"Salam saya Xiao Ziya." ucap Xiao Ziya yang hanya mengucap salam tanpa membungkukkan badannya.
Putra mahkota hanya bisa menatap heran kearah gadis manusia yang ada di hadapannya itu. Baru pertama kali ia melihat manusia yang begitu tenang saat bertemu dengan putra mahkota dari dunia peri. Dilihat dari manapun gadis manusia yang ada di hadapannya itu tak tampak seperti seorang putri bangsawan.
**Hai semua pembacaku maaf ya udah lama aku ga update karna di real ku lagi ada masalah dan aku juga lumayan sibuk.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, and share**
__ADS_1