
Kemenangan dalam peperangan kali ini membawa suka cita untuk semua orang, Xiao Ziya dapat melihat dengan jelas senyum bahagia pemuda pemuda tampan yang ada di sekelilingnya itu. Beberapa prajurit pergi ke Istana Kekaisaran Lungzo untuk menangkap beberapa anggota kekaisaran yang masih tersisa. Ada Ratu, permaisuri, dua orang putri, dan seorang pangeran yang ternyata bersembunyi di istana. Mereka di bawa kehadapan Xiao Ziya karna peperangan ini memang untuknya jadi selaga hal yang ada di Kekaisaran Lungzo menjadi milik Xiao Ziya.
"Jadi mereka adalah anggota kekaisaran Lungzo yang bersembunyi ketika saudaranya yang lain sedang berperang?." tanya Xiao Ziya yang sedang memandangi wajah mereka satu persatu.
"Dimana kaisarku apakah kau telah membunuhnya." triak Ratu Lu Zinji yang tak pernah menyangka bahwa suaminya akan kalah dalam peperangan kali ini. Ia telah kelilangan suami dan dua orang putra yang amat sangat ia cintai. Ratu Lu Zinji menatap Xiao Ziya penuh dengan rasa benci.
"Mereka kalah tentu saja mereka binasah, mereka telah mencari lawan yang salah." ucap Xiao Ziya yang berbalik menatap sang ratu dengan tajam dan dingin sehingga Ratu Lu Zinji gemetaran.
Xiao Ziya meminta beberapa prajurit menjebloskan mereka ke dalam penjara Kelaisaran Lungzo agar mereka tau sedingin apa lantai yang ada di dalam penjara.
Karna semua orang merasa lelah mereka kembali ke camp masing masing untuk beristirahat. Sedangkan Keluarga Bangsawan Mung-e masih belum percaya atas apa yang mereka lihat, seorang gadis bisa memiliki sekutu sebanyak itu. Jika Xiao Ziya mau mungkin ia bisa menyerang setiap kekaisaran dan kerajaan yang ada di dunia bawah.
"Mereka semua kakak laki laki Master Ziya?." tanya Xinlin yang sedang merasa heran bagaimana cara Xiao Ziya memiliki banyak kakak laki laki yang tampan, kuat, dan sangat menyayanginya.
Walaupun Xiao Ziya samgat imut, lucu, dan cantik namun itu semua belum tentu menarik perhatian semua pemuda yang kini menjadi kakak laki lakinya, lalu apa yang membuat mereka semua jatuh hati pada gadis berumur sebelas tahun itu. Itulah yang sedang difikirkan oleh Xinlin saat ini.
"Untung saja kita tak menentang kehadrian Master Ziya." ucap Murong Xu yang merasa lega karna keluarganya tak ikut campur dalam masalah kali ini.
Dan jika Muyen ingin bertunangan dengan Xiao Yuna suatu hari nanti Murong Xu pasti akan menyetujuinya. Siapa yang tak mau menjadi keluarga dari Klan Xiao dan menjadi kerabat dari Kekaisaran Qiyu yang sangat kuat.
Xiao Ziya melihat semua orang yang tampak lelah itu, karna hari sudah hampir pagi Xiao Ziya memutuskan untuk pergi kewilayah penduduk terdekat. Terlihat para penduduk sedang berada di luar rumah mereka, raut wajah bingung, kecewa, dan ketakutan tampak jelas.
"Apa yang sedang kalian fikirkan?." pertanyaan Xiao Ziya membuyarkan lamunan semua penduduk yang ada di sana. Saat melihat Xiao Ziya kaki mereka gemetaran dan langsung terduduk di tanah.
"Ampun nona ampuni kami jangan bunuh kami, jangan jual kami." ucap mereka secara serempak yang sedang memohon pada Xiao Ziya.
Xiao Ziya tak mengerti apa yang sedang para penduduk itu lakukan, memangnya siapa yang mau membunuh dan menjual mereka?.
"Hah saya datang bukan untuk melakukan hal itu jadi kalian tenang lah." ucap Xiao Ziya yang membuat mereka semua terdiam dan saling berpandangan satu sama lain.
Seorang pria paruh baya memberanikan diri untuk berdiri dan melihat kearah Xiao Ziya. Dengan ragu ragu ia bertanya apa maksut dan kedatangan Xiao Ziya datang kedesa mereka jika bukan untuk menjual penduduk yang telah menjadi aset perang. Xiao Ziya menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Aset perang? jangan bercanda penduduk kekaisaran ini bukanlah aset perang. Saya hanya punya masalah dengan orang orang yang ada di istana Kekaisaran Lunyzo dan itu tak ada hubungannya dengan penduduk Kekaisaran Lungzo." ucap Xiao Ziya yang sedari awal hanya ingin membereskan keluarga kekaisaran saja tanpa melukai penduduk yang ada di sana.
"Lalu apa yang nona lakulan di desa kami?." tanya pria tua itu yang ternyata adalah seorang kepala desa.
"Ah saya ingin menumpang mandi dan bisakah anda memanggilkan beberapa kepala desa lain yang desanya tak jauh dari sini." ucap Xiao Ziya yang membuat semua penduduk desa itu melongo. Ternyata mereka terlalu berprasangka buruk pada gadis yang ada di hadapan mereka itu.
Akhirnya kepala desa pergi dengan beberapa pria untuk memanggil kepala desa yang lain. Sedangkan Xiao Ziya menumpang mandi di rumah salah satu warga. Badannya yang lengket dan berlumuran darah tentu saja membuat gadis itu merasa tak nyaman.
Setelah selesai ia keluar dari kamar mandi menggunakan gaun berwarna hitan dan emas, Xiao Ziya terlihat seperto tokoh antagonis yang sangat cantik, namun wajah polosnya itu tak cocok menjadi tokoh antagonis.
"Baiklah apa semuanya sudah berkumpul?." tanya Xiao Ziya pasa beberapa pria paruh baya yang ada si hadapannya. Mereka adalah kepala desa setempat.
"Saat ini ada sembilan kepala desa yang telah saya kumpulkan, dan bila saya dihitung juga maka jumlahnya ada sepuluh orang nona." ucap Kepala desa pertama.
Xiao Ziya mengambil sepuluh kantung besar yang ada di dalam cincin semestanya kantung itu berisi kepingan koin emas.
"Semua saudara saudaraku telah berperang dengan penuh semangat dan mereka saat ini sedang beristirahat karna merasa kelelahan ada sekitar tiga puluh enam ribu dua ratus orang yang terlibat dalam peperangan ini. Jadi di setiap desa saya akan memberikan lima ribu keping koin emas kalian harus memasak untuk kami semua ingat makananya harus enak karna kita semua akan mengadakan pesta. Jika pesta ini sukses maka saya akan menghadiahlan tiga ribu keping emas untuk setiap desa." ucap Xiao Ziya yang ingin mengadakan pesta jamuan nantinya sehingga ia meminta seluruh penduduk dari sepuluh desa itu untuk membantunya.
Mendengar upah yang akan Xiao Ziya berikan untuk mereka tentunya para kepala desa merasa sangat bersemangat. Mereka mengambil kantong kepingan koin emas itu dan kembali ke desa masing masing. Setiap kepala desa akan menghias desa mereka dan menyiapkan makanan lezat seperti yang diperintahkan oleh Xiao Ziya.
Xiao Ziya sempat berfikir mungkin saja sepuluh desa itu memerlukan waktu yang lama untuk menyelesaikannya dan mungkin semua baru akan selesai nanti malam. Jika Xiao Ziya menunggu hingga malam hari bisa jadi para prajurit dan kakak kakaknya yang lain akan kelaparan nantinya.
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu lagi." ucap Xiao Ziya yang membaca mantra teleportasi ia pergi ke beberapa tempat serti Kekaisaran Binzo, Kekaisaran Qiyu, Kerajaan Xingmen, dan Kekaisaran Bilzu untuk memborong roti dan buah buahan yang ada si sana.
Saat ini cincin semesta milik Xiao Ziya dipenuhi oleh roti dan juga aneka macam buah. Setelah merasa semuanya telah cukup Xiao Ziyapun kembali membaca mantra teleportasi untuk kembali ke Kekaisaran Lungzo.
"Apakah tidak ada makanan aku sangat lapar." ucap salah seorang prajurit yang keluar dari campnya.
Saat ia melihat kesekitar prajurit itu melihat Xiao Ziya yang tengah menyusun tumpukan roti kering dan berbagai macam selai selain itu ada buah buahan segar yang tersedia. Prajurit itu datang menghampiri Xiao Ziya yang sedang sibuk itu.
"Master Ziya apa yang sedang anda lakukan?." tanya sang prajurit yang penasaran dengan apa yang sedang Xiao Ziya lakukan.
__ADS_1
"Apakah paman lapar? saya sedang menyiapkan makanan untuk kalian semua. Mungkin ini tak seberapa dengan apa yang sudah kalian lakukan untuk saya." ucap Xiao Ziya yang tersenyum hangat kearah prajurit itu.
Tentu saja sang prajurit merasa begitu terharu ketika perjuangan yang ia lakukan dengan teman temannya dihargai oleh Xiao Ziya. Untung saja gadis itu begitu baik dan rendah hati sehingga mau repot repot memikirkan nasib para prajutit yang sedang kelaparan.
"Saya boleh memanggil teman teman saya yang lain?." tanya prajurit itu yang mendapat jawaban anggukan dari Xiao Ziya.
Sang prajurit berlari kembali dan masuk kedalam campnya selain itu ia juga masuk ke camp camp lain dan memberitaukan Xiao Ziya menyiapkam roti, selai, dan buah buahan yang bisa mereka makan. Dengan penuh antusias para prajurit mulai berbaris untuk mengambil jatah makanan mereka. Xiao Ziya juga tak membatasi berapa potong roti yang harus mereka ambil karna ia membeli dengan jumlah yang sangat fantastis.
"Apakah tidak apa apa jika kami mengambilnya lebih dari satu?." tanya seorang prajurit yang ada di barisan paling depan.
"Ambil saja semaumu saya masih punya banyak." ucap Xiao Ziya yang membuat prajurit itu tersenyum. Ia mengambil empat potong roti dan dua buah jeruk serta satu wadah kecil selai kacang, setelah stok roti pertama habis Xiao Ziya mengeluarkan roti roti lain dari cincin semestanya.
Semua prajurit mendapatkan jatah makan mereka bahkan masih banyak yang tersisa sehingga mereka bisa tambah lagi jika merasa kurang.
"Lihatlah gadis itu begitu sibuk membagikan makanan." ucap Pangeran Zeeling yang tersenyum senang meihat Xiao Ziya yang begitu baik pada prajurit prajurit yang sudah berperang untuknya.
"Berapa koin emas yang ia habiskan untuk semua itu?." ucap Pangeran Runjin dari Kekaisaran Binzo yang menebak Xiao Ziya sudah mengeluarkan ribuan koin emas.
"Kau tak perlu khawatir gadis itu sangat kaya." ucap Pangeran Yijun dari Kerajaan Xingmen yang mendengar cerita dari saudara laki lakinya yang ikut saat berkunjung ke Akademi Kekaisaran Qiyu dan saudaranya itu mengatakan bahwa Xiao Ziya memiliki segunung koin emas dan berlian.
"Ya adikku itu sangat kaya namun dia akan tetap menerima uang bulanan karna merasa tak enak jika menolaknya." ucap Xiao Yan yang setiap bulan memberikan seribu keping emas pada Xiao Ziya dan tiga ribu keping emas pada Xiao Xun. Sebenarnya Xiao Yan memberikan dengan jumlah yang sama namun Xiao Ziya menolaknya dan mengatakan ia hanya menginginkan seribu keping emas saja.
"Mari kita kesana dan meminta makanan pada adik kita." ucap Xiao Xun sambil tertawa dan berjalan ke arah Xiao Ziya diikuti yang lainnya.
"Apa kau tak lelah adikku biar kami yang menjaga roti roti ini." ucap Pangeran Anz yang tak ingin Xiao Ziya kelelahan.
"Aku baik baik saja, sebaiknya kalian makan dulu lalu pergi ke istana Kelaisaran Lungzo untuk mandi. Aku sudah menyewa beberapa rumah penduduk yang akan menyiapkan air mandi untuk para prajurit." ucap Xiao Ziya yang sudah mempersiapkan semua dengan matang dan secara sembunyi sembunyi sehingga tak ada yang tau.
"Baiklah kalau begitu, adik kami memang yang terbaik." ucap Pangeran Kegelapan yang langsung mengusili Xiao Ziya dengan cara mengacak acak rambut gadis itu.
"Rambutku jadi berantakan gege." ucap Xiao Ziya yany kesal dan langsung memasang wajah cemberutnya yang membuat semua orang merasa gemas dan ingin memasukkan gadis itu kedalam karung lalu menculiknya.
__ADS_1
Hai hai pembacaku tersayang maaf ya baru update sekarang, jangan lupa ya follow aku yang belum follow, vote buat yang tiket vote nya belum kepakek. Gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate, share. Like game ganti ganti bajuku yang di profil.
Makasih semuanya.