RATU IBLIS

RATU IBLIS
Tahap Tiga


__ADS_3

Saat ini Xiao Ziya dan Putri Zo Jeni sudah sampai di penginapan tempat Xiao Ziya tinggal, di lantai bawah sudah ada kepala akademi Ling An, dan senior senior Xiao Ziya yang lainnya mereka sangat khawatir ketika gadis itu tak kunjung pulang dari jamuan istana.


"Apa yang terjadi padamu nona Ziya hingga kau harus dipapah seperti itu." ucap Xu Yuan yang benar benar khawatir pada Xiao Ziya.


Gadis cantik dan manis itu sudah Xu Yuan anggap sebagai adiknya sendiri. Walau Xiao Ziya dulu pernah menjadikannya seorang pelayan namun itu bukan masalah untuk Xu Yuan, karna setelah kejadian itu ia menyadari bahwa Xiao Ziya menghukumnya agar ia bisa menjadi lebih baik lagi.


"Ini hanya luka kecil, saya tertusuk saat perjalanan pulang." ucap Xiao Ziya yang sedang menunjukkan senyum manisnya agar yang lain tak merasa cemas.


Ling An hanya bisa menghela nafasnya kasar bagaimana jika Kaisar Yan dan juga Xiao Xun tau bahwa adiknya terluka seperti ini.


"Sebaiknya nona Ziya istirahat sekarang, jika kondisi nona belum membaik nona bisa tidak mengikuti turnamen esok hari." ucap Ling An yang tak ingin luka Xiao Ziya semakin parah jika gadis itu memaksakan diri untuk mengikuti turnamen.


"Ini hanya luka kecil saja dan saya masih sanggup mengikuti turnamen." ucap Xiao Ziya yang sudah memutuskan keinginanya maka tak ada orang lain yang bisa membujuk gadis itu.


Xiao Ziya dan Putri Zo Jeni naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamar Xiao Ziya. Kamar Ziya cukup luas dan kasurnya juga bisa menampung tiga orang. Malam ini Putri Zo Jeni memutuskan untuk bermalam disana karna hari juga sudah sangat malam akan sangat berbahaya jika ia pulang sendirian.


Sedangkan ditempat lain tepatnya kediaman milik Permaisuri Zo Nixu, wanita itu tengah gelisah karna sudah mengusik orang yang salah. Tadinya Permaisuri Zo Nixu mengira bahwa Xiao Ziya hanyalah murid biasa dari Akademi Kekaisaran Qiyu bagaimanapun juga penampilan gadis itu biasa biasa saja. Jika ia mendapat masalah atas penusukan yang terjadi pada gadis itu maka semua rencananya akan gagal.


"Ah apa yang harus ku lakukan, mengirim sebuah pembunuh bayaran biasa sepertinya bukan ide yang bagus." ucap permaisuri Zo Nixu yang sedang memutar otaknya agar bisa melenyapkan Xiao Ziya dengan begitu ia akan aman dan tak ada yang membocorkan rencananya.


Keesokan paginya semua sudah bersiap untuk pergi ketempat turnamen kali ini tahap ketiga dari turnamen akan segera dilaksanakan. Xiao Ziya dan Putri Zo Jeni sudah sampai di tempat itu sedari tadi.


"Nona benar baik baik saja? jangan terlalu memaksakan diri." ucap Putri Jeni yang bertambah cemas pada Xiao Ziya.


"Saya baik baik saja putri, anda tak perlu cemas." ucap Xiao Ziya yang memang baik baik saja. Semua yang terjadi saat ini sesuai dengan prediksinya.


"Selamat pagi semua, kali ini tahap ketiga dari turnamen antar murid akademi yang ada di dunia bawah akan dilangsungkan, bagi para penonton siapa peserta yang kalian dukung." ucap Min Fuzen yang membuka acara turnamen kali ini dengan bertanya pada para penonton yang menyaksikan turnamen.


"Ziya, Ziya, Ziya, dewi Ziya kami mendukungmu." ucap orang orang yang ada di kursi penonton bagian kanan. Xiao Ziya tersenyum senang saat mendengar banyak penonton yang mendukungnya.


"Wah wah bukankah murid dari Akademi Kekaisaran Qiyu ini telah menyita perhatian para penonton. Baiklah dalam turnamen babak tiga ini para peserta akan beradu pola sihir penyerang dan bertahan. Kalian boleh menggambar sebanyak apapun yang kalian bisa setelah itu pola pola sihir yang sudah kalian buat digunakan untuk menyerang lawan kalian. Untuk itu para peserta bisa mengambil nomer urut." ucap Min Fuzen yang menjelaskan apa yang harus para peserta lakukan pada tahap ketiga turnamen.

__ADS_1


Satu persatu peserta naik keatas untuk mengambil nomer urut, seperti biasanya Xiao Ziya mengambil di paling akhir. Setelah membuka ternyata gadis itu ada di urutan keempat.


"Baiklah peserta nomer urut satu dan peserta nomer urut dua maju keatas arena." ucap Min Fuzen yang sedang memimpin jalannya perlombaan.


Dua peserta yang sudah berada di atas arena diberi waktu selama lima menit untuk menggambar pola sihir, setelah waktu berakhir mereka akan saling menyerang dan bertahan. Siapapun yang keluat dari arena, terjatuh di arena, pingsan diarena akan dinyatakan kalah. Jika peserta merasa tak sanggup lagi mereka bisa mengangkat tangan sebagai tanda mereka menyerah.


Pertarungan peserta pertama dan kedua telah selesai, sekarang saatnya peserta ketiga den keempat yang naik ketas arena. Saat melihat Xiao Ziya yang naik ketas arena para penonton bersorak riang dan menyemangati gadis itu.


"Semangat Nona Ziya semangat." ucap para pangeran dan putri kekaisaran yang kenal dengan Xiao Ziya.


"Saya kira nona Ziya akan melewatkan tahap tiga, bagaimana jika lukanya semakin parah." ucap Ratu Zo Binji yang berharap bahwa Xiao Ziya tak akan terluka.


"Gadis itu memang keras kepala, siapa yang tau apa yang akan terjadi padanya." ucap permaisuri Zo Nixu yang seprtinya memang sudah merencanakan sesuatu.


Kali ini lawan Xiao Ziya adalah Wen Lung salah satu murid laki laki dari Akademi Kekaisaran Binzo yang merupakan salah satu jenius dalam menggunakan pola sihir.


"Sepertinya murid anda memiliki nasib buruk." ucap Yu Sinru yang sangat menyayangkan pada babak kali ini Xiao Ziya harus berhadapan dengan salah satu jenius dari Akademi Binzo.


Xiao Ziya dan Wen Lung diberi waktu lima menit untuk menggambar pola sihir, dengan kemampuan yang Wen Lung miliki ia mampu menggambar lima puluh pola sihir. Sedangkan Xiao Ziya entah berapa yang ia buat namun itu sangat banyak jika harus dihitung.


"Walau pola yang kau buat lebih banyak daripada punyaku, pola sihirmu pasti hanya sihir tingkat rendah." ucap Wen Lung yang merendahkan Xiao Ziya, sepertinya ia sengaja memancing amarah dari gadis itu.


Xiao Ziya hanya tersenyum tipis dan mengendalikan amarahnya dengan baik. Setelah diberi aba aba oleh Min Fuzen mereka mulai saling menyerang menggunakan pola sihir yang sudah mereka gambar.


"Ledakan api kemurkaan." ucap Xiao Ziya yang mulai menyerang. Dua puluh pola yang Xiao Ziya gambar berubah menjadi bola api sebesar kepalan tangan, bola bola api itu berwarna hitam pekat dan sangat panas.


Namun Wen Lung menatapnya dengan remeh dan langsung memasang sihir pelindung yang kuat, ia percaya bahwa pola pola sihir milik Ziya tak mampu melukainya.


Blar blar blar


Bola bola sihir itu berhasil menghancurkan sihir pertahanan milik Wen Lung pemuda itu sangat terkejut.

__ADS_1


"Kali ini aku tak akan membiarkanmu lolos." ucap Wen Lung yang marah sekaligus malu saat pertahananya bisa ditembus oleh seorang anak perempuan yang bahkan lebih cocok menjadi adiknya.


"Naga es serang." ucap Wen Lung yang melepaskan sepuluh pola sihir sekaligus. Sepuluh naga es tercipta naga naga itu menatap Xaio Ziya dengan sangat tajam namun gadis itu hanya diam dan tak bereaksi apapun.


"Seribu panah api neraka serang." ucap Xiao Ziya yang menyerang balik dengan tiga puluh pola sihir yang menyala dengan terang kemudian melesat keatas langit kemudian tiga puluh ribu panah api menembus sepuluh naga es yang hendak menyerang Xiao Ziya.


Sepuluh naga es itu mencair saat tertembus oleh panah panah milik Xiao Ziya. Wen Lung tentu saja tak bisa menerima kekalahannya begitu saja.


"Badai salju pukul mundur gadis itu." ucap Wen Lung yang mengerahkan pola sihir yang tersisa sebuah badai salju yang besar mulai mengarah ke Xiao Ziya.


"Prisai gunung es lindungi saya dan badai salju tingkat kaisar serang badai salju rendahan itu." ucap Xiao Ziya yang juga mengerahkan hampir setengah dari pola sihir yang tersisa.


Sebuah gunung es yang menjulang tinggi berada tepat di depan Xiao Ziya, sedangkan badai es milik gadia itu terlihat lebih ganas daripada milik Wen Lung. Perisai pelindung yang melindungi para penonton dan juri hampir saja hancur saat badai milik Xiao Ziya terbentuk dengan sempurna.


"Ini tidak mungkin." ucap Yu Sinru yang tak percaya bahwa murid dari Ling An lebih hebat daripada muridnya.


Setelah beberapa saat badai salju milik Xiao Ziya dan Wen Lung bertemu hingga badai salju Milik Wen Lung terlahap oleh badai salju Milik Xiao Ziya. Wen Lung terjatuh dari arena dan kalah.


Wen Lung menatap keatas arena dengan tak percaya dia benar benar kalah dari gadis itu.


"Hah bagaimana bisa ini terjadi." ucap Wen Lung yang tak percaya.


"Gadis itu pasti curang." ucap Wen Lung yang masih saja tak terima dengan kekalahan yang menimpanya.


"Hey akui saja kekalahan anda, saya tidak curang anda saja yang tidak mampu." ucap Xiao Ziya sambil turun dari arena.


Semua penonton dan juri bertepuk tangan karna kagum dengan pola pola sihir yang dimiliki oleh Xiao Ziya. Gadis itu terlalu luar biasa jika hanya menjadi murid luar saja. Pertandingan terus berlanjut hingga semua peserta selesai beetarung.


Kini mereka menunggu tahap keempat turnamen. Sebelum itu para peserta diberikan waktu untuk beristirahat.


**Hai hai semuanya aku update lagi nih gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya.

__ADS_1


Jangan lupa follow author ya, terus vote buat kalian yang masih punya tiket vote, gift hadiah apapun ya bunga mawar atau kopi wkwkwk, lika like like, komen, rate, share**.


__ADS_2