RATU IBLIS

RATU IBLIS
Kelanjutan Pertandingan


__ADS_3

Pertandingan babak kedua akan segera dimulai duoa orang pemuda naik ke atas arena pertandingan, Winho dari kelas jenius dan Yinlung dari kelas murid inti. Kedua pemuda itu saling bertatapan dengan tajam sepertinya Winho ingin membalas atas kekalahan murid jenius pada babak pertama tadi.


"Cobraku datanglah." ucap Winzo yang memanggil hewan pengikutnya, seekor ular cobra datang dan merayap mendekati arena pertandingan. Beberapa murid jenius memang memiliki hewan pengikut setia mereka. Cobra milik Winho adalah cobra berumur dua ratus tahun yang sudah mengalami setengah evolusi saat ia ada di alam liar, cobra itu memilih untuk menjadi pengikut Winho karna ia pernah diselamatkan sekali oleh pemuda itu saat ada di dalam hutan dan terluka parah.


Yinlung menatap ke arah cobra itu ia tak mengira bahwa lawannya memiliki hewan spiritual, meskipun Yinlung tak memiliki hewan spiritual sebagai hewan pengikutnya pemuda itu tak ingin menyerah karna ia yakin dengan jurusnya yang sudah sempurna ia mampu melawan cobra itu.


"Serang pemuda itu hingga ia tak bisa berjalan lagi." ucap Winho yang meminta pada hewan pengikut setianya untuk menyerang.


Ular cobra yang tadinya berukuran kecil semakin membesar dan menatap tajam ke arah Yinlung, sang cobra menyemburkan racunnya pada Yinlung sang pemuda menghindar dengan cepat. Cobra itu terus menyerang Yinlung dan mengibaskan ekornya pada Yinlung hingga pemuda itu terhempas di arena pertandingan dan memuntahkan seteguk darah segar. Kondisi Yinlung semakin memburuk karna ia sudah kelelahan dan energi qinya sudah menipis.


"Apakah gurumu itu sangat lemah hingga muridnya sebodoh ini?." ucap Winho yang mengejek Xiao Ziya secara terang terangan di hadapan Yinlung dan para murid inti yang lain. Mendengar gurunya di hina, guru yang sudah mengajarinya banyak hal, membuatnya naik beberapa tingkatan, dan juga menjadi semakin kuat tentu saja Yinlung tak bisa menerima hinaan itu.


"Diamlah guru Ziya adalah guru terbaik yang pernah kami miliki." ucap Yinlung yang merasa sangat kesal aliran spiritual yang ada di dalam tubuhnya bergejolak dengan sangat kuat, Yinlung merupakan kultivator yang memiliki aliran spiritual es di dalam tubuhnya.


Aura berwarna biru meluap dari tubuh pemuda itu sepertinya hanya dengan mendengar gurunya dihina membuat pemuda itu sangat marah, sebuah patung es raksasa berbentuk manusia raksasa muncul di hadapan Yinlung. Patung es raksasa itu memiliki tatapan yang tajam dan juga dingin ia menyemburkan es pasa cobra milik Winho.


"Ah sialan mengapa kau sekuat ini." ucap Winho yang tak terima karna cobra miliknya membeku setelah disembur oleh patung es milik Yinlung.


Winho mengeluarkan sebuah pedang berwarna merah dan membuat api di dalam pedang itu menyala. Winho menyerang ke arah patung es milik Yinlung sepertinya pemuda itu sedang berusaha untuk melelehkan patung es itu.


Yinlung memfokuskan fikirannya pada patung es raksasa miliknya, kemudian pemuda itu melakukan beberapa gerakan yang aneh. Patung es raksasa mulai menunjukkan reaksi tangan patung itu mengeluarkan sebuah bola cahaya berwarna biru dan memparkan bola cahaya biru itu pasa Winho seketika winho membeku.


Kepala Akademi Wunyeng naik ke atas arena pertandingan untuk menghentika pertandingan yang sedang berlangsung itu, ia mengumumkan bahwa Yinlung dari kelas murid inti yang memenangkan pertandingan babak kedua itu. Kepala akademi sengaja menghentikan pertandingan karna jika diteruskan nyawa Winho akan dalam bahaya.


"Mereka memang sangat curang." ucap Wonyong Gu yang mengepalkan tangannya dengan kuat, pemuda itu tak bisa menerima kekalahan dalam dua babak pertandingan kelasnya selalu saja kalah.


"Tak mungkin seorang murid inti memiliki kekuatan sebesar itu, apakah mereka menggunakan cara pelatihan sesat?." ucap Zinren yang mulai menuduh yang tidak tidak pada para murid inti hanya karna mereka tak bisa menang dari murid inti.


Beberapa murid inti yang mendengar apa yang dikatakan oleh para murid jenius ingin membalas perkataan mereka namun Xiao Ziya menahan murid muridnya agar tak membalas perkataan yang tak berguna itu. Para murid inti menuruti perkataan gurunya.


"Baiklah sebelum babak ketiga dilanjutkan silahkan kalian beristirahat terlebih dahulu." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang memberitaukan bahwa mereka semua bisa beristirahat dan berkumpul lagi setelah matahari tepat ada di atas kepala.


Xiao Ziya mengajak para muridnya untuk pergi ke kantin sekolah karna mereka perlu mengisi tenaga sebelum pertandingan babak ketiga berlangsung. Xiao Ziya memesan ruangan khusus yang ada di kantin sekolah dan memesan berbagai macam makanan yang cukup mahal.


"Ah ini sedikit melelahkan aku ingin beristirahat sebentar." ucap Xiao Sunjin yang merebahkan tubuhnya di tempat yang lebih luas pemuda itu memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sembari menunggu makanan datang.


"Hey hey kau malah tertidur di sini." ucap Al Denzi yang mengatai teman satu kelasnya itu, Xiao Sunjin menjawab dengan menjulurkan lidahnya kemudian ia kembali memejamkan matanya. Xiao Ziya hanya tersenyum melihat tingkah kedua muridnya itu tak lama kemudian pesanan Xiao Ziya telah datang dan di tata rapi di meja makan. Semua murid inti menyantap makanan itu dengan antusias makanan gratis adalah yang terbaik di dunia ini, mereka tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun karna Xiao Ziyalah yang membayar semuanya.


"Guru Ziya memang yang terbaik, selama kita menjadi murid di Akademi Wunyeng hanya guru Ziyalah yang pernah mentraktir muridnya." ucap Zen Linji yang terlihat sangat senang karna memiliki seorang guru yang baik dan juga ramah.

__ADS_1


"Sayang sekali guru Ziya hanya menjadi guru kami selama dua minggu saja." ucap Yu Sunmi yang ingin agar Xiao Ziya mengajar lebih lama lagi di kelas murid inti mungkin saja perkembangan mereka semua akan sangat cepat dan lulus dari akademi sebagai kultivator alam dewa jika terus berada di bawah bimbingan Xiao Ziya.


"Maaf sekali namun saya ingin menjelajahi berbagai lapisan dunia sehingga saya tak bisa menetap di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama." ucap Xiao Ziya yang harus membuat murid muridnya itu kecewa, namun mereka semua bisa mengerti seorang gadis yang masih muda seperti Xiao Ziya memiliki jiwa petualang yang sangat tinggi. Selain itu masa depan gadis itu juga masih sangat panjang tak ada yang tau apa yang akan terjadi pada gadis itu di masa depan.


"Baiklah kita pasti akan bertemu lagi di masa depan guru Ziya, dan kami harap kau masih mengingat kami." ucap semua murid inti yang tersenyum dengan senang.


Setelah selesai menyanyap makanan akhirnya Xiao Ziya mengajak para muid inti untuk kembali ke lapangan utama karna masih ada tiga babak pertandingan lagi yang akan menentukan kelas mana yang lebih unggul kelas murid jenius ataukan kelas murid inti. Setelah sampai di lapangan banyak murid lain yang sudah berkumpul di sana namun murid jenius berlum terlihat mungkin mereka masih beristirahat.


Kepala Akademi naik ke atas arena untuk mengumumkan bahwa pertandingan babak selanjutnya akan berlangsung saat itu juga para muris jenius datang, Xiao Ziya merasakan ada yang aneh pada beberapa murid jenius namun gadis itu tak menghiraukannya.


"Baiklah kini giliran Al Ergan dari kelas murid inti melawan Xu Banzi dari kelas murid jenius." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang memberitaukan siapa yang akan naik dalam babak ketiga. Kedua pemuda itu naik ke atas arena.


Xu Banzi mengeluarkan aura membunuh yang cukup pekat hal itu membuat Al Ergan sedikit kesulitan untuk bernafas dan mengontrol aliran spiritual yang ada di dalam tubuhnya. Pertandingan sudah dimulai namun tak ada pergerakan di antara kedua pemuda itu Xu Banzi hanya menatap lawannya dengan tajam sedangkan Al Ergan jiwanya sudah mulai diserang oleh sesuatu yang tak dapat ia lihat dengan matanya.


Xiao Ziya menatap ke arah Xu Banzi ia mengamati pemuda itu dengan teliti, lensa mata Xiao Ziya berubah menjadi merah gadis itu dapat melihat sebuah boneka jerami kecil yang ada di dalam banu Xu Banzi. Boneka jerami kecil itu ditempeli oleh sebuah kertas mantra yang di dalamnya terdapat nama Al Ergan. Melihat itu tentu saja Xiao Ziya merasa sangat geram pantas saja muridnya terdiam karna jiwanya sedang di serang, Xiao Ziya ingin membantu namun jika ia melakukan hal itu maka ia akan dianggap curang. Xiao Ziya sedang memikirkan sebuah cara agar ia bisa membantu muridnya itu walau tak secara langsung.


"Al Ergan ingatlah apa yang saya ajarkan padamu." triak Xiao Ziya yang dapat di dengar oleh muridnya itu dengan jelas.


Al Ergan berusaha mengingat semua yang diajarkan oleh Xiao Ziya, dan ia ingat Xiao Ziya pernah mengajarkan jika jiwa dan aliran spiritual tidak bisa dikendalikan saat melawan musuh itu artinya sang musuh sedang menggunakan ilmu hitam dalam pertarungan itu. Yang perlu kita lakukan hanyalah mempertahankan kesadaran dan mencoba sebisa mungkin untuk mengendalikan aliran spiritual yang ada di dalam tubuh. Al Ergan mulai melakukan apa yang diajarkan oleh Xiao Ziya, perlahan lahan aliran spiritualnya mulai kembali jiwanya juga sudah bisa dikendalikan lagi.


Al Ergan mengambil sebuah tombak yang sedari tadi ia ikat di belakang punggungnya, ia mulai menyerang ke arah Xu Banzi dan pemuda itu membalas serangan dari Al Ergan. Pertarungan yang sangat sengit di antara kedua pemuda itu. Pertarungan itu berjalan cukup lama hingga teriakan penonton terdengar sangat keras dan jelas hingga akhirnya kedua pemuda itu kelelahan dan pingsan.


"Baiklah pada babak ketiga ini saya nyatakan imbang tak ada yang menang dan tak ada yang kalah." ucap kepala akademi yang menyatakan bahwa dalam babak ketiga tak ada yang menang ataupun kalah.


"Ada apa nona Ziya?." tanya kepala akademi yang menanyakan mengapa gadis itu mengangkat tangannya.


"Coba anda periksa apa yang ada di dalam baju murid Xu Banzi." ucap Xiao Ziya yang meminta pada kepala akademi untuk memeriksa pemuda itu.


Kepala akademi menuruti apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya dan ia menemukan sebuah boneka jerami kecil dengan sebuah kertas mantra ilmu hitam yang di tempelkan di boneka jerami itu. Melihat hal itu tentu membuat murid lain yang menonton pertandingan itu terkejut ternyata para murid jenius menggunakan cara curang agar bisa menang pada babak kali ini.


"Baiklah karna Xu Banzi dari kelas muris jenius dengan jelas melakukan pelanggaran maka pemenang dalam babak ketiga adalah Al Ergan dari kelas murid inti." ucap kepala akademi yang mengumunkan bahwa Al Erganlah yang menang. Kedua peserta yang pingsan itu telah dibawa ke ruang kesehatan untuk mendapatkan perawatan.


"Cih mata gadis itu sangatlah jeli bagaimana cara kita mengelabuhinya di pertandingan selanjutnya." ucap Wonyong Gu yang sedang berfikir keras bagaimana cara agar rencananya tak ketahuan oleh Xiao Ziya.


"Kita perlu bertindak secara hati hati agar tak ketahuan." ucap Zinren yang mengira temannya bisa ketahuan karna ia kurang hati hati, dan mungkin saja saat bertarung tadi boneka jerami yang ada di dalam bajunya sedikit terlihat sehingga Xiao Ziya merasa curiga.


Pertandingan babak keempat akan dilangsungkan kini saatnya Zinren melawan Al Denzi, sepertinya Zinren dari kelas murid jenius telah merencanakan sesuatu hal yang buruk pada pertandingan babak keempat ini. Kedua pemuda itu sama sama mengangkat pedang mereka dengan tatapan yang tajam, suara dentingan pedang yang sangat nyring menggema di mana mana.


Zinren mengeluarkan salah satu jurus andalannya yaitu jurus kematian sang iblis yang baru ia pelajari beberapa hari yang lalu, jurus kematian sang iblis adalah salah satu jurus terlarang mungkin Zinren tak tau dampak apa yang akan terjadi pada tubunnya setelah menggunakan jurus itu karna ia belum mempelajarinya secara mendalam.

__ADS_1


Tiba tiba saja kabut tebal memenuhi arena pertandingan, kabut berwarna hitam pekat itu membuat Al Denzi kesulitan untuk melihat dimana posisi musuh sehingga ia mendapatkan beberapa luka goresan pedang. Al Denzi tak ingin pasrah saja dalam ketidakmampuannya untuk melihat itu. Ia menutup matanya dan memfokuskan diri pada pendengarannya, perlahan lahan Al Denzi biasa mendengar pergerakan musuh secara jelas. Kini Al Denzi bisa menahan setiap serangan yang dilayangka olah Zinren.


Namun ada hal aneh lain yang terjadi ia merasakan pergerakan lain selain musuhnya, kakinya yang ingin bergerak seperti tertahan oleh sesuatu. Yang menahan Al Denzi adalah sesosok iblis yang sedang membantu Zinren karna pemuda itu menggunakan jurus kematian sang iblis, iblis itu menyerang Al Denzi dengan kekuatan hitamnya.


Xiao Ziya dapat melihat itu dengan jelas gadis itu ingin menghentikan pertandingan kali ini karna ini sangat tak adil. Al Denzi sudah kewalahan bahkan sebagian tubuhnya mulai menghitam karna terkena racun sang iblis.


"Hentikan pertandingan ini." triak Xiao Ziya dengan lantang, semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Mereka memang tak bisa melihat apa yang terjadi di antara kedua peserta apakah ada hal buruk yang terjadi hingga Xiao Ziya meminta pertandingan itu dihentikan secara paksa.


"Itu tidak bisa dilakukan karna murid anda tak mengatakan bahwa ia ingin menyerah." ucap pemimpin akademi yang tak setuju jika pertandingan itu dihentikan begitu saja.


"Terserah kau saja jika sesuatu terjadi pada murid saya, saya bisa menanganinya. Namun jika sesuatu terjadi pada murid anda itu bukan urusan saya dan saya tak akan membantu." ucap Xiao Ziya yang merasa sangat kesal karna pria tua itu tak bisa melihat apapun yang terjadi di dalam sana namun ia bersikeras agar pertandingan itu tak dihentikan.


Xiao Ziya bisa meracikkan obat dengan mudah untuk muridnya itu karna ia memiliki semua bahan bahannya di dalam cincin semestanya, dan ia tak ingin tau apapun jika hal yang lebih buruk lagi terjadi pada murid sang kakek tua itu.


Setelah cukup lama akhirnya kabut hitam pekat itu mulai menghilang semua penonton bisa melihat dengan jelas kondisi Al Denzi yang sudah sangat mengenaskan ketiga adiknya yang mrlihat hal ini hanya bisa berteriak penuh dengan kemarahan. Iblis yang membantu Zinren juga masih ada di atas arena. Kepala akademi menyatakan bahwa Zinren dari kelas murid jeniuslah yang memenangkan babak keempat dari pertandingan kali ini.


Setelah mendengar pengumuman pemenang Xiao Ziya langsung naik ke atas arena dan membopong Al Denzi yang sedang dalam kondisi kritis itu. Gadis itu juga meminta waktu untuk istriahat selama satu jam karna ia ingin menyembuhkan muridnya itu.


Xiao Ziya mengambil beberapa tanaman langka yang ada di dalam cincin semeatanya, setelah itu ia melebur semua tanaman langka itu menggunakan api putih miliknya.


"Ambilkan mangkuk kosong dan segelas air putih." ucap Xiao Ziya yang meminta salah satu muridnya untuk mengambilkan mangkuk kosonh dan segelas air putih. Xiao Ziya masih mengontrol api putihnya itu agar pil obat yang ia hasilkan bisa sempurna.


Iblis yang tadinya membantu Zinren kini malah menyerang pemuda itu secara tiba tiba, selain menyerang pemuda itu sang iblis juga meracuninya dengan racun yang sama dengan Al Denzi. Setelah melakukan semua itu sang iblispun menghilang dari sana, pemimpin akademi langsung naik ke atas arena pertandingan dan membopong muridnya itu.


Al Xun datang membawakan sebuah mangkuk kosong dan satu gelas air, bahan bahan langka yanh Xiao Ziya lebur telah menjadi beberapa butir obat berwarna merah dengan garus garis emas. Dengan segera Xiao Ziya meminumian pil itu pada Al Denzi setelahnya Xiao Ziya menancapkan beberapa jarum emas pada beberapa titik akupuntur yang ada di tubuh Al Denzi.


Jarum yang semula berwarna emas tiba tiba saja berunah menjadi hitam, setelah itu Al Denzi muntah kedalam mangkuk kosong yang disiapkan. Terlihat cairan berwarna hitam dengan bau yang sangat busuk, Xiao Ziya melebur racun itu menggunakan api hitamnya.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?." tanya Xiao Ziya yang masih cemas dengan kondisi muridnya itu.


"Saya merasa sudah lebih baik, trimakasih telah menyelamatkan saya." ucap Al Denzi yang merasa bahwa Xiao Ziyalah yang sudah membawanya keluar dari alam kematian yang sangat dekat dengannya.


"Minumlah air ini biarkan jarum jarum ini tetap menancap di tubuhmu hingga warnanya kembali menjadi emas." ucap Xiao Ziya yang memberitaukan pada Al Denzi agar tetap diam di tempat dan tak mencabut jarum jarum emas yang kini warnanya masih menjadi hitam.


"Trimakasih banyak karna guru Ziya telah menyelamatkan kakak laki laki kami." ucap Al Ergan, Al Xun, dan Al Zunling yang membungkukkan badan mereka di hadapan Xiao Ziya, mereka tak bisa jika harus kehilangan kakak laki laki mereka itu.


Sedangkan pemimpin akademi sangat kebingungan karna tabib akademi tak sanggup menyembuhkan Zinren yang semakin lama tubuhnya semakin menghitam. Apa yang harus ia lakukan pada muridnya itu, saat menoleh ke arah anggota murid inti ia melihat bahwa Al Denzi sudah pulih seperti semula sepertinya Xiao Ziya berhasil menyembuhkannya.


"Nona Ziya bisakah kau menyembuhkan muridku?." triak pemimpin akademi tanpa ada rasa malu, bukankah ia sendiri yang menghiraukan peringatan dari Xiao Ziya tadi, lalu mengapa sekarang ia meminta bantuan pada gadis itu.

__ADS_1


"Bukankah sudah saya katakan saya tak peduli apapun yang terjadi pada murid anda karna itu adalah tanggung jawab anda. Jangan menjadi seorang guru jika anda memang tak mampu." ucap Xiao Ziya dengan nada yang sedikit kasar karna gadis itu masih merasa kesal pada pemimpin akademi yang tak mendengarkan peringatannya tadi.


Hai hai semuanya akhirnya author bisa update lagi gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum follow, vote ya guys karna itu wajib banget, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate, share juga.


__ADS_2