
Setelah puas tertawa beberapa prajurit elf datang untuk membantu raja mereka bangun, untunglah tak ada luka yang serius. Hanya ada sebuah benjolan kecil di kening Raja Elf karna saat terjatuh tadi ia sempat terbentur sebuah batu kerikil kecil.
"Bagaimana caraku menanggapi sikap bocah ingusan itu, dia sudah menendang bokongku sebanyak dua kali." gumang Raja Elf dengan raut wajah kesal. Ia sangat ingin memberikan hukuman pada bocah elf itu namun di satu sisi ia merasa takut pada Xiao Ziya.
"Dia hanya mengikuti perintah ku saja Yang Mulia Raja, jika Anda ingin marah silahkan marah pada saya." ucap Xiao Ziya yang tiba tiba sudah berada di samping Raja Elf itu.
"Saya tak berani nona Ziya." ucap Raja Elf yang memilih untuk memendam kekesalannya daripada ia harus kehilangan nyawa karna masalah sepele.
Xiao Ziya berjalan dengan santai masuk ke dalam Istana Kerajaan Elf diikuti oleh Raja Elf dan para elf lain, karna hari sudah cukup malam ini saat yang tepat bagi mereka untuk melangsungkan acara jamuan makan malam. Sebelum datang ke jamuan makan malam Xiao Ziya izin terlebih dahulu untuk kembali ke kamarnya, gadis itu perlu mandi dan berganti pakaian karna ia rasa banyak keringat yang keluar saat melawan pasukan tengkorak hidup. Di sisi lain saat ini Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi sedang bertarung dengan Yie Gu dan Yie Weinje, kedua belah pihak saling mempertahankan pendapat mereka masing masing. Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi bersikeras melarang pasangan tua itu untuk masuk ke dalam wilayah Kerajaan Bulan. Di disi lain Yie Gu dan Yie Weinje akan tetap berusaha menembus pertahanan yang sedang dibuat oleh para penyihir hitam itu, keduanya tak akan kembali ke Klan Yie sebelum membawa Yie Munha bersama dengan mereka.
"Jika kalian bersikeras seperti ini maka Penguasa Agung akan sangat marah." ucap Yie Gu dengan raut wajah kesal hingga otot otot wajahnya keluar.
"Kami tak akan membiarkan kalian membawa Yie Munha pergi, bagaimana bisa kalian tega menumbalkan cucu kalian sendiri." ucap Ratu Min Xunzi dengan sorot mata penuh kebencian. Ia sangat berharap Xiao Ziya akan segera kembali dan membunuh dua hama yang sangat menyebalkan ini, keberadaan Yie Gu dan Yie Weinje di luar perbatasan Kerajaan Bulan telah memancing kepanikan penduduk sekitar.
"Penguasa Agung tak akan membunuh gadis itu karna ia ingin menjadikan Yie Munha sebagai istrinya, saat resmi menjadi istri sang Penguasa Agung maka Yie Munha akan mendapat banyak keuntungan." ucap Yie Weinje, wanita tua itu sudah membayangkan apa saja yang akan ia dapatkan ketika berhasil menikahkan Yie Munha dengan Penguasa Agung.
"Gadis itu berhak memilih siapa yang akan menjadi calon suaminya nanti, kalian tak bisa memaksanya seperti ini." balas Raja Min Lunxi.
"Kalian berdua bukanlah bagian dari Klan Yie lagi, karna hal itu jangan ikut campur dengan masalah kami." ucap Yie Gu dan Yie Weinje secara bersamaan.
Pertarungan yang terjadi antara mereka berempat sangat lah sengit, mereka bertarung hampir setengah hari dan belum ada tanda tanda siapa yang akan memenangkan pertarungan tersebut. Di sisi lain saat ini Min Xome dan Min Wungi sedang menahan Yie Munha yang ingin pergi ke luar perbatasan, gadis itu begitu panik sedari tadi setelah mendengar kakek dan neneknya datang untuk mencarinya. Yie Munha juga mengetahui bahwa saat ini paman dan bibinya sedang berusaha melawan kakek dan neneknya itu, Yie Munha takut akan menjadi beban jika ia terus berada di Istana Kerajaan Bulan. Setelah mengetahui seberapa kuat sosok yang disebut dengan Penguasa Agung, terbersit sebuah perasaan bahwa kemungkinan Xiao Ziya tak bisa menang darinya.
"Saya harus pergi untuk menemui mereka, saya tak ingin Kerajaan Bulan yang kini telah menjadi milik Nona Xiao Ziya hancur begitu saja." ucap Yie Munha yang berusaha untuk memberontak.
"Tenanglah dan tetaplah berada di dalam istana. Bukankah adik Ziya sudah mengatakan apapun yang terjadi kami semua akan melindungi mu." ucap Min Xome, pemuda itu berusaha menahan Yie Munha dengan sekuat mungkin.
Tiba tiba dari arah belakang Yie Junghwa memukul punggung Yie Munha dengan kencang hingga gadis itu pingsan, ia sengaja melakukannya agar sang adik tak terus memberontak dan membuat kedua Tuan Muda kerepotan karenanya. Min Xome dan Min Wungi menatap ke arah Yie Junghwa dengan tatapan bingung, mereka tau jika pemuda itu adalah kakak laki laki dari Yie Munha namun tindakannya terlaku kasar.
"Maaf karna adik saya terlalu merepotkan kalian berdua." ucap Yie Junghwa yang meminta maaf atas nama Yie Munha.
"Sebelum Anda datang ke istana ini kamu sudah terbiasa dengan sikap Yie Munha, lain kali jangan bersikap kasar padanya." ucap Min Wungi dengan tatapan tajam, dengan segera pemuda itu membopong tubuh Yie Munha kemudian dibawa ke dalam kamar tamu agar gadis itu bisa beristirahat dengan tenang.
__ADS_1
Di tempat lain saat ini Xiao Ziya sudah berada di ruang makan bersama dengan para elf, gadis itu sedang sibuk memakan makanan yang disajikan di depan matanya. Melihat Xiao Ziya makan dengan lahap membuat Lunx dan Raja Elf merasa senang, sepetinya gadis itu memiliki selera makan yang sangat tinggi.
"Makanlah dengan pelan Nona Ziya, kami tak akan merebut makanan yang ada di piring Anda." ucap Lunx sembari memasukkan beberapa potong sayuran kedalam mulutnya.
"Saya membutuhkan banyak energi setelah melawan para tengkorak itu, sepertinya wilayah ini dulunya sebuah pemakaman masal untuk para prajurit yang gugur dalam medan perang." ucap Xiao Ziya yang sedang menebak nebak mengapa pasukan tengkorak bisa muncul di area padang gandum yang sangat subur.
"Sepertinya memang seperti ini Nona Ziya, sejak kami datang selalu ada gangguan entah itu suara berisik ataupun burung gagak yang datang secara bergerombol. Kedatangan tengkorak hidup seperti itu terjadi sekitar enam tahun yang lalu." jawab Raja Elf.
"Kami berterimakasih pada Nona Ziya karna telah membantu kami menyelesaikan masalah ini, tanpa bantuan dari Anda para tengkorak itu akan terus berdatangan saat malam hari." ucap para elf dengan senyuman tulus.
"Baiklah biarkan saya makan dengan tenang terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang ingin fokus menghabiskan makanan yang masih tersisa di dalam piringnya.
Acara jamuan makan malam berjalan dengan lancar semua orang menikmatinya begitupun dengan Xiao Ziya, saat ini gadis itu sedang berada di dalam kamar untuk beristirahat. Esok hari Xiao Ziya akan pergi menuju Desa Elnz dan segera menemukan pedang peninggalan sang nenek, Xiao Ziya ingin tau apa pesan terakhir dari neneknya itu. Di sisi lain saat ini Raja Elf sedang membicarakan beberapa hal penting dengan leluhurnya, sang raja sangat berat hati jika melepas kepergian leluhurnya itu untuk mengikuti Xiao Ziya.
"Apakah Anda tak bisa tetap tinggal di sini?." tanya Raja Elf dengan raut wajah sedih. Ia dan elf yang lain sudah menjaga jasad leluhur mereka cukup lama, puluhan kali Raja Elf melihat sang leluhur membuat perjanjian entah itu dengan bangsa manusia, bangsa iblis, ataupun bangsa lainnya namun semua berakhir dengan pemutusan janji secara sepihak yang membuat sang leluhur harus tersiksa.
"Seperti sebelum sebelumnya, saya akan ikut dengan Nona Ziya. Kali ini saya sangat yakin bahwa ia tak akan memutus perjanjian secara sepihak seperti yang lain." ucap Lunx dengan kepercayaan penuh yang ia berikan pada Xiao Ziya, entah mengapa saat bersama gadis itu ia juga merasa sangat tenang.
"Baiklah jika itu keputusan Anda, saya tak bisa memaksa Anda untuk tetap tinggal di sini. Jika terjadi sesuatu pada Anda, istana ini selalu menerima Anda kembali." ucap Raja Elf yang hanya bisa pasrah menerima keputusan leluhurnya itu.
"Mengapa kedua orang itu belum menyerah juga, mereka bersikeras untuk mengambil Nona Yie Munha." ucap salah seorang penjaga perbatasan dengan raut wajah kesal.
"Nona Besar Xiao Ziya akan sangat marah jika saat ia kembali nanti Nona Yie Munha tak ada di istana, lalu apa yang harus kita lakukan?." tanya salah seorang prajurit penjaga gerbang pada rekannya yang lain.
"Entahlah aku juga tak tau." jawab beberapa prajurit penjaga perbatasan secara bersama sama.
Yie Weinje merasa kelelahan, energi yang ia miliki sudah terkuras habis. Wanita itu penasaran darimana Min Xunzi mendapatkan banyak energi hingga ia tak merasa lelah sedikitpun, jika sampai ia kalah dalam pertarungan ini maka posisi suaminya akan terpojok. Ratu Min Xunzi melihat sebuah celah, ia memukulkan pedangnya ke punggung Yie Weinje hingga terdengar suara retakan yang sangat nyaring, luka lama wanita tua itu kembali terbuka dan ia langsung tergeletak lemah di tanah.
"Sebaiknya Anda berhenti sebelum saya membunuh istri Anda." ucap Ratu Min Xunzi yang langsung menjadikan Yie Weinje sebagai tahanannya. Ratu Min Xunzi meletakkan bagian tajam dari pedangnya ke leher wanita tua itu.
Yie Gu yang tadinya sedang bertarung dengan Raja Min Lunxi menjadi tak fokus karna ia mencemaskan kondisi sang istri, dengan segera pria tua itu mengangkat pedang sebagai pertanda bahwa ia menyerah pada pertarungan kali ini. Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi menghela nafas panjang, untunglah pertarungan mereka selesai sebelum keduanya kehabisan energi.
__ADS_1
"Jangan pernah datang lagi ke tempat ini." ucap Ratu Min Xunzi yang memberi peringatan pada Yie Gu dan Yie Weinje. Sebenarnya Ratu Min Xunzi sangat ingin membunuh keduanya, namun ia ingat bahwa saat ini mereka berdua sedang terhubung dengan sosok yang disebut dengan Penguasa Agung, bila salah satu dari mereka mati maka Penguasa Agung akan langsung datang dan meluluh lantahkan Istana Bulan. Ratu Min Xunzi berusaha mengulur waktu hingga Xiao Ziya kembali nanti.
"Lihat saja saat Penguasa Agung datang maka kalian tak akan bisa melakukan apapun." ucap Yie Gu yang langsung pergi membopong isterinya kemudian ia masuk kedalam hutan perbatasan.
Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi saling menatap satu sama lain, keduanya langsung melesat menuju Istana Kerajaan Bulan untuk beristirahat dan mengisi energi kembali. Para penyihir hitam sepakat untuk menjaga gerbang penasaran secara bergilir, mereka telah terbagi menjadi beberapa kelompok yang akan menyebar di wilayah wilayah perbatasan Kerajaan Bulan dengan wilayah lain.
"Sialan, jika Min Xunzi dan suaminya tak segera dikalahkan maka kita tak akan bisa membawa Yie Munha kembali." ucap Yie Gu dengan kesal. Pria tua itu masuk ke bagian dalam hutan dan membuat tenda sebagai tempat beristirahat sang istri, untuk saat ini mereka belum bisa kembali ke Klan Yie karna jika mereka kembali dengan tangan kosong Penguasa Agung akan sangat marah.
"Kita istirahat terlebih dahulu suamiku." ucap Yie Weinje dengan suara pelan.
Di tempat lain saat ini Xiao Ziya baru saja terbangun dari tidur lelapnya, gadis itu membuka matanya perlahan dan setelah rasa kantuknya mulai hilang ia langsung berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mengganti pakaian gadis itu langsung keluar dari kamar, ia ingin berpamitan pada Raja Elf serta para elf yang tinggal di istana itu. Sudah banyak waktu yang terbuang dan ini saatnya bagi Xiao Ziya untuk berjalan menuju tujuan utamanya Yaitu Desa Elnz.
"Selamat pagi Nona Xiao Ziya." ucap salah seorang elf yang sedang lewat di hadapan Xiao Ziya.
"Pagi juga, dimana raja kalian berada?." tanya Xiao Ziya dengan ekspresi wajah ramah.
"Saat ini Yang Mulia Raja Zuenz dan yang lain sudah menunggu Anda di halaman depan istana." ucap elf itu.
"Terimakasih informasinya saya permisi." ucap Xiao Ziya yang langsung bergegas pergi menuju halaman depan Istana Kerajaan Elf, setelah sampai ia melihat banyak sekali elf yang berkumpul untuk melepas kepergiannya bersama dengan leluhur mereka.
"Salam hormat kami pada Nona Ziya." ucap para elf secara serempak, mereka menundukkan kepala dihadapan Xiao Ziya.
"Salam semuanya, maaf karna saya tak bisa tinggal lebih lama di tempat ini. Ada hal penting yang harus saya lakukan sekarang, satu hal yang ingin saya sampaikan pada kalian semua. Apapun yang terjadi saya berjanji tak akan memutus perjanjian dengan leluhur kalian, karna itu kalian tak perlu cemas jika leluhur kalian akan kehilangan jiwanya lagi. Saya sangat mengerti bahwa kalian sulit melepaskan kepergian Tuan Lunx, saya juga tak akan memaksanya untuk ikut pergi bersama dengan saya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar di wajah cantiknya itu.
Mendengar perkataan dari Xiao Ziya membuat Lunx sang leluhur elf terkejut bukan main, siapa yang akan menyangka bahwa gadis manusia yang telah menjadi nona mudanya memberikan pilihan padanya. Ia bisa tetap tinggal bersama para elf di wilayah padang gandum atau pergi bersama nona mudanya untuk melakukan perjalanan panjang.
"Sebagai pelayan setia nona Ziya, saya akan ikut kemanapun Anda pergi." ucap Lunx dengan tegas.
"Baiklah jika itu yang menjadi keputusan Anda, saya harap kalian semua bisa menghargai keputusan Tuan Lunx." ucap Xiao Ziya sembari menatap ke arah para elf yang kini berada di hadapannya.
"Selama Nona Ziya berjanji tak akan menyakiti Tuan Lunx seperti yang lain maka kami akan merasa senang saat Tuan ikut bepergian dengan Anda." jawab para elf secara serempak.
__ADS_1
"Kalian bisa memegang janji saya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.