RATU IBLIS

RATU IBLIS
Menyewa Restoran


__ADS_3

Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi berjalan dengan santai di belakang para prajurit menuju ruang tempat penyimpanan harta, Xiao Ziya mengamati bangunan Istana Kekaisaran Binzo yang sekarang dan ia merasa bahwa istana terdahulu jauh lebih besar dan mewah dari segi apapun. Setelah berjalan selama beberapa saat akhirnya mereka sampai di depan pintu masuk gudang penyimpanan harta. Salah seorang prajurit mengambil kunci di dalam sakunya kemudian membuka gudang harta itu, mereka mempersilahkan Xiao Ziya untuk masuk ke dalam sedangkan Putri Zo Ruhi harus menunggu di luar.


"Silahkan masuk ke dalam Nona Ziya, kami telah menyisihkan sisa dari setengah harta Kekaisaran Binzo yang harus Anda bawa." ucap salah seorang prajurit.


"Baik saya akan mengambil bagian saya saja, tunggu sebentar di sini." ucap Xiao Ziya yang langsung masuk ke dalam gudang harta itu.


Xiao Ziya melihat tumpukan koin emas yang menggunung serta perhiasan perhiasan peninggalan keluarga kerajaan sebelumnya. Dengan segera Xiao Ziya memasukkan sisa harta Kekaisaran Binzo yang harus ia bawa ke dalam cincin semesta. Saat melihat di sekitar ruang harta itu Xiao Ziya melihat sebuah mahkota ratu yang sangat cantik, ia dapat mengingat dengan baik bahwa mahkota itu sering digunakan oleh mendiang ibu Putri Zo Ruhi.


"Seharusnya benda ini jatuh ke tangan Putri Zo Ruhi. Akan sangat disayangkan jika Ratu Yuzang Lui yang menggunakannya." gumam Xiao Ziya dengan suara pelan. Gadis itu tersenyum miring kemudian memasukkan mahkota tersebut ke dalam cincin semestanya juga.


Setelah selesai mengambil bagian miliknya Xiao Ziya segera keluar dari gudang harta. Para prajurit yang sedari tadi menunggu di luar dapat bernafas dengan lega karna Xiao Ziya tak terlalu lama berasa di dalam gudang tersebut, beberapa prajurit masuk ke dalam untuk memastikan Xiao Ziya tak mengambil lebih dari kesepakatan yang telah di buat, tak butuh waktu lama prajurit yang berada di dalam langsung kembali.


"Semuanya aman tak ada harta kekaisaran yang hilang." ucap prajurit itu pada rekannya yang lain.


"Karna urusan saya di tempat ini telah selesai, saya dan Putri Zo Ruhi akan segera pergi. Apapun yang terjadi pada kalian ataupun Kekaisaran Binzo di masa depan jangan berharap saya bersedia untuk membantu. Ini pilihan kalian sendiri untuk mengakui Kaisar Yuzang Yanglang sebagai pemimpin wilayah Kekaisaran Binzo karna itulah kalian juga harus bisa hidup dengan baik di bawah kepemimpinannya tanpa ada campur tangan orang orang saya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius, Ziya menggenggam tangan Putri Zo Ruhi. Xiao Ziya merapalkan mantra teleportasi kemudian keduanya menghilang dari hadapan para prajurit.


Setelah kepergian Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi dari Istana Kekaisaran Binzo suasana di tempat itu kembali seperti semula namun sedikit mencekam dari biasanya. Para prajurit yang mendengar pesan terakhir dari Ziya sebelum gadis itu pergi merasa akan banyak bencana yang menimpa wilayah Kekaisaran Binzo. Selama ini banyak orang orang penting yang berkaitan dengan Xiao Ziya membangun kerjasama dengan Kekaisaran Binzo, namun lambat laun mereka akan pergi meninggalkan tempat itu.


"Hish entah bagaimana nasib wilayah ini tanpa pengaruh dari Nona Xiao Ziya. Dia di juluki sebagai pemimpin Dunia Bawah artinya banyak kerajaan yang tunduk padanya." gumang salah seorang prajurit sembari memijit keningnya perlahan.


"Mau bagaimana lagi semuanya sudah terlanjur seperti ini. Kita hanya bisa menaruh harapan pada keluarga kekaisaran yang baru, semoga mereka bisa membawa penduduk wilayah Kekaisaran Binzo dalam kemakmuran." jawab prajurit yanh lain. Yang bisa mereka lakukan hanyalah pasrah, tak mungkin prajurit seperti mereka berani menantang Xiao Ziya secara terang terangan hanya untuk merebut kembali wilayah Kekaisaran Binzo bagian selatan yang kini telah menjadi milik gadis itu.


Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi tiba tiba muncul di sebuah desa di dekat perbatasan antara wilayah bagian barat dengan wilayah bagian selatan. Beberapa prajurit menyambut kedatangan Nona Muda mereka dengan membungkukkan badan sembari mengucapkan salam.


"Apakah para penduduk yang terjangkit wabah sudah sepenuhnya diobati?." tanya Xiao Ziya pada beberapa prajurit.


"Semua penduduk telah sembuh dari wabah mengerikan itu berkat bantuan Nona Xiao Ziya. Kami ucapkan terimakasih banyak pada Anda." ucap para prajurit itu dengan perasaan lega, kini mereka bisa berkumpul kembali dengan keluarga masing masing secara utuh.


"Ah iya saya ingin meminta tolong pada kalian untuk mengumpulkan para kepala desa ataupun perwakilan masing masing desa sore ini juga, ada beberapa hal penting yang ingin saya bahas dengan mereka. Saya akan menyewa restoran yang ada di ujung sana sebagai tempat berkumpul nanti." ucap Xiao Ziya. Ia meminta tolong pada para prajurit yang sedang berjaga di perbatasan untuk mengumpulkan perwakilan masing masing desa yang ada di wilayah bagian selatan. Ia akan membahas beberapa hal yang harus dilakukan serta pengembangan wilayah tersebut.


"Siap laksanakan, kami akan segera pergi untuk melaksanakan perintah dari Anda." ucap para prajurit itu, mereka secepat mungkin membentuk beberapa kelompok kemudian mulai berpencar menuju desa yang di tuju.


Xiao Ziya mengajak Putri Zo Ruhi menuju restoran yang ada di ujung desa itu, kedatangan mereka berdua disambut dengan ramah oleh para pekerja restoran. Mereka menawarkan beberapa menu andalan yang dimiliki oleh restoran itu namun Xiao Ziya harus menolaknya karna tujuan utama gadis itu adalah bertemu dengan pemilik restoran.

__ADS_1


"Saya tak ingin memesan terlebih dahulu. Bisakah saya berhemu dengan nyonya pemilik restoran ini? ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan padanya." ucap Xiao Ziya.


"Baik mohon tunggu sebentar, saya akan memanggilkan Nyonya agar turun kebawah dan menemui Nona Xiao Ziya." ucap salah seorang pelayan pria yang bergegas naik ke lantai tiga restoran tersebut.


Tok tok tok ....


Suara pintu ruangan khusus untuk pemilik restoran yang diketuk oleh pelayan laki laki itu. Setelah menunggu kurang lebih selama dua menit ia mendapatkan izin untuk masuk ke dalam.


"Salam hormat saya pada Nyonya, saat ini Nona Xiao Ziya sedang berada di lantai dasar dan ingin bertemu dengan Anda. Apakah saya harus memintanya untuk naik ke lantai atas ataukah Anda ingin menemuinya langsung?." tanya pelayan laki laki itu tanpa bertele-tele, ia hanya tak ingin membuat Nona Xiao Ziya menunggu lama.


"Saya yang akan turun kebawah untuk menemuinya, ini sebuah kehormatan karna Nona Ziya datang berkunjung ke restoran. Ah iya perintahkan pada para koki untuk menyiapkan hidangan terbaik, jangan membuat Nona Ziya kecewa." ucap Nyonya pemilik restoran itu.


"Maaf sebelumnya Nona Ziya mengatakan ia tak ingin memesan makanan terlebih dahulu, sepertinya ada hal besar yang ingin ia bahas dengan Anda." ucap pelayan laki laki itu.


"Ternyata begitu, baiklah saya akan turun sekarang juga." ucap Nyonya tersebut sembari berdiri dari tempat duduknya kemudian keluar dari ruangan pribadinya. Si pelayan pria mengikuti nyonyanya dari belakang.


Xiao Ziya dan Putri Zo Ruhi sedang duduk di sebuah bangku yang telah disiapkan secara khusus oleh para pekerja di restoran itu, beberapa pengunjung yang ada di dalam menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan kagum. Xiao Ziya terlihat seperti seorang gadis yang memiliki kehidupan sempurna, ia kuat, berkuasa, dihormati oleh banyak orang, dan yang menjadi poin lebih adalah Xiao Ziya memiliki paras cantik serta sikap baik.


"Salam saya pada Nyonya, maaf jika kedatangan saya mengganggu kesibukan Anda." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manis.


Wanita pemilik restoran duduk dengan posisi menghadap langsung ke arah Xiao Ziya, entah mengapa ia merasa bahwa gadis itu sangat manis sekaligus anggun ketika tersenyum meskipun hanya samar samar terlihat.


"Ada keperluan apa hingga Nona Ziya mencari saya? apakah ada hal yang bisa saya bantu?." tanya wanita pemilik restoran itu dengan ramah.


"Saya ingin menyewa satu restoran itu untuk nanti sore, saya ingin kalian menyajikan menu makanan serta minuman terbaik yang kalian miliki. Sebelum itu saya ingin menanyakan apakah reston ini bisa di sewa?." tanya Xiao Ziya dengan ekspresi bingung. Seingatnya tidak semua restoran menerima pelayanan penyewaan secara keseluruhan seperti ini.


"Jika saya boleh tau untuk kepentingan apa Nona Ziya menyewa seluruh restoran kami? apakah tidak cukup hanya untuk satu lantai saja?." tanya wanita pemilik restoran itu penuh dengan tanda tanya. Ia berfikir Xiao Ziya melakukan hal tersebut hanya karna ia tak ingin diganggu ketika sedang menikmati makanan namun sepertinya pemikiran itu salah.


"Saya baru saja kembali dari Iatana Kekaisaran Binzo dan mencapai beberapa kesepakatan dengan sang kaisar, wilayah bagian selatan telah menjadi milik saya dan keluar dari Kekaisaran Binzo. Saya akan mengadakan pertemuan dengan para kepala desa serta beberapa perwakilan desa, karna itulah saya ingin menyewa restoran milik Anda secara keseluruhan. Saya hanya khawatir ada penduduk Kekaisaran Binzo yang datang berkunjung ke restoran ini kemudian mendengar rencana yang telah saya siapkan." ucap Xiao Ziya secara terang terangan pada wanita pemilik restoran itu.


"Ah ternyata begitu, baiklah saya akan mengosongkannya restoran sore nanti hingga Anda menyelesaikan pertemuan penting itu. Nona Ziya tak perlu memnayar biyaya sewa restoran karna hal yang ingin Anda lakukan menyangkut kehidupan banyak orang, saya akan merasa sangat senang jika bisa membantu walau sekedarnya saja. Anda hanya perlu membayar sejumlah makanan yang disajikan untuk para tamu Anda." ucap wanita pemilik restoran itu sengan senyuman yang indah.


"Saya rasa itu akan merugikan Nyonya, namun karna ini keputusan langsung dari Anda maka saya akan menghargainya. Terimakasih karna Nyonya bersedia meminjamkan restoran ini sebagai tempat pertemuan nanti, semoga Anda selalu di berkati oleh para Dewa dan Dewi." jawab Xiao Ziya, ia merasa tersentuh dengan kebaikan wanita pemilik restoran itu. Sangat jarang orang yang ingin mengambil kerugian besar saat ada peluang baginya untuk mendapatkan keuntungan, jika difikirkan dari segi bisnis tentu wanita itu akan mendapatkan keuntungan jika mengambil biyaya sewa dengan harga tinggi akan tetapi ia tak melakukannya.

__ADS_1


"Baiklah jika begitu saya dan Putri Zo Ruhi permisi terlebih dahulu. Untuk total makanan yang harus disajikan mungkin sekitar tujuh puluh orang, saya ingin semua menu terbaik dari restoran ini." ucap Xiao Ziya sebelum peegi meninggalkan restoran itu.


"Siap laksanakan, kami akan menyaksikan makanan terbaik yang kami miliki." ucap para pelayan. Restoran yang saat itu berada di lantai bawah.


Setelah utusannya dengan pemilik restoran selesai Xiao Ziya langsung pergi untuk mencari penginapan bersama Putri Zo Ruhi. Kali ini ia tak hanya menginap dalam satu malam melainkan beberapa hari.


Di tempat lain saat ini seorang pria dengan paras yang cukup tampan berlari menuju restoran tempat Xiao Ziya tadi, wajah pria itu menunjukkan ekspresi senang sekaligus terkejut. Mungkin ada sesuatu yang baru saja terjadi dan ia ingin memberikan hal itu pada sang istri. Ya pria itu adalah suami dari wanita pemilik restoran mereka adalah satu satunya anggota Klan Lin yang memilih untuk berpihak pada Xiao Ziya.


"Di mana Nyonya kalian saat ini?." tanya Tuan Lin Fenzu dengan nafas tersengal sengal. Ia berlarian dari rumah hingga sampai ke restoran, jarak antara rumah tempat tinggal mereka dengan restoran cukuplah jauh karna berada di desa yang berbeda.


"Nyonya baru saja kembali ke ruangannya, ada apa? mengapa Tuan menangis seperti itu?." tanya salah seorang pelayan wanita dengan tatapan khawatir. Semuq pekerja di restoran itu tau bagaimana kondisi keluarga nyonya mereka terlebih lagi nasib kurang baik yang menimpa anak termudanya.


"Tidak apa apa, saya menangis karena merasa terlalu senang." jawab Tuan Lin Fenzu. Ia segera berlari menaiki tangga menuju lantai ketiga, pria itu mengabaikan peringatan beberapa pekerja restoran agar lebih pelan saat menaiki tangga karna akan sangat fatal jika sampai jatuh ke bawah.


Brak.....


Pintu ruangan khusus Nyonya Lin Muhi di buka secara paksa oleh sang suami. Nyonya pemilik restoran menatap ke arah suaminya dengan tatapan bingung sekaligus terkejut.


"Ada apa suamiku? tak biasanya kau bersikap aneh seperti ini." tanya Nyonya Lin Muhi.


"Kebaikan apa yang telah kau lakukan istriku? para dewa dan diwi menurunkan berkatnya pada kita." ucap Tuan Lin Fenzu dengan air mata yang kembali mengalir dengan deras.


"Apa maksud mu? berkat apa yang telah para Dewa dan Dewi berikan pada kita?." tanya Nyonya Lin Muhi dengan raut wajah panik.


"Putra kita... putra terkahir kita kini tak lumpuh lagi. Baru saja aku melihatnya bagun dari tempat tidur kemudian berjalan layaknya anak normal." ucap Tuan Lin Fenzu dengan air mata yang terus menerus membasahi wajahnya.


"Benarkah?! jangan bercanda suamiku." ucap Nyonya Lin Muhi yang sulit untuk mempercayai perkataan suaminya itu.


"Saya tak sedang bercanda. Mari pulang dan melihatnya secara langsung agar kau percaya." ucap Tuan Lin Fenzu. Ia keluar dari ruangan pribadi sang istri kemudian berlari menuruni tangga diikuti oleh Nyonya Lin Muhi.


Semua orang yang melihat sikap aneh dari pasangan suami istri itu tentu merasa bingung, apa yang sedang terjadi? mengapa mereka berdua berlarian seperti itu. Beberapa pekerja berharap semoga bukan kabar buruk yang datang.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2