
Raja Ming Gu terlihat kebingungan, siapa yang harus ia dengarkan si sini karna keduanya memiliki pengaruh masing masing. Jika ia menolak permintaan dari Nona Besar Xiao Ziya kemungkinan akan terjadi perang entah dalam skala besar ataupun kecil, hal lain yang bisa terjadi adalah hancurnya Istana Kerajaan Ming Tuo yang dilakukan sendiri oleh gadis itu. Jika Raja Ming Gu menolak permintaan Nona Yangrang maja jalan pintas satu satunya menuju ke arah selatan akan ditutup oleh keluarga gadis itu.
"Jalan pintas? maksud Anda jalur yang harus dilalui untuk mengitari Hutan Pasir Hitam?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung. Saat ini Hutan Pasir Hitam tak semenyeramkan dulu lagi karna para binatang iblis telah kembali ke Alam Neraka dan yang tersisa tinggal kelompok Kalajengking Iblis saja.
"Kami harus mengitari hutan itu karna terlalu banyak iblis yang tinggal di sana." jawab Raja Ming Gu dengan ekspresi bingung, ia tak bisa mengambil keputusan itu sekarang.
"Saya datang ke sini melalui Hutan Pasir Hitam, Anda bisa melihat sendiri bahwa saya datang dengan kondisi utuh." balas Xiao Ziya dengan nada bicara santai, jika perlu ia akan meminta pada Yanze Xu untuk membuat perjanjian dengan Kerajaan Ming Tuo agar para Kalajengking Iblis tak memangsa manusia lagi dan membuka jalan pada para penduduk agar bisa melintasi Hutan Pasir Hitam.
Raja Ming Gu dan kedua putranya memandang ke arah Xiao Ziya dengan datar, wajar jika gadis itu baik baik saja setelah melintasi Hutan Pasir Hitam. Para iblis adalah ras yang pintar, mereka dapat merasakan kekuatan milik orang lain agar tak sembarang menyerang orang yang lebih kuat daripada mereka. Seorang gadis yang mampu naik dari Dunia Bawah ke Dunia Manusia Abadi serta menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya, iblis mana yang berani berhadapan dengan gadis seperti itu?. Melihat ekspresi wajah ketiganya Xiao Ziya hanya menunjukkan senyum tak bersalah karna ia memang baik baik saja saat melintasi hutan itu.
"Saya baik baik saja bukan karna saya kuat, namun saya mengenal para iblis yang tinggal di sana. Jika Yang Mulia Raja Ming Gu ingin bebas melintasi rute itu tanpa gangguan para iblis maka saya bisa membantu." jelas Xiao Ziya mengenai alasan mengapa ia baik baik saja meski harus melintasi Hutan Pasir Hitam yang sangat menyeramkan.
"Mengenal mereka? apakah Nona Besar Xiao Ziya berteman dengan bangsa iblis?." tanya Raja Ming Gu dengan ekspresi terkejut, sebenarnya apa yang tak bisa dilakukan oleh gadis itu?. Menjalin hubungan yang baik dengan bangsa iblis adalah hal yang sangat sulit, ia sudah mencoba melakukannya selama puluhan tahun namun tetap gagal.
"Mengapa Anda percaya dengan bualan gadis pembohong sepertinya." sangkal Yangrang, ia tak boleh membiarkan Xiao Ziya menang dalam perdebatan kali ini.
"Ya jika bukan karna bantuan dari saya Nona Yangrang pasti sudah mati saat berada di dalam hutan jati. Bukankah Anda juga ingin ikut saya ke Hutan Pasir Hitam, karna kemampuan Anda yang masih belum mumpuni Anda tak berani menyusul saya masuk ke dalam sana." ucap Xiao Ziya yang langsung membuat Yangrang terdiam, gadis itu belum menceritakan bahwa ia hampir terbunuh oleh sekelompok bandit dan dibantu langsung oleh Xiao Ziya. Rahasia terbesar gadis itu adalah ia kehilangan sihir api yang menjadi pertanda berkat dari Dewa Hiloz.
"Benarkah!! mengapa Nona Yangrang tak menceritakan hal itu pada saya." ucap Raja Ming Gu dengan ekspresi kecewa.
"Saya belum sempat menceritakan hal itu pada Anda karna semua terjadi terlalu mendadak." ucap Yangrang dengan alasan yang sangat logis. Xiao Ziya hanya tersenyum tipis saat mendengar asalan dari gadis itu.
"Jika saya boleh tau mengapa Anda mengoleksi banyak sekali lukisan Dewa Hiloz? sangat disayangkan tak ada satupun lukisan yang mirip dengan wajah aslinya." ucap Xiao Ziya. Saat masuk kedalam bagian dalam istana ia melihat ada puluhan lukisan Dewa Hiloz yang ditempel di beberapa bagian.
"Apa maksud Nona Besar Xiao Ziya? wilayah Kerajaan Ming Tuo adalah salah satu wilayah yang mendapat berkat dari Dewa Hiloz. Kami semua memiliki sihir api sebagai tanda bahkan kami pengikut yang telah diakui oleh sang dewa.
Xiao Ziya hanya menunjukkan ekspresi datar saat mendengar penjelasan dari Raja Ming Tuo, meski mereka mendapatkan berkat dari Dewa Hiloz tak seharusnya ia menempelkan wajah dewa itu di seluruh istananya karna akan membuat orang lain merasa pusing. Hal yang paling membuat Xiao Ziya merasa kasihan pada Raja Ming Gu adalah tak ada satupun lukisan yang mirip dengan wajah sang dewa.
"Gadis itu sangat tak menghargai Dewa Hiloz, sebaiknya Anda mengusir gadis itu sebelum Dewa Hiloz murka." ucap Yangrang yang sedang memprovokasi Raja Ming Gu. Berkat dari Dewa Hiloz adalah hal yang paling sakral bagi semua orang yang tinggal di wilayah Kerajaan Ming Tuo.
"Benarkah? ah bukannya Nona Yangrang kehilangan berkah dari Dewa Hiloz." ucap Xiao Ziya dengan santai namun membuat Raja Ming Gu dan kedua anak laki lakinya menoleh ke arah Yangrang. Apa yang telah dilakukan oleh gadis itu hingga kehilangan berkat dari Dewa Hiloz? mungkinkah Yangrang telah memberikan dosa besar?.
"Hentikan cukup hentikan!!!." triak Yangrang dengan suara yang kencang. Gadis itu sudah tak tahan mendengar semua perkataan dari Xiao Ziya yang membuatnya tertekan.
"Tenanglah Nona Yangrang, jika Anda tak kehilangan berkat dari Dewa Hiloz tak perlu se cemas itu." ucap Putra Mahkota Ming Zu yang sedang menenangkan Yangrang.
__ADS_1
Yangrang menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan penuh kebencian, karna gadis itu nama baik yang telah ia jaga selama ini menjadi hancur. Yangrang berlari ke arah Xiao Ziya dan ingin mencekik leher gadis itu, Xiao Ziya menghindar dengan cepat hingga Yangrang tersungkur jatuh ke belakang. Yangrang tak menyerah, gadis itu bangkit lagi dan kembali mencoba melukai Xiao Ziya dengan sebuah vas bunga yang diletakkan di meja ruang depan. Xiao Ziya diam saat vas bunga itu dibenturkan di kepalanya, beberapa pecahan kecil dari vas bunga itu masih menancap di kepala sebelah kiri gadis itu dan darah mengalir dengan banyak. Raja Ming Zu, Putra Mahkota Ming Zu, dan Pangeran Yanzi membelalakkan mata mereka karna terkejut dengan tindakan Yangrang.
"Wah Nona Yangrang sangat berani." ucap Xiao Ziya dengan senyuman jahat dan tatapan tajam. Aura membunuh mulai keluar dari tubuh gadis itu, semua binatang setia Xiao Ziya yang berada di dalam cincin semesta marah karna ada yang melukai nona muda mereka.
"Tenanglah nona Ziya." ucap Putra Mahkota Ming Zu.
"Kami meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan oleh Nona Yangrang." ucap Raja Ming Gu dengan tubuh gemetaran, ia sangat takut jika gadis itu meluapkan emosinya di dalam istana Kerajaan Ming Tuo.
"Nona Yangrang ingin kehancuran yang seperti apa? haruskah saya memutuskan berkat Dewa Hiloz untuk seluruh penduduk Kerajaan Ming Tuo? atau saya harus membantai seluruh anggota keluarga Anda? atau Anda ingin mati sendirian tanpa melibatkan orang lain?." tanya Xiao Ziya dengan sorot mata berwarna merah, gadis itu benar benar marah dengan tindakan Yangrang yang berani memukul kepalanya.
"Hahahaha gadis biasa sepertimu ingin memutus berkat dari Dewa Hiloz? jangan membuat saya merasa geli." jawab Yangrang dengan senyum meremehkan.
"DATANGLAH DEWA HILOZ, SAYA DATANG MEMANGGILMU !!!!!." triak Xiao Ziya menggunakan kekuatan serta pengaruhnya sebagai Dewi Agung, ia akan membuat gadis bernama Yangrang itu kehilangan semua hal yang ia miliki termasuk nyawanya sendiri. Sepertinya Xiao Ziya terlalu lembut pada gadis itu selama beberapa hari ini hingga ia sangat berani.
Saat ini alam dewa dan dewi sedang mengalami guncangan yang sangat hebat akibat energi dari Sang Dewi Agung meledek hingga membuat pada Dewa dan Dewi kalang kabut.
"Apa yang sedang terjadi pada Dewi Agung." ucap Dewa Agni dengan raut wajah khawatir.
"Kita harus menghampirinya sekarang jika tidak Alam Dewa Dewi akan hancur karna ledakan energi yang terjadi terus menerus." ucap Dewa Yengmu.
"Akhirnya Anda datang juga, beritahu saya mengapa Anda menerima pengikut gila sepertinya." ucap Xiao Ziya yang menatap penuh kekesalan ke arah Dewa Hiloz sembari menunjuk ke arah Yangrang.
Raja Ming Gu, Putra Mahkota Ming Zu, dan Pangeran Yanzi bersujud dihadapan Dewa Hiloz. Setelah sekian lama akhirnya Raja Ming Gu dapat bertemu dengan Dewa Hiloz yang sagat ia agung agungkan, sang raja pernah bertemu dengan Dewa Hiloz saat ia masih berusia tuju tahun karna itu ia sudah lupa bagaimana wajah dari dewanya.
"Kami memberikan salam hormat pada Dewa Hiloz yang agung." ucap Raja Ming Gu bersama dengan kedua putranya dengan tubuh gemetaran.
"Berdiri, siapa yang meminta kalian untuk bersujud seperti itu. Berdiri sekarang juga!!." bentak Xiao Ziya dengan penuh emosi hingga membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut begitupun dengan ketiga Dewa yang datang.
"Kami tak berani menatap langsung keagungan dari Dewa Hiloz, maaf jika kami menyinggung perasaan Nona Besar Xiao Ziya." ucap Raja Ming Gu yang mewakili kedua anaknya untuk meminta maaf.
"Berdiri!!." ucap Xiao Ziya tanpa ingin dibantah dengan alasan apapun. Jangan sampai gadis itu kehilangan kendali dan memenggal kepala Raja Ming Gu dan kedua putranya menggunakan pedang hitam yang masih berada di dalam cincin semesta.
"Tolong kalian berdirilah, jangan membantah perintah dari Sang Dewi Agung Xiao Ziya." ucap Dewa Hiloz dengan wajah pucat, ia tak tau apa yang akan terjadi padanya nanti. Untuk kesekian kalinya pengikut yang telah ia akui membuat masalah dengan Xiao Ziya, apakah Dewa Hiloz harus mengumpulkan seluruh pengikutnya kemudian memberitahu pada mereka tentang kekuatan yang dimiliki oleh seorang gadis bernama Xiao Ziya itu. Jika seluruh Dewa dan Dewi menyatukan kekuatan mereka untuk melawan Xiao Ziya itu masih belum cukup dan bisa dibilang mencari mati karna menantang maut.
Raja Ming Gu dan kedua putranya langsung berdiri ketika mendengar perkataan dari Dewa Hiloz, mereka menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan tak percaya. Jadi gadis yang sedari tadi berbincang bincang santai dengan mereka adalah sosok dari Sang Dewi Agung? kesalahan besar apalagi yang telah mereka lakukan dengan tak mematuhi perintah Dewi Agung.
__ADS_1
"Kami benar benar minta maaf atas tindakan kami yang telah menyinggung perasaan Dewi Agung." ucap Raja Ming Gu dan kedua putranya secara bersamaan.
"Dimana tempat tinggal Nona Yangrang?." tanya Xiao Ziya sembari menatap tajam ke arah Raja Ming Gu.
"Apa yang ingin kau lakukan, jangan pernah berfikir untuk melukai kedua orang tuaku." ucap Yangrang penuh dengan keberanian meski yang menjadi lawannya saat ini adalah seorang Dewi Agung.
"Maka matilah untuk menyelamatkan hidup mereka." ucap Xiao Ziya. Mata sebelah kiri gadis itu sepenuhnya berwarna hitam sedangkan mata sebelah kananya berwarna putih. Energi iblis dan energi suci yang ada di dalam tubuh Xiao Ziya menyatu dan membuat perubahan yang besar pada penampilan gadis itu.
"Kami mohon tenangkan diri anda Dewi Agung, jika terus seperti ini maka Alam Dewa Dewi dan Alam Neraka akan mengalami kerusakan yang parah." ucap Dewa Agni dengan suara yang ia lembut kan karna tak ingin membuat Xiao Ziya semakin marah.
"Bakar gadis itu." ucap Xiao Ziya sembari menunjuk ke arah Yangrang. Mendengar perkataan Xiao Ziya dan tatapan serius yang ia tunjukkan membuat keberanian Yangrang menjadi hilang dalam sekejap. Gadis itu berlari ke arah pintu keluar dan ingin kabut sari tempat itu untuk menyelamatkan hidupnya, sangat disayangkan sulur hitam milik Xiao Ziya melilit kedua kaki gadis itu hingga jatuh ke lantai.
"Hei bukankah Nona Yangrang telah menantang saya tadi? jangan pernah berfikir untuk bisa kabur dari saya." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyum yang sangat menyeramkan.
Xiao Ziya meminta Raja Ming Gu dan Putra Mahkota Ming Zu untuk mengantarnya ke rumah Yangrang, ia perlu memberi pelajaran pada kedua orang tua Yangrang karna terlalu memanjakan putrinya hingga kehilangan akal sehat. Raja Ming Gu dan Putra Mahkota Ming Zu berjalan di barisan paling depan, Xiao Ziya berada di tengah sembari membawa Yangrang menggunakan sulur hitam miliknya sedangkan ketiga Dewa mengikuti Dewi Agung mereka dari belakang. Xiao Ziya sengaja tak mengajak Pangeran Yanzi karna ia muak melihat wajah menyebalkan dari pemuda itu, dari tatapan mata yang Pangeran Yanzi berikan pada Xiao Ziya sudah menunjukkan niatan jahatnya.
"Sialan mengapa aku ditinggal sendirian di sini." gumang Pangeran Yanzi dengan kesal. Pemuda itu ingin menyusul mereka namun takut akan terkena amarah dari Xiao Ziya, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke istana pangeran dan masuk kedalam kamarnya.
Di tempat lain tepatnya Klan Yie, Yie Laingfu tengah dimarahi oleh kedua orang tuanya karna gagal mengajak Yie Munha untuk kembali, jika seperti ini rencana yang telah mereka buat tak bisa dilanjutkan dan harus menyusun rencana baru. Yie Weinje menunjukkan ekspresi marah setelah mengetahui bahwa gadis yang telah ia rawat dan besarkan sejak kecil lebih memihak pada orang lain daripada dirinya.
"Putrimu itu sama tak berguna nya dengan mendiang istri mu." ucap Yie Weinje dengan kata kata yang menusuk hati.
"Jangan mengingatkan saya tentang kejadian itu lagi, ibu sendiri yang telah mengambil nyawa wanita yang paling saya cintai." ucap Yie Laingfu dengan tatapan tanpa ekspresi, banyak hal yang telah ia korbankan hanya untuk menunjukkan rasa cintanya pada sang ayah dan ibu. Yie Laingfu menyerahkan nyawa sang istri sebagai tumbal untuk memanggil sosok jahat yang membantu semua rencana Yie Gu dan Yie Weinje selama ini.
"Bagaimana jika kita meminta bantuan Tuan, kita perlu menyiapkan beberapa gadis dan wanita yang ia minta." ucap Yue Gu dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah jahatnya itu.
"Terakhir kali Tuan meminta nyawa Yie Munha sebagai tumbal namun gadis itu tak ada di sini. Tuan tak akan datang jika kita tak memenuhi keinginannya." ucap Yie Weinje dengan sorot mata tajam, sebaiknya ia segera pulih dan bisa berjalan dengan begitu ia bisa menjemput Yie Munha secara paksa meski harus melawan anggota Keluarga Kerajaan Bulan beserta para prajurit.
"Kita bisa meminta kesembuhan sementara padanya." balas Yie Gu atas keluhan sang istri.
"Baiklah, siapkan semua persiapan untuk memanggil Tuan." ucap Yie Weinje yang kembali memberi perintah pada Yie Laingfu. Pria itu hanya bisa menganggukkan kepala dan segera keluar dari ruang kesehatan.
Yie Junghwa dan Yie Cinling menguping pembicaraan antara kakek nenek serta ayahnya itu, mereka segera pergi ketika mendengar suara langkah kaki keluar dari ruang kesehatan. Kedua pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya mereka kemudian saling menatap satu sama lain, ternyata ayah yang mereka bangga banggakan selama ini tak lebih dari seorang pengecut.
Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1