RATU IBLIS

RATU IBLIS
Mencari Tau


__ADS_3

Setelah kepergian Kaisar Zue, Xiao Ciyun menatap ke arah pintu keluar ruang kerjanya dengan tatapan kesal. Memang benar adanya bahwa posisi sebagai Pemimpin Klan Xiao ia dapatkan dari pemberian Xiao Ziya namun gadis itu tidak melakukan pekerjaan apapun yang berkaitan dengan Klan Xiao selama ia menduduki posisi tertinggi, jika dibiarkan terus seperti itu maka akan terjadi ketidakadilan di dalam susunan pemerintah klan. Setelah Xiao Ziya kembali nanti Xiao Ciyun akan membicarakan hal ini secara langsung dengannya.


"Klan Xiao harus menjadi milik saya, semua waktu yang telah saya buang untuk mengurus klan ini tidak boleh sia sia." gumam Xiao Ciyun.


Di tempat lain saat ini Xiao Ziya dan Nyonya Mo Anhi telah selesai mengobati para penduduk desa yang tinggal di dekat Istana Kerajaan Daun Perak, mereka bersama puluhan pendukung dari desa itu pergi menuju desa selanjutnya untuk meminumkan ramuan penawar yang dibuat oleh Xiao Ziya. Baru saja menginjakkan kaki di desa yang lain, ada beberapa orang pria yang berlari ke arah Xiao Ziya dan hendak menyerang gadis itu. Dengan segera Xiao Ziya memukul pundak mereka hingga tak sadarkan diri setelahnya Xiao Ziya meminumkan ramuan penawar yang ada di tangannya, puluhan cacing parasit keluar kemudian mati.


"Perlu waktu seharian untuk menyelesaikan masalah wabah di wilayah Kerajaan Daun Perak, jika Nona Xiao Ziya merasa lelah sebaiknya Anda beristirahat terlebih dahulu." ucap Nyonya Mo Anhi, wanita itu khawatir jika Xiao Ziya kelelahan karna langsung membantu banyak orang padahal ia baru saja tiba di Dunia Bawah.


"Saya baik baik saja, akan lebih baik jika kita menyelesaikannya dengan cepat." jawab Xiao Ziya.


Gadis itu terdiam beberapa saat, ia sedang memikirkan sebuah cara agar bisa meminum ramuan penawar dalam waktu bersamaan untuk lima sampai sepuluh orang sekaligus. Setelah berfikir cukup lama akhirnya gadis itu menemukan sebuah cara, Xiao Ziya membuka kedua telapak tangannya kemudian muncul puluhan Sulut hitam. Puluhan botol kaca kecil berisi ramuan penawar diambil oleh sulur sulur hitam milik Xiao Ziya, beberapa saat setelahnya sulur hitam mulai beraksi dengan membuka paksa mulut para penduduk yang terjangkit wabah kemudian menuangkan ramuan itu.


"Itu terlihat seperti pemaksaan Nona Ziya." komentar salah seorang penduduk yang ikut membantu meminumkan ramuan penawar.


"Tapi itu terlihat lebih cepat dan praktis, kita semua bisa pingsan jika harus meminumkan satu persatu pada semua penduduk yang terjangkit wabah." jawab salah seorang penduduk lain.


"Selama tidak ada yang terluka dengan apa yang dilakukan oleh Nona Ziya, jangan ada yang protes." gertak Nyonya Mo Anhi.


"Baik Nyonya Anhi, maaf atas perkataan saya barusan." jawab penduduk yang sempat mengomentari cara Xiao Ziya memberikan ramuan penawar.


Proses penyembuhan yang dilakukan Xiao Ziya dan kelompoknya berjalan sangat lama hingga malam tiba, hingga saat ini ada tujuh desa yang telah mendapat ramuan penawar dan sembuh dari wabah cacing parasit. Beberapa penduduk yang ikut serta merasa lelah dan memilih untuk kembali ke rumah mereka masing masing untuk beristirahat kemudian kembali membantu esok hari, di saat semua orang tidur dengan lelap karna kelelahan Xiao Ziya dan Nyonya Mo Anhi berada di salah satu desa yang masih terjangkit wabah.


"Kondisi para penduduk di desa ini lebih parah daripada desa lainnya, mungkin dikarenakan mereka berada di dekat tempat munculnya wabah mengerikan ini." ucap Nyonya Mo Anhi yang menatap miris ke arah para penduduk desa yang saling melukai satu sama lain.


"Dimana tempat wabah ini pertama kali muncul?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan penasaran.


"Mari ikut dengan saya, akan lebih baik jika Nona Xiao Ziya bergerak dengan cepat untuk menghindari serangan para penduduk desa." ucap Nyonya Mo Anhi, wanita itu langsung melesat dengan kecepatan penuh. Tanpa basa basi Xiao Ziya langsung mengimbangi kecepatan wanita itu, kini keduanya hanya berjarak beberapa senti saja.


Tidak perlu waktu lama untuk sampai di tempat yang dituju, Nyonya Mo Anhi berhenti di depan sebuah sungai yang berada di belakang desa itu. Xiao Ziya melihat ke arah aliran sungai dengan teliti, bagaimana wabah cacing parasit bisa menyebar jika sungai yang menjadi tempat penyebarannya hanya mengalir di sekitar Kerajaan Daun Perak saja? atau kelima orang berjubah hitam itu mendatangi beberapa wilayah kerajaan kemudian meninggalkan beberapa indukan cacing parasit di setiap inti aliran sungai yang ada??.


"Tolong mundur beberapa langkah Bibi Anhi." perintah Xiao Ziya yang meminta Nyonya Mo Anhi untuk mundur dan berada di jarak aman.


Mo Anhi menuruti perkataan Xiao Ziya dan langsung mundur cukup jauh, terlihat Xiao Ziya sedang menajamkan pandangannya ke dalam sungai tersebut. Xiao Ziya menemukan ribuan telur cacing parasit yang siap menetes, seketika emosi gadis itu kembali meluap.


"Apa yang sebenarnya mereka pikirkan, bukankah tindakan ini terlalu kejam!!. Lihat saja nanti balasan apa yang akan saya berikan saat bertemu dengan pelaku utama di balik kejadian ini." batin Xiao Ziya dengan rambut berwarna merah darah yang terbakar oleh api.


Xiao Ziya membakar air yang ada di sungai itu menggunakan api hitam miliknya, dari kejauhan Nyonya Mo Anhi melihat perlahan lahan air di dalam sungai mendidih bahkan mengeluarkan bau yang cukup menyengat. Telur telur dan indukan cacing parasit yang hidup di dasar sungai mati tak tersisa, api hitam milik Xiao Ziya membakar habis semua parasit pengganggu itu namun hebatnya ikan ikan yang ada di sungai masih hidup bahkan tidak merasakan panasnya air sungai yang sedang mendidih.


"Bagaimana cara Nona Ziya melakukan hal menakjubkan seperti itu?" gumam Nyonya Mo Anhi yang merasa kekuatan milik Xiao Ziya sangat luar biasa.

__ADS_1


Setelah selesai memusnahkan semua telur dan induk dari cacing parasit Xiao Ziya berjalan ke arah Nyonya Mo Anhi, wanita itu terus menatap ke arahnya dengan tatapan kagum.


"Dengan begini wabah akan mudah dihentikan, saya rasa di setiap kerajaan memiliki tempat penampungan telur dan indukan cacing parasit." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius.


"Saya juga memikirkan hal yang sama, sebaiknya kita beristirahat terlebih dahulu kemudian kembali lagi besok pagi." saran Nyonya Mo Anhi, kondisi di wilayah Kerajaan Daun Perak berangsur membaik beberapa prajurit dan pelayan kerajaan juga telah kembali untuk melayani raja mereka.


"Saya akan tetap berada di sini, jika Bibi Anhi ingin kembali saya akan mengantar Anda." jawab Xiao Ziya yang merasa enggan untuk meninggalkan desa itu.


"Baiklah jika begitu saya akan tetap di sini untuk menemani Anda namun akan lebih baik jika kita menemukan penginapan untuk beristirahat malam ini." ucap Nyonya Mo Anhi yang akan terus menemani Xiao Ziya selama berada di wilayah Kerajaan Daun Perak.


Xiao Ziya dan Nyonya Mo Anhi berjalan ke arah sebuah penginapan dengan kondisi sedikit kotor, sepertinya penginapan itu sudah tidak berfungsi selama wabah cacing parasit masuk ke dalam desa tersebut. Xiao Ziya ingin membuka pintu penginapan namun itu terkunci, Xiao Ziya akhirnya membuka paksa pintu itu dengan cara mendobraknya.


"Tolong jangan makan saja, jangan makan saya." ucap seorang wanita paruh baya dengan tubuh gemetaran. Xiao Ziya dan Nyonya Mo Anhi menatap bingung ke arah wanita itu, apakah ia pemilik penginapan ataukah orang lain yang sedang bersembunyi?.


"Apa Anda baik baik saja? kami datang untuk menginap di sini." ucap Nyonya Mo Anhi, ia mendekati wanita paruh baya itu kemudian menepuk pundaknya pelan.


"Aaaaaaa... Ampuni saya, saya tidak ingin menjadi gila seperti yang lain." ucap wanita paruh baya itu dengan mata yang masih terpejam.


"Tenangkan diri Anda, kami tidak terjangkit wabah seperti yang lain. Lagipula Nona Xiao Ziya telah datang untuk mengatasi masalah mengerikan ini." ucap Nyonya Mo Anhi yang masih berusaha menenangkan wanita itu.


Saat mendengar nama Xiao Ziya sang wanita paruh baya langsung membuka matanya dengan lebar, tatapannya terpaku pada sosok gadis cantik di depannya. Wanita paruh baya itu berlari ke arah Xiao Ziya kemudian memeluk kaki Ziya dengan sangat erat, tubuhnya gemetaran dan ia menangis sejadi jadinya di sana.


Mo Anhi menutup pintu masuk penginapan kemudian menguncinya dari dalam, untunglah tak ada orang terinfeksi wabah yang tiba tiba menyerang mereka.


"Terimakasih karna telah kembali Nona Xiao Ziya, kami semua membutuhkan bantuan dan belas kasih Anda. Kondisi di suruh Dunia Bawah menjadi kacau semenjak wabah mengerikan ini menyebar, saya mohon selamatkan kami semua." ucap wanita paruh baya itu, ia sedang memohon sembari menegang kaki Ziya.


"Lepaskan kaki saya dan berdirilah, Anda tidak perlu memohon seperti itu karna kedatangan saya memang untuk menyelesaikan masalah wabah mengerikan ini. Apakah Anda pemilik penginapan?." tanya Xiao Ziya pada wanita paruh baya itu.


Sang wanita melepaskan pelukannya dari kaki Xiao Ziya, ia sangat lega karna sang penyelamat telah tiba.


"Benar saya adalah pemilik penginapan ini, saya sudah bersembunyi selama dua bulan di dalam sini agar tidak terkontaminasi wabah seperti yang lain." jelas wanita paruh baya itu dengan wajah sedih.


"Bisakah kami menginap di sini untuk malam ini saja? masih ada beberapa penduduk yang belum menerima ramuan penawar karna itu kami akan melanjutkannya esok pagi." ucap Xiao Ziya.


"Anda dan Nyonya Anhi ingin menginap di sini? saya tidak merasa keberatan dengan hal itu dan kalian juga tidak perlu membayar namun kondisi kamar cukup kotor, para pekerja di penginapan ini sudah kembali ke desa mereka masing masing. Maaf jika sebagai pemilik penginapan saya tidak bisa melayani dengan baik." ucap wanita paruh baya itu yang merasa tak enak hati pada Xiao Ziya dan Nyonya Mo Anhi.


"Tidak perlu merasa sungkan seperti itu, saya sangat berterimakasih atas kebaikan Anda." jawab Xiao Ziya dengan senyuman manis.


Wanita itu mempersilahkan Xiao Ziya dan Nyonya Mo Anhi untuk memilih sendiri kamar yang ingin mereka tempati, di sisi lain pria sedang menatap tajam ke arah dua lima batu giok jiwa yang pecah.

__ADS_1


"Argh sialan, siapa yang telah membunuh kelima utusan saya!." triak pria itu dengan kemarahan meluap luap, aura di dalam ruangan yang ia tempati bertambah suram dengan tingkat energi jahat yang sangat tinggi.


"Ada apa sayang?." ucap seorang wanita dengan rambut berwarna kuning keemasan yang masuk ke dalam ruangan itu untuk menenangkan kekasihnya.


"Kelima jenderal tingkat menengah yang saya kirim untuk menyebarkan kekacauan di Dunia Bawah telah mati. Siapa orang yang bisa menandingi mereka selain gadis itu? mungkinkah gadis itu telah kembali?." ucap sang pria dengan tatapan tak suka.


"Siapa lagi jika bukan dia, jika Anda mengizinkan maka saya akan pergi untuk melihatnya." ucap wanita itu.


"Jangan! tetaplah di sini. Suatu hari gadis itu yang akan datang sendiri untuk membalas dendam, saat itu tiba kita akan menyingkirkannya." ucap pria itu dengan angkuh, dia adalah seorang pemimpin di sebuah lapisan dunia yang keberadaannya jarang diketahui oleh orang luar, sebuah dunia yang hanya bisa dimasuki oleh orang orang dengan kejahatan menyelimuti hatinya.


"Anda benar lebih baik menunggunya datang sendiri." jawab wanita itu dengan senyuman genit.


Malam semakin larut, Nyonya Mo Anhi sudah terlelap dalam tidurnya sedangkan Xiao Ziya masih terjaga karna ia sedang memikirkan siapa dalang utama dibalik tersebarnya wabah cacing parasit ini. Jika dilihat dari penampilan kelima mayat orang berjubah hitam sepertinya mereka bukan berasal dari dunia yang ada di atas Lapisan Dunia Bawah karna kadar kejahatan yang mereka miliki terlalu kental.


"Apakah ada dunia lain di bawah Lapisan Dunia Bawah? mengapa saya belum pernah mendengar hal itu sebelumnya?." tanya Xiao Ziya pada dirinya senang. Pada siapa ia bisa bertanya mengenai susunan lapisan dunia terbawah yang ada di alam semesta? Xiao Ziya tak yakin jika para Dewa dan Dewi mengetahui hal semacam ini.


"Seharusnya Raja Artur tau sesuatu tentang hal ini." gumam Xiao Ziya dengan tatapan mata tajam berwarna merah darah.


Xiao Ziya berjalan ke arah jendela kamar penginapan, gadis itu menatap ke luar jendela dan menemukan banyak penduduk terinfeksi yang sedang berkeliaran dimana mana. Sebelum pergi mencari kebenaran mengenai orang yang telah menyebarkan wabah ini sebaiknya Xiao Ziya memusnahkan semua cacing parasit yang masih tersisa.


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membereskannya. Hah siapapun pelakunya kau berhasil membuat saya kewalahan." ucap Xiao Ziya.


Ziya menutup kembali jendela kamar penginapan kemudian ia membaringkan tubuh di atas ranjang dan mulai memejamkan mata, gadis itu perlu beristirahat untuk mengisi tenaganya kembali.


Waktu terus berjalan, malam kali ini terasa lebih panjang dari malam malam sebelumnya. Setelah beberapa jam berlalu akhirnya matahari mulai menampakkan diri, samar samar cahaya matahari masuk ke dalam kamar penginapan yang ditempati Xiao Ziya, dengan segera gadis itu membuka mata dan meregangkan otot-ototnya. Xiao Ziya mengambil posisi duduk, ia masih sangat mengantuk namun masih banyak tugas yang harus diselesaikan.


Tok tok tok.


Suara pintu kamar penginapan Xiao Ziya yang diketuk oleh Nyonya Mo Anhi, wanita itu telah bangun satu jam yang lalu dan sudah selesai mandi. Dengan langkah gontai Xiao Ziya berjalan ke arah pintu kemudian membuka pintu itu dengan lebar.


"Ada apa Bibi Anhi?." tanya Xiao Ziya.


"Nona baru saja bangun? maaf karna saya mengganggu waktu waktu istirahat Anda." ucap Nyonya Mo Anhi yang merasa tak enak hati.


"Tidak, saya sudah bangun beberapa saat yang lalu. Saya akan mandi sekarang dan Anda bisa menunggu di lantai bawah, setelahnya kita akan mengobati para penduduk lagi." ucap Xiao Ziya yang sudah memiliki susunan rencana hari ini di dalam kepalanya.


"Baik saya permisi terlebih dahulu." ucap Nyonya Mo Anhi, wanita itu pergi dari hadapan Xiao Ziya dan mulai menuruni anak tangga sedang Ziya masuk kembali ke dalam kamar dan bergegas pergi ke kamar mandi.


Hai hai semua author balik lagi, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.

__ADS_1


__ADS_2