RATU IBLIS

RATU IBLIS
Gunung Merah (3)


__ADS_3

Perjalanan Xiao Ziya menuju puncak gunung merah belum berakhir, kabut beracun yang semakin menebal menghalangi penglihatan gadis itu. Xiao Ziya berjalan menggunakan instingnya saja karna mata iblisnya tak belum berada di level tinggi yang bisa tembus pandang terhadap semua hal. Setelah berjalan kesana kemari akhirnya ia sampai di tempat yang tak di tutupi oleh kabut beracun itu.


"Han untunglah saya bisa keluar dari sana dengan selamat." ucap Xiao Ziya yang merasa sangat lega.


Tadinya Ziya mengira bahwa hanya kabut beracun saja yang membuat perjalanannya menuju gunung merah menjadi sulit namun tiba tiba saja langit semakin menghitam dan turun hujan yang cukup deras karna merasa ada yang tidak beres dengan hujan itu, Xiao Ziya melapisi tubuhnya menggunakan api hitam miliknya.


"Sepertinya ini hujan asam, untunglah saya menyadarinya lebih awal." ucap Xiao Ziya yang terus melanjutkan perjalanannya hingga ia bisa sampai di puncak gunung merah.


Waktu berlalu dengan begitu cepat pagipun datang dan anehnya Xiao Ziya belum mencapai puncak gunung merah. Jika dilihat dengan mata telanjang, gunung merah tak terlalu tinggi dan hanya butuh waktu satu hari untuk sampai dipuncaknya, entah mengapa perjalanan Xiao Ziya lebih lama dari apa yang ia perkirakan.


"Sepertinya ada yang aneh dengan gunung ini. Karna tak ada satu pohonpun yang tumbuh saya menjadi kesulitan menemukan arah menuju puncak." ucap Xiao Ziya yang baru saja menyadari bahwa sedari tadi ia hanya berkeliling dan sampai di titik yang sama. Mungkin jika ia memberi tanda di setiap tempat yang ia pijak akan lebih mudah untuk sampai di puncak gunung namun memerlukan waktu yang cukup lama.


"Zier keluarlah." ucap Xiao Ziya yang mengeluarkan harimau kesayangannya itu dari dalam cincin semesta. Zierpun keluar dengan raut wajah senang, sudah lama ia tak mendapatkan perintah dari nona mudanya itu.


"Akhirnya saya bisa keluar, apa ada yang bisa saya bantu?." ucap Zier dengan wajah senang, Xiao Ziya merasa gemas dengan tingkah harimaunya itu ia mencubit pipi Zier.


"Ternyata cubitan nona muda lumayan sakit." ucap Zier dengan wajah merah merona sepertinya harimau itu malu karna diperlakukan seperti saat ia masih kecil dulu.


Xiao Ziya naik ke atas punggung Zier dan meminta harimau kesayangannya itu untuk terbang tinggi, Zierpun terbang sesuai keinginan nona mudanya. Xiao Ziya melihat kebawah dan melihat ke arah gunung merah, ternyata benar ada pola labirin yang membuatnya tersesat.


"Pantas saja saya tak segera sampai di puncak." ucap Xiao Ziya dengan wajah kesalnya, jika ia tau hal ini sejak awal maka perjalanannya akan lebih cepat.


"Zier tolong antar saya menuju puncak gunung merah itu." ucap Xiao Ziya yang menunjuk ke arah puncak gunung merah. Harimau itu terbang dengan kecepatan tinggi menuju tempat yang di tunjuk oleh nona mudanya.


Zier mendarat di tempat yang aman karna bagian puncak gunung merah adalah sebuah lubang yang sangat besar dengan bebatuan panas dan lava yang bisa membakar siapa saja hingga jasadnya menghilang. Xiao Ziya mengamati ke arah lubang besar itu, mengapa ada gunung berapi yang bisa muncul di dunia bawah apakah ini murni kehendak alam saja atau ada campur tangan dari manusia manusia tak bermoral.


"Sepertinya gunung ini akan segera meletus, mari kita turun kebawah dan membuat perlindungan." ucap Xiao Ziya yang sudah berada di punggung Zier, mereka terbang dengan kecepatan tinggi. Saat melihat perkemahan prajurit Xiao Ziya meminta Zier untuk turun kebawah.


"Kalian cepatlah pergi dari sini." ucap Xiao Ziya dengan suara yang lumayan keras. Pasukan Kerajaan Barat keluar dari perkemahan mereka dan melihat ada Nona Ziya yang berada di depan perkemahan.


"Ada apa hingga nona Ziya berteriak di depan perkemahan kami." ucap Pangeran Enso yang terkejut.


"Cepatlah pergi dan jangan banyak bertanya, bergegaslah." ucap Xiao Ziya yang tak memiliki waktu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.


Karna melihat Xiao Ziya yang sedang panik, pasukan Kerajaan Barat dan para kultivator yang ada di sana langsung mengemasi perkemahan mereka dan segera meninggalkan area gunung merah. Sedangkan Xiao Ziya berdiri tegap di lereng gunung ia mulai menggambar puluhan pola sihir yang mengelilingi gunung itu dengan secepart mungkin.


"Waktu saya tinggal sedikit lagi, gunung ini akan segera meletus." ucap Xiao Ziya yang berusaha semaksimal mungkin agar saat gunung merah meletus tak menyebabkan korban jiwa.


Setelah selesai membuat puluhan pola sihir di atas tanah, gadis itu membacakan sebuah mantra kuno yang ia pelajari saat berada di perpustakaan Istana Neraka. Setelah gadis itu selesai membacakan mantra muncul puluhan pilar berwarna perak, bersamaan dengan munculnya pilar pilar itu gunung merah mulai bereaksi. Gempa dengan kekuatan yang cukup untuk meluluh lantahkan sebuah kekaisaran, beberapa kerajaan yang merasakan getaran kuat dari tanah merasa sangat cemas.


"Apa yang sedang terjadi, apa mungkin nona Ziya meminta kita untuk pergi karna ada bencana buruk seperti ini." ucap Pangeran Enso yang tak mengira bahwa gadis itu sedang berusaha menyelamatkannya dengan para pasukan yang lain.


"Untunglah nona Ziya sangat baik dan peduli pada kami semua." ucap salah satu prajurut Kerajaan Barat yang merasa sangat bertrimakasih pada Xiao Ziya.

__ADS_1


"Semoga nona Ziya baik baik saja, kita hanya bisa menunggunya pada jarak aman saja." ucap salah seorang kultivator yang berharap ia bisa membantu Xiao Ziya yang sedang berjuang untuk menyelamatkan semua penduduk dunia bawah.


"Saya harus cepat menyelesaikan ini semua." ucap Xiao Ziya yang membuat ratusan lapis prisai pelindung karna ia tak ingin batu yang keluar saat ledakan gunung merah sampai mengenai pemukiman penduduk yang tak terlalu jauh dari gunung merah.


Setelah semua persiapannya selesai Xiao Ziya memasukkan Zier kedalam cincin semestanya kemudian ia melesat menjauh beberapa meter dari daerah gunung merah. Gunung itupun meletus dan menyemburkan lava panas keatas langit serta bebatuan yang terlontar kesana kemari. Pilar pilar yang dilapisi oleh perisai milik Xiao Ziya dapat menahan lava panas serta bebatuan itu dengan baik.


Penduduk Kekaisaran Qiyu menghentikan aktivitas mereka saat melihat cairan berwarna merah yang menyembur ke arah langit. Mereka semua berharap agar Xiao Ziya yang sedang ada di gunung merah baik baik saja. Seorang kultivator tua yang sedang menyantap makanannya di sebuah kedai mengamati cairan merah yang sedang menyembur itu.


"Saya dengar kalian mengatakan bahwa nona muda sedang ada di sana?." tanya kultivator tua itu pada beberapa pengunjung lain yang ada di dalam kedai.


"Benar nona muda ada di sana untuk membasmi monster dan hewan hewan berbahaya." jawab salah seorang pengunjung kedai.


"Cairan merah yang menyembur ke atas langit itu lebih berbahaya daripada ribuan monster yang menyerang, jika kalian terkena satu tetes cairan berwarna merah itu maka tubuh kalian akan terbakar dan lenyap. Sepertinya nona muda sudah memasang perisai yang sangat kuat agar kita semua tak terluka." ucap Kultivator itu yang tersenyum dengan bangga, sangag jarang ia menemukan kultivator muda seperti Xiao Ziya yang mau melakukan apa saja bukan hanya untuk kepentingannya sendiri melainkan untuk kepentingan orang banyak.


"Jika nona muda kembali nanti kita harus menyambutnya dengan meriah." ucap beberapa penduduk Kekaisaran Qiyu yang ingin menyambut kepulangan Xiao Ziya dengan meriah sebagai tanda trimakasih mereka.


"Sebaiknya saat nona muda pulang biarkan ia beristirahat karna membuat perisai sekuat itu pasti memerlukan energi qi dan energi spiritual yang tidak sedikit." ucap kultivator tua itu yang menyarankan agar para penduduk membiarkan Xiao Ziya untuk beristirahat. Para penduduk kekaisaran menyetujui pendapat sang kultivator, mereka akan mengucapkan trimakasih beberapa hari setelah kepulangan Xiao Ziya.


Ditempat lain saat ini Kaisar Yan sedang dirawat oleh tabib istana, kondisinya sudah membaik dan beberapa luka cambukan mulai mengering. Kaisar Yan masih mengingat dengan jelas bahwa ayahnya yang sudah melakukan semua ini hanya untuk Xiao Ziya.


"Sialan jika bukan karna gadis itu yang mengadu pada ayah semua ini tak akan terjadi." ucap Kaisar Yan dengan raut wajah kesalnya, jika adik perempuannya itu kembali maka Kaisar Yan akan mencambuknya juga.


"Saya harap kaisar bisa memahami apa kesalahan anda, ini semua terjadi bukan karna nona muda." ucap sang tabib istana yang mencoba untuk menasehati Kaisar Yan. Entah sejak kapan kaisar yang ia layani berubah menjadi arogan, sombong, dan tak tau diri seperti itu. Akan lebih baik jika nona muda mereka mencari kandidat lain untuk menjadi kaisar yang memimpin wilayah Kekaisaran Qiyu.


Di sisi lain gunung merah masih menyemburkan lava panas serta bebatuan yang tersimpan di dalam perutnya, sedangkan Xiao Ziya masih tetap di sana hingga letusan itu selesai. Gadis itu ingin memastikan perisai yang ia buat sudah cukup kuat ataukah masih perlu menambahnya lagi.


Beberapa jam telah berlalu dan gunung merah sudah berhenti menyemburkan lava panas walaupun begitu Xiao Ziya tak berniat untuk menghilangkan pilar serta prisai miliknya, dengan adanya prisai itu tak ada orang yang dapat masuk ke area gunung merah selain Xiao Ziya. Ia sengaja melakukan hal itu agar tak ada orang yang terluka akibat nekat mendaki gunung merah hanya untuk memuaskan rasa penasaran mereka.


Xiao Ziya berjalan dengan santai ke arah wilayah Kekaisaran Qiyu, gadis itu sedang mengumpulkan tenaganya saat dalam perjalanan ia bertemu dengan pasukan prajurit Kerajaan Barat.


"Mengapa kalian masih di sini? saya harap kalian tak nekat untuk mendaki gunung itu." ucap Xiao Ziya pada beberapa prajurit yang sedang berjaga di tenda tempat Pangeran Enso beristirahat.


"Kami mengerti dan tak akan melakukan hal itu. Kami masih di sini untuk mamastikan nona kembali dari gunung itu dengan selamat ataukah tidak." ucap salah seorang jenderal yang menjelaskan pada Xiao Ziya untuk apa mereka masih ada di sana.


Pangeran Enso mendengar keributan dari luar tendanya, ia segera keluar untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Ternyata beberapa prajurit beserta jenderalnya sedang menanyai Xiao Ziya yang baru saja kembali dari gunung merah.


"Salam hormat saya pada nona muda Ziya." ucap Pangeran Enso yang mengucapkan salam ketika bertemu dengan Xiao Ziya. Meski gadis itu jauh lebih muda darinya namun Xiao Ziya memang layak untuk dihormati oleh semua orang yang tinggal di dunia bawah.


"Salam saya pada Pangeran Enso." ucap Xiao Ziya yang membalas salam dari sang pangeran.


"Syukurlah jika kondisi nona Ziya baik baik saja, kami sangat khawatir saat melihat nona berusaha sendiri menaklukkan gunung merah itu." ucap Pangeran Enso dengan senyum manis di wajah tampannya itu.


"Trimakasih telah mencemaskan saya, kalian kembalikah ke Kerajaan Barat katakan pada Yang Mulia Raja bahwa semua baik baik saja. Dan saya harap Pangeran dapat menyampaikan pada beberapa kerajaan dan kekaisaran yang ada di dekat sini untuk tak masuk ke wilayah gunung merah. Masih banyak misteri yang belum bisa saya pecahkan tentang kemunculan gunung itu." ucap Xiao Ziya yang meminta bantuan pada Pangeran Enso. Tentu pangeran itu akan membantunya dengan senang hati.

__ADS_1


Rombongan Pangeran Enso segera pulang ke Kerajaan Barat untuk melapor pada raja mereka sedangkan Xiao Ziya melanjutkan perjalanan menuju Wilayah Kekaisaran Qiyu. Perjalanan yang tak memerlukan waktu lama, kini Xiao Ziya sudah sampai di depan gerbang perbatasan wilayah Kekaisaran Qiyu. Para penjaga perbatasan membungkukkan badan mereka sebagai tanda penghormatan pada Xiao Ziya yang telah berjuang untuk kepentingan banyak orang.


Setelah masuk kedalam wilayah Kekaisaran Qiyu gadis itu pergi ke ibukota kerajaan untuk membeli beberapa manisan buah karna ia sedang lapar. Disepanjang perjalanan tak ada yang menyoraki nama gadis itu seperti saat para pahlawan pulang dari medan perang, namun setiap Xiao Ziya melintas maka orang orang yang ada di jalan itu akan menepi dan membungkukkan badan mereka.


"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh penduduk kekaisaran mengapa mereka terlihat sangat aneh." ucap Xiao Ziya yang tak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan oleh penduduk Kekaisaran Qiyu.


Akhirnya gadis itu sampai di sebuah pasar, di sana banyak pedagang yang menjual beraneka ragam manisan buah. Xiao Ziya membeli sepuluh tusuk manisan apel, satu kilo manisan ceri, satu kilo manisan buah persik, sepuluh tusuk manisan anggur, serta dua kilo manisan kiwi. Setelah mendapat semua yang ia inginkan Xiao Ziya pergi ke taman kota untuk bersantai dan memakan manisan buah yang telah ia beli.


"Suasana di sini cukup menyenangkan, sepertinya saya harus menggelar permadani." ucap Xiao Ziya yang mengambil sebuah permadani cantik dari dalam cincin semesta miliknya.


Cincin semesta milik Xiao Ziya menyimpan berbagai macam barang, makhluk hidup, serta banyak tumbuhan yang ada di dalam sana. Mungkin luas ruangan yang ada di cincin semesta itu lebih luas daripada wilayah dunia bawah karna itu Xiao Ziya tak memiliki hasrat untuk menjadi seorang ratu ataupun kaisar dari sebuah wilayah karna Xiao Ziya sudah memiliki semua di dalam cincin semesta. Sedangkan cincin penguasa mutlak gadis itu berisikan miliaran senjata, koin emas, koin perak, koin tembaga, emas batangan dan masih banyak barang yang tersimpan di sana. Bagaimana Xiao Ziya bisa meniliki semua itu? entahlah mungkin saja ia menjadi manusia kesayangan sang pencipta alam semesta.


Setelah selesai menggelar permadani, gadis itu menata semua manisan buah yang ia beli dengan rapi bahkan beberapa manisan ia masukkan kedalam kotak kayu. Setelah semuanya selesai Xiao Ziya duduk di atas permadani dan mulai menyantap manisannya. Ada beberapa anak yang melihat ke arah Xiao Ziya dan mengira gadis itu adalah penjual manisan, akhirnya beberapa anak kecil itu berlarian ke arah Xiao Ziya untuk membeli manisan.


"Apakah jiejie menjual semua manisan ini?." tanya salah seorang anak perempuan dengan wajah polosnya. Ia bertanya pada Xiao Ziya yang tak perlu berjualan apapun untuk menghasilka uang.


"Jiejie tidak menjualnya, namun jika kalian menginginkan beberapa manisan maka dengan senang hati jiejie akan memberikannya." ucap Xiao Ziya dengan senyum ramah, ia tau bahwa anak anak itu hanya ingin memakan beberapa manisan yang ia miliki.


Orang tua dari beberapa anak kecil yang sedang ada bersama Xiao Ziya menyadari bahwa anak mereka tak ada di taman bermain. Saat mencari kesana kemari para orang tua itu terkejut melihat anak anak mereka sedang duduk di samping nona Ziya dan memakan manisan buah milik nona itu. Karna panik para orang tua anak itu berlari ke arah Xiao Ziya dan segera membunguku beberapa kali dihadapan Ziya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?." tanya Xiao Ziya dengan sebelah alisnya yang terangkat.


"Kami meminta maaf karna anak anak kami telah mengganggu waktu istirahat nona Ziya yang sangat berharga." ucap salah satu ayah dari anak anak kecil itu. Ia takut jika anak mereka telah menyinggung perasaan Ziya secara tidak sengaja.


"Jangan terlalu berlebihan, saya juga memiliki adik sepantaran mereka. Anak anak kalian hanya ingin makan manisan bersama saya saja dan itu bukanlah sebuah masalah. Jadi kalin tak perlu meminta maaf seperti itu." ucap Xiao Ziya yang tak mempermasalahkan sikap anak anak kecil yang masih memakan manisannya dengan lahap, ia bisa membelinya lagi.


"Jiejie ini cangat cantik. Kami kila jiejie menjual manisan telnyata jiejie cedang belcantai. Kami cudah meminta maap pada jiejie." ucap salah satu anak perempuan yang masih belum terlalu lancar saat berbicara.


"Ah maaf atas tingkah laku kami yang membuat nona tidak nyaman. Kami hanya tak ingin anak anak ini mengganggu waktu istirahat anda." ucap para orang tua itu yang merasa tak enak hati karna sudah berprasangka buruk pada Xiao Ziya.


Gadis itu hanya tersenyum menanggapi para orang tua itu, ia tau mereka pasti sangat cemas pada anak anak mereka. Xiao Ziya kembali memakan manisannya bersama anak anak itu sedangkan para orang tua mereka memesan mie asam pedas di sebuah kedai yang tak jauh dari sana, tak lupa mereka memesankan dua mangkok untuk Xiao Ziya.


Kebersamaan Xiao Ziya dengan mereka berakhir saat hari mulai sore, para orang tua berpamitan pada Xiao Ziya dan mengajak anak anak mereka untuk pulang ke rumah.


"Saat aku besar nanti aku akan secantik jiejie." ucap seorang anak perempuan sebelum diajak pulang oleh ayah dan ibunya.


Setelah itu Xiao Ziya membereskan dan memasukkan permadaninya kedalam cincin semesata, Xiao Ziya melesat menuju Klan Xiao karna ia sudah merindukan kasurnya yang ada di sana. Setelah masuk kedalam paviliunnya yang ada di Klan Xiao ia bertemu dengan Wi Algi yang sedang menyapu bagian dalam paviliun.


"Apa yang sedang gege lakukan? mengapa tak meminta pelayan untuk membersihkannya?." tanya Xiao Ziya yang cukup terkejut karna gege barunya itu sangat rendah hati jauh dari sikap buruk adik perempuannya yaitu Wi Xume.


"Ini bukanlah hal yang besar meimei, saya sudah terbiasa melakukannya. Lagipula sudah tugas saya menjaga paviliunmu tetap bersih dan rapi sebagai tanda trimakasih kau sudah bersedia menampung saya di sini." ucap Wi Algi dengan senyum senangnya.


"Baiklah jika itu mau gege, saya ingin istirahat terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang langsung masuk kedalam kamar, gadis itu mandi kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah mengenakan gaun gadis itu langsung merebahkan dirinya di atas tempat tidur.

__ADS_1


Hai hai guys gimana kabar kalian semoga baik baik aja, janganil lupa jaga kesahatan ya. Oh iya aku mau nanya nih kira kira diantara pembacaku ini ada yang satu kota ma aku ga? kebetulan author dari Tulungagung, Jawa Timur. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys karna wajib, gift hadiah apapun itu makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate, share juga ya.


__ADS_2