
Ketua dari kelompok beruang salju itu menatap ke arah Xiao Ziya dari atas hingga bawah, ia melihat bahwa gadis manusia itu memang mirip dengan Nyonya Yie Linyia yang pernah datang ke gunung es ini puluhan tahun lalu. Para beruang salju membentuk berkumpul dan membentuk sebuah lingkaran, mereka sedang berdiskusi apakah gadis manusia bernama Xiao Ziya itu diizinkan naik ke puncak gunung es ataukah tidak. Setelah diskusi yang cukup panjang merekapun mendapatkan sebuah keputusan.
"Baiklah kami hanya mengizinkan Nona Ziya untuk naik ke atas." ucap ketua kelompok beruang salju itu.
"Lalu bagaimana dengan kami?." tanya Lunx, ia khawatir jika sesuatu terjadi pada nona mudanya nanti jika mendaki sendirian ke atas sana.
"Tuan elf dan Kepala Desa bisa menunggu di sini bersama dengan kami. Jika kalian tak menyetujui hal itu silahkan pergi karna hanya itu yang bisa kami lakukan." ucap ketua kelompok beruang salju dengan tegas.
"Baiklah saya akan pergi ke atas sendirian, terimakasih karna telah mengizinkan saya untuk mendaki." ucap Xiao Ziya yang tak mempermasalahkan hal itu.
Lunx dan kepala desa hanya bisa pasrah, mereka berdua tak dapat memaksa para beruang salju itu untuk memberikan izin. Lagipula hanya Xiao Ziya yang berhak untuk melihat bagaimana wujud pedang yang ditinggalkan oleh neneknya, mungkin ada sebuah pesan yang ingin disampaikan oleh seorang nenek pada salah satu keturunannya yang terpilih.
"Berhati hatilah Nona Ziya, jika terjadi sesuatu di atas sana saya akan siap membantu." ucap Lunx dengan raut wajah sedihnya.
"Tak perlu cemas seperti itu, saya akan kembali dengan selamat. Sampai jumpa, saya akan segera kembali." ucap Xiao Ziya yang langsung melanjutkan perjalanannya menuju puncak gunung es itu.
Para beruang salju mengajak Lunx dan kepala desa untuk menunggu gadis itu turun di sarang mereka, keduanya menuruti perkataan para beruang salju itu dan mulai masuk ke sarang mereka. Ternyata para beruang salju membuat rumah berbentuk setengah lingkaran, di dalam rumah itu suhunya sangat stabil. Di sisi lain Xiao Ziya masih mendaki dan melalui kabut tebal yang menghalangi pandangan matanya.
"Mengapa nenek meninggalkan pedangnya di tempat seperti ini? mungkinkah nenek sudah memperkirakan bahwa tak ada manusia yang akan berkunjung ke Desa Elnz." ucap Xiao Ziya penuh dengan rasa penasaran yang menyelimuti fikirannya.
Saat gadis itu sedang mendaki secara perlahan ia mendengar suara gemuruh dari puncak gunung salju itu, tiba tiba muncul puluhan bola salju dengan ukuran raksasa yang menggelinding ke arah Xiao Ziya. Awalnya Xiao Ziya hanya memperhatikan bola bola salju itu kemudian ia melompat sangat tinggi untuk menghindarinya, untunglah tak ada bola salju yang melindas tubuh mungil gadis itu.
"Apa yang terjadi di atas sana." ucap Xiao Ziya, longsoran yang terjadi di atas puncak gunung es pasti dipicu oleh sesuatu.
Karna khawatir ada hal buruk yang sedang terjadi di puncak gunung es itu akhirnya Xiao Ziya melesat dengan kecepatan penuh agar ia segera sampai di sana, saat sampai di puncak gunung es ia melihat beberapa orang dengan pakaian seba putih sedang mengelilingi pedang yang tertancap tepat di tengah tengah gunung es. Xiao Ziya memperhatikan pedang itu selama beberapa menit dan ia yakin bahwa pedang dengan tuju permata dengan warna yang berbeda itu adalah pedang peninggalan dari neneknya. Lalu siapa orang orang yang sedang mengerumuni pedang itu? apa mereka ingin mengambilnya juga.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam dan aura membunuh yang keluar dari tubuhnya. Ia tak akan membiarkan pedang peninggalan dari sang nenek diambil oleh orang lain.
Sepuluh orang dengan pakaian seba hitam itu menoleh ke arah Xiao Ziya dan menunjukkan ekspresi terkejut mereka, sepertinya mereka tak memperhitungkan jika ada orang lain yang berhasil naik ke puncak gunung salju itu dengan selama.
"Mereka satang kemari bersama dengan saya, seharusnya saya yang menanyakan apa niatan nona naik ke puncak gunung es ini." jawab seorang pemuda yang melangkah maju dari kerumunan orang orang berbaju serba hitam itu.
"Anda ingin mengambil pedang ini?." tanya Xiao Ziya dengan nada dingin, ia yakin neneknya tak akan membuat dua surat wasiat yang sama kemudian diletakkan di tempat yang berbeda.
"Pedang ini adalah milik saya, nenek saya meninggalkan pedang ini untuk salah satu keturunannya." jawab pemuda itu dengan santai, jawabannya membuat Xiao Ziya semakin bingung.
"Jika saya boleh tau siapa nama Anda dan darimana Anda berasal?." tanya Xiao Ziya, gadis itu berusaha untuk meredam amarahnya dan bertanya secara baik baik pada sang pemuda.
__ADS_1
"Perkenalan nama saya Ying Junha dan saya berasal dari lapisan dunia misterius. Saya dan bawahan saya telah sampai di tempat ini enam hari yang lalu. Saya berusaha untuk mencabut pedang itu namun tak ada reaksi apapun. Jika boleh tau siapa nama Nona?." tanya pemuda bernama Ying Junha itu dengan nada bicara sopan.
"Perkenalan nama saya Xiao Ziya, saya berasal dari dunia bawah dan datang ke sini untuk mencari pecahan jiwa milik nenek saya yang tersimpan di dalam pedang itu." jawab Xiao Ziya dengan apa adanya karna memang itu alasannya datang jauh jauh ke Desa Elnz.
Ying Junha dan kesepuluh orang berbaju serba hitam yang ada di belakang pemuda itu merasa bingung, mengapa ada orang lain yang menerima surat wasiat yang sama.
"Anda juga cucu dari Yie Linyia?." tanya Ying Junha dengan tatapan bingung.
"Benar saya adalah cucu dari Yie Linyia, saya terkejut karna ada orang lain yang mendapat wasiat seperti saya." ucap Xiao Ziya dengan wajah datar.
"Bagaimana jika Nona Ziya mencoba mencabut pedang ini terlebih dahulu, saya sudah beberapa kali mencobanya namun gagal." ucap Ying Junha dengan wajah yang sangat ramah, pemuda itu tak menunjukkan ekspresi marah ataupun kesal pada Xiao Ziya.
Tanpa basa basi Xiao Ziya mendekat ke arah sebuah pedang dengan tuju permata yang menghiasi bagian pegangan pedang itu, Xiao Ziya melihatnya dengan seksama dan menemukan ukiran kecil tulisan kuno dan sebuah gambar naga.
"Salam hormat saya pada nenek Yie Linyia, saya Xiao Ziya anak dari Ratu Junyi Zu dengan seorang pria yang berasal dari dunia bawah yaitu Xiao Cunyu datang kesini untuk memberikan salam penghormatan pada nenek. Maaf karna Ziya baru sempat berkunjung sekarang, dan banyak hal yang ingin Ziya tanyakan pada nenek meski saat ini nenek sudah tak ada lagi di dunia." ucap Xiao Ziya dengan membungkukkan badannya di hadapan pedang itu.
"Senang bisa melihatmu cucuku." jawab seseorang yang berada di dalam pedang itu.
Xiao Ziya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk menemukan sumber suara itu namun tak ada perempuan lain di sana selain dirinya.
"Nenek masih ada di sini?." tanya Xiao Ziya dengan mata berkaca-kaca. Air matanya jatuh dan mengenai pedang yang ada di depannya. Seketika pedang dengan tuju batu permata itu mengeluarkan tuju warna cahaya yang berbeda secara bersama.
Di sisi lain Ying Junha menatap iri pada gadis bernama Xiao Ziya itu, mengapa gadis itu mendapatkan reaksi dari pedang peninggalan neneknya sedangkan ia tak mendapat rekasi apapun. Saat Ying Junha ingin pergi, pemuda itu mendengar suara seseorang yang memanggil namanya.
"Kemana kau akan pergi cucuku, kemarilah dan peluk nenekmu ini." ucap pecahan jiwa Yie Linyia.
Ying Junha berlari dan memeluk sang nenek dan juga Xiao Ziya dengan erat. Yie Linyia merasa senang karna ia bisa bertemu dengan kedua cucunya.
"Siapa nama cucu perempuan ku?." tanya pecahan jiwa Yie Linyia.
"Nama saya Xiao Ziya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman lebar.
"Lalu siapa nama cucu laki laki ku ini?." tanya pecahan jiwa Yie Linyia lagi.
"Nama saya Ying Junha." jawab Ying Junha dengan air mata yang terus menetes dari matanya.
Yie Linyia meminta kedua cucunya itu untuk melepas pelukan mereka, setelahnya Yie Linyia menjelaskan sesuatu yang harus diketahui oleh Xiao Ziya dan Ying Junha.
__ADS_1
"Ying Junha apakah kau tau siapa gadis yang ada di samping mu itu?." tanya Yie Linyia pada cucu laki lakinya.
"Kami baru saya bertemu hari ini, bagaimana saya bisa mengetahui siapa dia?." ucap Ying Junha dengan wajah polos.
"Dia adalah kakak perempuan mu, lebih tepatnya dia adalah anak dari kakak perempuan ibumu." ucap Yie Linyia yang membuat Xiao Ziya dan Ying Junha terkejut. Jadi mereka berdua adalah kakak adik sepupu? lalu mengapa mereka tak mengetahui hal itu sejak lama?.
"Maaf nenek, ibu tak mengakui saya sebagai putrinya. Mungkin saya memang bukan anak dari Ratu Junyi Zu." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah sedih, jika Ratu Junyi Zu bukanlah ibu kandungnya lalu siapa ibu kandung dari gadis itu.
"Junyi Zu adalah ibumu, nenek akan menceritakan semua hal yang perlu kalian ketahui." ucap Yie Linyia yang berusaha untuk menenangkan Xiao Ziya. Wanita tua itu tau bahwa saat ini cucu perempuannya sangat hancur, ia harus menjalani kehidupan yang sangat sulit dan semua itu ulah dari Yie Gu.
"Baiklah kami akan mendengarkan dengan baik." ucap Xiao Ziya dan Ying Junha secara bersamaan. Mereka berdua mengambil posisi duduk bersila beralaskan es yang sangat dingin.
"Puluhan tahun yang lalu nenek melahirkan dua anak perempuan kembar yang nenek beri nama Yie Junyi dan Yie Jinyi, setelah berselang beberapa tahun nenek melahirkan Yie Xunzi lalu Yie Brian. Mereka berempat adalah anak anak kandung nenek yang nenek rawat dan besarkan dengan baik. Suatu hari Yie Gu atau bisa dibilang kakek kalian membawa seorang wanita dari luar Klan Yie, ia menikah dengan wanita itu dan menjadikannya istri kedua. Meski nenek sudah memiliki empat anak, nenek tak ingin menyerahkan kedudukan pemimpin Klan Yie pada kakek kalian. Singkat cerita saat ibu kalian berumur lima tahun Yie Gu membuat sebuah ritual pemanggilan, saat itu nenek tak tau siapa yang ia panggil. Tepat saat malam hari nenek melihat kakek kalian membawa Yie Junyi dan Yie keluar dari kastil Klan Yie dengan gelagat yang sangat mencurigakan. Nenek berinisiatif untuk mengikuti kemana kakek kalian pergi, saat itu ia meletakkan Yie Junyi dan Yie Jinyi tepat diatas batu besar dengan pola kuno yang cukup rumit. Beberapa saat setelahnya nenek melihat sosok hitam menghisap jiwa Yie Junyi, karna panik dengan apa yang terjadi nenek langsung menyerang sosok hitam itu dan berusaha untuk menyelamatkan kedua anak kembar nenek." ucap Yie Linyia sembari menghela nafas panjang, ia membutuhkan jeda sebelum melanjutkan cerita mengerikan itu.
"Saat nenek berhasil menyelamatkan Yie Junyi dan Yie Junyi tiba ada yang menyerang nenek dari belakang hingga terluka parah. Tanpa sengaja nenek menjatuhkan Yie Junyi dan ia langsung diambil oleh kakek kalian, tanpa berfikir panjang akhirnya nenek berlari menyelamatkan Yie Jinyi dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Samar samar nenek mendengar jeritan dari Yie Junyi, nenek ingin menyelamatkannya namun semua sudah terlambat." ucap Yie Linyia dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Jadi jiwa yang ada di dalam tubuh ibu adalah milik orang lain?." tanya Xiao Ziya dengan rasa penasaran tinggi, ia ingin tau alasan ibunya tak mengenal dirinya.
"Jiwa ibumu telah terikat perjanjian dengan sosok yang selalu disembah oleh kakek gila itu, kemungkinan besar ibumu akan sulit mengenalimu cucuku." ucap Yie Linyia.
"Lalu apa yang terjadi setelah nenek pergi membawa ibuku?." tanya Ying Junha, pemuda itu penasaran dengan kelanjutan cerita dari neneknya itu.
"Setelah berhasil kabur dari sana, nenek berniat kembali ke Klan Yie untuk menyelamatkan paman dan bibi kalian namun wanita bernama Weinje itu memperketat keamanan dan memberitahu seluruh ketua dan anggota Klan Yie yang lain bahwa nenek berkhianat pada mereka. Sejak saat itu nenek tak bisa melakukan apapun dan memilih untuk tinggal di penginapan dekat perbatasan untuk beberapa hari. Setelahnya nenek kabur dari wilayah Klan Yie dan hendak pergi ke Kerajaan Bulan namun saat itu juga Yie Gu, Yie Weinje, dan seorang pria aneh terus mengejar nenek. Akhirnya nenek mengeluarkan semua kemampuan yang nenek miliki untuk kabur dari mereka dan nenek sampai di lembah kehidupan dan bertemu dengan sepasang suami istri yang berasal dari Dunia Misterius. Pasangan suami istri itu bersedia mengangkat Yie Jinyi menjadi anak mereka dan membawanya pergi ke lapisan dunia misterius, dengan begitu nenek bisa pergi dengan tenaga tanpa perlu melihat siapapun tersakiti lagi." ucap serpihan jiwa Yie Linyia.
"Lalu mengapa nenek tak memilih untuk tinggal di Desa Elnz bersama dengan para penyihir es yang lain?. Kepala Desa sangat sedih setelah mendengar keputusan nenek untuk mengakhiri hidup dan meletakkan serpihan jiwa nenek ke dalam pedang itu." ucap Xiao Ziya. Bukankah lebih baik jika neneknya tetap hidup di dunia dan berusaha membalas apa yang telah dilakukan Yie Gu.
"Sosok yang disembah oleh kakek mu itu bisa merasakan kehadiran nenek, karna itu nenek tak ingin membahayakan penduduk Desa Elnz. Mungkin hanya ini yang dapat nenek sampaikan untuk kalian berdua, dan pedang tuju cahaya nenek serahkan pada Xiao Ziya." ucap serpihan jiwa Yie Linyia yang tiba tiba menghilangkan dari pandangan mata kedua cucunya itu.
Setelah menerima pesan terakhir dari neneknya Xiao Ziya langsung mencabut pedang yang tertancap di dalam lapisan es itu dengan mudah, ia menatap pedang itu kemudian melihat ke arah Ying Junha.
"Apakah Tuan Muda Ying Junha rela jika pedang ini menjadi milik saya?." tanya Xiao Ziya pada adik sepupunya itu.
"Saya tak keberatan jika pedang itu berada di tangan salah satu cucu kandung nenek. Senang bisa bertemu dengan kakak sepupu." ucap Ying Junha yang tersenyum lebar pada Xiao Ziya. Sebagai anak tunggal tentu ia tak pernah merasakan betapa serunya memiliki seorang kakak ataupun adik.
"Ini terasa sedikit canggung, bagaimana jika kita turun gunung saja, kebetulan saya menginap di penginapan milik anak kepala desa." ucap Xiao Ziya pada adik sepupu.
"Mari pergi mengikuti Ziya jiejie." ucap Ying Junha dengan semangat. Kesepuluh orang berpakaian serba hitam itu membuka penutup kepala mereka dan berjalan dengan rapi di belakang Ying Junha. Xiao Ziya ingin tau apa status dari adik sepupunya itu hingga memiliki banyak pengikut dengan aura yang cukup kuat.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.