RATU IBLIS

RATU IBLIS
Siksaan


__ADS_3

Setelah menuruni ribuan anak tangga akhirnya Raja Artur sampai di bagian paling dalam dari penjara alam neraka, terdengar suara jeritan dari dalam penjara. Raja Artur berjalan menuju sebuah sel penjara dengan suhu yang sangat panas namun tak berpengaruh pada sang raja, tatapan Raja Artur terfokus pada seorang gadis dan pemuda yang sedang meminta pengampunan karna tak kuat menahan hukuman yang mereka jalani.


"Beraninya manusia hina seperti kalian membuat penerus ku merasa sakit hati." ucap Raja Artur dengan sorot mata yang menyeramkan, muncul sepasang sayap hitam legam yang mengeluarkan asap dari punggung Raja Artur, selain itu muncul tanduk berwarna merah, dan gigi taring yang tajam.


Wi Xume dan Wi Algi sangat terkejut melihat perubahan yang sangat besar pada pria yang ada di luar penjara mereka, Wi Algi ingat jika pria itu salah satu orang yang ada di sisi Xiao Ziya.


"Pergilah, kami berdua tak pernah mengganggumu." ucap Wi Algi yang memberanikan diri untuk mengusir Raja Artur dalam wujud setengah iblisnya.


Tak ada jawaban dari sang raja yang tengah menjadi setengah iblis itu, hanya terdengar beberapa auman yang mengerikan. Wi Xume hampir tak bisa bernafas karna tekanan yang sangat hebat dari Raja Artur, Wi Algi sebisa mungkin menenangkan adik perempuannya itu. Wi Algi mengira bahwa Raja Artur tak akan bisa membuka pintu sel penjara yang dilapisi mantra sihir tingkat tinggi, kenyataanya Raja Artur dapat menembus sel penjara itu tanpa harus membuka pintu penjara.


"Argh...menjauh dari sini. Pergilah makhluk jahat, kau tak pantas untuk hidup." triak Wi Algi yang kini merasakan apa yang adiknya rasa.


"Ini balasan yang pantas untuk kalian." ucap Raja Artur, ia mencabik cabik arwah Wi Xume dan Wi Algi dengan sangat kejam. Teriakan pilu kedua orang itu terdengar hingga ke lantas paling atas penjara, beberapa iblis dan jenderal yang berjaga sampai merinding mendengar jeritan itu. Sudah ratusan tahun raja mereka tak pernah melakukan hal ini, entah apa yang membuat Raja Artur sangat murka, pikir para iblis yang sedang berjaga di lantai atas.


"Hentikan, tolong hentikan. Tak cukupkan hukuman yang kami terima semasa hidup!!!." triak Wi Xume yang tak mau disiksa lagi, menjelang kematiannya Xiao Ziya sudah memberikan siksaan yang sepadan jadi di alam kematian ini ia dan kakaknya tak pantas mendapat hukuman lagi.


"Ahahaha, ini adalah alam neraka. Dewa dan Dewi tak akan menolong kalian berdua." ucap Raja Artur yang terus menyiksa arwah Wi Xume dan Wi Algi tanpa henti. Beberapa tahanan lain yang ada di penjara paling bawah menyaksikan sisi iblis dari Raja Artur, mereka sedikit beruntung karna tak mendapat hukuman yang mengerikan seperti itu.


Setelah berjam jam menyiksa kedua arwah itu, akhirnya arwah Wi Algi dan Wi Xume hancur dan lenyap tak tersisa. Mereka berdua tak akan pernah bisa berreingkarnasi walaupun pecahan arwah mereka bersatu lagi karna tak mendapat izin dari dunia dewa maupun dunia neraka.


Raja Artur merasa puas dengan hukuman yang ia berikan, wujudnya berubah kembali menjadi normal.


"Waktunya untuk kembali ke istana." ucap Raja Artur yang menghilang dari tempatnya berdiri.


Di tempat lain tepatnya di paviliun milik Xiao Ziya gadis itu sedang termenung di dalam kamar, ia melihat bintang dari jendela. Xiao Ziya sedang berfikir apakah ia terlalu baik hingga banyak pihak yang memanfaatkannya? haruskah mulai sekarang jika ada yang mendekati Ziya langsung menolaknya.


"Mereka membuat kepalaku sakit." ucap Xiao Ziya yang memegangi kepalanya karna merasa pusing. Tiba tiba tubuh Xiao Ziya tumpang tanpa sebab yang jelas, tak ada yang tau jika gadis itu sedang pingsan di dalam paviliunnya.


Kesadaran Xiao Ziya tiba tiba ditarik menuju kesebuah tempat yang sangat gelap, tak ada siapapun di sana selain dirinya dan sebuah kaca yang cukup besar. Xiao Ziya berjalan mendekat ke arah kaca tersebut, ia melihat pantulan bayangannya yang ada di dalam kaca. Entah mengapa Xiao Ziya merasa ada yang aneh dari bayangannya itu, Ziya bergerak beberapa kali untuk memastikan bahwa bayangan itu asli.


"Hey berhentilah meniru saya." ucap Xiao Ziya dengan wajah datar, Ziya tau sejak awal jika bayangan itu bukanlah miliknya walau bayangan itu bisa mengikuti semua gerakan yang ia lakukan dengan sempurna.


Terdengar suara tawa yang sangat nyaring dari dalam cermin, Xiao Ziya melihat sesosok laki laki yang sedang memandang remeh ke arahnya. Entah mengapa melihat wajah laki laki itu membuat Xiao Ziya merasa kesal dan ingin memecahkan cermin padahal ia tak tau siapa dia.


"Lihatlah betapa cantiknya putri tiri ku." ucap sosok laki laki yang ada di dalam cermin, perlahan wajahnya yang terlihat samar samar mulai menjadi jelas. Dia adalah pria yang telah memisahkan Xiao Ziya dengan ibu kandungnya.


"Anda kira saya bahagia bisa melihat wajah anda?." ucap Xiao Ziya dengan tatapan sinis, gadis itu sudah bisa memprediksi bahwa ia akan bertemu dengan ayah tirinya dalam waktu dekat.


"Kau berhasil mengalahkan pasukan manusia setengah abadi yang saya kirim kesana." ucap pria itu dengan tatapan tak suka karna anak tirinya jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Jika anak tirinya berhasil sampai di dunia manusia abadi maka posisi beberapa putra dan putrinya akan terancam.


"Tunggu kedatangan saya tuan." ucap Xiao Ziya dengan tatapan tajam, mata gadis itu berubah menjadi merah darah. Xiao Ziya mengumpulkan semua rasa kesalnya, emosi, dan dendam yang ia kubur selama ini. Dengan sangat cepat Xiao Ziya memukul kaca yang ada di hadapannya hingga pecah, setelah kaca itu pecah kesadaran Xiao Ziya pun kembali.


"Akan ku buat hidupmu menjadi sangat menderita." ucap Xiao Ziya yang baru saja bangun dari pingsannya.

__ADS_1


Di sisi lain pria yang menemui Xiao Ziya melalui pantulan kaca mengalami sedikit luka dalam akibat pukulan yang dilakukan oleh Xiao Ziya.


"Datanglah, akan ku bunuh kau dengan tanganku sendiri." ucap pria itu dengan sangat kesal, ia segera pergi menemui tabib yang ada di istana untuk menyembuhkan lukanya.


Setelah kejadian yang cukup mengejutkan itu Xiao Ziya memutuskan untuk tidur dan mengisi tenaganya, ia perlu beristirahat untuk menghadapi berbagai macam masalah esok hari. Xiao Ziya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan mata secara perlahan.


Sedangkan di dunia semesta tingkat rendah terjadi keributan antara tiga mafia bersaudara yang diutus oleh Xiao Ziya untuk menjadi pemimpin sementara dengan beberapa pihak dari pemimpin generasi sebelumnya. Para pemimpin generasi sebelumnya mengklaim bahwa Xiao Ziya tak akan datang lagi ke dunia semesta tingkat rendah karna banyaknya masalah yang sedang Ziya hadapi di dunia bawah oleh karna itu mereka harus membuat keputusan secepat mungkin agar tak ada kekosongan.


Tiga mafia bersaudara bersikeras untuk turun dari semi jabatan mereka, bukankah semua penduduk dunia semesta tingkat rendah sudah setuju untuk mengikuti semua perintah dari Xiao Ziya? untuk itu Hanz, Kenzo, dan Zero tak akan menghianati nona mereka.


"Gadis itu tak akan kembali lagi kesini, apa yang sedang kalian bertiga tunggu." ucap Yanzuro Zee salah satu mantan pemimpin dunia semesta tingkat rendah.


"Mungkin kalian sudah sangat nyaman dengan jabatan sebagai pemimpin sehingga tak ingin turun dari jabatan itu?." ucap Anzu Zee dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada ketiga mafia bersaudara. Seringkali jabatan membuat hati seseorang menjadi buta, itulah yang Anzu Zee takutkan sekarang ini.


"Kita harus memilih pemimpin yang baru secepatnya." ucap salah satu Mentri yang mendesak ketiga mafia bersaudara.


"Mengapa kalian sangat agresif seperti ini? apa yang sedang kalian rencanakan!. Jangan pernah berfikir untuk menggeser jabatan nona kami." ucap Kenzo dengan tegas, ia akan menjaga kursi pemimpin ini hingga Xiao Ziya datang dan membuat keputusan tentang bagaimana sistem pemerintahan dunia semesta tingkat rendah akan dilanjutkan.


"Ini untuk kebaikan penduduk dunia semesta tingkat rendah, turunkan ego kalian bertiga." ucap Yanzuro Zee dengan wajah yang tak bersahabat, walau ketiga mafia bersaudara ini sangatlah kuat akan tetapi mereka tak tau bagaimana cara menjalankan sebuah pemerintahan.


"Anda bilang ini untuk kebaikan penduduk? lalu dimana anda saat orang orang dari dunia manusia abadi itu menyerang? Mengapa kalian tak membantu evakuasi penduduk?."ucap Hanz dengan kritikan pedasnya, ia tak suka dengan cara berbicara Yanzuro Zee.


Semua orang yang ada di sana terdiam sejenak, jika ketiga mafia bersaudara ini memberitahukan pada penduduk dunia semesta tingkat rendah kemungkinan besar akan terjadi demo secara serentak di berbagai kota hal itu akan menyulitkan pihak pemerintahan.


"Sepertinya mereka ingin menggeser kepemimpinan nona muda, bagaimana cara kita memberitahukan hal ini pada nona?." tanya Zero dengan cemas, ia tak ingin perjuangan Xiao Ziya selama ini untuk dunia semesta tingkat rendah menjadi sia sia.


"Kita bisa mengumpulkan beberapa kelompok yang berpihak pada nona muda." ucap Hanz dengan tenang, masalah seperti ini tak akan terpecahkan jika mereka tak berfikir dengan kepala dingin.


"Kita bisa meminta bantuan pada Keluarga Yu." ucap Kenzo yang masih mengingat jika Keluarga Yu memiliki hutang budi pada nona muda mereka.


"Mari kita pergi sekarang." ucap Hanz yang tak ingin menunda nunda lagi.


Sesegera mungkin ketiga mafia bersaudara itu pergi menuju kediaman Keluarga Yu, di sepanjang jalan tak ada yang berani menghadang mereka. Tak lama kemudian mereka sampai di depan gerbang kediaman Keluarga Yu, anehnya suasana rumah tersebut sangat sepi. Biasanya kediaman Keluarga Yu akan sangat ramai oleh para penjaga kali ini mereka tak melihat seorang penjaga pun di sana.


"Ada yang aneh, kalian harus lebih berhati hati." ucap Hanz yang memberi peringatan pada kedua saudaranya yang lain.


"Mungkin ada orang yang sudah datang kesini sebelum kita." selidik Kenzo yang mulai curiga dengan para pemimpin generasi sebelumnya, kemungkinan besar gerak gerik ketiga mafia bersaudara itu sedang diawasi oleh beberapa orang tanpa mereka sadari.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? haruskah kita masuk kedalam dan memastikan bagaimana kondisi Keluarga Yu sekarang?." tanya Zero yang sedang mengamati sekitar, saat melihat kesekeliling tanpa sengaja Zero melihat sebuah bayangan yang lewat dari belakang kebun.


"Jangan kesana ini jebakan untuk kita, jika kita tertangkap di sini maka tak akan ada yang menjaga kursi pemimpin untuk nona muda." ucap Hanz yang meminta pada kedua saudaranya yang lain untuk tak pergi ke dalam kediaman Keluarga Yu.


"Baiklah kita kembali saja sekarang, nona pasti segera datang." ucap Kenzo yang masuk kedalam mobil bersama dengan kedua keluarganya yang lain.

__ADS_1


Ketiga mafia bersaudara itu pergi dari depan gerbang kediaman Keluarga Yu, benar dugaan Hanz di dalam rumah Keluarga Yu sudah ada beberapa orang yang menahan anggota Keluarga Yu.


"Sialan mereka tak masuk dalam perangkap kita." ucap seorang pria dengan sorot mata kesal. Rencana ini sudah sangat bagus namun gagal.


"Segera hubungi bos, katakan bahwa rencana kita gagal." ucap pria lain.


Anzo Yu dan kedua orang tuanya merasa sangat lega karna ketiga mafia bersaudara itu tak mudah di jebak, pilihan Xiao Ziya memang tak salah mereka bertiga pantas menjaga kursi pemerintahan hingga gadis itu kembali.


Waktu berjalan dengan cepat pagipun telah tiba dan Xiao Ziya sudah bangun dari tidur lelapnya. Gadis itu sedang berjalan jalan di sekitar Klan Xiao untuk menikmati udara segar, Xiao Ziya melihat Xiao Yan yang sedang menyapu halaman depan dari paviliun milik Xiao Ciyun.


"Selamat pagi Gege." sapa Xiao Ziya pada kakak pertamanya itu.


"Pagi adik Ziya, tumben sekali kau bangun sepagi ini." ucap Xiao Yan, ia ingat dengan kebiasaan buruk sang adik yang selalu bangun kesiangan karna terlalu lelah menjalani kesibukannya.


"Ada beberapa hal yang perlu saya urus, saya pergi dulu gege. Semangat menjalankan hukumannya." ucap Xiao Ziya yang meledek Xiao Yan kemudian berlari meninggalkan pria itu.


Xiao Yan menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah dari Xiao Ziya, hukuman ini sangatlah ringan untuk semua kesalahan yang telah ia perbuat.


"Gadis itu semakin dewasa." ucap Xiao Yan dengan senyuman tipis.


Beberapa minggu lagi gadis itu akan menginjak usia empat belas tahun, saat itu juga ia tak akan berada di dunia bawah untuk merayakan hari ulang tahunnya. Untunglah Xiao Ziya sudah terbiasa dengan hal hal seperti ini, banyak masalah yang harus ia selesaikan, dan banyak misteri yang belum terungkap.


Xiao Ziya keluar dari Klan Xiao, ia pergi ke Akademi Kekaisaran Qiyu untuk menemui Xiao Xun. Ada beberapa hal yang perlu Xiao Ziya diskusikan dengan kakak keduanya itu, mungkin Ziya akan memilih beberapa murid akademi yang akan ia ajak ke dunia semesta tingkat rendah. Sebelum sampai di akademi, Xiao Ziya menyempatkan dirinya untuk mampir kesebuah kedai mie daging.


"Salam pada nona muda, nona ingin memesan apa?." tanya seorang pelayan kedai yang mengenal wajah Xiao Ziya dengan baik.


"Saya ingin dua porsi mie daging pedas, satu porsi pangsit ayam." ucap Xiao Ziya yang memutuskan menu apa yang akan ia makan kali ini.


"Baiklah mohon tunggu sebentar nona." ucap pelayan itu yang pergi ke dapur.


Xiao Ziya melihat kondisi di sekitar kedai, meski masih terlalu pagi namun banyak pelanggan yang berdatangan ke kedai tersebut. Saat sedang sibuk mengamati sekitar Xiao Ziya melihat seorang wanita paruh baya yang ia kenal, wanita itu sedang dicegat oleh beberapa bandit yang baru saja menyusup di Wilayah Kekaisaran Qiyu.


"Berikan semua koin emas yang kau miliki jika masih ingin hidup." ucap seorang bandit dengan tubuh kekar, ia mencengkram lengan wanita paruh baya itu.


Xiao Ziya bangun dari tempat duduknya, ia sangat kesal melihat tindakan yang menjijikan seperti itu. Jika mereka membutuhkan uang untuk bertahan hidup mereka bisa melamar pekerjaan sebagai prajurit istana bukannya memalak orang. Xiao Ziya keluar dari kedai dan memukul salah satu anggota bandit hingga terpental dan menabrak sebuah dinding penginapan.


"Apa yang kau lakukan, kami tak ada urusan dengan bocah ingusan sepertimu." ucap salah seorang bandit yang menatap Xiao Ziya.


"Hei siapa yang memberi izin pada kalian untuk masuk ke wilayah Kekaisaran Qiyu." ucap Xiao Ziya dengan nada bicara dingin. Ia tak suka ada para bandit yang berkeliaran di Wilayah Kekaisaran Qiyu.


"Apakah kami membutuhkan persetujuanku?." ucap ketua bandit, ia tak mengerti mengapa seorang gadis muda berbicara dengan sangat arogan.


Hai guys author balik lagi setelah bertapa puluhan hari🥺, kangen ga??. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.

__ADS_1


__ADS_2