
Beberapa saat setelahnya Yie Munha, Zu Junyang, dan Zu Genzi datang ke lapangan tempat berlatih para prajurit. Mereka bertiga berbaris dengan rapi di hadapan Xiao Ziya kemudian memberikan salam secara serempak.
"Kalian sudah siap untuk mendapatkan pelatihan yang keras!." ucap Xiao Ziya dengan suara yang kencang.
"Kami siap Nona Ziya." jawab Yie Munha, Zu Junyang dan Zu Genzi secara bersamaan.
Xiao Ziya mengambil dua buah pedang dari cincin semesta miliknya kemudian ia lemparkan pada Zu Junyang dan Zu Genzi, Yie Munha menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung mengapa hanya dua pemuda itu yang mendapatkan pedang dari Nona Xiao Ziya? lalu apa yamg harus ia lakukan selama pelatihan berlangsung.
"Yie Munha berlari lah mengelilingi lapangan ini sebanyak dua puluh kali, kedua pemuda ini telah melakukan pelatihan serupa ketika mereka masih berada di Istana Kerajaan Bintang Timur." ucap Xiao Ziya dengan tegas. Yie Munha menganggukkan kepala, gadis itu langsung berlari mengitari lapangan tempat berlatih para prajurit tanpa mengeluh sedikitpun pada Xiao Ziya. Yie Munha juga senang karna nona mudanya memberikan pelatihan yang sama seperti kedua pemuda dari Klan Zu itu.
"Ilmu pedang seperti apa yang ingin kalian kuasai?." tanya Xiao Ziya pada Zu Junyang dan Zu Genzi. Gadis itu akan memberikan jurus pedang yang sesuai dengan keinginan mereka berdua.
"Saya menginginkan ilmu pedang dengan gerakan yang cepat dan tajam hingga pedang saya bisa membelah sebuah batu besar dengan sekali tebasan." ucap Zu Junyang penuh dengan semangat, di perpustakaan Klan Zu ia tak mendapat ilmu pedang seperti keinginannya itu di sana hanya ada beberapa ilmu pedang dengan gerakan cepat namun kurang efisien dalam mengalahkan lawan.
Xiao Ziya diam beberapa saat untuk mencarikan jurus pedang yang sesuai dengan keinginan pemuda itu, karna tingkatan Zu Junyang saat ini belum terlalu tinggi maka Xiao Ziya akan memberi Kitab Jurus Pedang enam arah mata angin, jurus tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Dalam setiap gerakan yang dilakukan mencerminkan kecepatan dan ketepatan dalam menemukan titik kelemahan musuh, seorang kultivator yang melatih jurus ini akane dapat ketajaman mata diatas rata rata.
"Ambillah kitab pedang enam mata angin ini, Anda harus melatihnya secara perlahan karna jurus ini cukup sulit." ucap Xiao Ziya sembari menyodorkan buku tersebut pada Zu Junyang.
"Terimakasih Nona Besar Xiao Ziya, saya akan melatihnya dengan baik. Ketika Anda kembali dari perjalanan panjang nanti, akan saya pastikan saya sudah menguasai jurus ini." ucap Zu Junyang penuh dengan keyakinan, ia tak akan mengecewakan gadis muda yang telah menjadi masternya itu.
"Bagaimana dengan Anda Tuan Muda Zu Genzi?." tanya Xiao Ziya sembari melihat ke arah Zu Genzi dengan tatapan penuh tanya, mengapa pemuda itu hanya diam saja dan tak mengutarakan keinginannya? mungkinkah Zu Genzi tak terlalu faham mengenai ilmu pedang?.
"Maafkan saya Nona Besar Xiao Ziya, karna ayah dan ibu terlalu memanjakan saya hingga saya tak memiliki banyak pengetahuan mengenai ilmu pedang ataupun cara menggunakan pedang." jawab Zu Genzi dengan menundukkan kepalanya, pemuda itu merasa sangat malu karna ilmu yang ia miliki masih terbilang sangat sedikit dibandingkan dengan Zu Junyang.
Xiao Ziya tersenyum ke arah pemuda itu kemudian menepuk bahunya pelan, Ziya meminta Zu Genzi untuk melakukan beberapa gerakan yang ia ketahui. Dengan segera Zu Genzi melakukan perintah Xiao Ziya tanpa ragu ragu, gerakan pemuda itu cukup bagus untuk seorang pemula. Serangan demi serangan yang ia lakukan serta pengambilan langkah kaki yang tepat membuat Xiao Ziya merasa bahwa Zu Genzi memiliki bakat namun karna didikan dari orang tuanya bakat pemuda itu tak berkembang sama sekali.
"Anda berlatih diam diam saat kedua orang tua Anda tak ada di rumah?." tanya Xiao Ziya yang mencoba untuk menebak.
"Bagaimana Nona Besar Xiao Ziya mengetahui hal itu?." tanya Zu Genzi dengan tatapan polosnya, selama ini ia selalu menjaga rahasia itu dengan baik agar tak ketahuan oleh siapapun.
"Seseorang yang belum pernah berlatih tak mungkin memiliki gerakan menyerang setajam itu. Ketika mengayunkan pedang Anda harus bisa menyatu dengan pedang itu, luapkan semua emosi yang Anda miliki dan fokuskan pada bagian ujung pedang tersebut." ucap Xiao Ziya sembari meniru gerakan yang dilakukan oleh Zu Genzi.
__ADS_1
Zu Genzi membelalakkan matanya karna Xiao Ziya dapat meniru gerakan yang ia lakukan hanya dengan sekali melihat saja, butuh waktu dua tahun bagi pemuda itu untuk menguasainya. Zu Genzi sadar bahwa tingkatannya dengan Xiao Ziya sangatlah jauh, jadi wajar saja jika gadis itu memiliki ketelitian yang lebih tinggi. Xiao Ziya mengambil sebuah kitab jurus pedang dengan nama Kitab Jurus Pedang Dewi Yuzang, Ziya sangat yakin pemuda itu dapat menguasai jurus itu bahkan sebelum ia kembali dari perjalanan panjangnya nanti.
"Ambil ini, ingatlah masa depan Anda ada di tangan Anda sendiri. Jika Anda ingin menjadi pendekar pedang yang hebat untuk melindungi keluarga dan orang orang yang Anda cintai maka berlatih dengan giat. Satu hal lagi, Anda juga harus mengetahui kapan tubuh harus diistirahatkan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar, ia memberikan kitab pedang Dewi Yuzang pada Zu Genzi.
"Kalian berdua bisa mulai melatih jurus tersebut secara perlahan, jika kalian berdua merasa kesulitan saat saya sedang tak ada di sini maka mintalah bantuan pada Raja Min Lunxi. Apa kalian mengerti?." tanya Xiao Ziya pada kedua pemuda dari Klan Zu tersebut.
"Kami mengerti Nona Besar Xiao Ziya, kami tak akan mengecewakan Anda." jawab keduanya dengan tegas.
Di sisi lain saat ini Yie Munha masih menyelesaikan lima putaran penuh karna lapangan tersebut sangatlah luas, Xiao Ziya duduk di sebuah pohon rindang sembari mengawasi latihan ketiga muridnya itu. Di tempat lain tepatnya bangunan bagian belakang Istana Kerajaan Bulan, Ratu Jinha Zee sedang berada di sebuah kamar tempatnya tinggal selama menyamar menjadi pelayan. Ratu Jinha Zee merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya, ia ingin pergi dari tempat itu namun penjagaan di gerbang belakang sedang diperketat.
"Saya akan mati sia sia jika tak segera pergi dari tempat ini. Lihat saja apa yang akan saya lakukan untuk membalas semua yang telah dilakukan oleh gadis busuk itu." ucap Ratu Jinha Zee dengan sorot mata penuh dengan kemarahan, bagaimanapun juga tahta Istana Kerajaan Bulan harus jauh ke tangannya karna ia satu satunya keluarga kerajaan yang masih hidup hingga sekarang.
"Haruskah saya pergi untuk menemui ayah dan ibu? argh namun bagaimana caranya keluar dari tempat ini." ucap Ratu Jinha Zee dengan suara yang cukup kencang, karna terlalu banyak mengeluarkan energi wanita itupun pingsan. Racun yang ia makan memiliki efek yang sangat besar pada tubuhnya sendiri karna Ratu Jinha Zee masih berada di tingkat manusia setengah abadi selain itu tubuhnya sangat jarang mendapat pasokan energi qi.
Waktu berlalu dengan cepat matahari yang tadinya sangat terik kini perlahan lahan mulai redup, Xiao Ziya meminta pada ketiga muridnya itu untuk menyudahi latihan mereka hari ini dan kembali ke kamar masing masing untuk beristirahat. Zu Junyang dan Zu Genzi pergi terlebih dahulu sedangkan Yie Munha tinggal lebih lama di lapangan karna ada sesuatu yang ingin Xiao Ziya berikan padanya.
"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada Anda. Saya harap Anda tak keberatan untuk melakukannya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius pada Yie Munha. Mendapat tatapan seperti itu tentu membuat Yie Munha menjadi gugup, ia takut jika Xiao Ziya menghentikan pelatihannya karna masih menyimpannya dendam padanya.
"Meskipun Anda telah mengantar surat wasiat dari nenek saya sesuai kesepakatan yang telah kita buat, Anda bahkan tak mengambil imbalan sesuai dengan kesepakatan kita waktu itu dan saya sangat berterimakasih pada Nona Yie Munha. Walaupun begitu saya belum bisa sepenuhnya mempercayai Anda, apakah Anda bersedia melakukan perjanjian darah dengan saya?." tanya Xiao Ziya dengan ragu ragu, gadis itu sedikit was was pada Yie Munha karna bisa jadi gadis itu akan kembali berpihak pada kakek dan neneknya. Bagaimanapun juga kedua orang tua itu yang telah membesarkan dan merawat Yie Munha hingga sekarang.
"Saya bersedia melakukan perjanjian darah dengan Anda, saya mengerti bahwa Nona Besar Xiao Ziya takut penghianatan di masa lalu akan terulang kembali." ucap Yie Munha yang tak merasa keberatan meski jiwanya akan menjadi milik Xiao Ziya setelah melakukan perjanjian itu.
"And akan tetap hidup seperti manusia pada umumnya namun ketika Anda berfikir untuk menghianati saya maka sebagian jiwa Anda akan terbakar kemudian menghilang. Anda pasti tau konsekuensi saat seseorang kehilangan sebagian jiwanya." ucap Xiao Ziya yang menjelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi pada Yie Munha jika gadis itu berkhianat padanya.
"Lakukanlah sekarang Nona Ziya, saya akan menyerahkan hidup saya untuk Anda asalkan Anda bersedia membantu saya menjadi lebih kuat dari Yie Gu." jawab Yie Munha tanpa ragu ragu, gadis itu sudah membulatkan tekadnya untuk membalas dendam pada Yie Gu maupun Yie Weinje menggunakan kekuatannya sendiri.
Xiao Ziya membaca sebuah mantra sihir kuno dengan kalimat yang tak dapat dimengerti oleh Yie Munha, tiba tiba saja muncul pola sihir yang sangat rumit di bawah kaki keduanya. Xiao Ziya meminta Yie Munha untuk meneteskan beberapa darahnya pada bagian tengah pola sihir itu, tanpa basa basi Yie Munha langsung menggores tangannya dengan pedang yang ia pinjam dari Ziya kemudian menetaskan darahnya tepat di tengah tengah pola sihir. Dalam sekejap mata muncul cahaya berwarna merah terang yang mengelilingi tubuh Yie Munha, cahaya itu langsung masuk ke dalam kening gadis itu dan membentuk sebuah tato bunga mawar merah.
"Saya Xiao Ziya akan menjadi pemilik jiwa dari seorang gadis bernama Yie Munha, bakar lah sebagian jiwa dari gadis ini ketika ia berfikir untuk menghianati saya dan hancurkan seluruh kultivasi yang ia miliki jika ia benar benar berkhianat pada saya." ucap Xiao Ziya kemudian menggores ibu jarinya dan menetaskan darah di tengah tengah pola sihir tersebut. Perlahan lahan pola sihir itu menghilang dan perjanjian diantara keduanya sudah di buat.
"Maaf karna kepercayaan saya pernah dihancurkan oleh kakek Anda sehingga saya tak akan mengambil resiko lagi." ucap Xiao Ziya yang merasa sedikit bersalah pada Yie Munha.
__ADS_1
"Nona Ziya tenang saja, saya akan melakukannya dengan sebaik mungkin." jawan Yie Munha, gadis itu tak menyesal sedikitpun walau jiwanya telah menjadi milik orang lain.
"Ambil kitab ini dan latihlah dengan baik, sebelum melakukan pelatihan Anda harus menyerap energi qi dalam jumlah yang banyak karna Jurus Pedang Penghancur Bumi memerlukan tenaga dalam yang besar." ucap Xiao Ziya sembari menyerahkan sebuah kitab pada Yie Munha.
"Saya akan berlatih dengan sungguh sungguh, kalau begitu saya pamit kembali ke kamar terlebih dahulu." ucap Yie Munha yang langsung membungkukkan badannya kemudian pergi meninggalkan Xiao Ziya sendirian di lapangan tempat berlatih para prajurit Kerajaan Bulan.
"Baru saja sejenak beristirahat saya sudah harus pergi lagi." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya itu.
Xiao Ziya berjalan dengan santai menuju bagian belakang Istana Kerajaan Bulan, ada sesuatu yang harus ia lakukan sebelum pergi meninggalkan Istana Bulan. Xiao Ziya masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, gadis itu melihat ke arah Ratu Jinha Zee yang sedang terkapar tak berdaya di atas tempat tidurnya. Dengan segera Xiao Ziya meminumkan sebuah ramuan agar wanita itu tidur dalam waktu yang cukup panjang, setelah selesai Xiao Ziya langsung memasukkannya kedalam cincin semesta. Gadis itu berencana untuk membuang ataupun meninggalkan Ratu Jinha Zee di sebuah tempat saat ia dalam perjalanan menuju Desa Elnz, dengan begitu tak ada lagi yang perlu Xiao Ziya cemaskan.
"Saya harus berpamitan pada paman dan bibi terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang bergegas pergi meninggalkan tempat itu menuju bagian utama istana. Di sepanjang jalan para pelayan dan prajurit yang ia temui membungkukkan kepala mereka ketika berpapasan dengan Xiao Ziya, sepertinya mereka merasa senang karna mendapatkan upah yang sepadan dengan tenaga yang telah dikeluarkan.
Tok tok tok.
Suara pintu kamar Ratu Min Xunzi yang diketuk pelan oleh Xiao Ziya, setelah menunggu beberapa saat Ratu Min Xunzi membukakan pintu dan melihat ke arah keponakan itu dengan mata yang masih mengantuk. Xiao Ziya berusaha menahan tawa karna wajah sang bibi yang baru saja bangun tidur sangatlah lucu, Ratu Min Xunzi bahkan tak sadar bahwa ada air liur yang masih mengalir dari sudut bibirnya.
"Maaf karna mengganggu waktu istirahat bibi, saya hanya ingin pamit sekarang. Untuk kedua kalinya saya titipkan Kerajaan Bulan ini pada Anda." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
Ratu Min Xunzi mengedipkan matanya beberapa kali, karna masih mengantuk wanita itu sampai kesulitan mencerna perkataan Xiao Ziya. Ratu Min Xunzi bahkan sempat berfikir kemana lagi gadis itu akan pergi?.
"Apakah bibi baik baik saja?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung, tak biasanya sang bibi merespon cukup lama seperti ini.
"Ah maafkan bibi, karna masih mengantuk bibi sampai lupa bahwa kau harus pergi untuk menemukan sisa jiwa ibu." ucap Ratu Min Xunzi yang sudah mendapatkan kesadaran, wanita itu berpesan pada Xiao Ziya untuk berhati hati karna tak ada yang tau rute seperti apa yang harus dilalui oleh gadis itu.
"Saya akan menjaga diri dengan baik, sekali lagi saya harus merepotkan Anda." ucap Xiao Ziya.
"Tak ada yang merasa direpotkan karna inilah gunanya keluarga. Pergilah sebelum kedua kakak sepupumu datang dan menahan mu untuk pergi." ucap Ratu Min Xunzi, ia tau saat ini kedua putranya sangat khawatir pada Xiao Ziya. Mereka berdua takut akan ada kejadian yang tak terduga terjadi pada adik sepupu mereka ketika dalam perjalanan.
"Saya permisi terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari hadapan Ratu Min Xunzi menuju bagian luar Istana Kerajaan Bulan. Gadis itu akan memulai perjalanannya ke Desa Elnz dan menemukan serpihan jiwa dari sang nenek.
Hai semuanya maaf hari ini Ratu Iblis upnya satu ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1