
Waktu berlalu dengan cepat pagi telah tiba semua orang yang tinggal di Kerajaan Hitam sudah bangun dari tidur mereka kecuali Xiao Ziya yang masih terlelap dalam tidurnya sepertinya gadis itu masih sedikit kelelahan setelah menyelesaikan masalahnya dengan Sekte Lirong hingga tuntas.
Kabar tentang hancurnya Sekte Lirong dalam waktu satu malam sudah menyebar hingga istana Kerajaan Hitam, banyak yang bertanya tanya siapa yang telah melakuka hal itu kecuali Raja Zeus dan kedua pangeran yang sudah bisa menebak bahwa Xiao Ziyalah yang telah melakukan itu semua.
"Adik Ziya memang suka melakukan hal hal yang fantastis." ucap Pangeran Anz yang keheranan dengan sifat adik angkatnya.
"Dia pasti punya alasan yang kuat sehingga melakukan hal itu, adik Ziya bukanlah gadis yang akan menghancurkan sesuatu hanya karna ia tak suka saja." ucap Pangeran Zeeling yang perlahan lahan mulai memahami apa yang ada di fikiran Xiao Ziya walau ia tak tau dengan jelas alasan dibalik pelenyapan Sekte Lirong.
"Mereka yang terlebih dahulu membuat masalah." ucap Raja Zeus yang tau alasan dibalik pelenyapan Sekte Lirong oleh Xiao Ziya.
Saat anggota Sekte Lirong mengajukan lamaran untuk Pangeran Zeeling saat itu juga kedua pangeran sedang tak berada di Istana Kerajaan Hitam sehingga mereka tak tau apa yang sudah terjadi. Raja Zeuspun menceritakan semuanya dari awal, apa saja yang telah terjadi dan beberapa alasan mengapa Xiao Ziya memusnahkan sekte itu.
"Pantas saja adik Ziya memusnahkan mereka semua, ternyata mereka adalah dalang dibalik kematian penduduk desa yang ada di perbatasan." ucap Pangeran Anz yang kini mengerti mengapa adiknya itu melakukan pemusnahan.
"Dia melakukan ini semua juga untuk aku dan ayah." ucap Pangeran Zeeling yang terharu saat mendengar cerita bahwa Xiao Ziyalah yang telah mengagalkan rencana Sekte Lirong untuk menguasai Kerajaan Hitam dengan cara menjodohkan salah satu ketua sekte mereka dengan Pangeran Zeeling.
"Namun dimana adik kalian ayah belum melihatnya sejak tadi?." ucap Raja Zeus yang belum melihat Xiao Ziya sejak tadi pagi bahkan sejak kemarin ia tak melihat putri kesayangannya itu.
"Mungkin adik masih lelah." ucap Pangeran Anz pada sang ayah. Memusnahkan sebuah sekte besar dalam waktu satu malam tentu saja menguras tenaga.
"Ya pasti gadis manis itu sedang meringkuk di atas tempat tidurnya." ucap Pangeran Zeeling yang menebak bahwa Xiao Ziya sedang tertidur pulas.
Mendengar ocehan kedua putranya tentang putri kesayangannya tentu saja membuat Raja Zeus tertawa, semenjak ada Xiao Ziya suasana Istana Hitam semakin ramai para prajurit dan pelayan juga senang dengan kehadiran gadis itu.
Gadis yang sedang dibicarakan oleh semua orang itu mulai mengerjap kerjapkan matanya dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke kamarnya. Setelah itu Xiao Ziya mandi lalu menggunaka sebuah gaun berwarna putih dengan sedikit warna biru di bagian bawah. Setelah selesai bersiap Xiao Ziya keluar dari kamar dan pergi menuju dapur untuk melihat apakah sarapan untuknya sudah siap ataukah belum.
"Salam hormat pada nona Ziya." ucap para pelayan yang bertugas untuk menyiapkan semua makanan, mereka membungkukkan kepala dan mengucap salam pada Xiao Ziya.
"Saya terima salam kalian." ucap Xiao Ziya dengan nada yang ceria, gadis itu melihat makanan apa saja yang telah para pelayan itu siapkan.
"Nona ingin sarapan sekarang?." ucap salah seorang pelayan yang menawarkan pada Xiao Ziya untuk sarapan terlebih dahulu.
"Apakah ayah dan kedua gegeku sudah sarapan?." tanya Xiao Ziya, gadis itu tau hari ini ia bangun terlambat dan kemungkinan besar hanya dia saja yang belum makan.
"Yang Mulia Raja Zeus dan kedua pangeran sudah sarapan sejak pagi tadi." jawab palayan itu apa adanya, Xiao Ziya menganggukkan kepalanya ia meminta dua potong roti, satu gelas susu dan sebuah apel merah untuk menu sarapannya.
Beberapa pelayan mengambilkan makanan yang Xiao Ziya inginkan, setelah itu mereka meletakkan makanan itu diatas nampan dan diberikan pada Xiao Ziya. Dengan senang hati gadis itu menerima nampan berisi makanan, setelah itu Xiao Ziya pergi dari dapur menuju taman depan ia ingin menyantap sarapannya di sana.
Setelah sampai di taman depan Xiao Ziya duduk di salah satu bangku taman dan mulai menyantap roti, terlihat Xiao Ziya menikmati sarapannya pagi itu hingga tiba tiba Raja Zeus datang menghampiri gadis itu.
"Pagi putri ayah yang cantik." ucap Raja Zeus yang memberi ucapan selamat pagi pada putri kesayangannya itu.
"Pagi ayah." ucap Xiao Ziya yang memberikan sebuah senyuman ceria yang sangat cerah dan membuat Raja Zeus semakin sayang pada putri angkatnya itu.
"Sepertinya putri kesayangan ayah bangun kesiangan." ucap Raja Zeus yang mengusap kepala Xiao Ziya dengan lembut.
__ADS_1
Xiao Ziya sedang fokus pada makanan yang masih tersisa di nampannya, Raja Zeus berpamitan pada Xiao Ziya untuk kembali ke ruang kerjanya karna ada banyak tugas yang belum ia kerjakan, Xiao Ziya hanya menganggukkan kepalanya karna dimulutnya sedang penuh dengan makanan. Setelah selesai makan Xiao Ziya pergi untuk mengembalikan nampan ke dapur. Setelah itu ia melesat menuju Kediaman Bangsawan Yue Fuzi karna ada sesuatu yang ingin ia selesaikan di sana.
Setelah beberapa saat akhirnya Xiao Ziya sampai di depan kediaman Keluarga Bangsawan Yue Fuzi, saat akan masuk kedalam ada beberapa penjaga gerbang masuk yang menghentikan langkahnya, dari raut wajah mereka yang sangat sangar dan tak bersahabat.
"Untuk apa kau datang ke Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Fuzi?." ucap salah seorang penjaga gerbang yang menatap Xiao Ziya dengan marah.
Wajar saja Xiao Ziya tak mendapatkan sambutan yang ramah dari anggota Keluarga Bangsawan Yue Funzi karna ialah yang telah memasukkan kepala keluarga mereka kedalam alam neraka bawah, dan memenjarakan nyonya kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi bersama dengan kedua putrinya sehingga Xiao Ziya dianggap sebagai musuh oleh anggota Keluarga Bangsawan Yue Funzi yang tersisa.
"Saya tak ada urusan dengan kalian, saya datang untuk bertemu Tuan Muda Yue Agze." ucap Xiao Ziya dengan nada bicara datarnya gadis itu menatap para penjaga gerbang dengan tatapan datar.
"Cih tuan muda tak mungkin mau bertemu dengan gadis yang telah menghancurkan keluarganya." ucap salah seorang penjaga gerbang yang percaya bahwa Tuan Muda Yue Agze tak mungkin membuat janji dengan gadis yang ada di hadapan mereka.
Tiba tiba dari dalam kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi terdengar langkah kaki yang mendekat ke arah gerbang masuk, seorang penjaga gerbang yang ada di sisi gerbang yang lain memberitaukan bahwa Yue Agze ingin melewati gerbang sehingga mereka membuka gerbang itu dengan lebar.
Setelah gerbang Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi terbuka lebar, Yue Agze berjalan menghadap Xiao Ziya kemudian pemuda itu membungkukkan badannya.
"Salam hormat saya pada nona Xiao Ziya." ucap Yue Agze yang membuat para penjaga gerbang masuk terkejut, ternyata apa yang dikatakan oleh gadis yang ada dihadapan mereka adalah kebenaran.
"Saya trima salam tuan muda, jadi bolehkah saya masuk kedalam?." ucap Xiao Ziya dengan nada yang ramah.
"Silahkan saya akan mengawal nona selama berada di kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi." ucap Yue Agze yang mempersilahkan Xiao Ziya untuk masuk kedalam kediamannya.
Xiao Ziya dan Yue Agze berjalan masuk kedalam Kediaman Yue Agze, saat masuk kedalam terlihat ruang tamu yang mewah dengan cat putih yang mendominasi ruangan itu. Yue Agze mengajak Xiao Ziya untuk pergi ke ruang utama untuk bertemu dengan paman, bibi, dan sepupunya. Saat Xiao Ziya sampai di ruang utama hal yang pertama kali ia lihat adalah kehangatan yang ada dalam kelurga paman Yue Agze.
"Mengapa kau masih ada di sini? seharusnya kau sudah berangkat ke akademi, urusan keluarga ini biar saya yang urus." ucap Yue Zunlong yang tak sadar akan kehadiran Xiao Ziya di sana.
"Ekem." ucap Xiao Ziya dengan sengaja agar kehadirannya diketahui oleh ketiga orang yang sedang sibuk dengan urusan mereka masing masing.
Yue Zounlong, istri, serta anak laki lakinya langsung membalikkan badan mereka untuk melihat siapa yang mengeluarkan suara, mata Yue Zunlong bertemu dengan tatapan dingin Xiao Ziya.
"Siapa kau?."ucap Yue Zunlong yang belum pernah bertemu dengan Xiao Ziya sebelumnya.
"Saya Xiao Ziya." ucap Xiao Ziya dengan singkat. Mendengar nama Xiao Ziya membuat Yue Zunlong gemetaran dan lemas seketika. Ia sedang menebak nebak untuk apa gadis yang telah membunuh kakak laki lakinya itu datang ke Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi.
"Untuk apa kau datang kesini? apakah kau belum puas menghancurkan keluarga kami?." ucap Yue Zunlong dengan nada tegas namun masih gemetaran.
"Menghancurkan? ahahaha apa anda sedang bercanda? saat pertama kali melihat kalian bertiga sepertinya kalian terlihat sangat bahagia." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman sinis, ia tau bahwa Yue Zunlong merasa senang karna saat kakak laki lakinya tiada ialah yang menggantikan posisi sebagai kepala keluarga.
Walaupun begitu posisi kepala keluarga yang sah seharusnya didapatkan oleh Yue Agze, Xiao Ziya datang ke Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi untuk mengembalikan hak hak yang seharusnya didapatkan oleh Yue Agze salah satunya adalah posisi sebagai Kepala Keluarga.
"Jaga ucapanmu, saya merasa sangat terpukul setelah mengetahui kakak dan kakak ipar telah tiada. Untuk itu saya datang kesini untuk membantu keponakan saya mengurus Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi." ucap Yue Zunlong yang sedang membela dirinya sendiri dengan alibi membantu Yue Agze mengurus kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi.
"Membantu? benarkah kau membantu, atau hanya ingin menimbun harta untuk dirimu sendiri?." ucap Xiao Ziya yang tersenyum menyeramkan, ia berjalan mendekati Yue Zunlong kemudian memegang tangan pria itu dan mengambil sebuah cincin dengan batu berwarna merah dari jari pria itu. Cincin batu berwarna merah yang Xiao Ziya ambil adalah cincin turun temurun yang dipakai oleh Keluarga Bangsawan Yue Funzi yang mendapatkan jabatan sebagai kepala keluarga.
Setelah berhasil merebut cincin dengan permata merah itu Xiao Ziya langsung memberikannya pada Yue Agze karna pemuda itulah yang memiliki hak menjadi kepala keluarga Bangsawan Yue Funzi. Yue Zunlong terkejut melihat gadis itu dengan mudah merebut cincin yang sedang ia kenakan.
__ADS_1
"Pakailah cincin itu karna kau yang berhak menjadi kepala keluarga." ucap Xiao Ziya yang memerintahkan agar Yue Agze memakai cincin dengan permata merah itu.
Yue Agze tampak ragu saat akan menggunakan cincin itu, namun ia tak ingin mengecewakan orang yang telah membantunya sehingga dengan berani Yue Agze memasang cincin itu di jari telunjuknya.
"Kau hanya perlu fokus belajar di akademi dan tak perlu repot repot mengurus kediaman ini tapi mengapa kau malah menuruti perintah dari gadis yang telah membunuh anggota keluargamu." ucap Yue Zunlong yang sangat marah saat melihat keponakannya itu dengan berani menentang perintahnya. Biasanya Yue Agze menuturi semua perintah dari sang paman dan diam saja walau ia diperlakukan dengan tak adil namun tiba tiba ia menjadi sangat berani seperti itu.
"Bagaimana saya bisa sekolah jika anda tak membayar biyaya sekolah saya selama di akademi?." ucap Yue Agze yang dengan berani mengangkat suaranya, jika pamannya benar benar ingin ia sekolah dengan baik di Akademi Wunyeng pasti ia sudah membayar semua biyaya sekolah namun kenyataanya pria itu tak memberinya uang bulanan, tak membayarkan biyaya sekolahnya.
"Paman lupa membayarnya, hari ini paman berniat pergi ke akademi untuk membayar seluruh biyaya sekolahmu yang belum di bayar." ucap Yue Zunlong yang bersusaha untuk menarik simpati dari keponakannya itu. Namun Yue Agze tak ingin percaya lagi pada pamannya itu karna pamannya sama seperti ayahnya yang hanya mementingkan dirinya sendiri saja.
"Paman tak perlu menbayarnya nona Ziya telah melunasi semua biyaya sekolah saya." ucap Yue Agze dengan nada dingin sepertinya pemuda itu telah belajar banyak dari Xiao Ziya bagaimana caranya menghadapi orang semacam pamannya itu.
"Beraninya kau melawan ayahku." ucap Yue Alzof yang ingin memukul Yue Agze dengan tangannya, namun pemuda itu tak tinggal diam ia membalas pukulan Yue Alzof.
"Jangan kira aku akan diam saja seperti biasanya." ucap Yue Agze yang menatap sepupunya dengan tajam.
"Mengapa kau sekarang sangat kasar sekali pada sepupumu." ucap Yue Jinha ibu dari Yue Alzof atau bisa dibilang ia adalah bibi dari Yue Agze.
"Kau berhak mengusir mereka jika kau sudah muak mendengar ocehan tak jelas itu." ucap Xiao Ziya sambil duduk di salah satu kursi yang disiapkan. Entah mengapa setiap kata kata yang diucapkan oleh Xiao Ziya terdengar seperti perintah mutlak bagi Yue Agze padahal gadis itu tak memaksanya untuk melakukan semua hal yang ia katakan.
"Kalian bisa pergi dari sini." ucap Yue Agze yang mengusir paman dan bibinya dari sana.
"Kau akan menyesal telah melakukan ini pada kami lihat saja nanti." ucap Yue Zunlong yang mengajak istri dan putranya untuk kembali ke rumah mereka. Tempat yang ditinggali oleh Yue Agze adalah bangunan utama yang ada di Kediaman Keluarga Bangsawan Yue Funzi.
Setelah paman, bibi, dan saudaranya pergi dari sana Yue Agze bisa bernafas dengan lega, ia tak menyangka bahwa hari ini ia bisa dengan tegas meminta haknya, semua ini karna dukungan dari gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu.
"Trimakasih nona Ziya telah membantu saya." ucap Yue Agze yang tak tau harus membalas kebaikan Xiao Ziya dengan apa.
"Kelak jika ada masalah jangan sungkan untuk meminta bantuan ke Istana Kerajaan Hitam, kami akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati." ucap Xiao Ziya yang tersenyum senang. Gadis itu berpamitan pada Yue Agze karna ia ingin pergi kesuatu tempat terlebih dahulu.
Xiao Ziya melesat menuju Istana Kerajaan Hitam, gadis itu bukan pergi ke kamarnya atau pergi menemui ayahnya. Xiao Ziya pergi menuju penjara yang ada di bagian bawah tanah istana Kerajaan Hitam. Setelah sampai di penjara, Xiao Ziya menyusuri lorong lorong dan melihat para tahanan yang ada di penjara.
Hingga Xiao Ziya sampai di sebuah penjara yang berisi tiga orang mereka adalah Yue Yinha, Yue Mozi, dan Yue Cinling. Melihat ada yang datang ketiga wanita itu langsung menoleh, saatn tau Xiao Ziyalah yang datang ketiga wanita itu marah dan berusaha memukul Xiao Ziya dari rongga rongga jeruji besi namun semuanya sia sia saja.
"Aaargh gadis gila sepertimu seharusnya sudah mati." triak Yue Yinha yang sudah sangat frustasi karna ia sangat ingin keluar dari penjara.
"Bagaimana rasanya berada di ruang yang dingin seperti ini?." ucap Xiao Ziya yang tersenyum dengan jahat kemudian gadis itu menatap tajam kearah ketiga wanita yang sedang bertriak triak tidak jelas.
"Hidup Yue Agze pasti sangat sengsara saat ini." ucap Yue Mozi yang menebak bahwa adiknya saat ini sedang disiksa oleh paman dan bibinya.
"Siapa bilang adik laki lakimu itu menderita? hari ini ia telah menjadi kepala keluarga." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari sana. Mendengar apa yang dikatakan Xiao Ziya barusan tentu saja menyulut emosi ketiga wanita itu.
"Sialan anak itu tak berencana untuk membebaskan kita." ucap Yue Yinha yang kesal pada anak laki lakinya yang tak bisa berbuat apapun saat ia sedang dipenjara.
Hai hai semuanya author balik lagi nih, kalian nungguin ga wkwkwk. Jangan lupa jaga kesehatan ya, jangan lupa follow, vote, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya, jangan lupa follow.
__ADS_1