RATU IBLIS

RATU IBLIS
Teman?


__ADS_3

Saat ini Xiao Ziya sudah berada di paviliunnya dia sedang mengemasi barang barangnya yang akan ia bawa selama mengikuti turnemen. Namun Xiao Ziya belum tau di kekaisaran mana ia akan pergi.


"Humm apa saja yang perlu dibawa." ucap Xiao Ziya yang sedang berfikir berat.


Bruk


Terdengar sesuatu yang jatuh di halaman belakang paviliun Xiao Ziya. Dengan segera Xiao Ziya keluar dan melihat apa yang terjatuh. Dia melihat kearah seorang pemuda yang sedang tersungkur di tanah.


"Mengapa kau ada di halaman belakang paviliunku." ucap Xiao Ziya sembari memandang sinis ke arah pemuda itu.


"Maaf jika kedatanganku menggangumu nona." ucap pemuda itu yang tak lain adalah Ziloz salah satu anam dewa yang jatuh hati padanya.


Ziloz sengaja datang ke paviliun Xiao Ziya yang ada di akademi karna ia sangat merindukan gadis itu. Kedatangan Ziloz juga secara tiba tiba karna pemuda itu kabur dari wilayah dewa hanya untuk bertemu dengan wanita yang membuatnya gelisah beberapa hari ini.


"Jadi untuk apa seorang anak dewa yang terhormat datang mencari rakyat biasa sepertiku." ucap Xiao Ziya yang menatap kesal ke arah Ziloz, jika pemuda itu datang ke sini dengan cara melarikan diri pasti ayahnya akan mencarinya. Dan yang akan disalahkan adalah Xiao Ziya.


"Aku hanya merindukan gadis kecilku saja." ucap Ziloz yang tersenyum menatap Xiao Ziya. Bola mata merah itu terlihat begitu indah, walau penampilan baru Xiao Ziya membuat Ziloz sedikit terkejut.


"Bukankah di alam dewa banyak dewi dewi cantik, mengapa kau mencariku. Aku ini hanyalah gadis kecil yang belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun." ucap Xiao Ziya yang langsung mengucapkan penolakan pada Ziloz.


Ziloz hanya bisa terdiam mendengar ucapan dari Xiao Ziya, karna apa yang ia ucapkan memang benar, banyak dewi dewi cantik di alam dewa dan di usianya saat ini Xiao Ziya pasti belum memikirkan soal percintaan seperti dirinya.


"Ah maaf jika begitu, maukah kau menjadi saudariku saja." ucap Ziloz yang sedang menudukkan kepala karna malu. Walau ia tak bisa memiliki Xiao Ziya sebagai calon tunangannya namun setidaknya Ziloz ingin membangun hubungan yang baik dengan Xiao Ziya.


Xiao Ziya terlihat berfikir sejenak, ini sedikit aneh untuknya. Bukankah dulu jiwanya ditolak oleh alam dewa saat seharusnya ia berreingkarnasi lalu mengapa saat ini salah satu putra seorang dewa memintanya menjadi saudari? apa ini sebuah jebakan atau tulus permintaan dari Ziloz.


Sepertinya Xiao Ziya belum bisa sepenuhnya percaya pada perkataan Ziloz, sudah banyak hal buruk yang ia alami karna para dewa yang menyebalkan itu.


"Untuk menjadi saudari mu sepertinya saya belum bisa, tapi untuk menjadi seorang teman tentu saja bisa." ucap Xiao Ziya yang menawarkan sebuah hubungan yang lebih baik.


Zilozpun tersenyum dengan senang akhirnya ia memiliki alasan untuk menemui Xiao Ziya dilain waktu karna sekarang mereka menjadi seorang teman.


"Namun aku harus pergi untuk membeli perbekalanku selama mengikut turnamen, dan kau pulanglah sebelum ayahmu yang pemarah itu mengamuk di sini." ucap Xiao Ziya yang sudah sangat malas jika harus bertarung dengan dewa Hiloz karna ia harus menyimpan banyak energi Qi sebagai persiapan menghadapi semua lawannya nanti.


"Baiklah aku akan kembali di lain hari ya teman." ucap Ziloz yang kemudian pergi karna tak ingin menggangu teman barunya itu.


Xiao Ziya merasa lega karna anak dewa itu sudah pergi dan ia bisa bersantai untuk beberapa saat.


Xiao Ziya keluar dari paviliunnya dan berjalan jalan di sekitar akademi untuk melihat lihat apa yang sedang dilakukan oleh para siswa lainnya.


"Selamat sore nona Ziya apa yang sedang kau lakukan." ucap seorang siswa yang merupakan teman satu kelas Xiao Ziya.


"Sore juga Zuxin apa yang sedang kau lakukan di sini?." tanya Xiao Ziya pada pemuda itu, sedangkan Rou Zuxin hanya tersenyum memandang Xiao Ziya.


Entah mengapa semua murid laki laki selalu tersenyum ketika melihatnya, apa ada yang salah dengan wajahnya sehingga para murid laki laki selalu seperti itu. Banyak yang bilang bahwa ia cantik namun saat Xiao Ziya bercermin ia rasa Xiao Yuna jauh lebih cantik darinya. Lalu apa yang menarik? statusnya yang begitu tinggi?.


"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi karna merasa sedikit tak nyaman. Gadis itu lebih memilih untuk makan di kedai yang ada di dekat akademi.


"Permisi saya pesan satu mie ayam, roti kering, dan air putih." ucap Xiao Ziya yang memesan makanan di kedai tersebut, ia sengaja tak makan di kantin sekolah karna memang tatapan murid murid yang ada di sana selalu terarah padanya.

__ADS_1


"Baiklah nona tunggu di sini sebentar saya akan menyiapkannya." ucap seorang pelayan yang langsung membuatkan pesanan Xiao Ziya.


Xiao Ziya melihat ke luar kedai sebentar, terlihat seorang pria tua dengan baju lusuhnya yang sedang di ganggu oleh beberapa pemuda, Xiao Ziya terus memandangnya hingga ia melihat pemuda pemuda itu memukuli kakek tua tersebut.


"Ah mereka benar benar harus diberi pelajaran." ucap Xiao Ziya yang sudah merasa geram dengan tindakan semena mena yang para pemuda itu lakukan. Mengapa mereka setega dan sejahat itu pada pria tua yang tak punya apa apa.


Bugh bugh bugh


Benerapa tinju melayang mengenali para pemuda itu hingga ada yang pingsan. Entah Xiao Ziya yang terlalu kuat atau mereka saja yang terlalu lemah sehingga tak dapat menerima pukulan dari Xiao Ziya.


"Hey apa yang kalian lakukan di kekaisaranku." ucap Xiao Ziya sengan mata merah menyalanya yang sangat mengintimidasi.


"Siapa kau, ayahku adalah pemimpin di wilayah ini." ucap seorang pemuda yang tengah memegangi perutnya.


"Panggil ayahmu kesini." ucap Xiao Ziya yang ingin tau kedudukan apa yang dimiliki oleh ayah pemuda tersebut sehingga ia bisa sombong di depan Xiao Ziya.


"Aku akan memanggil ayahku, awas saja jika kau kabur dari sini aku akan mencarimu." ucap pemuda itu yang kemudian lari ke rumahnya.


Sedangkan Xiao Ziya mengalihkan pandangannya ke kakek tua yang mendapat perlakuan kasar dari para pemuda.


"Apa kakek baik baik saja? apa yang sebenarnya terjadi." ucap Xiao Ziya yang merasa keheranan, tak mungkin para pemuda tadi ingin merampas uang dari kakek itu dilihat darimanapun kakek itu sepertinya tak memiliki banyak uang.


"Trimakasih sudah membantu saya, sebaiknya nona pergi karna ayah dari pemuda itu adalah kepela desa di sini." ucap kakek tua itu yang tak ingin membuat gadis yang menolongnya dalam bahaya.


Sedangkan pemuda tadi sudah sampai di halaman rumahnya, ternyata sang ayah sedang berbincang dengan Jenderal Zue, mereka sedang membicarakan keamanan desa tersebut.


"Ayah uhuk uhuk, aku dipukuli oleh seseorang dan ia meminta ayah untuk datang." ucap pemuda itu tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Cepatlah ayah atau gadis tak tau diri itu akan kabur." ucap pemuda itu yang langsung menarik tangan sang ayah.


Sedangkan Jenderal Zue atau lebih kita kenal dengan sebutan Pangeran Kegelapan menghentikan langkahnya sejenak ketika mendengar bahwa seorang gadislah yang telah membuat pemuda itu terluka.


"Aku harus memastikannya sendiri karna tak ada gadis yang seberani adikku yang lucu itu." ucap Jenderal Zue yang diam diam mengikuti ayah dan anak laki lakinya itu.


Sedangkan di tempat lain Xiao Ziya setia menunggu kedatangan ayah dari pemuda yang ia pukuli, ia sudah berpesan pada pelayan kedai untuk menaruh makanannya di meja. Sang kakek hanya memandang Xiao Ziya dengan raut wajah gelisah.


"Apakah kakek tak memiliki anak ataupun saudara?." tanya Xiao Ziya yang merasa heran karna kakek itu hanya sendirian di sana.


"Tidak ada semua telah meninggalkan saya." ucap sang kakek yang terlihat sedih, kakek itu memegang sebuah pedang putih yang sangat indah dan itu sempat mengalihkan pandangan Xiao Ziya sejenak.


"Datanglah ke klan Xiao, dan berikan surat ini pada penjaga gerbang klan. Beberapa waktu lalu aku juga menolong seorang pria tua mungkin kalian bisa menjadi teman baik, tinggalah di sana." ucap Xiao Ziya yang memberikan surat dengan stempel resmi yang ia miliki.


Kakek itu sempat terkejut mendengar perkataan gadis muda yang ada di hadapannya itu. Mengapa ia bersedia menolong seseorang yang bahkan baru pertama kali ia kenal.


"Apakah nona serius?." tanya kakek itu yang sedikit khawatir jika gadis yang ada di hadapannya hanya membual saja.


"Apa saya terlihat sedang berbohong?." tanya Xiao Ziya sambil tersenyum manis.


Tiba tiba saja warna rambut Xiao Ziya kembali menjadi hitam seperti semua namun matanya tetap berwarna merah.

__ADS_1


"Warna rambut nona berubah menjadi hitam." ucap sang kakek yang terkejut dengan perubahan mendadak itu.


"Iya warna mata dan rambut saya memang suka berubah tiba tiba saya mohon maaf jika membuat anda terkejut." ucap Xiao Ziya yang memang belum bisa mengendalikan seluruh kekuatan yang ada dalam dirinya.


"Itu bukan masalah, trimakasih atas kebaikan nona." ucap Kakek itu.


Tak lama setalah itu pemuda yang dihajar oleh Xiao Ziya tadi datang bersama sang ayah. Pemuda itu menatap Xiao Ziya dengan raut wajah kebingungan.


"Apa anda melihat nona dengan rambut biru di sini tadi?." tanya pemuda itu pada Xiao Ziya.


"Itu saya, maaf rambut saya memang suka berubah ubah." ucap Xiao Ziya yang tersenyum penuh dengan arti pada pemuda tersebut.


"Ayah dialah gadis yang sudah berani memukulku karna aku menolak cintanya." ucap pemuda itu yang sepertinya sedang mengarang sebuah cerita yang lucu.


Xiao Ziya taksm sanggup menahan tawanya, apa yang pemuda itu katakan ditolak cintanya? hahaha bukankah hal itu terdengar sangat konyol.


"Hey kapan aku menyatakan cinta pada sampah masyarakat sepertimu?." tanya Xiao Ziya yang mulai tak bisa menjaga kata katanya. Seperti inilah jika gadis itu sudah merasa kesal dan marah.


"Apa yang kau katakan, putraku ini sangatlah tampan banyak yang mengirim lamaran untuknya, wajar jika kau ditolak oleh putraku. Mengapa gadis sepertimu sangat kasar hingga memukulnya." ucap ayah dari pemuda itu dengan penuh percaya diri.


Entah mengapa masih banyak orang gila yang menganggap diri mereka paling mulia diantara yang lainnya.


"Maaf namun putra anda tidak pantas jika ingin bersanding dengan saya." ucap Xiao Ziya dengan tegas dan tatapan mata yang sangat tajam.


"Siapa kau hingga putraku tak layak bersanding denganmu, aku ini adalah kepala desa tentu saja aku sangat kaya." ucap pria itu yang sedang membanga banggakan kekayaan yang ia miliki.


Xiao Ziya benar benar sudah bosan mendengar ucapan sampah seperti itu. Dia ingin merobek mulut dari ayah sang pemuda.


"Hormat saya pada Nona Xiao Ziya." ucap Jenderal Zue yang memainkan perannya dengan baik.


"Saya terima hormatmu jenderal, bagaimana anda ada di sini?." tanya Xiao Ziya yang mengerti bahwa Pangeran Kegelapan sengaja melakukan hal itu.


"Saya kesini karna ada urusan, bukankah seharusnya nona ada di akademi." tanya jenderal Zue.


"Maaf apakah jenderal Zue mengenal gadis ini?." tanya ayah dari sang pemuda itu.


"Tentu saja nona Ziya adalah adik dari sang kaisar, dia juga pemegang kekuasaan dari Klan Xiao bagaimana saya tak mengenalinya." ucap Jenderal Zue dengan senyuman yang terukur di bibirnya.


Ayah dari pemuda itu sangat terkejut mendengar status dari gadis yang ada di hadapannya itu seketika tubuhnya lemas tak berdaya. Mengapa putranya berani mengusik seorang bangsawan yang sangat terpandang ditambah ia adalah adik dari Kaisar Yan.


"Jenderal Zue saya memiliki banyak urusan lain, tolong katakan pada Yan gege untuk mengganti kepala desa baru untuk desa ini." ucap Xiao Ziya yang tak ingin terlalu lama berdebat.


"Baik saya akan menyampaikannya pada kaisar." ucap Jenderal Yan.


"Kalau begitu saya permisi." ucap Xiao Ziya yang membawa kakek tua tadi ikut bersamanya untuk makan di kedai sebrang.


Sedangkan ayah dari pemuda itu sedang berusaha memahami apa yang telah terjadi padanya. Mengapa anaknya sangat bodoh.


**Hai hai semua aku update lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat. Maaf bisanya update jam segini ya guys.

__ADS_1


Jangan lupa follow aku, vote sebanyak banyaknya, like, komen, rate, share**.


__ADS_2