
Xiao Ziya menghela nafas panjang dan bersiap untuk memberitahukan apa isi gulungan surat wasiat dari ibu Ratu Min Xunzi, ada beberapa hal yang membuat Xiao Ziya kebingungan saat membaca surat tersebut.
"Nenek telah meninggal setelah anak terakhirnya yaitu paman Lee Brian berusia satu tahun, semua itu ulah Yie Gu dan Yie Weinje yang menginginkan kekuasaan penuh atas Klan Yie. Sebelum meninggal nenek meninggalkan sebagian jiwanya pada sebuah pedang yang saat ini berada di wilayah paling dingin Dunia manusia abadi. Ada beberapa pesan yang nenek sampaikan dan pesan itu membuat saya merasa bingung." ucap Xiao Ziya yang menjelaskan isi surat wasiat dari sang nenek secara singkat agar tak memakan waktu lama.
"Apa yang membuatmu bingung keponakan ku?." tanya Ratu Min Xunzi dengan tatapan penasaran, sebelumnya ia juga sudah menebak bahwa kematian ibunya itu adalah ulah ayahnya sendiri yang lebih memilih hidup bersama Yie Weinje.
"Untuk membuka surat ini saya perlu meneteskan darah, dan di dalam gulungan surat wasiat tersebut nenek berpesan hanya cucu atau anaknya yang terpilih saya yang dapat membuka gulungan itu. Artinya saya masih memiliki ikatan darah dengan nenek, jika saya bukan anak dari Ratu Junyi Zu maka saya anak siapa?." tanya Xiao Ziya dengan melihat ke arah Ratu Min Xunzi, mungkinkah ada anak lain dari sang nenek yang tak diketahui oleh bibinya itu?.
"Ibu hanya memiliki tiga orang anak kandung saja." ucap Ratu Min Xunzi dengan penuh keyakinan. Ratu Min Xunzi berpendapat bahwa Xiao Ziya benar benar anak dari kakaknya yaitu Junyi Zu, namun sang kakak menolak kehadiran Xiao Ziya karna tak menginginkan gadis itu.
"Siapa nama nenek?." tanya Min Wungi yang penasaran dengan nama neneknya dari pihak ibu. Selama ini Min Xome dan Min Wungi selalu ingin tau siapa saja anggota keluarga ibunya.
"Yie Linyia itulah nama nenek kita, entah bagaimana wajah nenek yang pasti ia wanita cantik yang sangat mengagumkan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah cantiknya itu.
"Jadi Anda akan pergi untuk mencari pedang tersebut? lalu dimana bagian terdingin dari Dunia Manusia Abadi?." tanya Raja Min Lunxi, bagaimana jika tempat itu sangat berbahaya untuk didatangi oleh Xiao Ziya? ia khawatir jika sesuatu terjadi pada keponakannya itu.
"Saya akan mencari informasi tempat tersebut dari penduduk sekitar, mereka yang sejak lahir tinggal di Dunia Manusia Abadi pasti mengetahui atau mendengar tentang tempat itu.
"Bibi harap kau berhati hati, keselamatan mu lebih penting dari apapun." ucap Ratu Min Xunzi yang langsung memeluk Xiao Ziya dengan erat. Gadis itu baru saja kembali dari wilayah Kerajaan Bintang Timur dan sekarang harus
pergi lagi untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.
"Bibi tenang saja, saya bisa menjaga diri dengan baik." ucap Xiao Ziya yang masih dalam pelukan Ratu Min Xunzi.
Setelah itu Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi berpamitan untuk kembali ke kamar mereka, Min Xome dan Min Wungi ingin menemani Xiao Ziya untuk mencari informasi seputar tempat terdingin yang ada di Dunia Manusia Abadi namun gadis itu meminta mereka untuk tetap berada di Istana Kerajaan Bintang Timur. Saat ini Ratu Jinha Zee sudah berada di Istana Kerajaan Bulan, ada banyak kemungkinan yang akan terjadi saat Xiao Ziya pergi nanti dan untuk mengantisipasi hal buruk terjadi Xiao Ziya meminta pada kedua pemuda itu untuk berjaga jaga.
"Ada seorang pelayan dengan rambut hitam legam dan mata berwarna coklat keemasan, dia berada di bagian dapur. Bisakah gege mengawasinya? saya takut ia menaruh racun di dalam makanan untuk menyingkirkan satu persatu orang yang tinggal di istana ini." ucap Xiao Ziya yang memiliki tugas penting untuk Min Xome dan Min Wungi. Keduanya saling bertatapan satu sama lain kemudian menganggukan kepala secara bersamaan.
"Kami akan menjalankan tugas ini dengan baik, adik Ziya tenang saja." ucap Min Xome dengan senyuman lebarnya.
"Baiklah saya harus pergi untuk mencari informasi mengenai tempat tersebut, kalian berhati hatilah." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi dari tempat itu, Xiao Ziya melompati gerbang belakang Istana Kerajaan Bulan agar kepergiannya tak diketahui oleh pelayan atau prajurit yang berada di istana.
Di tempat lain saat ini seorang pelayan wanita sedang duduk di sudut dapur dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya, pelayan itu adalah Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar untuk menyingkirkan Xiao Ziya. Beberapa hari yang lalu sang ratu kembali ke wilayah Kerajaan Bulan dan ia mendapat kabar bahwa saat ini pemimpin di Kerajaan Bulan sudah digantikan oleh seorang gadis bernama Xiao Ziya. Sang ratu mengetahui bahwa suaminya gagal dan mati dalam medan perang, ia mengira bahwa yang duduk di singgasana saat ini adalah salah satu dari anak anaknya.
__ADS_1
"Matilah dan kerajaan ini akan menjadi milik saya, sejak awal gadis bernama Xiao Ziya itu tak pantas menghiasi kepalanya dengan mahkota." ucap Ratu Jinha Zee dengan senyuman licik, ia berfikir saat ini efek racun yang ia berikan pada Xiao Ziya sudah bereaksi dan mungkin sebentar lagi Istana Bulan akan dikejutkan dengan berita meninggalnya gadis itu.
Karna sudah tak sabar untuk mendengar berita kematian Xiao Ziya, Jinha Zee bergegas pergi dari dapur menuju kamar utama tempat Xiao Ziya beristirahat. Setelah sampai di depan kamar utama Ratu Jinha Zee mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam kamar.
"Mungkinkah gadis itu sudah menjadi mayat?." tanya Ratu Jinha Zee pada dirinya sendiri.
Saat ingin pergi dari depan pintu masuk kamar utama secara tak sengaja Ratu Jinha Zee berpapasan dengan Min Xome dan Min Wungi yang baru saja kembali dari halaman belakang. Min Xome menghentikan langkah sang ratu yang sedang menyamar menjadi pelayan, awalnya Ratu Jinha Zee merasa takut jika identitasnya terbongkar namun ia berusaha menepis fikiran itu jah jauh karna keduanya berasal dari lapisan dunia lain.
"Ada apa tuan muda?." ucap Ratu Jinha Zee dengan menundukkan kepalanya, akting wanita itu perlu diacungi jempol.
"Apa yang sedang kau lakukan di depan kamar adik Ziya?." tanya Min Wungi dengan tatapan curiga, pelayan itu memiliki ciri ciri yang sama dengan apa yang disebutkan oleh Xiao Ziya.
"Saya ingin menanyakan apakah Nona Ziya sudah makan malam ataukah belum, karna itu saya datang menemuinya." ucap Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar sebagai seorang pelayan. Min Xome dan Min Wungi menganggukkan kepala mereka secara bersamaan, sepertinya mereka berdua memiliki rencana untuk membuat jera Ratu Jinha Zee.
"Adik Ziya sedang keluar sebentar untuk membeli barang yang ia perlukan, adik Ziya sangat suka makanan makanan aneh. Para koki di istana ini tak bisa membuat makanan kesukaan adik Ziya, hingga ia merasa sedih." ucap Min Xome dengan ekspresi sedih yang terlihat begitu natural.
Ratu Jinha Zee tersenyum miring, wanita itu merencanakan sesuatu yang jahat untuk Xiao Ziya. Jika gadis itu masih bisa bepergian setelah meminum teh jahe yang ia berikan artinya racun di dalam teh tersebut masih dalam kadar rendah. Ratu Jinha Zee berencana membuatkan makanan kesukaan Xiao Ziya dan memberikan racun yang lebih mematikan di dalamnya, tak ada orang yang akan membuang makanan yang ia sukai. Setelah itu sang ratu akan menyalahkan salah satu koki di Istana Kerajaan Bulan untuk dijadikan kambing hitam agar ia tak dituduh oleh anggota keluarga dari gadis sialan itu.
"Jika saya boleh tau apa makanan kesukaan Nona Ziya?." tanya Ratu Jinha Zee dengan senyuman manis yang terlihat memuakkan.
"Saya belum pernah mendengar makanan itu sebelumnya." ucap Ratu Jinha Zee dengan tatapan kebingungan, sebenarnya dari belahan dunia bagian mana gadis itu berasal hingga menyukai makanan makanan aneh seperti itu.
"Entahlah kami juga tak tau cara membuatnya, kami permisi terlebih dahulu karna ada banyak hal yang perlu kami urus." ucap Min Xome yang pergi meninggalkan Ratu Jinha Zee yang sedang menyamar sebagai pelayan itu, Min Wungi mengikuti kakaknya dari belakang.
Ratu Jinha Zee berfikir keras untuk menemukan gambaran dari makanan yang disukai oleh Xiao Ziya, ia merasa kesal pada gadis itu karna sangat merepotkan. Mengapa bukan daging panggang atau pangsit saja yang menjadi makanan kesukaannya, lalu apa itu nasi goreng? apakah nasi bisa digoreng menggunakan minyak panas?. Ratu Jinha Zee dibuat kebingungan dengan kedua menu makanan itu, akhirnya sang ratu memilih untuk kembali ke dapur dan menanyakan hal tersebut pada beberapa koki istana. Di sisi lain saat ini Xiao Ziya berada di sebuah kedai kecil, gadis itu sedang menyantap semangkuk sup iga pedas sembari mencari informasi mengenai tempat terdingin yang ada di Dunia Manusia Abadi.
"Permisi apakah saya boleh duduk di sini?." ucap seorang pemuda yang tiba tiba berada di hadapan Xiao Ziya, pemuda itu awalnya tak menyadari bagaimana wajah gadis yang ada di depannya itu namun setelah Ziya mendongakkan kepala ke atas dan menatap mata pemuda itu, sang pemuda langsung memalingkan wajahnya.
"Anda bisa duduk di mana saja selama tak mengganggu saya." jawab Xiao Ziya dengan nada ketus, gadis itu kembali memakan sup iga miliknya dan menghiraukan kehadiran pemuda itu.
Sang pemuda langsung mengambil posisi duduk berhadapan dengan Xiao Ziya, sepertinya pemuda itu jatuh cinta pada Ziya saat pertama kali melihatnya. Xiao Ziya mulai merasa tak nyaman karna pemuda asing itu terus menatap ke arahnya dengan senyuman lebar yang membuatnya merasa kesal.
"Anda bisa melihat ke arah lain jika tak ingin kehilangan doa bala mata Anda." ucap Xiao Ziya dengan nada serius, gadis itu hanya ingin menyantap makanan dengan tenang tanpa ada yang mengganggunya.
__ADS_1
"Saya Yang Zu, siapa nama nona cantik ini?." ucap pemuda itu, ia sedang berusaha untuk mendekati Xiao Ziya.
Xiao Ziya tak menjawab pertanyaan sang pemuda, ia sesegera mungkin menghabiskan sup iga miliknya dan segera pergi dari kedai itu. Setelah selesai Xiao Ziya langsung berdiri dan ingin pergi dari sana, tiba tiba pemuda bernama Yang Zu tersebut mencekal tangan Ziya dengan cukup erat. Dengan segera Ziya menghempaskan tangan pemuda itu hingga cengkraman nya terlepas.
"Jangan sembarangan memegang orang lain." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata tajam, lagipula dari mana datangnya pemuda aneh ini.
"Saya hanya ingin mengetahui siapa nama Anda, bisakah Anda bersikap sedikit lembut terhadap saya?." ucap Yang Zu, pemuda itu mencoba untuk menebar pesona pada Xiao Ziya dengan wajah tampannya yang tak seberapa itu.
"Saya tak peduli bagaimana tanggapan Anda tentang sikap saya saat ini. Carilah gadis lain karna saya tak tertarik dengan pria feminim seperti Anda." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi meninggalkan kedai tersebut.
Bukan tanpa alasan Xiao Ziya mengatakan pria bernama Yang Zu itu feminim, ia datang ke kedai tersebut menggunakan baju panjang berwarna merah tua dan membawa kipas dengan gaya seperti seorang wanita saja selain itu Yang Zu menggunakan perona bibir dengan warna yang cukup terang. Apa yang sedang difikirkan oleh pemuda itu sehingga bergaya dengan sangat aneh, mungkin gadis lain akan menyukainya namun tidak dengan Xiao Ziya. Saat ini Xiao Ziya sudah berada di sebuah restoran mewah gadis itu sengaja datang kesana agar tak bertemu dengan pemuda aneh itu lagi.
"Ternyata masih ada pria yang suka memamerkan sisi feminimnya seperti tadi." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah kesal, ia mempunyai tipe idamannya sendiri. Tentunya bukan seorang pemuda seperti Yang Zu.
Di sisi lain saat ini Yang Zu masih berada di kedai tempat dimana ia bertemu dengan Xiao Ziya, pemuda tersebut masih memikirkan kata kata yang dilontarkan oleh gadis cantik itu. Sepertinya Yang Zu tak mengerti arti dari kata feminim karna terdengar sangat asing di telinganya, entah mengapa pemuda itu menganggap kata feminim yang dikontrak oleh Xiao Ziya sebagai pujian atas ketampanan yang ia miliki.
"Gadis itu juga jatuh cinta padaku, mungkin dia enggan mengatakannya secara terang terangan." ucap Yang Zu dengan perasaan senang yang mengisi hatinya, pemuda itu memesan beberapa makanan yang ada di kedai ia juga berencana untuk mencari gadis cantik yang telah mencuri hatinya itu.
Andai saja Xiao Ziya masih berada di sana dan membaca apa yang sedang difikirkan oleh pemuda itu, kemungkinan besar Yang Zu akan kehilangan tangan ataupun kakinya karna berani memikirkan hal hal aneh tentang Xiao Ziya. Di tempat lain saat ini Ratu Min Xunzi dan Tuan Min Lunxi sedang bersiap untuk pergi menuju wilayah Kerajaan Bintang Timur, mereka ingin meminta kejelasan tantang apa yang terjadi pada Xiao Ziya sebelum gadis itu kembali ke Istana Kerajaan Bulan, selain itu Ratu Min Xunzi ingin berjumpa dengan keponakannya yang lain.
"Kita bisa mempercayakan keamanan istana ini pada Min Xome dan Min Wungi selama kita pergi nanti." ucap Ratu Min Xunzi, wanita itu percaya bahwa kedua putranya dapat menjaga wilayah Kerajaan Bulan dibantu oleh para penyihir hitam yang lain.
"Aku juga percaya pada kedua putra kita, namun bagaiman dengan kehadiran ratu sebelumnya di istana ini?." ucap Raja Min Lunxi dengan sorot mata khawatir, bisa saja saat mereka pergi Ratu Jinha Zee akan membuat kekacauan besar di dalam Istana Kerajaan Bulan.
"Ada banyak pasang mata yang akan mengawasi pergerakan wanita itu, jika dia melakukan hal diluar batas maka kita hanya perlu membunuhnya saja. Kondisi mental Xiao Ziya lebih penting dari apapun, saya tak ingin gadis itu merasa bingung dengan identitas yang ia miliki, bagaimana jika suatu hari nanti ada wanita jahat yang mengaku ngaku sebagai ibu kandungnya dengan membawa bukti palsu?. Jika gadis seperti Xiao Ziya sampai jatuh di tangan wanita jahat maka ia akan tumbuh menjadi monster yang mengerikan, saya tak akan membiarkan kebahagiaan gadis itu direnggut oleh siapapun termasuklah Junyi Zu jiejie." ucap Ratu Min Xunzi dengan sorot mata tajam, saat pertama kali berinteraksi dengan Xiao Ziya wanita itu sudah jatuh hati dengan segala hal yang berhubungan dengan keponakan kesayangannya itu. Raja Min Lunxi mengerti bagaimana perasaan istrinya saat ini, karna itu ia akan menemani Ratu Min Xunzi pergi ke Istana Kerajaan Bintang Timur.
"Mari kita pergi sekarang dan kembali secepat mungkin." ucap Raja Min Lunxi.
Mereka berdua bergegas pergi dari Istana Kerajaan Bulan menuju wilayah perbatasan antara Kerajaan Bulan dengan Kerajaan Bintang Timur, dalam perjalanan Ratu Min Xunzi sempat melihat Xiao Ziya berada di lantai dua sebuah restoran mewah yang ada di dekat perbatasan sepertinya gadis itu sedang melakukan segala cara untuk menemukan informasi mengenai wilayah terdingin yang ada di Dunia Manusia Abadi.
"Gadis itu sedang melakukan tugasnya dengan baik." ucap Ratu Min Xunzi yang terus melesat ke depan, ia merasa cukup lega karna Xiao Ziya tak menyerah untuk menemukan fakta tentang siapa ibu kandungnya sekaligus informasi tentang keberadaan sisa jiwa sang nenek.
Xiao Ziya sedang duduk dengan menyantap daging bakar yang ia pesan, mata gadis itu terus melihat ke segala untuk mencari orang yang dapat ia tanyai mengenai wilayah terdingin di Dunia Manusia Abadi. Saat mata Xiao Ziya sedang melihat ke arah beberapa pengunjung restoran, mata gadis itu bertemu dengan mata seorang pria tua yang tersenyum kepadanya, pria tua itu menganggukkan kepala pada Xiao Ziya seperti mengerti maksud gadis itu datang ke restoran tersebut. Dengan sigap Xiao Ziya membawa semua makanannya menuju meja sang kakek, ia mengucapkan salam dan meminta izin untuk duduk di sana.
__ADS_1
"Maaf karna mengganggu waktu Anda sebentar." ucap Xiao Ziya dengan nada lembut dan tutur kata sopan.
Hai semua, Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.