
Xiao Ziya tak langsung pergi ke Akademi Kekaisaran ia kembali ke Klan Xiao terlebih dahulu untuk berpamitan pada sang ayah dan juga para ketua klan. Saat tiba di depan gerbang Klan Xiao kedatangan Xiao Ziya disambut dengan sangat baik.
"Silahkan masuk nona Ziya." ucap para penjaga gerbang masuk Klan Xiao pada Xiao Ziya.
Xiao Ziya berjalan menuju paviliun sang ayah namun di sana hanya ada Zoe yang sedang bermain dengan para pelayan.
"Selamat datang nona Ziya." ucap para pelayan yang langsung membungkukkan badan memberi hormat pada Xiao Ziya.
"Nyanya tata nyaa." racu Xiao Zoe yang seperti biasa ia sangat senang ketika bertemu dengan Xiao Ziya.
"Maafkan jiejie ya adikku sayang, karna jiejiemu ini hanya berkunjung sebentar." ucap Xiao Ziya yang mencium pipi Zoe dengan gemas.
Namun bayi laki laki itu hanya diam sambil tersenyum kearah Xiao Ziya. Sepertinya Zoe sudah mulai mengerti bahwa kakak perempuannya itu sangat sibuk, walau Xiao Ziya sangat sibuk namun rasa sayangnya pada Zoe tak pernah berkurang.
"Baiklah Zoe main di sini bersama mereka ya, jiejie pergi dulu." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi menuju ruang kerja ayahnya yang ada di sebelah aula utama.
Saat Xiao Ziya melewati lapangan klan ia melihat beberapa murid dari Klan Xiao yang sedang berlatih dan di sana ia melihat Lian yang tengah berduel dengan murid yang lain. Xiao Ziya menghentikan langkahnya sejenak untuk melihat pertandingan itu.
"Sepertinya Lian sudah berlatih dengan giat selama berada di klan." ucap Xiao Ziya sembari tersenyum tipis. Ia senang jika temannya itu akan memiliki masa depan yang cerah.
Pertandingan singkat itu berakhir dan Lianlah yang menjadi pemenang. Saat Lian turun dari arena matanya tertuju pada seorang gadis kecil yang sepertinya ia kenal walau warna rambut dan matanya berbeda.
"Salam pada nona Ziya." ucap Lian yang kini berada di depan Xiao Ziya.
"Ku kira kau tak akan mengenaliku dengan penampilan yang seperti ini." ucap Xiao Ziya sambil tertawa. Namun anehnya penjaga gerbang masuk klannya juga bisa mengenali Xiao Ziya dengan mudah apa mungkin mereka mengenali Ziya dengan sangat baik.
"Ah walau warna rambut dan mata nona berubah namun aura nona tetap sama." ucap Lian yang mengenali Xiao Ziya karna auranya yang sangat familiar.
Xiao Ziyapun pamit pada Lian sebelum pergi Xiao Ziya memberikan sekantung kecil koin emas, Xiao Ziya berkata pada Lian bahwa uang itu bisa ia gunakan untuk membeli kebutuhannya dan kakek tua yang ia selamatkan tempo lalu.
"Trimakasih nona sudah berbaik hati pada rakyat rendah seperti saya." ucap Lian sembari membungkukkan badannya, entah apa jadinya ia jika saat itu gadis yang ada di hadapannya itu tak membawanya ke Klan Xiao dan menjadikan Lian sebagai murid Klan Xiao.
"Status memang penting, namun kekuatan dan kepercayaan pada diri sendiri itu jauh lebih penting. Suatu saat aku ingin melihat temanku ini menjadi seseorang yang hebat." ucap Xiao Ziya yang menepuk pundak Lian pelan kemudian melanjutkan perjalananya ke ruang kerja para ketua klan.
Tok tok tok
Suara pintu yang diketuk.
"Masuklah." ucap beberapa orang secara bersamaan.
Ya ruang kerja para ketua klan memang berada dalam satu ruangan itu dilakukan agar mereka bisa saling membaur satu sama lain dan bisa membantu jika salah satu dari mereka ada yang kesulitan.
Xiao Ziyapun membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerja tersebut.
"Salam pada seluruh ketua Klan Xiao." ucap Xiao Ziya sambil membungkukkan badannya.
Para ketua klan yang tadinya sedang fokus dengan berkas berkas yang ada di meja mereka masing masing langsung menatap ke arah Xiao Ziya yang sedang tersenyum di depan pintu.
"Ah ternyata keponakanku tersayang ada perlu apa nona Ziya datang kesini." ucap Xiao Yuza yang langsung menyambut kedatangan Xiao Ziya.
"Saya mencari ayah saya untuk berpamitan." ucap Xiao Ziya yang langsung mengalihkan perhatian Xiao Cunyu yang tadinya sedang fokus pada kasus penyerangan yang terjadi padanya beberapa hari lalu.
"Kemarilah putriku." ucap Xiao Cunyu yang langsung meminta Xiao Ziya untuk mendekat.
"Salam pada ayah." ucap Xiao Ziya yang memberikan salamnya pada sang ayah.
"Mengapa putri ayah yang cantik ini ingin berpamitan? kemana kau akan pergi." ucap Xiao Cunyu yang sedikit cemas jika putrinya ingin pergi untuk membalas dendam pada aliansi hitam yang melukainya. Karna saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membalas dendam.
"Saya akan pergi ke tempat turnamen antar akademi yang ada di dunia bawah." ucap Xiao Ziya.
"Jadi putriku ini terpilih untuk mewakili akademi? namun mengapa Xiao Xun tak ikut bersamamu." ucap Xiao Cunyu yang mendapat kabar dari putra keduanya bahwa ia tak terpilih untuk mewakili akademi dalam turnamen tersebut.
"Kepala akademi sendiri yang menunjuk saya untuk mewakili Akademi Kekaisaran Qiyu, jadi saya kurang tau." ucap Xiao Ziya yang menjawab dengan jujur.
__ADS_1
Xiao Cunyu hanya bisa tersenyum menanggapi bahwa putrinya itu semakin lama semakin dewasa. Namun ia sedikit heran dengan warna rambut dan warna mata putrinya yang berubah. Mekipun Xiao Cunyu sangat penasaran namun ia tak ingin menanyakan hal tersebut karna takut melukai hati putrinya yang cantik.
"Hati hatilah di sana, jangan sampai kau terluka. Ayah akan memberikan koin emas yang cukup agar kau tak kesusahan saat berada di sana." ucap Xiao Cunyu yang langsung berdiri dan memeluk putrinya.
Sebenarnya Xiao Ziya ingin berkata bahwa ia sudah memiliki banyak koin emas sehingga ayahnya tak perlu memberikan koin emas padanya. Namun Xiao Ziya takut jika ia berkata demikian ia akan melukai hati sang ayah.
"Baiklah ayah jangan lupa pilihkan sebuah hiasan rambut yang cantik untuk putrimu ini." ucap Xiao Ziya yang membuat ayahnya merasa senang karna ini pertama kalinya Xiao Ziya meminta sesuatu dari sang ayah. Xiao Cunyu langsung pamit sebentar untuk membeli sebuah hiasan rambut dan meminta Xiao Ziya untuk tetap menunggu di ruang kerjanya.
"Nona Ziya anda begitu luar biasa sehingga bisa pergi sebagai perwakilan akademi." ucap Xiao Ciyun yang datang dan mendekati Xiao Ziya.
"Semoga nona baik baik saja di sana, nona tak perlu memaksakan diri untuk menjadi juara pertama." ucap Xiao Xiling yang memberikan nasehat pada Xiao Ziya.
Semua ketua Klan Xiao mengakui bahwa Xiao Ziya sangatlah kuat namun tak ada yang tau bagaimana kekuatan dari murid murid akademi lain. Karna ada beberapa akademi yang menjadi juara bertahan dalam beberapa tahun.
"Baiklah saya akan mengingat pesan dari para ketua klan, trimakasih atas nasehatnya." ucap Xiao Ziya sambil tersenyum ramah.
Meskipun begitu gadis itu tetap memiliki ambisi untuk menjadi juara pertama dalam turnamen kali ini dan ia akan meminta sesuatu pada kepala akademi sesuai dengan kesepakatan mereka.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Xiao Cunyu datang dengan membawa sebuah kotak berwarna perak di tangannya.
"Ini hiasan rambut yang ayah pilihkan untuk putri ayah yang cantik." ucap Xiao Cunyu sembari memberikan kotak perak itu pada Xiao Ziya.
Xiao Ziya menerimanya dengan senang hati. Terlihat sang ayah begitu bahagia saat menyerahkan kotak perak itu pada Ziya.
"Trimakasih ayah, saya akan membukanya setelah sampai di akademi, hiasan rambut yang diberikan oleh ayah pasti sangat luar biasa." ucap Xiao Ziya.
Kemudian ia berpelukan lagi dengan sang ayah sebelum pergi. Xiao Cunyu dan ketua Klan Xiao yang lain memberikan Xiao Ziya sekantung besar koin emas, kemudian Xiao Ziya memasukkannya ke dalam cincin dimensi.
"Kalau begitu saya permisi, saya akan berkunjung lagi setelah pulang dari turnamen." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi.
Xiao Cunyu hanya bisa menatap kepergian putrinya, ia tak bisa menahan putrinya untuk pergi karna Xiao Cunyu tau masa depan putrinya akan sangat luar biasa.
"Apakah anda tau bahwa putri anda sangat kaya." ucap Xiao Ciyun yang mendengar kabar dari benerapa murid akademi yang ia temui kemarin saat berada dipasar.
"Putrimu semakin dewasa saja, ia sudah mengerti cara menghargai pemberian dari orang lain." ucap Xiao Yuza yang ikut senang atas perkembangan Xiao Ziya.
Saat ini Xiao Ziya sedang ada di pasar yang tak jauh dari Klan Xiao, gadis itu tengah memilih benerapa gaun dengan motif yang simpel. Selain itu Xiao Ziya juga membeli dua pasang alas kaki baru. Saat sedang asyik berbelanja ia melihat sesuatu yang membuatnya sangat kesal.
"Ayah berikan aku 10 keping emas aku ingin membeli gaun baru. Apakah ayah tak tau bahwa beberapa hari lagi temanku akan mengadakan pesta." ucap seorang gadis yang sepertinya berumur 15 tahun pada ayahnya yang merupakan seorang pedagang manisan buah.
"Kemarin ayah sudah memberimu lima keping emas untuk membeli alas kaki baru dan sekarang ayah masih belum memiliki uang, jika ayah sudah punya maka ayah akan memberikannya padamu." ucap sang ayah sambil tersenyum pada putrinya.
Namun gadis itu tak ingin mendengarkan perkataan sang ayah, ia tetap menginginkan sepuluh keping emas untuk membeli gaun baru.
"Aku ingin uang itu sekarang, mengapa gadis lain begitu beruntung memiliki ayah yang kaya." ucap gadis itu yang membuat sang ayah sakit hati, namun ayah dari gadis itu tetap tersenyum dan meminta maaf pada putrinya.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi kanan sang gadis. Gadis itu tentu saja sangat terkejut begitupula dengan ayahnya.
"Mengapa kau menamparku, siapa kau." ucap gadis itu sambil menunjuk ke arah Xiao Ziya dengan sangat berani.
"Kau memperlakukan ayahmu dengan begitu kasar, bukankah beliau sudah berkata akan memberikan uang jika memilikinya." ucap Xiao Ziya yang sudah merasa geram dan ingin sekali memukul gadis itu hingga babak belur.
"Ayahku ini sangat miskin hingga tak bisa membelikan apapun yang ku minta." timpal gadis itu tanpa merasa bersalah.
Plak
Satu tamparan lagi mendarat di pipi kiri sang gadis.
"Mohon maaf nona jika perkataan putri saya membuat anda merasa tak nyaman." ucap ayah dari gadis itu yang tak ingin membuat putrinya terluka.
"Kau harus sedikit keras pada putrimu tuan jika tidak dia akan tumbuh menjadi gadis yang arogan dan angkuh. Hey kau apakah kau fikir tanpa ayahmu kau masih bisa hidup sekarang, bukankah kau sangat beruntung memiliki ayah yang begitu menyayangimu. Ayahmu bekerja keras agar bisa memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya perlu bersabar kau tak perlu bersikap tak sopan pada ayahmu." ucap Xiao Ziya yang benar benar marah pada gadis itu.
__ADS_1
Sedangkan sang gadis hanya bisa menunduk karna ia merasa malu, kini ia menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang berlalu lalang dipasar.
"Baiklah saya akan membeli semua manisan buah yang tersisa." ucap Xiao Ziya yang membuat ayah dari sang gadis merasa sangat senang.
Ia langsung membungkus semua manisan buah yang ia punya dan memberikannya pada Xiao Ziya. Kemudian Xiao Ziya memberikan sekantung kecil yang berisi dua ratus koin emas.
Tentu saja sang penjual manisan buah merasa terkejut dengan koin emas yang diberikan oleh Xiao Ziya.
"Nona ini terlalu banyak bagaimana saya bisa menggantinya." tanya sang penjual manisan buah yang sangat kebingungan.
"Belikan semua yang putrimu inginkan, didik dia dengan baik kurasa itu sudah cukup." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi dari tempat itu dan membawa semua manisan di tangannya.
Gadis yang tadinya merasa kesal pada Xiao Ziya yang tiba tiba menamparnya kini mengerti bahwa apa yang Xiao Ziya katakan memanglah benar.
"Ayah, maafkan aku nona itu benar aku telah begitu jahat pada ayah yang sangat menyayangiku." ucap gadis itu yang langsung bersujud di kaki ayahnya ia begitu menyesal atas semua kekasaran yang ia lakukan pada ayahnya.
"Sudahlah ayah sudah memaafkanmu, apa kau dengar apa yang dikatakan nona tadi? ayah harap kau tumbuh menjadi gadis yang baik dan rendah hati." ucap sang ayah yang langsung memeluk putrinya dengan sayang.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya tengah kebingungan bagaimana cara menghabiskan manisan buah yang sangat banyak mungkin ada ratusan tusuk manisan buah yang ada di tangannya.
Saat ingin masuk kedalam akademi, beberapa penjaga menatap Xiao Ziya dengan kebingungan. Mengapa gadis itu membeli manisan buah begitu banyak.
"Umm apakah kalian mau? jika iya ambil saja. Saya tak tau bagaimana cara menghabisakan semua." ucap Xiao Ziya yang sedikit canggung.
Dengan antusias penjaga gerbang masuk akademi mengambil masing masing orang tiga tusuk manisan buah kemudian mereka bertrimakasih pada Xiao Ziya.
"Ah ini masih sangat banyak bagaimana cara menghabiskannya." ucap Xiao Ziya dengan lesuh.
Tiba tiba saja ada beberapa murid perempuan yang mendatanginya mereka adalah para murid luar yang tak bisa keluar dari akademi dengan seenak hati. Para murid perempuan itu bertanya apakah Xiao Ziya menjual manisan yang ada di tangannya itu atau tidak.
"Ambilah jika kalian mau, tak perlu membayar aku sedang bingung bagaimana cara menghabiskannya." jawab Xiao Ziya dengan begitu senang.
"Benarkah kami bisa mengambilnya gratis." tanya salah satu murid perempua.
"Tentu saja, ambil sebanyak yang kalian mau." ucap Xiao Ziya yang membuat mereka begitu senang. Merekapun mengambil manisan manisan buah itu. Namun masih banyak yang tersisa. Akhirnya Xiao Ziya pergi ke asrama murid laki laki untuk membagikan manisan.
Saat ia ingin masuk ke asrama laki laki ia bertemu dengan Xu Yuan.
"Apa yang sedang nona lakukan, mengapa nona masuk ke asrama laki laki. Apakah nona sedang mencari Senior Xun?." tanya Xu Yuan yang sedikit terkejut dengan kedatangan Xiao Ziya.
"Tidak aku tidak sedang mencari kakak, bisakah kau membantuku membagikan manisan ini pada yang lain masing masing dua tusuk." ucap Xiao Ziya yang langsuny disetujui oleh Xu Yuan.
Xiao Ziya dan Xu Yuan masuk kedalam asrama laki laki dan mulai membagikan manisan buah yang masih banyak itu setelah mengelilingi semua kamar yang ada di sana akhirnya hanya tinggal duapuluh tusuk manisan buah.
"Ini untuk senior Yuan. Trimakasih sudah membantu." ucap Xiao Ziya sembari tersenyum.
"Bukankah saya masih menjadi pelayan nona Ziya ?." tanya Xu Yuan yang sedikit keheranan dengan tingkah Xiao Ziya padanya.
"Kurasa hukuman untuk senior sudah cukup kalau begitu saya permisi dulu." ucap Xiao Ziya yang langsung pergi ke paviliunnya di perjalanan ia memakan manisan yang masih tersisa di tangannya.
Masih ada empat belas tusuk manisan buah dan saat di jalan ia tak sengaja berpapasan dengan Xiao Yuna dan juga Muyen.
"Permisi ekem liat tuh ada bintang jatuh." ucap Xiao Ziya yang membuat pasangan itu mengalihkan pandangannya ke atas langit.
Setelah mendapatkan kesempatan Xiao Ziyapun meletakkan sisa manisan buahnya di tangan Xiao Yuna dan juga Muyen kemudian Xiao Ziya berlari dengan cepat menuju paviliunnya.
"Adik Ziyaaaa mengapa kau menipu kami berdua, lalu apa ini mengapa manisan buah sebanyak ini." ucap Xiao Yuna yang merasa kesal sedangkan Xiao Ziya masih berlari sambil tertawa.
"Tolong habiskan manisan itu Yuna Jiejie agar hubunganmu dengan kakak ipar semakin manis." triak Xiao Ziya dari jauh namun masih bisa di dengar oleh Muyen dan juga Xiao Yuna.
Xiao Yuna hanya bisa salah tingkah ketika mendengar ucapan dari saudarinya.
"Sudahlah lagipula kita bisa membaginya dengan yang lain." ucap Muyen yang langsung meredakan amarah dari Xiao Yuna.
__ADS_1
Hai hai semua akhirnya aku update lagi nih, jangan lupa vote, like, komen, rate share ya