RATU IBLIS

RATU IBLIS
Dunia Semesta Tingkat Rendah 18


__ADS_3

Setelah mengetahui identitas gadis yang ada di hadapannya, Anzu Zee meningkatkan kewaspadaan karna gadis itu datang bukan untuk berdamai dengannya. Anzu Zee memberikan isyarat pada penjaga elit miliknya untuk menyiapkan senjata api terbaik yang mereka miliki. Xiao Ziya berjalan mendekat ke arah pria itu kemudian menepuk punggungnya pelan.


"Anda harus mengganti semua kerugian yang saya alami." ucap Xiao Ziya dengan senyuman yang menyeramkan, seketika Anzu Zee kesulitan untuk bernafas ia merasa cuaca saat itu sangatlah panas.


"Berapa yang kau inginkan?." tanya Anzu Zee yang siap mengganti semua kerugian gadis itu asal gadis itu segera pergi dari rumahnya.


"Saya tidak meminta uang karna saya sudah memiliki banyak." ucap Xiao Ziya yang tak menginginkan uang, jika ia menjual semua berlian yang ada di dalam cincin semesta dan cincin penguasa mutlaknya mungkin ia akan menjadi orang terkaya di dunia semesta tingkat rendah.


"Lalu ganti rugi apa yang kau inginkan?." tanya Anzu Zee dengan tubuh yang sedikit gemetaran, semoga saja Xiao Ziya tak meminta nyawanya sebagai ganti rugi.


"Di sana, di sana, di sana, dan di sana. Saya dapat melihat dimana Anda menempatkan orang orang anda." ucap Xiao Ziya dengan tenang, ia membentuk telapak tangannya seperti sedang menggunakan sebuah pistol lalu mengarahkan pada setiap titik persembunyian pasukan elit milik Anzu Zee. Mereka semua mati ditempat dengan kondisi sebuah lubang yang ada di jantung, Anzu Zee tak menyangka gadis muda seperti Xiao Ziya mampu melakukan hal itu.


"Cepat katakan apa yang kau inginkan dariku!!!." triak Anzu Zee yang tak siap untuk mati hari ini.


"Pelankan suaramu jika kau masih ingin hidup." ucap Raja Artur yang tak suka kebisingan, suara dari Anzu Zee sangat nyaring seperti seorang wanita yang sedang datang bulan.


"Katakan apa yang harus saya lakukan." ucap Anzu Zee dengan pasrah, mungkin ia bisa mengundang ratusan kultivator dari dunia atas untuk membantunya membunuh Xiao Ziya, akan tetapi Anzu Zee tak yakin apakah gadis itu bisa dikalahkan atau tidak. Meski setiap orang memiliki kelemahan, sejauh ini belum ada yang bisa menemukan kelemahan dari kekuatan milik Xiao Ziya.


"Saya ingin menjadi pemimpin dari dunia ini, bukan untuk menghancurkannya melainkan untuk mewujudkan sebagian mimpi dari penduduk dunia semesta tingkat rendah." ucap Xiao Ziya dengan tegas, ia yakin sebagian dari penduduk dunia ini bisa menjadi seorang kultivator dan sisanya bisa menjadi seniman bela diri yang hebat. Untuk itu mereka membutuhkan pelatihan dari orang orang terampil yang sabar karna tak mudah merubah manusia biasa menjadi seorang kultivator.


"Mimpi apa yang bisa kau wujudkan?." tanya Anzu Zee dengan ragu ragu, sebanyak apa gadis itu tau mengenai dunia semesta tingkat rendah.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Anzu Zee, Xiao Ziya ingin menuntut ganti rugi pada pria itu terlebih dahulu. Xiao Ziya memukuli Anzu Zee sebanyak dua puluh kali hingga pria itu hampir kehilangan nyawanya. Xiao Ziya mengambil sebuah botol cairan berwarna merah muda dan meminumkannya pada Anzu Zee, seketika semua luka pria itu sembuh.


"Datanglah ke Keluarga Ye, mintalah pengampunan pada mereka. Jika kau mampu melakukan hal itu akan saya katakan mimpi apa yang bisa saya wujudkan." ucap Xiao Ziya yang kemudian hilang bersama dengan Raja Artur.


Anzu Zee masih mematung di tempatnya, ia benar benar tak mengerti dengan jalan fikiran Xiao Ziya. Gadis itu memukulinya hingga hampir kehilangan nyawa kemudian memberikan obat yang dapat menyembuhkan seluruh luka dalam maupun luka luar ini adalah hal yang sangat luar biasa membingungkan. Jika ia tak datang ke Keluarga Ye, apakah besok kepalanya masih akan utuh? ataukan Xiao Ziya akan menebas kepalanya seperti cerita yang ia dengar selama ini.


"Mari kita lihat mimpi apa yang bisa gadis itu wujudkan. Jika itu hal yang hebat maka aku siap menjadi pelayannya." ucap Anzu Zee penuh dengan tekad.


Meskipun Anzu Zee bukanlah seorang pria yang memiliki sifat yang baik namun ia tau harus berpihak pada siapa saat situasi seperti ini. Selain itu Anzu Zee satu satunya orang yang pernah memimpin dunia semesta tingkat rendah dengan pencapaian pencapaian hebat tanpa melibatkan dunia para kultivator. Anzu Zee memang sangat iri dengan orang orang yang lahir dan memiliki akar kultivasi ataupun akar sihir namun ia yakin dengan perkembangan teknologi ia bisa melindungi dunia semesta tingkat rendah dari serangan lapisan dunia lain.


"Mengapa gadis itu ingin memimpin dunia ini." ucap Anzu Zee dengan langkah sempoyongan menuju rumahnya.


Saat ini Xiao Ziya dan Raja Artur sudah berada di sebuah kedai pinggir jalan yang menjual mie daging, mereka sudah memesan berbagai menu makanan yang ada di sana tinggal menunggu makanya datang.


"Setelah berhasil dengan rencana mu, hal apa yang ingin kau lakukan?." tanya Raja Artur, ia hanya mengerti sebagian rencana dari Xiao Ziya.


"Tentu saja mewujudkan impian mereka." ucap Xiao Ziya tanpa ragu, selain membuat penduduk dunia semesta tingkat rendah menjadi kuat ia juga harus mengajarkan beberapa etika penting.


"Bukankah hal itu akan memakan waktu yang lama?." tanya Raja Artur yang ingin Xiao Ziya kembali ke dunia bawah.


"Tidak, setelah berhasil menjadi pemimpin saya akan memilih beberapa orang yang dapat dipercaya untuk menjaga kursi kepemimpinan saya. Saya akan kembali ke dunia bawah untuk menyelesaikan urusan yang ada di sana kemudian mencari kandidat guru terbaik yang bisa saya bawa kesini." ucap Xiao Ziya yang sudah memiliki rencana kedepannya, jika rencananya gagal maka ia sudah memiliki rencana yang lain.


Raja Artur menganggukkan kepalanya faham meski ada beberapa hal yang mengganjal di hati. Mengapa Xiao Ziya harus peduli dengan orang orang yang tinggal di dunia semesta tingkat rendah padahal ia bukanlah bagian dari mereka, selain itu bagaimana cara gadis itu merubah manusia biasa menjadi seorang kultivator ataupun seniman bela diri. Sejauh ini Raja Artur hanya bisa memberikan penilaian bahwa penduduk dunia semesta tingkat rendah memiliki fisik dan mental yang lemah mereka tak akan mampu menahan serangkaian latihan berat.


"Anda tak perlu memikirkannya karna hal itu urusan saya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman polos miliknya.

__ADS_1


"Jika kau butuh bantuan panggil saya." ucap Raja Artur yang siap membantu penerusnya itu meski pencapaian yang ingin diraih oleh Xiao Ziya sangatlah sulit.


"Terimakasih kakek tua." ucap Xiao Ziya dengan tawa kecil, ia suka menjahili kakek tua yang ada di sampingnya itu.


Pesanan mereka datang, Xiao Ziya dan Raja Artur makan dengan lahap. Ditempat lain yaitu Kediaman Fenzu Zee, banyak orang yang sudah berkumpul mereka ingin melihat bagaimana wanita bernama Min Xunzi menghilangkan sihir pembeku pada Tuan Muda Lino Zee.


"Kau harus menyelamatkan putraku." ucap Cayni Zee dengan air mata yang berlinang, tubuh putra pertamanya mulai berubah menjadi ke unguan.


"Tepati janjimu terlebih dahulu." ucap Ratu Min Xunzi yang tak akan tertipu dengan perkataan Cayni Zee. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi jika ia menyembuhkan pemuda itu sebelum janji Cayni ditepati adalah penghianatan.


Cayni Zee menelan ludahnya beberapa kali, ia melihat ke arah Xilia dengan ragu ragu. Apa Cayni perlu mengungkap semua kejahatan yang telah dilakukan oleh keluarganya pada putrinya yang polos itu, selama ini Xilia selalu menganggap bahwa ia lahir dari keluarga yang baik.


"Bisakah anda menyembuhkan putra saya terlebih dahulu?." ucap Cayni Zee yang berusaha untuk meyakinkan Ratu Min Xunzi.


"Tidak." jawab Ratu Min Xunzi dengan singkat, padat, dan jelas.


Cayni Zee menghela nafas berat, ia berjalan ke arah putrinya kemudian mengatakan sesuatu yang mereka sembunyikan selama ini. Xilia mendengarkan semua perkataan ibunya dengan ekspresi tak percaya, jadi ia adalah putri dari keluarga yang sangat jahat, ayahnya juga sering menyakiti orang orang yang tak berdosa. Jadi benar apa yang dikatakan oleh gadis yang ia temui beberapa hari yang lalu bahwa keluarganya menyimpan banyak rahasia.


Xilia Zee terdiam beberapa saat, ia tak bisa mengatakan apapun karna sangat syok. Gadis itu terduduk di lantai rumah kemudian menangis dengan sangat kencang.


"Mengapa kalian menyembunyikannya selama ini." ucap Xilia Zee dengan tangisan yang semakin kencang.


"Ibu benar benar minta maaf putriku." ucap Cayni Zee dengan perasaan yang perih melihat putri yang ia sayangi menangis.


Air mata Xilia Zee tak sengaja mengenai patung es dari kakak pertamanya, tiba tiba patung es itu mulai meleleh secara perlahan. Semua orang melihat ke arah Ratu Min Xunzi seperti sedang mempertanyakan mantra apa yang wanita itu gunakan? mengapa mereka tak melihat wanita itu merapal mantra ataupun menggerakkan tangannya?.


"Bukankah aku ibu dari Lino? mengapa air mataku tak membuat sihirnya hilang?." ucap Cayni Zee yang tak bisa menerima penjelasan dari Ratu Min Xunzi. Kasih sayangnya pada Lino lebih besar daripada kasih sayang Xilia pada kakak laki lakinya itu seharusnya air mata Cayni Zee juga bisa menghilangkan efek sihir.


"Hatimu sangatlah keruh, kau hanya membuat situasi semakin buruk." ucap Ratu Min Xunzi tanpa ragu ragu.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya sihir pembekuan sudah lepas sepenuhnya dari tubuh Lino, Cayni Zee merasa senang ia meminta beberapa orang untuk membawa putranya masuk kedalam kamar untuk mendapat perawatan. Semua orang pergi meninggalkan Ratu Min Xunzi dan Xilia Zee di ruang keluarga, mereka hanya fokus pada kesembuhan Lino Zee saja tanpa peduli bahwa masih ada seorang gadis yang menangis karna merasa syok.


"Bukankah sudah jelas nak bahwa kau bukan apa apa di mata keluargamu sendiri." ucap Ratu Min Xunzi yang menatap miris ke arah Xilia. Gadis itu menganggukkan kepalanya pelan, selama ini kasih sayang yang ia terima palsu.


"Apa yang harus ku lakukan bibi, dimana aku bisa pulang?." tanya Xilia dengan suara tangis yang samar samar terdengar.


"Kau bisa tinggal bersama keponakanku. Kita harus pergi untuk menemuinya dan bertanya padanya." ucap Ratu Min Xunzi yang ingin memperkenalkan Xilia pada Xiao Ziya.


"Baiklah bibi aku akan ikut denganmu." ucap Xilia yang mengusap air mata dan ingusnya kemudian ia menghampiri Ratu Min Xunzi. Sang ratu menggenggam tangan Xilia lalu mengucapkan sebuah mantra, mereka berdua menghilang.


Xiao Ziya berjalan kembali menuju apartemennya, Raja Artur mengikuti gadis itu dari belakang ia ingin tinggal di apartemen Xiao Ziya untuk sementara. Untunglah apartemen VVIP yang Xiao Ziya sewa memiliki banyak kamar jadi tak masalah jika kakek tua itu tinggal di apartemennya.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua sampai, gadis itu mengajak Raja Artur naik lift, pria itu cukup terkejut dengan mesin yang dapat mengantar seseorang untuk sampai di tempat yang lebih tinggi.


"Kau tinggal di tempat sebagus ini?." ucap Raja Artur, ia melihat ruang apartemen milik Xiao Ziya yang sangat luas.


"Saya perlu tempat yang nyaman untuk tinggal di sini." ucap Xiao Ziya yang menunjukkan dimana kamar Raja Artur. Setelah mendapatkan kamar Raja Artur langsung masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.

__ADS_1


Xiao Ziya membuka kulkas mengambil sebotol air dingin dan cemilan, ia berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan televisi. Saat sedang bersantai Xiao Ziya merasakan aura dari Ratu Min Xunzi yang ada di sekitar apartemennya, seseorang mengetuk pintu apartemen Xiao Ziya.


"Ada apa malam malam bibi datang berkunjung?." tanya Xiao Ziya pada Ratu Min Xunzi yang sudah berada di depan apartemennya sambil menggenggam erat tangan seorang gadis.


"Bisakah kau merawat anak ini?." tanya Ratu Min Xunzi, ia berharap keponakannya itu bersedia untuk merawat Xilia.


"Dia putri dari orang itu?." tanya Xiao Ziya yang menatap Xilia dengan intens, wajah anak perempuan yang ada di samping bibinya sangat mirip dengan wajah Fenzu Zee.


"Iya, bisakah kau merawatnya untuk sementara? saya harus kembali ke kastil sekarang karna ada urusan mendesak." ucap Ratu Min Xunzi yang mendapat telepati dari putra pertamanya.


Xiao Ziya melihat anak perempuan itu beberapa kali, ia sedang berfikir haruskah merawat anak ini atau membiarkannya terlantar begitu saja. Lagipula kemana kedua orang tua dari si anak perempuan? apakah mereka mengusir anak itu?.


"Baiklah jika ingin tinggal dengan saya, kau harus menuruti setiap perkataan saya." ucap Xiao Ziya, ia memiliki beberapa syarat jika Xilia ingin tinggal bersamanya, dengan penuh semangat Xilia menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih karna sudah membantu bibi, bibi pamit sampai jumpa keponakanku." ucap Ratu Min Xunzi yang tiba tiba menghilang, urusan mendesak yang harus ia selesaikan berhubungan dengan pihak keluarga dari suami kakaknya.


"Seperti bibi memiliki masalah yang cukup serius." ucap Xiao Ziya yang hanya melihat kepergian bibinya tanpa menanyakan apapaun.


"Masuklah kedalam." ucap Xiao Ziya. Dengan senang hati Xilia masuk kedalam apartemen milik Xiao Ziya, ia dapat menyimpulkan bahwa gadis itu bukankah orang biasa karna bisa tinggal di apartemen mewah.


"Kakak tinggal sendiri?." tanya Xilia dengan wajah polosnya.


"Tidak, saya tinggal bersama seorang kakek tua. Jika kau lapar ambil saya makanan yang ada di dalam kulkas, pintu berwarna merah muda itu adalah kamarmu." ucap Xiao Ziya sambil menunjuk sebuah ruangan.


"Terimakasih karna sudah menerima kehadiranku di sini." ucap Xilia, jika gadis itu menolaknya mungkin ia akan tidur di pinggir jalan.


"Mengapa bibi bisa membawamu kesini? dimana ayah dan ibumu?." tanya Xiao Ziya yang merasa sedikit penasaran dengan alasan Ratu Min Xunzi menitipkan anak perempuan ini padanya.


"Ayah sedang sakit, dan ibu hanya peduli pada kakak saja. Selama ini mereka sudah membohongiku, aku bukan bagian dari mereka." ucap Xilia yang belum bisa menjelaskan secara rinci tentang kejadian yang ia alami hari ini. Dari perkataan sederhana Xilia, Xiao Ziya bisa menyimpulkan bahwa gadis itu sudah mengetahui semua rahasia yang disembunyikan oleh keluarganya selama ini.


"Kau cukup kuat menghadapinya." ucap Xiao Ziya dengan singkat.


Xilia tersenyum mendapat pujian dari Xiao Ziya, jika saja ia memiliki kakak perempuan yang seperti Ziya mungkin hidupnya akan lebih bahagia.


"Saya akan tidur, sebaiknya kau juga tidur." ucap Xiao Ziya yang berjalan masuk kedalam kamarnya begitupun dengan Xilia.


Waktu berjalan dengan cepat pagi pun tiba, Raja Artur adalah orang pertama yang Bagun di saat Xiao Ziya dan Xilia masih terlelap dalam tidur mereka. Raja Artur keluar dari kamar, ia duduk di sebuah kursi kayu yang ada di balkon apartemen. Tak berselang lama Xilia bangun dan pergi ke dapur untuk mengambil air, mendengar suara langkah kaki orang lain Xilia mengira bahwa orang itu adalah Xiao Ziya. Saat menoleh kebelakang ia melihat seorang pria tampan berambut putih yang sedang menatap kearahnya.


"Siapa kau?." tanya Raja Artur dengan nada dingin karna anak perempuan itu sangat asing baginya.


"Seharusnya saya yang bertanya, siapa tuan?." ucap Xilia yang ingat bahwa Xiao Ziya mengatakan ia tinggal dengan seorang kakek tua bukan seorang pria muda.


Mendengar keributan dari luar kamarnya membuat tidur Xiao Ziya terganggu, gadis itu membuka mata dengan ekspresi kesal kemudian keluar dari kamar. Xiao Ziya melihat Raja Artur dan Xilia yang sedang adu mulut, mungkin telah terjadi kesalahfahaman diantara mereka berdua.


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?." ucap Xiao Ziya dengan suara serak.


"Siapa pria ini nona?." tanya Xilia yang memanggil Xiao Ziya dengan sebutan nona, Xilia merasa bahwa gadis bernama Xiao Ziya itu memiliki status yang lebih tinggi daripada dirinya.

__ADS_1


Hai hai semuanya akhirnya aku up nih, gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga.


__ADS_2