
Pemimpin Klan Zu mengarahkan kedua tuan muda itu untuk pergi ke tempat berlatih para murid Klan Zu jika mereka berdua memang ingin melakukan pertarungan hidup dan mati, akhirnya semua orang yang berada di aula utama Klan Zu pergi ke halaman belakang Klan Zu, di sana terdapat arena khusus untuk melakukan pertarungan seperti ini. Beberapa murid Klan Zu juga melihat dari tepi lapangan, mereka ingin tau perkembangan dari Tuan Muda Zu Genzi yang selama ini dikenal sangat manja dan bergantung pada orang tuanya.
"Silahkan kalian berdua naik ke atas arena, karna ini pertarungan hidup dan mati maka orang lain dilarang masuk ke dalam arena apapun yang terjadi. Pihak yang terluka parah boleh mengangkat tangan dan mengakui kekalahannya, namun jika pihak yang lain tak ingin menghentikan pertarungan mau tak mau pertarungan ini akan terus dilanjutkan hingga salah satu diantara kalian ada yang mati ataupun kalian berdua sepakat untuk menghentikannya." jelas Panatua Yungming Zu mengenai pertarungan yang akan segera dilakukan itu.
"Kami pengertian." jawab Zu Genzi dan Zu Minze secara bersamaan. Kedua pemuda itu naik ke atas arena bertarung kemudian mempersiapkan diri mereka masing masing.
Zu Minze mengeluarkan sebuah pedang berwarna perak dengan ujung pedang yang sangat tajam, meski pedang itu ada di tingkatan yang rendah namun ia rasa itu sudah cukup untuk mengalahkan Zu Genzi dan membuat mulutnya bungkam. Zu Minze sangat yakin tak ada ilmu ataupun kemampuan yang Zu Genzi pelajari dari gadis bernama Xiao Ziya itu, anak manja sepertinya akan selalu merasa takut dan tak akan pernah membuat perubahan secara nyata.
"Lebih baik Tuan Muda Zu Minze meminjam pedang milik ayah Anda." ucap Zu Genzi yang memberi peringatan pada lawannya itu.
"Meminjam perang dari ayah? pedang saya ini sudah cukup untuk membuat tubuh Anda terbelah menjadi puluhan bagian." jawab Zu Minze dengan tatapan meremehkan, ia lihat Zu Genzi tak mengeluarkan pedang ataupun senjata lain untuk melawannya.
"Baiklah jangan menyesali keputusan Anda, saat pertandingan dimulai saya tak akan membiarkan Anda meminjam ataupun mengambil senjata lain." ucap Zu Genzi dengan senyuman lebar.
Ia ingat perkataan nona mudanya, seseorang yang lemah sepertinya memiliki kesempatan yang sangat besar untuk mengalahkan musuh karna musuh akan menganggap remeh kekuatan yang ia miliki. Artinya saat ini Zu Minze tak menganggap pertarungan ini sebagai hal yang serius dan ia sangat yakin bisa mengalahkan Zu Genzi dengan mudah. Dengan sedikit celah saja kemungkinan besar Zu Minze akan kehilangan nyawanya karna terlalu meremehkan pihak lawan. Intinya semua orang pernah berada di titik lemah mereka namun dengan kemauan dan pengajaran yang tepat mereka akan menjadi sangat kuat hingga membuat orang lain tak percaya.
"Kalian berdua sudah siap!." triak Jiangling Zu dengan suara yang cukup kencang.
"Kami sudah siap!." jawab Zu Genzi dan Zu Minze dengan suara yang tak kalah kencang. Mereka saling menatap dengan tajam bahkan Zu Minze sudah mengeluarkan aura membunuh meski pertarungan belum dimulai.
"Pertarungan antara Tuan Muda Zu Genzi dan Tuan Muda Zu Minze resmi dimulai sekarang." ucap Jiangling Zu sembari memukul sebuah gong dengan bunyi yang cukup keras. Semua orang duduk di tempat yang telah disediakan sembari mengawasi pertarungan yang sebentar lagi akan dimulai.
Zu Minze mengambil langkah pertama untuk menyerang Zu Genzi, saat lawannya sudah cukup dekat Zu Genzi langsung mengeluarkan sebuah pedang berwarna merah yang pernah Xiao Ziya berikan padanya, pedang itu berada di tingkatan yang cukup tinggi dan mampu membelah sebuah gunung saat penggunanya memiliki tingkatan dan pemahaman tentang pedang. Zu Yangha menatap bingung ke arah putranya, sejak kapan Zu Genzi memiliki senjata spiritual sekuat itu?.
"Argh sialan, dimana kau mencuri pedang itu? tak mungkin orang seperti mu bisa memilikinya." ucap Zu Minze yang merasa kesal karna sedari tadi serangannya ditangkis oleh Zu Genzi dengan sangat mudah. Dalam beberapa bulan saja pemuda manja itu sudah biasa menyaingi kemampuan yang dimiliki oleh Zu Minze.
"Mencuri? maaf ini pemberian Nona Xiao Ziya untuk saya." jawab Zu Genzi dengan tatapan tak suka, mengapa mantan temannya itu bisa menuduhnya mencuri? mungkinkah Zu Minze merasa iri dengan senjata spiritual yang ia miliki.
"Meskipun senjata spiritual putra Anda lebih kuat dari senjata spiritual milik putra saya namun kekuatan diantara mereka sangatlah jauh. Saya khawatir Tuan Muda Zu Genzi akan kalah dan mati dalam pertandingan kali ini." ucap Ketua Zu Wungyan yang sedang menakut nakutin orang tua Zu Genzi.
"Bagaimana ini suamiku, meskipun putra kita sudah memiliki kemampuan namun sangat mustahil baginya untuk mengalahkan Zu Minze." ucap Zu Aoai yang sangat khawatir tentang keselamatan anak semata wayangnya.
"Paman dan bibi tenang saja, saya percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh Zu Genzi. Dia yang dulu dan dia yang sekarang adalah sosok yang berbeda, banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang kami dapatkan selama menjadi murid Nona Muda Xiao Ziya." ucap Zu Junyang yang sedang meyakinkan orang tua teman baiknya itu.
__ADS_1
Setiap serangan yang Zu Minze berikan tak dapat melukai Zu Genzi, semua orang yang menyaksikan pertarungan itu merasa tak percaya dengan kelincahan Zu Genzi dalam hal menghindar dan menangkis pedang milik Zu Minze.
"Apa kau tak mempelajari keahlian lain? mengapa yang kau lakukan hanyalah menghindari dan menangkis serangan ku saja." ejek Zu Minze dengan senyuman miring. Jika pertarungan terus berjalan seperti ini maka ialah yang akan menjadi pemenang.
"Baiklah akan saya tunjukkan apa yang telah diajarkan oleh Nona Xiao Ziya!." ucap Zu Genzi penuh dengan semangat, ia akan memperlihatkan jurus yang baru dipelajari beberapa bulan terakhir ini.
Zu Genzi mundur beberapa langkah dan membuat jarak dari Zu Minze agar musuhnya tak menyerang saat ia melakukan beberapa gerakan awal. Zu Genzi melakukan sebuah gerakan yang mirip seperti orang yang sedang menari, awalnya Zu Minze dan beberapa Ketua Klan Zu menertawakan apa yang sedang dilakukan oleh Zu Genzi namun mereka tak tau semengerikan apa dampak dari serangan itu.
"Jurus Pedang Dewi Yuzang langkah pertama." ucap Zu Genzi yang langsung menggerakkan tubuhnya secara memutar kemudian ia membuat lompatan yang cukup tinggi. Ratusan kelopak bunga muncul di sekitar pemuda itu, Zu Genzi mengatakan pedangnya pada Zu Minze kemudian ratusan kelopak bunga itu membentuk sebuah bayangan pedang berukuran cukup berat.
Bayangan pedang tersebut memancarkan kekuatan yang membuat Zu Minze tiba tiba saja gemetaran, jurus apa yang sedang digunakan oleh pemuda lemah itu mengapa terasa seperti jurus tersebut bisa membunuhnya. Dalam beberapa detik setelah bayangan pedang yang berada di depan Zu Genzi menghantam tubuh Zu Minze dengan sangat kuat hingga menciptakan suara ledakan yang kencang.
Tuan Zu Wungyan dan Nyonya Zu Xiliya membelalakkan mata mereka, bagaimana kondisi putra mereka saat ini? serangan yang diberikan oleh Zu Genzi mungkin berdampak cukup buruk pada Zu Minze. Setelah kabut asap yang sempat menyelimuti arena pertarungan menghilang semua orang langsung fokus untuk melihat bagaimana kondisi Zu Minze saat ini.
"Putraku!!!." triak Nyonya Zu Xiliya yang ingin naik ke atas arena namun ia langsung dicegat oleh Jiangling Zu. Sejak awal kedua belah pihak telah menyetujui pertarungan hidup dan mati ini, dan orang lain dilarang ikut campur dalam pertarungan tersebut apapun yang terjadi nantinya.
"Putra Anda telah menyanggupi tantangan dari Tuan Muda Zu Genzi, ia harus bertanggung jawab atas keputusan yang telah ia buat." ucap Jiangling Zu dengan tatapan tajam.
"Apa Pemimpin Klan tak memiliki hati nurani! lihatlah bagaimana kondisi putra saya saat ini!." bentak Zu Xiliya dengan emosi yang meluap luap.
"Bagaimana rasanya dikalahkan oleh orang lemah seperti saya?." tanya Zu Genzi dengan tatapan berapi-api, ia belum selesai memberikan hukuman pada Zu Minze yang telah menghina nona mudanya.
"Rasanya seperti saya telah menjadi seorang pecundang. Nona muda yang Anda ikuti benar benar luar biasa." ucap Zu Minze yang sudah mengakui kekalahannya. Ia merasa sangat malu karna dikalahkan olah pemuda seperti Zu Genzi yang dulunya tak biasa melakukan apapun di hadapan seluruh anggota Klan Zu seperti ini.
Zu Genzi mengangkat pedangnya dengan tinggi, ia menatap ke arah Zu Minze yang sudah tak bisa melakukan apapun lagi. Zu Minze bisa melihat dengan jelas bahwa ajalnya sudah dekat, tak mungkin Zu Genzi mau memaafkan kesalahan yang telah ia lakukan. Zu Minze memejamkan matanya dan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya hidup di dunia, suara jeritan tangis dari ibu Zu Minze membuat pemuda itu merasa semakin sedih. Seharusnya sejak awal ia tak pernah memandang remeh siapapun yang akan menjadi musuhnya di atas arena, kekalahan kali ini adalah kesalahannya sendiri.
Terdengar suara tebasan pedang yang semakin dekat dengannya, anehnya ia tak merasakan ada sebilah pedang yang menancap di jantung ataupun menebas kepalanya itu. Zu Minze mencoba membuka mata dan melihat apa yang sedang terjadi, ternyata Zu Genzi hanya memotong rambut panjang Zu Minze hingga menjadi sangat pendek.
"Nona Ziya pernah mengatakan seburuk apapun saudara mu yang masih memiliki ikatan darah, kau harus memaafkan kesalahannya untuk satu kali dan berikan dia kesempatan untuk berubah. Inilah yang sedang saya lakukan sekarang, saya hanya melakukan sesuai yang diajarkan oleh Nona Muda Xiao Ziya." ucap Zu Genzi yang langsung turun dari arena pertarungan.
"Pemenang dalam pertarungan kali ini adalah Tuan Muda Zu Genzi, selamat karna Anda telah membuktikan ajaran dari Nona Muda Anda tidaklah sia sia." ucap Jiangling Zu dengan senyuman bangga. Kini Klan Zu memiliki dua orang berbakat yang dapat meneruskan klan itu untuk beberapa puluh tahun kedepan, Zu Junyang dan Zu Genzi sudah tumbuh menjadi lebih dewasa.
"Terimakasih atas ajaran baikmu pada saudara Zu Genzi, Nona Muda Xiao Ziya." gumang Zu Minze kemudian pemuda itu pingsan karna kehabisan tenaga. Orang tua Zu Minze langsung naik ke atas arena dan membawa putra mereka menuju ke tempat pengobatan.
__ADS_1
Di tempat lain tepatnya Dunia Bawah, Xiao Xun sedang dalam perjalanan menuju Istana Kekaisaran Qiyu untuk bertanya pada Kaisar Zue apakah ia tau dimana Raja Artur memimpin wilayah ataukah sebuah cara untuk memanggil Raja Artur agar datang untum membantu mereka. Saat dalam perjalanan menuju Istana Kekaisaran Qiyu Xiao Xun bertemu dengan beberapa orang yang menanyakan kabar Xiao Ziya dan pemuda itu hanya bisa menjawab Xiao Ziya saat ini baik baik saja.
"Salam hormat kami pada Tuan Muda Xiao Xun, jika Anda ingin bertemu dengan Kaisar Zue saat ini beliau berada di ruang kerjanya." ucap salah seorang prajurit penjaga gerbang masuk Istana Kekaisaran Qiyu.
"Terimakasih untuk informasinya saya masuk terlebih dahulu." ucap Xiao Xun yang langsung melesat ke dalam Istana Kekaisaran Qiyu, ia sangat terburu buru karna ayahnya juga sedang menunggu dengan khawatir di rumah.
Tok tok tok.
Suara pintu ruang kerja Kaisar Zue yang diketuk oleh Xiao Xun, tanpa menunggu lama Kaisar Zue langsung membukakan pintu dan mempersilahkan Xiao Xun untuk masuk ke dalam.
"Apakah Tuan Muda Xiao Xun mendapatkan mimpi yang sama dengan saya?." tanya Kaisar Zue dengan rasa penasaran, ia ingin tau siapa saja yang memimpin tentang kondisi Xiao Ziya saat ini.
"Mimpi apa yang Anda maksud? saya datang untuk menanyakan apakah Anda tau dari Kerajaan mana Raja Artur berasal. Ayah ingin membicarakan beberapa hal dengan Yang Mulia Raja Artur mengenai kondisi adik Ziya saat ini." jawab Xiao Xun secara terang-terangan. Sejak malam tadi ayahnya sangat khawatir tentang kondisi Xiao Ziya, sang ayah merasakan bahwa ada sesuatu yang sedang menimpa gadis itu.
"Seingat saya Yang Mulia Raja Artur berasal dari lapisan alam yang berbeda, akan sulit bagi Tuan Xiao Cunyu untuk menemuinya. Semalam saya bermimpi bahwa saat ini adik Ziya sedang jatuh sakit, saya fikir Tuan Muda Xiao Xun juga memimpikan hal yang sama." ucap Kaisar Zue sembari menceritakan sedikit tentang mimpinya malam tadi.
"Mungkin saja saat ini kondisi adik Ziya memang sedang tidak baik, tak ada cara agar salah satu diantara kita bisa pergi ke Lapisan Dunia Manusia Abadi. Ayah ingin berbicara dengan Raja Artur untuk menanyakan apakah ia bisa membawa ayah pergi ke sana." ucap Xiao Xun dengan sorot mata sedih. Ia sudah berlatih dengan sangat giat selama menjadi Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu namun tak banyak peningkatan yang terjadi.
"Sebaiknya kita memikirkan cara lain untuk pergi ke sana." jawab Kaisar Zue yang semakin cemas. Firasat seorang ayah tak mungkin salah, Tuan Xiao Cunyu juga merasakan telah terjadi sesuatu pada putrinya itu.
Empat cahaya berwarna putih keemasan melesat dari atas langit dan mendarat tepat di depan gerbang masuk Klan Xiao, beberapa murid klan yang ditugaskan untuk menjaga gerbang masuk menatap ke arah empat orang dengan aura yang sangat kuat. Para murid Klan Xiao itu takut jika mereka adalah musuh yang ingin menyerang.
"Maaf telah membuat kalian terkejut, biasakah kami ingin bertemu dengan anggota keluarga Nona Besar Xiao Ziya." ucap Dewa Hiloz langsung pada intinya, ketiga dewa dan satu dewi itu tak ingin membuang buang waktu mereka terlalu lama di lapisan dunia bawah karna saat ini kondisi Xiao Ziya lebih penting daripada apapun.
"Siapa kalian dan apa hubungan kalian dengan Nona Muda Xiao Ziya?." tanya salah seorang murid Klan Xiao yang ingin memastikan identitas ketiga pria dan satu wanita yang tengah berdiri dihadapan mereka.
"Cepatlah waktu kami tak banyak, keadaan Nona Xiao Ziya saat ini sedang kritis dan perlu didampingi oleh keluarganya." ucap Dewi Yunjin dengan tatapan serius, raut wajah khawatirnya membuat para murid Klan Xiao menjadi cemas.
Beberapa saat kemudian muncul Xiao Cunyu yang sedang menggendong Zue, Xiao Yuza, dan Xiao Yan yang baru selesai membersihkan halaman depan. Mereka semua datang kerena mendengar keributan dari gerbang masuk Klan Xiao.
"Apakah salah satu dari kalian adalah ayah Nona Besar Xiao Ziya?." tanya Dewa Agni.
"Saya adalah ayah Xiao Ziya, ada kepentingan apa kalian mencari saya?." tanya Xiao Cunyu dengan tatapan bingung, wajah keempat orang yang ada di hadapannya itu terlihat sangat asing.
__ADS_1
"Salam hormat kami pada ayah Nona Besar Xiao Ziya, kami datang dari Alam Dewa Dewi untuk menjemput keluarga Nona Besar Xiao Ziya. Saat ini Nona Ziya sedang dalam kondisi kritis, Ratu Min Xunzi menyarankan agar keluarga nona juga ada di sana untuk menjaganya." jelas Dewa Hiloz dengan sesingkat mungkin.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, follow ig author juga ya. Vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.