
Mereka sangat terkejut saat pasukan musuh menyerang markas, dengan segera Pasukan Kerajaan Bulan mengambil persenjataan mereka dan mulai keluar dari tenda masing masing. Pertarungan tak bisa dihindari lagi, karna ketidaksiapan dari pihak Pasukan Kerajaan Bulan banyak prajurit yang mati terbunuh saat baru keluar dari tenda. Beberapa tabib istana melihat keluar, mereka bingung bagaimana cara membawa Pangeran Yozan Zee keluar dari markas utama tanpa diketahui para prajurit dari pihak musuh. Kondisi Pangeran Yozan Zee saat ini sedang kritis dan membutuhkan perawatan yang lebih intensif, jika dibiarkan terus seperti ini lambat laun sang pangeran akan mengalami mati suri.
"Apa sisi belakang juga di serang?." tanya salah seorang tabib istana pada rekannya yang lain.
"Sepertinya mereka menyerang dari sisi depan dan belakang." ucap tabib yang lain, beberapa tabib menyarankan agar mereka melewati sisi sebelah kiri markas utama Kerajaan Bulan. Karna dari sisi itu mereka yang menyerang di depan tak akan bisa melihatnya begitupun dengan mereka yang ada di belakang.
Akhirnya para tabib istana Kerajaan Bulan menyusun sebuah rencana untuk membawa Pangeran Yozan Zee pergi, empat orang tabib mengangkat tubuh pangeran itu dari kemudian empat tabib yang lain akan berjaga di depan dan di belakang jika ada musuh yang tiba tiba saja menyerang. Mereka mulai menjalankan rencana dan keluar dari tenda secara perlahan, terlihat pasukan musuh sedang sibuk bertarung dengan pasukan Kerajaan Bulan, ini kesempatan yang bagus untuk melarikan diri.
Xiao Ziya saat ini sedang bertarung dengan tiga orang Jenderal Kerajaan Bulan, pedang mereka berempat saling beradu. Walaupun Xiao Ziya dalam posisi terkepung, gadis itu jauh lebih unggul dari ketiga jenderal tersebut. Satu diantara ketiga jenderal telah kehilangan nyawanya karna tertusuk pedang hitam milik Xiao Ziya tepat di jantung, dua jenderal yang lain mengalami luka yang cukup parah dan tak bisa bertarung lagi, sedangkan Xiao Ziya hanya menatap mereka dengan tatapan datar dengan segera gadis itu memenggal kepala mereka beberapa kali. Selalu diperlukan cara khusus untuk membunuh orang dengan tubuh abadi seperti para jenderal tadi, kepala mereka perlu terkena tebasan beberapa kali agar lepas seluruhnya dari tubuh.
Xiao Ziya melihat keadaan sekitar, gadis itu tersenyum ketika melihat delapan orang sedang berusaha menyusup keluar dari markas utama Kerajaan Bulan. Hal yang paling menarik adalah mereka membawa tubuh Pangeran Yozan Zee yang terlihat sangat lemah, Xiao Ziya merasa cukup puas karna melukai sang pangeran begitu parah saat berada di medan perang. Seorang laki laki seperti Pangeran Yozan Zee harus didik lebih keras lagi, jika tidak di masa depan ia akan merugikan banyak orang.
Xiao Ziya melesat ke arah ara tabib yang sedang berusaha untuk keluar dari markas itu, dua tabib yang berjaga di bagian belakang melihat kedatangan gadis itu dan langsung menghadang Xiao Ziya.
"Kemana kalian akan pergi? markas ini telah dikepung." ucap Xiao Ziya dengan tatapan sinis.
"Setidaknya biarkan kami membawa pangeran kembali ke istana." ucap salah seorang tabib dengan tatapan memohon, kesembuhan Pangeran Yozan Zee adalah prioritas utama mereka untuk saat ini.
"Mengapa saya harus melakukan hal itu?. Saat ini pihak Kerajaan Bulan dan saya masih dalam peperangan." jawab Xiao Ziya, gadis itu tak peduli dengan kondisi sang pangeran karna itu bukan urusannya.
"Jika kau tak ingin mendengar permintaan kami, dengan terpaksa kami akan melawan mu." ucap para tabib Istana Kerajaan Bulan dengan tatapan serius, mereka mengatakan hal tersebut karna tak mengetahui identitas gadis yang akan mereka hadapi.
"Baiklah, dengan senang hati saya akan melawan kalian semua." jawab Xiao Ziya dengan senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya.
Keempat tabib yang semula sedang membawa tubuh Pangeran Yozan Zee, meletakkan tubuh pangeran itu dengan jarak yang lumayan aman. Setelah itu mereka bergabung dengan keempat tabib lain, setelah delapan tabib itu berkumpul mereka siap menghadapi Xiao Ziya. Salah seorang tabib Istana Kerajaan Bulan mengeluarkan dua puluh jarum perak dari saku bajunya, tabib tersebut melempat kedua puluh jarum perak itu pada Xiao Ziya.
"Kalian sangat miskin? mengapa tabib Kerajaan Bulan hanya memiliki jarum perak saja." ucap Xiao Ziya dengan senyuman meledek, gadis itu menghindari setiap jarum perak yang dilempar ke arahnya dengan mudah.
Sekarang saat yang tepat bagi Xiao Ziya untuk melakukan serangan balasan, gadis itu mengambil seratus jarum emas yang ada di dalam cincin penguasa mutlak miliknya. Para tabib Kerajaan Bulan terkejut melihat seorang kultivator mengoleksi jarum pengobatan akupuntur seperti itu, mungkin akan menjadi hal yang wajar jika Xiao Ziya hanya memiliki beberapa jarum perak saja.
"Mengapa kau memiliki jarum emas sebanyak itu?." tanya salah seorang tabib dengan kebingungan.
"Karna saya sangat kaya." jawab Xiao Ziya dengan nada dingin kemudian melempar seratus jarum emas itu ke arah delapan tabib Istana Kerajaan Bulan. Jarum jarum emas milik Xiao Ziya menancap dengan tepat di titik lumpuh kedelapan tabib tesebut, dengan segera Xiao Ziya mengikat mereka semua menggunakan benang spiritual agar tak mudah dilepaskan.
Setelah beberapa saat akhirnya kedelapan tabib itu selesai diikat, Xiao Ziya mendekat ke arah Pangeran Yozan Zee yang masih dalam keadaan pingsan. Sangat tak seru jika sang pangeran tak melihat secara langsung kekalahannya melawan pasukan sekutu dari Xiao Ziya.
"Kalian tak bisa menyembuhkan pemuda tak berguna ini?." tanya Xiao Ziya yang melihat ke arah delapan tabib Istana Kerajaan Bulan.
"Saat ini Pangeran Yozan Zee dalam keadaan kritis, kami tak memiliki kemampuan yang cukup untuk menyembuhkannya." ucap salah seorang tabib dengan jujur, sebenarnya mereka merasa malu saat harus menjawab pertanyaan seperti itu.
"Mengapa Raja Anling Zee mempekerjakan tabib seperti kalian ini, apakah raja itu sudah kehilangan akalnya." ucap Xiao Ziya dengan tatapan serius, entah apa yang ada di dalam otak Raja Anling Zee.
"Jangan menghina raja kami seperti itu, semua ini salah kami karna tak mampu mengingat pangeran." ucap kedelapan tabib itu secara bersamaan.
"Ya kalian benar, kalian tabib paling tak berguna yang pernah saya temui." ucap Xiao Ziya, gadis itu memasukkan Pangeran Yozan Zee kedalam cincin semestanya dan ia titipkan pada sang dewi yang tinggal di dalam cincinnya itu. Setelah berhasil menyandar Pangeran Yozan Zee, Xiao Ziya kembali bertarung berasa prajurit yang lain.
__ADS_1
Kini Pasukan Kerajaan Bulan tersisa seratus ribu orang lagi dari jumlah semula riga ratus ribu, lalu dalam medan perang menyusut menjadi dua ratus tiga puluh ribu, dan saat ini terus berkurang dengan sangat cepat. Kelihatannya Pasukan sekutu Xiao Ziya memiliki semangat yang sangat tinggi hingga mereka membunuh pasukan musuh dengan sangat cepat. Di sisi lain Raja Anling Zee dan empat ratus ribu pasukannya hampir sampai di markas utama Kerajaan Bulan, sayang sekali mereka sedang dihadang oleh para penyihir yang sedang melingkari area markas tersebut.
"Apa yang kalian lakukan di markas utama Kerajaan Bulan!!." triak Raja Anling Zee dengan tegas, penyerangan seperti ini tak pernah ia bayangkan sebutnya.
"Kami di sini untuk menghalangi kalian masuk ke dalam markas." ucap salah seorang penyihir dari wilayah Penyihir Hitam.
Para penyihir itu berkumpul menjadi satu merubah formasi mereka yang tadinya melingkar menjadi berjajar dengan rapi sesuai dengan keterampilan masing masing, Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi menyadari perubahan formasi tersebut mereka yang awalnya sedang bertarung bersama Xiao Ziya di dalam markas langsung pergi ke barisan para penyihir.
"Pihak lain datang!!." triak Ratu Min Xunzi dengan sangat kencang hingga di dengar oleh pasukan sekutu Xiao Ziya yang lain.
"Ubah formasi empat dua." ucap Xiao Ziya dengan sangat kencang dan suara yang menggema, prediksi gadis itu benar. Raja Anling Zee datang bersama pasukannya untuk membantu pasukan Pangeran Yozan Zee yang kalah dalam peperangan pertama.
Akhirnya Pasukan Sekutu Xiao Ziya mulai membentuk formasi empat dua. Seratus ribu Pasukan Neraka datang membantu para penyihir bersama lima puluh ribu pasukan pemanah yang langsung naik ke atas pepohonan untuk memudahkan mereka memanah target, penyihir yang di pimpin oleh Raja Min Lunxi membuat pasukan mayat hidup dari prajurit Kerajaan Bulan yang terbunuh di dalam markas. Akhirnya Raja Anling Zee mengerti mengapa putranya tak dapat mengalahkan Xiao Ziya, gadis itu seperti seorang Ratu yang sudah ratusan kali turun langsung ke medan perang.
"Dimana gadis sialan itu!!." triak Raja Anling Zee yang ingin melihat wajah menyebalkan milik Xiao Ziya.
Mendengar Raja Anling Zee mencarinya, Xiao Ziya langsung berlari ke arah pria itu dan menodongkan pedang hitam miliknya ke arah leher Raja Anling Zee.
"Mengapa anda mencari saya?." tanya Xiao Ziya dengan nada dingin. Raja Anling Zee hanya diam, ia takut pedang itu akan menembus tenggorokannya.
"Mengapa anda hanya diam saja?." tanya Xiao Ziya lagi dengan tatapan tajam dan sorot mata berwarna merah darah.
Raja Anling Zee kesulitan menelan ludahnya, ia meminta para jenderal yang ada di belakang untuk tetap diam dan tak melakukan serangan terlebih dahulu. Raja Anling Zee perlu menjauh dari pedang milik Xiao Ziya agar bisa berbicara dengan bebas.
Plak.
"Jika anda adalah seorang pengecut, jangan pernah berani memanggil nama saya dengan mulut kotor anda." ancam Xiao Ziya pada Raja Anling Zee, dengan cepat sang raja menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda setuju dengan ucapan gadis itu. Xiao Ziya menarik pedangnya dan mundur ke barisan para penyihir.
"Mengapa kau sangat kejam untuk ukuran seorang gadis remaja?." tanya Raja Anling Zee dengan nafas tak beraturan.
"Lingkungan saya tak membiarkan saya tumbuh menjadi gadis lemah lembut." jawab Xiao Ziya secara singkat, padat, dan jelas.
"Bisakah peperangan ini dihentikan sekarang?." tanya Raja Anling Zee lagi, ia tak yakin bisa menang melawan pasukan sekutu dari Xiao Ziya.
"Saya belum puas dengan semua ini, anda yang terlebih dahulu mencari masalah." jawab Xiao Ziya dengan tatapan datar, peperangan ini akan terus berlangsung hingga Kerajaan Bulan benar benar mengalami kehancuran.
"Akan banyak korban jiwa yang berjatuhan dari pihak mu ataupun pihak kami." ucap Raja Anling Zee, sang raja sedang mencari berbagai alasan untuk menyudahi peperangan ini.
"Hingga saat ini tak ada korban jiwa dari pihak kami, saya memiliki banyak obat yang dapat membantu penyembuhan mereka dengan cepat. Jangan samakan kami dengan pasukan anda yang lemah itu." ucap Xiao Ziya, tatapan gadis itu semakin menajam. Tiba tiba keluar tanduk kecil dari kepala Xiao Ziya, gadis itu sedang dalam wujud lima puluh persen iblis.
"Siapa kau sebenarnya?." tanya Raja Anling Zee dengan tubuh gemetaran, gadis yang ada di hadapannya itu bukanlah manusia biasa.
"Diamlah!!!." teriakan Xiao Ziya memantulkan kekuatan yang cukup besar hingga ribuan prajurit dari pihak Raja Anling Zee terpental dan jatuh kebelakang.
"Semua ini karna keegoisan anda, jangan pernah mengira bahwa kami yang tinggal di luar Dunia Manusia Abadi bisa anda remehkan." ucap Xiao Ziya dengan kemarahan memuncak, gadis itu sudah siap memberikan aba aba pada pasukannya untuk menyerang.
__ADS_1
Raja Anling Zee menyadari bahwa pasukan Kerajaan Bulan yang dipimpin oleh Pangeran Yozan Zee sudah mati tak tersisa, mereka semua telah menjadi mayat hidup yang dikendalikan oleh para penyihir hitam. Kondisi saat ini semakin menegang, perselisihan itu tak akan pernah selesai sebelum Kerajaan Bulan benar benar hancur di tangan Xiao Ziya dan pasukan sekutunya.
"Semuanya bersiap!." triak Raja Anling Zee dengan kencang, seorang jenderal yang ada di barisan paling belakang membunyikan terompet perang dengan sangat kencang.
"Serang!!!." triak Raja Anling Zee yang ingin memulai peperangan ini terlebih dahulu.
"Perisai tujuh warna terbentuk." ucap Xiao Ziya sembari membaca sebuah mantra kuno untuk mengaktifkan sebuah perisai pelindung, pasukan yang dipimpin oleh Raja Anling Zee tak bisa menembus perisai milik Xiao Ziya tersebut.
"Bukankah kau ingin berpedang dengan kami, mengapa kau membuat perisai seperti ini." bentak salah seorang Jenderal Besar dari pihak musuh, Xiao Ziya hanya memandangi jenderal itu kemudian tersenyum.
"Pasukan saya perlu beristirahat sebentar, saya tak sebodoh itu untuk memaksa mereka terus bertarung." jawab Xiao Ziya dengan tenang, ia sangat yakin tak ada yang bisa menghancurkan perisai tujuh warna selain dirinya sendiri.
"Bukankah ini tindakan pengecut?." ucap Raja Anling Zee yang ingin memprovokasi Xiao Ziya dan pasukan sekutu gadis itu.
"Ini sebuah strategi perang, metode tarik ulur sangat efisien untuk menghadapi kerajaan besar seperti kalian." jawab Xiao Ziya dengan tenang, gadis itu tak akan peduli dengan semua hinaan yang pihak musuh lontarkan padanya.
"Kalian semua beristirahatlah di sini sebentar." ucap Raja Artur yang mengambil alih kepemimpinan pasukan sekutu.
"Baik kami mengerti." ucap seluruh anggota pasukan sekutu Xiao Ziya.
Selama mereka beristirahat, Xiao Ziya, Ratu Rexuca, Ratu Min Xunzi, dan Raja Min Lunxi akan menghadapi pasukan musuh yang masih menunggu di luar markas. Mereka berempat setidaknya harus mengalahkan seperempat dari jumlah pasukan musuh saat ini.
"Kalian sedang bermain main dengan kami? kami semua berjumlah lebih dari empat ratus orang dan kalian hanya berempat?." ucap Raja Anling Zee dengan tawa yan tak bisa ia tahan lagi. Raja Anling Zee tau Xiao Ziya dan ketiga orang yang ada di belakangnya cukup kuat, namun mereka sangat bodoh dengan meremehkan kekuatan musuh.
"Saya akan menyerang di sisi belakang." ucap Ratu Rexuca yang sudah menentukan pilihannya.
"Saya akan menyerang di sisi kanan, dan suami saya di sisi kiri." ucap Ratu Min Xunzi penuh dengan semangat.
"Baiklah kalau begitu, tunjukkan seberapa kuat kalian pada musuh. Semua berpencar." ucap Xiao Ziya pada mereka bertiga. Akhirnya Ratu Rexuca, Ratu Min Xunzi, dan Raja Min Lunxi mengambil posisi sesuai dengan keinginan mereka sedangkan Xiao Ziya menyerang di sisi depan.
"Anda mengatakan bahwa kami sedang bercanda, maka lihatlah seberapa bercandanya saya saat ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring yang terlibat begitu menyebalkan.
"Hanya kau yang ada di barisan depan, apa kau tak melihat barisan depan berisi para jenderal dengan tubuh abadi?." ucap Raja Anling Zee dengan senyum puas melihat kebodohan Xiao Ziya.
"Siapa bilang saya sendirian?. Zier, Mokuzo, Wilre, Mongi, Yoongi, Wingzo, Lunzi, keluarlah kalian semua." ucap Xiao Ziya pada binatang binatang yang sudah mengikat janji setia dengannya.
Keluarlah seekor naga hitam, piton salju, serigala api, serigala es, banteng besar hitam, naga putih, dan juga harimau kesayangan Xiao Ziya keluar dari dalam cincin semesta gadis itu. Ketujuh binatang dengan tingkatan dan kekuatan yang berbeda membuat para jenderal yang ada di belakang Raja Anling Zee gemetaran, ada beberapa binatang yang mereka kenali terutama Zier sang harimau keturunan setengah dewa dan iblis itu.
"Mengapa mereka semua mengikat janji setia dengan gadis itu, bagaimana kita bisa menghadapinya?." ucap salah seorang Jenderal Besar Kerajaan Bulan dengan tubuh gemetaran.
"Kami tak akan takut dengan binatang binatang rendahan seperti itu." ucap Raja Anling Zee yang masih meremehkan Xiao Ziya.
Wilre sang piton salju merasa kesal dengan ucapan Raja Anling Zee, piton salju itu mengibaskan ekornya ke arah Raja Anling Zee hingga terpental beberapa meter dan memuntahkan darah seger. Kini ketujuh binatang setia milik Xiao Ziya menunjukkan ukuran tubuh mereka yang sebenarnya.
"Bunuh mereka semua jangan sisakan satu orang pun." perintah Xiao Ziya pada ketujuh binatang setianya itu.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.