RATU IBLIS

RATU IBLIS
Hampir Kehilangan Nyawa


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan oleh sang prajurit membuat Kaisar Yan merasa cemas, bagaimana jika hal yang tak diinginkan terjadi pada calon istrinya itu. Kaisar Yan dengan segera memerintahkan beberapa prajurit untuk mencari Wi Xume sampai ketemu dan mereka tidak diperbolehkan kembali sebelum menemukan kekasihnya itu.


"Sialan siapa yang dengan berani menculik calon mempelai wanitaku, apakah ini ada hubungannya dengan Ziya." ucap Kaisar Yan yang malah curiga pada Xiao Ziya. Padahal saat ini gadis itu sedang sibuk merancang gaun yang akan ia gunakan saat menghadiri pesta pernikahan Kaisar Yan.


Kaisar Yan bergegas masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya, ia akan pergi ke Klan Xiao dan menanyakan masalah ini pada Xiao Ziya, jika gadis itu terbukti terlibat dalam insiden hilangnya Wi Xume maka Kaisar Yan akan memberikan hukuman yang berat.


Kaisar Yan keluar dari istana kekaisaran, ia melesat dengan kecepatan penuh agar cepat sampai. Akhirnya Kaisar Yan sampai di depan gerbang masuk Klan Xiao, beberapa penjaga gerbang menghentikan langkah pemuda itu.


"Siapa yang sedang anda cari?." tanya salah seorang penjaga gerbang karna ia mendapatkan perintah untuk tidak menerima tamu yang mencari nona besar mereka.


"Ini bukan urusan kalian cepat menyingkirlah." ucap Kaisar Yan, yang merasa enggan untuk memberitaukan maksut kedatangannya itu.


"Maaf namun saat ini para ketua dan anggota klan yang lain sedang sibuk, mereka sedang mempersiapkan diri untuk hadir di pesta pernikahan anda." jawab penjaga gerbang itu yang tak ingin membuat Kaisar Yan salah faham.


"Aku datang untuk menemui adikku Ziya." ucap Kaisar Yan dengan nada malas.


Dengan segera beberapa penjaga gerbang memberitaukan bahwa saat ini nona besar mereka yaitu Xiao Ziya sedang tidak bisa di ganggu karna ia sedang mempersiapkan sebuah gaun. Kaisar Yan tak ingin mendengar alasan apapun, ia semakin curiga pada adiknya itu akhirnya Kaisar Yan memaksa masuk kedalam Klan Xiao.


Karna diserang oleh sang kaisar beberapa penjaga gerbang terluka, Kaisar Yan masuk kedalam Klan Xiao dengan wajah kesal dan marah. Ia melesat menuju paviliun milik Xiao Ziya belum sampai menyentuh gerbang masuk ada seorang pemuda yang menghentikan langkah Kaisar Yan.


"Saat ini nona muda sedang tak bisa di ganggu." ucap Aron yang sedang melindungi privasi dari nona mudanya.


"Minggir, kau tak lebih dari kaki tangan adikku." ucap Kaisar Yan dengan angkuh dan tak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Aron.


"Walaupun saya bukan keluarga sedarah dengan nona muda namun saya sangat menghargai apa yang menjadi privasinya. Saya harap kaisar bisa mengerti dan kembali ke istana anda." ucap Aron dengan tenang tanpa terbawa emosi sedikitpun.


"Jangan mengaturku, aku juga bagian dari Klan Xiao ini ditambah lagi aku adalah kakak laki laki dari gadis itu." ucap Kaisar Yan yang bersikeras ingin bertemu dengan Xiao Ziya bagaimanapun caranya.


Xiao Ziya yang saat ini sedang sibuk memotong kain putih yang akan ia jadikan gaun merasa terganggu dengan keributan diluar paviliunnya. Ia sangat enggan keluar kamar sebelum gaun istimewanya itu selesai dibuat.


"Zier keluarlah." ucap Xiao Ziya yang memanggil harimau kesayangannya itu untuk keluar dari cincin semesta. Zierpu keluar dengan raut wajah bahagia akhirnya ia mendapatkan tugas dari nonanya itu.


"Salam hormat Zier pada nona muda." ucap Zier yang memberikan salam.


"Saya terima salammu. Kali ini saya akan memberikan tugas yang mudah." ucap Xiao Ziya yang masih fokus memotong setiap pola pada kain putih itu dengan hati hati.


"Zier siap menerima semua tugas yang diberikan nona muda." jawab Zier tanpa ragu ragu, apapun tugasnya ia akan menyelesaikan dengan sebaik mungkin.


"Mintalah Kaisar Yan pergi dari sini secara baik baik, namun jika ia tetap keras kepala kau bisa memukulnya. Namun perlu diingat jangan membuatnya kehilangan nyawa karna itu hukuman yang terlalu ringan." ucap Xiao Ziya dengan serius. Zier segera pergi dari kamar nona mudanya dan berjalan ke luar paviliun.


Saat itu Kaisr Yan dan Aron sedang berdebat hebat, mereka berdua adalah pemuda yang sama sama keras kepala. Aron tak bisa membiarkan Kaisar Yan mengganggu nona muda yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri, sedangkan Kaisar Yan tetap ingin bertemu dengan Xiao Ziya untuk menanyakan perihal hilangnya Wi Xume.


"Nona muda mengatakan bahwa saat ini ia tak ingin di ganggu oleh siapapun sebaiknya Kaisar Yan pergi." ucap Zier yang sudah dalam pemampilan dewasa. Ia menatap ke arah Kaisar Yan dengan tajam.


"Saya yakin jika Xiao Ziya terlibat dalam hilangnya Wi Xume malam tadi." ucap Kaisar Yan, ia tak ingin pergi dari sana karna ia harus mendapatkan informasi mengenai keberadaan Wi Xume.


"Nona tidak keluar kamar sama sekali dari kemarin sore. Mungkin wanita anda telah menyinggung pihak lain." ucap Zier secara baik baik, ia akan mendengarkan perintah Xiao Ziya sebaik mungkin walau saat ini amarahnya sudah memuncak.


"Jangan menghalangiku, aku tau selain gadis itu tak ada yang menentang pernikahan ini." ucap Kaisar Yan, mungkin saja ia melupakan satu hal tanpa persetujuan dari Xiao Ziya ia tak akan bisa menyelenggarakan pesta pernikahan di istana kekaisaran, jadi mengapa gadis itu harus menculik Wi Xume?. Jika Xiao Ziya mau maka ia bisa membunuh Wi Xume di depan Kaisar Yan.


Bruaaak..


Suara hantaman yang cukup keras, Zier memukul Kaisar Yan hingga sang kaisar terpental dan menabrak tumpukan kayu yang ada di depan paviliun. Kaisar Yan bangkit dan menahan rasa sakit di punggungnya ia menatap ke arah harimau itu dengan tatapan tak percaya.


"Beraninya kau menyerangku, aku adalah kakak laki laki dari nona yang kau layani." triak Kaisar Yan penuh dengan amarah ia tak terima dipermalukan oleh seekor harimau seperti ini.


"Ini adalah perintah dari nona muda, jika anda tak mau pergi secara baik baik maka saya diperbolehkan untuk memukul anda." ucap Zier dengan eskpresi tenang karna ia tak melakukn kesalahan dalam mengatasi Kaisar Yan.


"Sialan, cepat kembalikan Wi Xume. Aku tau kau yang merencanakan semua ini kan adik Ziya!!." teriak Kaisar Yan dengan suara yang cukup keras. Ia membuat Xiao Ziya benar benar terganggu.


Xiao Ziya mengerutkan keningnya, ia menggenggm tangannya dengan kesal kali ini ia harus keluar paviliun untuk mengatasi orang gila yang membuatnya marah. Xiao Ziya berjalan dengan kabut hitam yang mengikutinya dari belakang.


Bruak.


Suara gerbang masuk paviliun yang ditendang dengan keras oleh Xiao Ziya. Ia berjalan mendekat ke arah Xiao Yan.

__ADS_1


Plak plak plak plak.


Empat tamparan keras mendatar di pipi kanan dan pipi kiri sang kaisar, bahkan ada cap tangan di pipinya. Kaisar Yan, Aron, dan Zier terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Bukankah kau tau saya bisa membunuh kekasihmu itu tepat di depan matamu mengapa saya harus repot repot menculiknya." ucap Xiao Ziya penuh dengan emosi, kali ini ia memang tak tau tentang insiden hilangnya gadis murahan itu.


"Selain kau tak ada yang memiliki dendam pada Wi Xume." ucap Kaisar Yan yang bersikeras menuduh Xiao Ziya.


"Jangan menyalahkan orang lain atas ketidakmampuan anda menjaga gadis itu. Siapa suruh anda sangat lemah dan ceroboh hinhga tak tau jika ada yang menculik Wi Xume. Saya tak punya waktu melakukan hal hal konyol seperti itu, lagipula manusia seperti Wi Xume tak memiliki harga di mata saya." ucap Xiao Ziya dengan tegas kemudian ia kembali masuk kedalam paviliunnya dan mengunci gerbangnya dengan rapat, sebelum ia benar benar pergi ia sempat mengatakan sesuatu untuk Aron dan juga Zier.


"Jika pemuda gila itu tetap tak ingin pergi maka bunuh saja." ucap Xiao Ziya yang sudah kehabisa kesabarannya untuk meladeni tingkah menyebalkan dari Xiao Yan. Gadis itu masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu rapat rapat.


Kaisar Yan tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya, pemuda itu tau bahwa saat ini gadis itu tak sedang bercanda, karna merasa nyawanya terancam akhirnya Kaisar Yan memutuskan untuk pergi dari Klan Xiao dan mencari Wi Xume di tempat lain.


"Hanya nona muda yang bisa membereskan pemuda itu dengan cepat." ucap Aron yang merasa lega karna ia tak perlu mengotori tangannya untuk membunuh Kaisar Yan.


"Saya tau nona tak sedang bercanda dengan apa yang ia katakan barusan." ucap Zier yang masih merinding. Ini pertam kali ia mendapatkan izin untuk membunuh salah satu dari keluarga nona mudanya karna biasanya nona mudanya akan melindungi semua anggota keluarga.


Di sisi lain beberapa prajurit menemukan Wi Xume sedang tergeletak di sebuah tempat yang tak terlalu jauh dari istana kekaisaran, dengan segera mereka memeriksa denyut nadi gadis itu. Untung saja Wi Xume masih hidup jika tidak maka sang kaisar akan memarahi mereka semua. Seorang prajurit membopong Wi Xume dan membawanya kembali ke Istana Kekaisaran Qiyu, setelah sampai mereka meletakkan Wi Xume di kamar tamu sembari menunggu Kaisar Yan kembali.


Setelah beberapa saat akhirnya Kaisar Yan kembali dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan, semua prajurit dan pelayan yang berpapasan dengan sang kaisar merasa keheranan melihat ekspresi itu.


"Salam hormat kami pada Kaisar Yan, kami berhasil menemukan keberadaan nona Wi Xume." ucap salah seorang prajurit yang membopong Wi Xume tadi.


"Dimana kalian menemukannya?." tanya Kaisar Yan yang merasa lega.


"Kami menemukan nona Wi Xume pingsan di sebuah gang gelap yang tak jauh dari istana Kekaisaran Qiyu, setelah tabib memeriksa kondisi nona tak ada luka sesikitpun." ucap prajurit itu yang memberikan penjelasan pada Kaisar Yan.


"Baiklah kalian jaga dia hingga dia bangun, saya masih harus menyelesaikan beberapa urusan." ucap Kaisar Yan yang langsung pergi dari tempat itu, ia berjalan menuju kamarnya kemudian menutup pintu dengan sangat rapat.


Kaisar Yan memegang pipi sebelah kanan dan membayangkan betapa menyakitkan saat adik peremuannya itu menamparnya dengan keras apalagi saat mengetahui bahwa Xiao Ziya tega meminta pada kedua anak buahnya untuk membunuh dirinya. Entah mengapa Kaisar Yan merasa bahwa saat ini adik perempuannya itu telah berubah drastis, walaupun begitu sang kaisar masih tak menyadari kesalahannya.


"Sepertinya ada orang yang mempengaruhi gadis itu untuk membenciku." ucap Kaisar Yan, yang masih menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Jika ia tak bersikeras membela Wi Xume yang jelas jelas bersalah maka Xiao Ziya tak akan bersikap buruk padanya.


Di sisi lain saat ini para murid Akademi Wunyeng sedang melaksanakan ujian selama tiga hari, setelah ujian selesai mereka akan berlibur selama satu bulan. Para murid inti yang pernah di didik langsung oleh Xiao Ziya merasa tak sabar untuk menyelesaikan ujian ini kemudian pergi mengunjungi guru mereka itu. Ajaran yang diberikan oleh Xiao Ziya selalu mereka ingat dengan baik, oleh karna itu para murid inti semakin kuat bahkan perkembangan mereka melebihi murid murid kelas unggulan yang lain.


"Mungkin beberapa hari lagi." ucap Ling Gunmi yang tak mengetahui secara pasti.


Di sisi lain saat ini Wi Xume baru saja tersadar, ia memegang kepalanya yang terasa sakit. Wi Xume mencoba mengingat apa yang terjadi padanya malam tadi, setelah mengingat semuanya gadis itu merasa kesal dan menyalahkan Xiao Ziya atas apa yang ia alami.


"Karna gadis itu aku berakhir seperti ini." ucap Wi Xume dengan raut wajah kesalnya.


Wi Xume berjalan keluar dari kamar tamu dengan hati hati, para prajurit yang berjaga di luar kamar ingin membantu gadis itu namun Wi Xume menolak karna ia ingin pergi sendiri menemui Kaisar Yan. Para prajurit hanya bisa pasrah lagipula gadis sombong itu tak akan pernah menjadi ratu mereka apapun yang terjadi.


Tok tok tok.


Suara pintu ruang kerja Kaisar Yan yang diketuk oleh Wi Xume, sebelum mendapatkan izin untuk masuk gadis itu menerobos kedalam.


"Apa kau sedang sibuk?." tanya Wi Xume dengan wajah polos yang ia buat buat setelah melihat Kaisar Yan sedang berbincang bincang dengan Jenderal Zue mengenai permasalahan di perbatasan.


"Kemarilah saya tidak terlalu sibuk." ucap Kaisar Yan, ia tak ingin membuat kekasihnya terlalu lama menunggu di luar ruang kerja.


Jenderal Zue menatap Wi Xume dengan tatapan yang tak bersahabat, entah mengapa kaisarnya bisa jatuh hati pada gadis murahan yang tak mengerti etika dan sopan santun. Suatu hari jika Jenderal Zue ingin menikah maka ia akan meminta Xiao Ziya mencarikan gadis baik untuknya.


"Saya permisi, masalah hari ini kita bicarakan nanti saat ruang kerja anda sudah sepi." ucap Jenderal Zue yang ingin segera pergi dari ruang kerja sang kaisar, ia sangat malas melihat wajah Wi Xume yang menyebalkan itu.


"Bukankah kalian bisa membahasnya sekarang? saya tak akan mengganggu perbincangan kalian." ucap Wi Xume yang penasaran dengan permasalahan yang sedang terjadi.


"Mohon maaf namun ini adalah sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang luar." ucap Jenderal Zue yang langsung pergi tanpa mengucapkan salam karna ia yakin saat ini Kaisar Yan hanya terfokus pada gadis itu saja.


Wi Xume menatap ke arah sang kaisar dengan tatapan sedih seolah oleh ia merasa dipermalukan oleh Jenderal Zue, melihat kekasihnya yang begitu malang membuat hati Kaisar Yan tersentuh ia berusaha menghibur gadis itu.


"Bukankah sebaiknya kita mencari gaun cantik untukmu? pesta pernikahan akan diadakan beberapa hari lagi." ucap Kaisar Yan dengan senyuman menawan.


"Baiklah aku harus menjadi yang tercantik." ucap Wi Xume penuh dengan semangat.

__ADS_1


Wi Xume dan Kaisar Yan pergi dari istana Kekaisaran Qiyu menuju sebuah pasar yang tak terlalu jauh, mereka melihat lihat ke berbagai toko dan mencari gaun mewah di sana. Setelah cukup lama mencari kesana kemari tak ada gaun yang sesuai dengan kriteria Wi Xume.


"Apa sebaiknya kita membeli kain dan meminta penjait untuk membuatkan gaun spesial untukmu?." ucap Kaisar Yan, ia memberikan sebuah saran pada kekasihnya itu.


Wi Xume menyetujui saran yang diberikan oleh Kaisar Yan, mereka berdua masuk kedalam sebuah toko kain yang cukup ternama. Toko kain yang mereka kunjungi sama seperti toko kain yang Xiao Ziya kunjungi beberapa waktu lalu.


"Salam hormat saya pada Kaisar Yan, apakah ada kain khusus yang ingin anda cari?." tanya seorang pria yang merupakan pemilik toko kain tersebut.


"Saya ingin sebuah kain putih yang indah, sebuah kain putih yang berkilauan." ucap Wi Xume, ia mengatakan ciri ciri kain yang ia inginkan untuk membuat gaun pernikahan.


"Beberapa waktu lalu adik anda memborong satu gulung kain putih khusus, kain yang sangat indah dan eksklusif." ucap pemilik toko itu dengan jujur.


Kaisar Yan seperti sedang berfikir, bagaimana jika kekasihnya itu memaksa untuk mengambil kain putih milik Xiao Ziya. Jika hal itu terjadi pasti akan ada pertengkaran antara kedua gadis itu.


"Sayang, aku ingin kain itu." ucap Wi Xume dengan manja. Apa yang ditakutkan oleh Kaisar Yan menjadi kenyataan.


"Sebaiknya kau memilih kain lain saja, di sini masih banyak kain putih yang cantik." ucap Kaisar Yan, ia mencoba untuk membujuk kekasihnya itu.


Wi Xume terlihat kesal mendapatkan respon seperti itu, dengan segera ia keluar dari toko kain dan berjalan menuju Klan Xiao. Sedangkan Kaisar Yan mencoba untuk mengejar kekasihnya itu.


"Bisakah kita membeli kain atau gaun yang lain saja?." ucap Kaisar Yan dengan suara yang sedikit keras agar Wi Xume mengerti bahwa ia sedang tidak ingin membuat masalah dengan Xiao Ziya.


"Tidak, aku sangat menginginkan kain itu. Bukankah ini adalah pesta pernikahan kita berdua lalu mengapa gadis itu ingin menyaingiku." ucap Wi Xume yang sangat keras kepala.


Setelah sampai di depan gerbang Klan Xiao, gadis itu menerobos masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu. Kaisar Yan benar benar kerepotan mengatasi kekasihnya itu. Akhirnya mereka berdua sampai di depan gerbang masuk paviliun milik Xiao Ziya.


Wi Xume terdiam sejenak dan memandang paviliun milik Xiao Ziya penuh dengan minat. Ia tak tau jika Xiao Ziya memiliki sebuah paviliun pribadi dalam Klan Xiao.


"Ini paviliun milik adikmu?." tanya Wi Xume dengan mata berninar binar.


"Iya ini paviliun milik Xiao Ziya. Dia satu satunya gadis yang memiliki paviliun pribadi." jawab Kaisar Yan dengan nada datar karna baginya itu adalah hal yang biasa saja.


"Wah sungguh paviliun yang cantik dan menawan aku menginginkannya." ucap Wi Xume dengan sengaja, ia memberikan isyarat pada Kaisar Yan bahwa ia menginginkan paviliun itu sebagai mahar pernikahan.


"Jangan berfikir sembarangan, paviliun ini tak akan diberikan pada siapapun." ucap Kaisar Yan yang sudah sedikit lelah dengan sikap kekanak kanakan dari Wi Xume yang tak pernah berfikir panjang saat menginginkan sesuatu.


"Bukanlah kau seorang kaisar?." ucap Wi Xume yang selalu menganggap bahwa kedudukan Kaisar Yan ada di atas Xiao Ziya.


Samar samar terdengar suara langkah kaki, Xiao Ziya membuka gerbang paviliunnya dengan lebar seperti ia sengaja memperlihatkan isi paviliunnya itu pada Wi Xume, dan benar saja Wi Xume semakin menginginkan paviliun itu saat melihat berbagai pohon, bunga, dan tanaman obat obatan yang tertanam di halaman depan.


"Ada apa kalian datang kesini?." tanya Xiao Ziya dengan nada datar, ia melihat Wi Xume dari bawah hingga atas kemudian tersenyum tipis.


"Apakah kau membeli gulungan kain dari toko yang tak jauh dari sini?." tanya Kaisar Yan dengan sangat hati hati, ia tadi hampir kehilangan nyawanya dan tak akan melakukan kesalahan yang sama.


"Jika kalian ingin memint kain itu maka saya tak akan memberikannya." jawab Xiao Ziya dengan cepat tanpa mendengar permintaan dari Kaisar Yan terlebih dahulu.


"Lupakan tentang selembar kain itu, saya menginginkan paviliun anda." ucap Wi Xume dengan senyum yang sangat lebar.


Xiao Ziya mengangkat sebelah alisnya kemudian menatap ke arah Wi Xume. Memangnya dengan apa gadis itu ingin membeli paviliun mewahnya?.


"Saya tidak akan menyumbangkan paviliun ini pada anda." jawab Xiao Ziya dengan tegas dan tanpa bantahan.


"Bisakah kau meminjamkannya untuk beberapa hari saja?." tanya Kaisar Yan, walaupun Wi Xume tak bisa memiliki paviliun itu setidaknya ia bisa tinggal di sana selama beberapa hari.


"Di dunia ini banyak manusia manusia yang tidak punya malu dan saya yakin kekasih anda adalah salah satunya. Jika saya meminjamkan paviliun ini selama tiga hari maka kekasih anda akan mengklaim bahwa paviliun ini adalah miliknya." ucap Xiao Ziya yang menyindir tepat sasaran.


"Beraninya kau menghina calon ratu." ucap Wi Xume dengan nada marah.


"Jadilah ratu dan duduklah di tahta Kekaisaran Qiyu maka esok hari kau akan melihat bendera peperangan dari berbagai kerajaan. Jangan kira saya tak bisa meruntuhkan kekuasaan calon suamimu itu." ucap Xiao Ziya dengan nada serius. Saat ini yang sedang bertengkar adalah Xiao Ziya dengan Wi Xume, namun yang berkeringat dingin Kaisar Yan.


"Kaisar Yan adalah kakak laki lakimu jadi kau harus menghormatinya." ucap Wi Xume yang sedang mencari muka di hadapan Kaisar Yan.


"Seseorang yang berpura pura amnesia dan meninggalkan keluarganya dalam penderitaan tak pantas menceramahi apa yang saya lakukan." ucap Xiao Ziya yang masuk kedalam kemudian menutup pintunya. Selain itu ia melemparkan beberapa pisau ke arah Kaisar Yan dan juga Wi Xume, untung hanya beberapa luka goresan saja.


"Jika kalian berdua berani datang lagi maka pisau itu bukan hanya menggores lengan atau kaki kalian, namun menanjap tepat di jantung kalian berdua." ucap Xiao Ziya.

__ADS_1


Kaisar Yan memaksa Wi Xume untuk kembali ke istana dengan susah payah. Satu hal yang baru saja pemuda itu sadari, ternyata kekasihnya sangat keras kepala walau maut hampir menghampiri mereka berdua.


Hai hai semua author balik lagi nih hadeh hp ku ga bisa dibuka sama sekali jadi aga kesulitan gitu guys buat nulis akhir akhir ini ditambah habis vaksin hehe. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya karna wajib, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2