RATU IBLIS

RATU IBLIS
Gunung Merah (2)


__ADS_3

Xiao Ziya mengeluarkan api hitam dari telapak tangannya, jika orang lain akan menggunakan elemen air atau es untuk melawan elemen api namun Xiao Ziya memilih elemen yang sama. Mungkin saja gadis itu ingin mencoba api siapa yang lebih kuat, api miliknya ataukah api milik golem raksasa yang ada di hadapannya itu.


Golem raksasa tak memberikan kesempatan pada Xiao Ziya untuk melakukan serangan balik, sang golem secara berturut turut menyemburkan lava panas ke arah Xiao Ziya. Kecepatan gadis itu tak bisa diikuti oleh sang golem raksasa sehingga ia mulai merasa lelah dan kehabisan tenaga.


"Bocah sialan jangan hanya menghindar." ucap sang golem raksasa yang kesal karna dari awal pertarungan yang dilakukan oleh Xiao Ziya hanya menghindar tanpa ada serangan balik.


"Saya sedang mencari celah untuk menyerang balik, jika saya melakukan serangan balik saat anda menyemburkan lava maka tubuh saya akan terbakar. Jangan kira saya tak tau siasat anda tuan golem." ucap Xiao Ziya yang tersenyum miring kemudian menperbesar api hitam yang ada di kedua telapak tangannya, setelah dirasa cukup Xiao Ziya melemparkan api itu ke arah golem raksasa.


Sepertinya sang golem meremehkan api hitam milik Xiao Ziya sehingga golem itu tak menghindar dari serangan Ziya. Melihat apa yang dilakukan oleh golem raksasa membuat Xiao Ziya tersenyum puas. Mungkin api hitam miliknya tak terlihat lebih kuat dan lebih panas dari lava golem itu, namun ketika api hitam menggenai tubuh golem raksasa seketika golem itu terbakar dan merasakan panas yang luar biasa.


"Bagaimana bisa api hitam kecil milikmu itu bisa sepanas ini." ucap sang golem raksaa yang tak kuat lagi menahan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuhnya tiba tiba saja tubuh golem raksasa itu pecah menjadi ratusan keping batu.


Xiao Ziya menatap ke arah batu batu itu, sepertinya batu itu merupakan spirit stone dengan energi kegelapan. Xiao Ziya mengambil ratusan spirit stone kegelapan itu karna akan sangat berbahaya jika ditemukan oleh orang yang salah, bisa jadi orang itu akan membentuk sebuah kelompok aliran sesat yang meresshkan penduduk dunia bawah.


"Untunglah saya orang pertama yang mengalahkan golem raksasa itu." ucap Xiao Ziya yang melanjutkan perjalanannya, ia melompati sungai lava itu dengan mudah.


Sedangkan sekelompok prajurit dan beberapa kultivator baru saja sampai di sana, mereka tak bisa melanjutkan perjalanan karna terhalang oleh sungai lava panas. Akhirnya kelompok itu memilih untuk membuat perkemahan di sana, jika benar orang yang mengalahkan monster monster srigala merah itu adalah Xiao Ziya maka mereka tak perlu mencemaskan apapun.


"Kita akan tetap di sini hingga orang yang sudah berhasil sampai di puncak turun kembali." ucap seorang pangeran yang memberi perintah pada kelompok prajuritnya.


Ternyata pangeran yang ikut dalam pengerahan menuju gunung merah adalah Pangeran Enso. Pangeran Enso adalah pangeran dari kerajaan barat yang kenal baik dengan Xiao Ziya. Saat ini Xiao Ziya sudah hampir sampai di puncak gunung merah, ada puluhan ribu semut yang keluar dari puluhan lubang tanah yang ada di hadapan Xiao Ziya.


"Hah mengapa ada hal semenggelikan itu yang muncul." ucap Xiao Ziya yang merasa geli saat melihat puluhan ribu semut ada di hadapannya.


Puluhan ribu semut itu mendekat ke arah Xiao Ziya, gadis itu membuat dinding sihir untuk melindungi dirinya. Xiao Ziya berhasil selamat dari serangan puluhan ribu semut itu, saat ini Xiao Ziya sedang memikirkan cara untuk mengalahkan puluhan ribu semut yang tampak menggelikan itu.


"Astaga bulu kuduk saya merinding melihat puluhan ribu semut yang berkumpul seperti ini." ucap Xiao Ziya yang tak bisa memikirkan apapun karna merasa geli dan merinding secara bersamaan.


Akhirnya Xiao Ziya mengambil sepasang busur panah dari dalam cincin pengusa mutlaknya. Ia mengambil sebuah anak panah dan melapisi ujung anak panah itu dengan api putihnya setelah selesai Xiao Ziya memanah ke atas langit, beberapa saat setelah itu panah milik Xiao Ziya menancap di tanah dan menyebabkan sebuah ledakan yang cukup besar. Xiao Ziya mengulangnya hingga semua semut yang ada di sana mati.


"Hah akhirnya para semut itu mati juga. Mengapa di gunung merah ini seekor semut bisa berevolusi menjadi monster yang cukup mengerikan." ucap Xiao Ziya yang masih saja merinding saat membayangkan semut semut itu menutupi seluruh tubuhnya.


Gadis itu menghilangkan dinding sihir yang ia gunakan tadi. Xiao Ziya kira ia sudah selesai berurusan dengan pasukan semut ternyata ratu mereka keluar dari dalam tanah dan menimbulkan guncangan yang cukup kuat.


"Beraninya kau menghabisi seluruh pasukanku." ucap sang ratu semut yang sedang marah. Ratu semut itu memiliki ukuran badan tiga kali lipat dari tubuh Xiao Ziya.


"Mereka yang terlebih dahulu menyerang saya. Jika saya tak membunuh maka sayalah yang akan terbunuh." ucap Xiao Ziya dengan nada datar. Jika sang ratu semut tak ingin kehilangan puluhan ribu pasukannya seharusnya ia tak meminta mereka untuk menyerang.


"Aku tak mengira kau memiliki kekuatan sebesar ini, jika mengetahuinya lebih awal maka akan kutarik kembali pasukan semutku." ucap sang ratu semut yang masih menyalahkan Xiao Ziya atas kejadian ini karna untuk membentuk pasukan dengan kekuatan yang sama ia memerlukan waktu seratus tahun lamanya.


"Minggirlah jangan menghalangi jalanku." ucap Xiao Ziya yang meminta ratu semut itu untuk menepi dan tak menghalangi jalannya jika ia tak ingin bernasip sama seperti pasukan semut tadi.


Ratu semut itu merasa sangat marah karna diremehkan oleh gadis muda yang ada di hadapannya itu, ratu semut yang sudah hidup selama seratus tahun itu tak pernah kalah satu kalipun saat melawan para kultivator biasa namun bagaimana bisa ia kalah oleh seorang gadis yang masih sangat muda dan tak berpengalaman.


"Baiklah jika kau tak ingin menyingkir dari jalan saya." ucap Xiao Ziya yang kembali mengeluarkan pedang hitam miliknya, sang ratu semut merasakan aura membunuh yang sangat luar biasa dari pedang hitam yang dipegang oleh Xiao Ziya.

__ADS_1


"Sepertinya kau adalah lawan yang sepadan denganku." ucap ratu semut yang dengan seenaknya menyama nyamakan dirinya dengan Xiao Ziya.


"Tidak, kau masih jauh berada di bawah saya." ucap Xiao Ziya yang merasa tak senang saat dirinya disama samakan dengan ratu semut itu.


Akhirnya Xiao Ziya bertarung melawan sang ratu semut, tadinya ia sempat mengira bahwa sang ratu semut adalah lawan yang lumayan sulit namun kenyataanya ratu semut mati dalam satu tebasan. Ya ratu semut itu mati dalam kondisi tubuh yang tercabik cabik.


"Saya kira kau sangat hebat ternyata selemah ini. Mungkin untuk menyamai kekuatan saya sekarang harus berlatih selama sepuluh ribu tahun." ucap Xiao Ziya yang melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda, bangkai ratu semut itu tiba tiba menghilang.


Haripun mulai malam suasana gunung merah itu semakin mencekam, muncul sebuah kabut hitam yang sangat beracun muncul Xiao Ziya melindungi dirinya dengan perisai yang cukup kuat. Walaupun gadis itu tak akan terpengatuh oleh kabut beracun itu namun pasukan yang ia lihat dalam perjalanan sebelumnya pasti sedang dalam bahaya.


"Sepertinya saya harus menahan kabut beracun ini agar tak sampai turun kebawah." ucap Xiao Ziya yang tak ingin ada korban jiwa dari pihak pasukan prajurit Kerajaan Barat.


"Perisai tuju warna." ucap Xiao Ziya yang merapalkan sebuah mantra sihir kuno. Tiba tiba muncul sebuab perisai yang menjulang tinggi ke atas langit dan membatasi arena atas gunung merah dengan arena kaki gunung.


Pasukan Kerajaan Barat beserta para kultivator yang sedang berada di luar tenda mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat, perisai yang sangat tinggi dan kuat itu tiba tiba saja muncul. Karna warna dari perisai milik Xiao Ziya terlalu mencolok hingga menarik perhatian kerajaan lain.


"Mungkinkah saat ini nona Ziya sedang melindungi kita semua dari sesuatu yang sangat berbahaya?." tanya salah satu prajurit Kerajaan Barat yang menebak telah terjadi hal buruk di atas gunung merah.


"Sepertinya memang begitu, apa kalian bisa melihat kabut yang semakin menebal itu? jika bukan karna perisai milik Nona Ziya maka kita semua akan dalam bahaya." ucap Pangeran Enso yang dapat melihat dengan baik bahwa kabut tebal itu beracun.


"Apakah semengerikan itu pangeran?." tanya salah seorang prajurit yang hanya bisa melihat bahwa kabut tebal itu adalah kabut biasa yang tak perlu ditakuti.


"Kabut tebal itu mengandung racun yang sangat mematikan." jawab Pangeran Enso dengan singkat, para prajurit yang mendengar perkataan Pangeran Enso merasa merinding.


"Apakah nona Ziya akan baik baik saja? bukankah racun itu juga sangat berbahaya untuknya." ucap salah seorang kultivator yang sedang mencemaskan keadaan Xiao Ziya di atas sana.


"Sepertinya aku harus mendudiknya dengan keras, setelah menjadi seorang kaisar ia menjadi manusia idiot. Padahal saat masih menjadi seorang jenderal ia memiliki sifat yang ssngat baik dan berwibawa. Apakah tahta kekaisaran memang bisa membuat seseorang menjadi seperti itu." ucap Xiao Cunyu yang memaki maki putra pertamanya yaitu Xiao Yan.


"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, setelah sampai di istana kita bisa memukul kepalanya sampai lupa ingatan." ucap Xiao Yuza yang memberikan saran yang sama sama mengerikan. Xiao Ciyun menggeleng gelengkan kepalanya bagaimana bisa saudaranya itu sedang menggila.


Setelah beberapa saat akhirnya ketiga orang itu sampai di gerbang masuk Istana Kekaisaran Qiyu. Para penjaga gerbang yang mendapatkan perintah untuk menghadang siapa saja yang ingin masuk kedalam istana membiarkan ketiga ketua Klan Xiao itu untuk masuk. Mereka berfikir lebih baik menyinggung Kaisar Yan daripada menyinggung nona muda mereka yang terkenal sangat kejam jika merasa tersinggung.


"Mengapa kalian gemetaran seperti itu?." tanya Xiao Cunyu yang merasa heran dengan sikap para penjaga gerbang.


"Sebenarnya kami diperintahkan untuk tidak membukakan gerbang siapapun yang datang, namun kami tak ingin menyinggung nona Ziya jika melarang kalian masuk kedalam." ucap salah seorang prajurit yang berkata dengan jujur, mereka juga lebih menghormati Xiao Ziya daripada Kaisar Yan.


"Kalian tenang saja, kami pastikan kaisar tak akan berani menghukum kalian." ucap Xiao Yuza dengan amarah yang sangat membara, tatapan mata pria paruh baya itu menjadi sangat tajam.


Xiao Cunyu, Xiao Yuza, dan Xiao Ciyun masuk kedalam istana Kekaisaran Qiyu mereka berjalan menuju ruang kerja Kaisar Yan, namun saat membuka ruang kerja itu dengan paksa tak ada siapapun di sana.


"Kemana anak sialan itu pergi." ucap Xiao Cunyu yang sudah semakin kesal pada putranya sendiri, hari belum terlalu larut namun putranya itu sudah tak berada di ruang kerja lagi.


Akhirnya mereka bertiga keluar dari ruang kerja sang kaisar, Xiao Yuza bertanya pada seorang dayang istana yang kebetulan sedang lewat. Awalnya dayang itu tak ingin memberitaukan dimana Kaisar Yan berada namun karna ketiga ketua Klan Xiao itu terus memaksanya, dayang itupun mengatakan bahwa saat ini Kaisar Yan sedang berada di kamar Wi Xume.


Setelah mendengarkan perkataan sang dayang emosi Xiao Cunyu meledak, ia meminta dayang itu menunjukkan dimana kamar Wi Xume.

__ADS_1


"Gadis itu menempati kamar milik nona Ziya." jawab sang dayang dengan singkat.


"Trimakasih." ucap Xiao Ciyun yang mewakili kedua saudara laki lakinya.


Mereka bertiga bergegas pergi ke kamar Wi Xume, setelah sampai di sana tanpa basa basi Xiao Cunyu mendobrak pintu kamar hingga rusak. Sungguh pemandangan yang sangat menjijikan saat ini Wi Xume sedang berada di pangkuan Kaisar Yan dengan baju atas yang sudah terbuka.


"Dasar anak sialan." ucap Xiao Cunyu yang langsung berjalan ke arah Kaisar Yan, kemudian Xiao Cunyu menarik rambut putranya dan melempar keluar kamar.


Xiao Yuza dan Xiao Ciyun menatap tajam kearah gadis hina itu, sedangkan Kaisar Yan dan Wi Xume hanya diam mematung karna mereka tak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi.


Plak.


Satu tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kanan Wi Xume, sebuah jiplakan telapak tangan yang terlihat dengan jelas. Orang yang menampar Wi Xume adalah Xiao Yuza, ia merasa sangat malu melihat seorang gadis menjual dirinya sendiri agar segera dinikahi.


"Mengapa paman menampar saya, apa kesalahan saya pada anda." ucap Wi Xume yang memegangi pipinya, air mata gadis itu mengalir dengan deras. Sorot mata polosnya tak bisa menipu Xiao Yuza yang pernah menjadi pemeran antagonis itu.


Plak, plak, plak.


Tiga tamparan mendarat di pipi kanan dan pipi kiri Wi Xume. Tentu saja gadis itu sangat terkejut. Kaisar Yan tak tega melihat kekasihnya yang diperlakukan dengan kasar seperti itu ia ingin membantu Wi Xume namun tangan sang ayah menahannya.


"Ayah tak pernah mengajarimu untuk menjadi pria berengsek seperti ini." ucap Xiao Cunyu yang mengeluarkan sebuah cambuk dari balik jubahnya. Ia meminta beberapa prajurit untuk membawa Kaisar Yan ke aula utama dan merantainya di sana. Karna Kaisar Yan terus memberontak akhirnya beberapa jenderal termasuk jenderal Zue ikut turun tangan.


Saat ini para petinggi Kekaisaran Qiyu sudah berkumpul di aula utama, Kaisar Yan diikat dengan rantai yang menempel di dinding sedangkan Wi Xume dimasukkan kedalam penjara bawah tanah.


"Mengapa ayah melakukan hal ini pada saya, martabat saya sebagai kaisar bisa hancur karna ayah!." ucap Xiao Yan, ia sedang meneriaki ayahnya sendiri karna diperlakukan dengan buruk.


"Saya malu karna sudah menbesarkan anak sepertimu, yang membuat martabat, wibawa, dan harga dirimu hancur adalah tingkah lakumu sendiri." ucap Xiao Cunyu yang sangat kecewa pada putra pertamanya itu.


"Semua yang kau dapatkan ini apakah hasil kerja kerasmu sendiri?." ucap Xiao Ciyun yang sudah tak bisa bersabar dengan kebodohan keponakannya itu.


"Argh jangan bilang kalian melakukan semua ini hanya karna Xiao Ziya saja." ucap Xiao Yan yang merasa kesal karna gadis menyebalkan itu ia diperlakukan dengan sangat buruk.


Xiao Cunyu tak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Xiao Yan, ia mencambuk putranya itu dengan sebanyak dua puluh kali. Setelah mencambuki putranya ia meminta Jenderal Zue untuk melanjutkan hukuman itu, Kaisar Yan mendapatkan hukuman sebanyak seratus kali cambukan.


"Ampuni saya ayah, ini sungguh menyakitkan." ucap Xiao Yan yang merasa perih di sekujur tubuhnya.


Sedangkan ditempat lain Xiao Ziya masih berjalan menyusuri gunung merah itu, saat gadis itu sedang berjalan kesana kemari muncul sekelompok ular cobra di hadapan Xiao Ziya. Untung saja mata gadis itu sangat tajam dan dapat menembus kabut tebal.


"Gunung merah ini sungguh menyebalkan." ucap Xiao Ziya yang menyadari kehadiran ular cobra itu.


Xiao Ziya mengambil sebuah pedang putih dengan cahaya yang sangat terang, gadis itu mulai menyingkirkan ular ular cobra yang menghalangi jalannya. Dalam waktu yang sangat singkat semua ular cobraitu mati di tangan Xiao Ziya karna tak ingin menyia nyiakan racun sang ular cobra, Xiao Ziya mengumpulkan dan menyimpannya kedalam cincin semesta.


"Baiklah jangan ada yang menghalagi jalanku, jika tidak saya akan membunuh kalian." ucap Xiao Ziya yang sudah sangat kesal dengan berbagai macam hewan dan monster yang muncul di gunung merah itu. Entah hewan dan monster itu mengerti perkataan Ziya tak ada lagi yang berani menghalangi jalannya menuju puncak.


Di sisi lain saat ini tubuh Kaisar Yan penuh dengan bekas cambukan bahkan darah mulai bercucuran, karna tak kuat menahan sakit Kaisar Yan pingsan.

__ADS_1


"Bawa Kaisar Yan ke kamarnya dan panggil tabib istana untuk mengobati luka sang kaisar, sedangkan gadis bersama Wi Xume itu jangan pernah kalian keluarkan dari penjara tanpa izin dari putriku." ucap Xiao Cunyu yang memberikan perintah pada anggota Kekaisaran Qiyu. Setelah menyelesaikan urusannya di istana ketiga ketua Klan Xiao bergegas kembali ke Klan Xiao.


Hai hai guys gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya, jangan lupa untuk menjaga kesehatan kalian. Jangan lupa follow ya buat yang belum, vote ya guys, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share ya guys.


__ADS_2