
Xiao Ziya melangkah masuk kedalam wilayah Kerajaan Ming Tuo, gadis itu menyusuri sebuah desa yang ada di dekat perbatasan. Saat Xiao Ziya sedang berjalan jalan di sebuah pasar yang ada di desa itu ia melihat seorang suami istri yang sedang dipukuli oleh sekelompok orang, dari yang Xiao Ziya dengar sepertinya pasangan suami istri itu tak dapat membayar sewa kedai dalam beberapa bulan terakhir. Tadinya Xiao Ziya tak ingin ikut campur dalam masalah orang lain meski ia merasa kasihan, bagaimanapun juga uang sewa memang harus tetap di bayar sebagai bentuk tanggung jawab dari pasangan suami istri itu.
"Kami sudah mengumpulkan uang dan akan dibayarkan pada Tuan namun beberapa hari yang lalu anak kemi sakit parah. Uang yang seharusnya digunakan untuk membayar sewa terpaksa kami pakai untuk membawanya ke tabib. Semalam anak kami meninggal, pagi ini kami tetap berjualan agar mendapat uang dan bisa membayar sewa kedai." ucap pria paruh baya itu dengan mata berkaca kaca, seharusnya saat ini mereka masih berada di rumah untuk mengenang kepergian sang anak akan tetapi karna biyaya sewa kedai sudah jatuh tempo merekapun harus bekerja lebih keras dari biasanya.
"Saya tak ingin mendengar alasan apapun dari kalian, uang sewa tetap harus dibayar hari ini juga. Jika tidak silahkan pergi dari kedai ini!." bentak pria itu pada si pria paruh baya.
Xiao Ziya membalikkan badan dan berjalan ke arah pasangan suami istri itu, ia akan membantu mereka kali ini saja karna mereka memang sudah mengumpulkan uang untuk membayar namun harus terpakai untuk keperluan lain. Kedatangan Xiao Ziya membuat pria pemilik kedai menatapnya dengan tatapan sinis, ia tak suka jika orang asing ikut campur dalam urusan bisnisnya.
"Berapa yang belum mereka bayarkan pada Anda?." tanya Xiao Ziya dengan nada dingin.
"Dua ribu tiga ratus koin emas, mereka sudah menunggak selama empat bulan." jawab pria pemilik kedai dengan tatapan sinis.
Xiao Ziya mengambil sejumlah koin emas yang disebutkan oleh pria itu kemudian memberikannya secara langsung, pasangan suami istri yang ada di belakang Ziya saling bertatapan satu sama lain. Mereka berdua tak mengenal siapa Nona Muda yang ada di depan mereka, lalu mengapa Nona Muda itu rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk orang asing seperti mereka berdua?.
"Kalian beruntung karna ada Nona ini yang bersedia membayarkan uang sewa, jika tidak kalian akan saya pukul hingga babak belur." ucap pria pemilik kedai yang langsung pergi begitu saja setelah mendapat uang yang ia inginkan. Xiao Ziya ingin pergi dari sana karna perjalanan yang ia tempuh masih cukup lama, tentu gadis itu tak ingin membuang waktunya dengan sia sia.
"Bagaimana cara kami membayar hutang pada Anda?." triak sang istri dari pasangan tersebut.
"Saya hanya ingin membantu, lain kali kalian harus bekerja lebih giat lagi. Jangan pernah bergantung pada belas kasih orang lain karna tak setiap orang akan peduli dengan nasib orang lain." jawab Xiao Ziya yang terus melangkah menjauh dari kedai itu. Pasangan suami istri itu membungkukkan badan mengarah pada jalan yang dilalui oleh Xiao Ziya, gadis itu benar mereka memang sengaja menarik simpati orang lain agar mendapat bantuan untuk membayar sewa kedai itu.
Hari sudah mulai siang dan gadis itu sudah sampai di pusat kota, Xiao Ziya membeli beberapa makanan ringan untuk mengisi perutnya yang lapar. Xiao Ziya berjalan jalan dengan raut wajah bahagia, gadis itu ingin menghilang sedikit rasa penat yang menyelimuti tubuhnya, masalah yang terjadi akhir akhir ini sangat menguras emosi dan tenaga gadis itu. Saat Xiao Ziya sedang memakan beberapa kue kacang kering, tiba tiba ada seorang gadis yang berlari ke arahnya dan ingin memeluk Ziya. Untunglah dengan cepat Xiao Ziya menghindari gadis gila itu, setelah dilihat lebih dekat lagi ternyata ia adalah Yangrang.
"Jangan terlalu dekat dengan saya karna saya tak ingin menjalin hubungan dekat dengan Nona Yangrang." ucap Xiao Ziya dengan ekspresi datar, meski gadis itu tak memiliki niat jahat padanya namun terbersit fikiran untuk memanfaatkan Xiao Ziya di otak Yangrang.
"Mengapa Nona Ziya selalu menjauhi saya? apakah saya berbuat kesalahan pada Anda?." tanya Yangrang dengan ekspresi sedih, gadis itu mengencangkan sedikit suaranya agar di dengar oleh orang lain yang sedang berlalu lalang di sekitar mereka.
Xiao Ziya hanya menatap datar ke arah Yangrang, apapun yang gadis itu lakukan ia tak akan pernah mau untuk menjalani hubungan pertemanan atau semacamnya. Entah drama macam apa yang ingin dilakukan oleh gadis itu sehingga ia menangis dengan kencang di hadapan Xiao Ziya, beberapa pejalan kaki menatap ke arah Ziya dengan tatapan sinis bahkan diantara mereka tak segan membicarakan gadis itu secara langsung.
"Yah jangan salahkan saya jika nanti Kerajaan Ming Tuo tinggal nama saja." itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Xiao Ziya sebagai respon dari ulah Yangrang.
Muncul beberapa prajurit Kerajaan Ming Tuo yang langsung berdiri membelakangi Xiao Ziya dan mengarahkan pedang mereka pada Yangrang, Xiao Ziya tau jika sejak masuk ke dalam wilayah itu ada beberapa prajurit yang mengawalnya secara diam diam. Yangrang sangat terkejut karna prajurit Kerajaan Ming Tuo lebih membela gadis asing seperti Xiao Ziya daripada dirinya yang telah mempertahankan nyawa untuk mengambil lukisan Dewa Hiloz pada seorang seniman yang tinggal di sekitar hutan jati.
"Nona Xiao Ziya adalah tamu kehormatan bagi kami, jangan sekali kali Nona Yangrang merencanakan hal buruk padanya." ucap para prajurit itu secara bersamaan.
__ADS_1
"Saya baik baik saja, kalian tak perlu berlebihan seperti ini. Lihatlah wajah pucat dari Nona Yangrang, bagaimana jika ia pingsan nantinya?." tegur Xiao Ziya pada para prajurit Kerajaan Ming Tuo yang sedang melindunginya itu. Akhirnya para prajurit menurunkan senjata mereka, perintah dari Xiao Ziya mereka anggap seperti perintah Raja Ming Gu.
"Saya akan melaporkan apa yang telah kalian lakukan pada Yang Mulia Raja." ucap Yangrang dengan ekspresi wajah kesal kemudian pergi meninggalkan Xiao Ziya beserta para prajurit itu. Bukannya khawatir jika nanti mereka akan di pecat, para prajurit yang melindungi Xiao Ziya langsung berbalik badan dan melihat bagaimana kondisi Nona Muda yang menjadi panutan mereka itu.
"Syukurlah Nona Ziya baik baik saja, Nona Yangrang memang sering membuat masalah pada pendatang baru di Kerajaan Ming Tuo." ucap salah seorang prajurit dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Bagaimana jika kalian kehilangan pekerjaan karna saya?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung, keluarga mereka masih membutuhkan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika pria yang berperan sebagai kepala keluarga kehilangan pekerjaan maka mereka akan menjalani kehidupan serba kekurangan.
"Jika itu terjadi maka kami akan pergi ke Kerajaan Bulan untuk bergabung dengan Anda di sana." jawab para prajurit itu tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.
"Biar saya yang berbicara dengan Raja kalian, akan saya pastikan tak ada seorangpun yang kehilangan pekerjaan." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah serius, gadis itu meminta para prajurit yang sedari tadi mengikutinya secara diam diam untuk kembali ke tempat mereka bertugas. Menjaga keamanan wilayah perbatasan Kerajaan Ming Tuo adalah tugas utama mereka, dan tugas itu tak boleh ditinggalkan begitu saja.
"Saya akan bangga pada kalian ketika kalian semua menjalankan pekerjaan dengan sepenuh hati, lakukan yang terbaik agar kabar kehebatan prajurit Kerajaan Ming Tuo sampai ke telinga penduduk Kerajaan Bulan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman manisnya.
"Baik kami akan bekerja dengan sepenuh hati, kami permisi Nona Besar Xiao Ziya." ucap segerombol prajurit perbatasan yang langsung bergegas kembali menuju tempat mereka bertugas.
Setelah kepergian para prajurit itu Xiao Ziya langsung melesat menuju Istana Kerajaan Ming Tuo, ia akan menjelaskan pada sang Raja apa yang telah terjadi hari ini dan mengapa para prajurit lebih melindunginya daripada Nona Yangrang. Saat ingin masuk kedalam istana, seperti biasa para prajurit penjaga gerbang meminta Xiao Ziya untuk menunjukkan token identitas miliknya. Dengan senang hati Xiao Ziya menyerahkan token identitas sebagai penguasa Kerajaan Bulan, seketika para prajurit penjaga gerbang masuk Istana Ming Tuo menyambutnya dengan baik.
"Silahkan masuk Nona Besar Xiao Ziya, maaf karna telah menyinggung perasaan Anda." ucap para prajurit penjaga gerbang, mereka membungkukkan kepala saat Xiao Ziya melintas masuk ke dalam istana. Setelah Xiao Ziya masuk ke dalam para prajurit itu bisa bernafas dengan sedikit lega, siapa yang tak mengenal pemimpin baru dari Kerajaan Bulan. Ia adalah gadis dengan paras tercantik yang pernah ada di Dunia Manusia Abadi, selain itu ia sangat kuat dan juga tangguh hingga bisa menghancurkan sebuah Klan dalam satu malam. Kabar mengenai betapa kuatnya sekutu Xiao Ziya juga sudah tersebar di wilayah Kerajaan Ming Tuo hingga sang raja mengeluarkan sebuah perintah agar tak pernah menyinggung gadis itu dengan sengaja.
"Permisi, dimana saya bisa bertemu dengan Raja Ming Gu?." tanya Xiao Ziya dengan nada bicara lembut.
"Saat ini Yang Mulia Raja Ming Gu sedang berada di ruang tengah bersama kedua putranya dan seorang tamu. Jika Anda ingin pergi ke sana maka saya akan mengantar Anda." jawab pelayan itu dengan sangat sopan, gadis yang ada di hadapannya itu tampak seperti anak seorang bangsawan karna pakaian yang digunakan terbuat dari kain sutra kualitas tinggi ditambah beberapa permata kecil yang menghiasi bagian pinggangnya.
"Terimakasih atas bantuannya." ucap Xiao Ziya yang mengikuti pelayan itu dari belakang, ia melihat interior dari Istana Kerajaan Ming Tuo. Entah mengapa Xiao Ziya merasa bahwa ia pernah melihat bangunan yang hampir sama dengan Istana Kerajaan Ming Tuo.
Di sisi lain Yangrang sudah bersama dengan Yang Mulia Raja Gu dan kedua putranya untuk melaporkan hal yang terjadi padanya tadi, Yangrang mengatakan bahwa ia sangat tersinggung dengan perilaku para prajurit penjaga perbatasan yang lebih melindungi orang asing daripada ia yang merupakan anak salah seorang bangsawan di wilayah Kerajaan Ming Tuo.
"Sepertinya ayah harus memecat mereka." ucap Pangeran Yanzi dengan tatapan khawatir seolah olah ia tak ingin hal seperti itu terulang kembali.
"Kita juga harus mendengar alasan dari para prajurit mengapa mereka sampai melakukan hal seperti itu. Kita juga belum tau identitas dari orang yang mereka lindungi." ucap Putra Mahkota Ming Zu, pemuda itu memiliki pemikiran yang lebih jernih dari Pangeran Yanzi.
"Jangan mengambil keputusan secara sepihak, saya akan meminta beberapa prajurit perbatasan itu untuk datang dan menjelaskan alasan mereka." jawab Raja Ming Gu yang lebih setuju dengan usulan dari Putra Mahkota.
__ADS_1
"Saya akan meminta ayah untuk menindaklanjuti masalah ini, jika saya tak mendapat keadilan dari pihak kerajaan biarlah keluarga saya yang melakukannya sendiri." ucap Yangrang dengan tatapan sinis, ia sangat membenci kejadian memalukan hari ini. Yangrang juga merasa kesal atas respon Yang Mulia Raja Ming Gu dan Putra Mahkota Ming Zu, seharusnya mereka berdua satu pemikiran dengan Pangeran Yanzi.
Jika Xiao Ziya mengetahui isi kepala dari Yangrang mungkin gadis itu sudah menjual otak yang tak berfungsi itu. Bukankah orang yang ingin mencelakai Yangrang ketika berada di hutan jati adalah Pangeran Yanzi? tentu pemuda itu akan bersikap baik di hadapan Yangrang agar gadis itu melupakan kesalahan yang telah Pangeran Yanzi lakukan.
"Apa susahnya memecat beberapa prajurit dan menggantikannya dengan prajurit baru, akan sangat merepotkan jika ayah gadis ini turun tangan secara langsung." desak Pangeran Yanzi pada ayah serta kakak laki kakinya itu. Ayah dari Yangrang terkenal dengan kekejamannya, ia juga tak akan mentolerir siapapun yang berani menyakiti putri tunggalnya itu. Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah di tutupnya akses jalan pintas menuju yang selalu dilalui untuk menghindari Hutan Pasir Hitam karna jalan itu milik ayah Yangrang secara pribadi.
"Sebagai seorang Raja, saya harus bersikap dengan adil pada siapapun." jawab Raja Ming Gu yang tak ingin merubah keputusannya.
Tiba tiba saja pintu ruang tengah terbuka tanpa ada izin dari seorang prajurit pada Raja Ming Gu, setelah beberapa saat muncul seorang gadis cantik yang menarik perhatian Putra Mahkota Ming Zu serta Pangeran Yanzi. Mereka berdua menatap Xiao Ziya dengan tatapan terpesona sedangkan Yangrang meremas telapak tangannya dengan kencang karna rencananya akan gagal jika gadis itu berhasil mempengaruhi Raja Ming Gu dan kedua putranya.
"Maaf menggangu pembicaraan kalian, saya adalah orang yang dilindungi oleh para prajurit penjaga perbatasan." ucap Xiao Ziya dengan tegas dan sorot mata tajam.
Raja Ming Gu menelan ludahnya dengan kasar, ia merasakan aura yang sangat kuat dari gadis muda itu. Entah apa alasan para prajurit penjaga perbatasan lebih melindunginya daripada Nona Yangrang namun satu hal yang pasti, Raja Ming Gu merasa tindakan para prajurit itu adalah tindakan yang benar.
"Apakah benar Nona Yangrang?." tanya Raja Ming Gu pada Yangrang untuk memastikan kebenarannya.
"Iya benar, gadis itulah yang telah membuat saya merasa dipermalukan di depan banyak orang." ucap Yangrang dengan kemarahan yang meluap luap, sepertinya ia memang tak ditakdirkan menjadi teman Xiao Ziya melainkan menjadi musuh gadis itu.
"Saya tak meminta Anda untuk menangisi di hadapan banyak orang, sebelum para prajurit itu datang untuk membantu saya, bukankah Nona Yangrang sudah mempermalukan diri Anda sendiri?." tanya Xiao Ziya dengan senyum mengejek, berpura pura menjadi gadis lemah yang haus akan belas kasih orang lain adalah hal yang sangat memalukan. Jika Xiao Ziya adalah ibu Yangrang, maka gadis itu sudah ditendang keluar dari keluarganya.
"Anda sangat kasar pada saya, saya bukanlah gadis yang tangguh seperti Anda." jawab Yangrang dengan binar mata sedih, gadis itu memang suka membuang air matanya.
"Omong kosong apa yang sedang Anda katakan? siapa yang tak akan terkejut jika seseorang tiba tiba berlari ke arahnya dan ingin memeluk padahal kita bukan seorang teman. Apakah Anda tak diajari sopan santun dalam bermasyarakat?." ucap Xiao Ziya dengan tatapan malas, ia sangat ingin mencekik leher Yangrang hingga gadis itu berpindah alam.
"Bisakah Nona memperkenalkan diri terlebih dahulu." ucap Putra Mahkota Ming Zu yang ingin mengetahui identitas gadis cantik yang sedang berseteru dengan Yangrang.
"Ah maaf karna saya lupa memperkenalkan diri. Saya Xiao Ziya gadis biasa yang datang dari Dunia Bawah saat ini saya menjadi pemimpin Kerajaan Bulan." jawab Xiao Ziya dengan senyuman ramah namun keta katanya membuat Yang Mulia Ming Gu, Putra Mahkota Ming Zu, dan Pangeran Yanzi ingin pingsan di tempat. Ternyata gadis itu adalah gadis yang tengah hangat diperbincangkan oleh banyak orang karna kekuatan yang ia miliki. Pantas saja para prajurit penjaga gerbang sampai rela melindunginya, Raja Ming Gu rasa tindakan para prajurit itu sesuatu yang harus diapresiasikan.
"Selamat datang di Kerajaan Ming Tuo Nona Besar Xiao Ziya, kami senang karna Anda menyempatkan diri untuk mampir ke sini." ucap Raja Ming Gu dan Putra Mahkota Ming Zu secara bersamaan, mereka berdua menundukkan kepala di hadapan Xiao Ziya.
"Terimakasih atas sambutan baiknya, saya datang ke istana untuk meminta secara pribadi pada Yang Mulia Raja Ming Gu agar tak memecat para prajurit itu." ucap Xiao Ziya secara terang terangan pada sang raja.
"Jika Yang Mulia Raja menuruti permintaan gadis itu maka saya akan meminta ayah untuk menutup jalan pintas yang biasa kalian lewati." ancam Yangrang dengan nada serius, jika jalan itu di tutup maka Kerajaan Ming Tuo taj bisa melakukan perjalanan menuju ke selatan. Wilayah bagian selatan adalah pemasok kain, bahan makanan seperti daging, rempah rempah serta beberapa keperluan yang lainnya.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Maaf karna kemarin author libur satu hati ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.