RATU IBLIS

RATU IBLIS
Kedua Tuan Muda


__ADS_3

Xiao Ziya berjalan menuruni gunung es itu diikuti Ying Junha dan sepuluh bawahannya, Ziya berjalan menuju titik dimana ia bertemu dengan para beruang salju yang sempat menghadang nya bersama dengan kepala desa dan Lunx. Ziya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan para beruang salju dan kedua rekannya itu, setelah cukup lama mencari akhirnya para beruang salju itu muncul.


"Nona sudah kembali." ucap Lunx dengan ekspresi cerita, ia berlari dan langsung memposisikan diri di belakang Xiao Ziya tanpa mempedulikan Ying Junha dan bawahan pemuda itu.


"Syukurlah Anda kembali dengan selamat." ucap Tuan Elzi dengan senyuman lebar, ia tak tau apa yang harus dilakukan jika sesuatu terjadi pada Nona Muda Xiao Ziya.


"Terimakasih telah menjaga Lunx dan juga Kepala Desa." ucap Xiao Ziya pada para beruang salju yang masih menatap lekat ke arahnya itu. Xiao Ziya mengeluarkan ratusan ikan seger dari cincin semesta miliknya, ia memberikan semua ikan ikan itu pada kelompok beruang salju.


"Ini sebagai tanda terimakasih saya pada kalian semua, tolong diterima meski tak seberapa." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tulus di bibir mungilnya itu.


Para beruang salju mengambil ikan ikan segar yang berserakan, mereka membungkukkan badan di hadapan Xiao Ziya. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa menikmati ikan segar juga, karana wilayah Desa Elnz dilapis oleh es yang sangat tebal para beruang salju itu kesulitan untuk mencari sungai ataupun sumber air lainnya. Setelah selesai berterimakasih pada Xiao Ziya, para beruang salju membalikkan badan dan kembali ke sarang mereka untuk menikmati ikan segar itu.


"Mari kita kembali sekarang, fajar hampir tiba dan kita semua belum beristirahat." ucap Tuan Elzi, ia menjadi pemandu jalan yang berjalan di barisan paling depan rombongan itu.


Di sisi lain saat ini Yie Gu dan Yie Weinje masih bertahan di hutan perbatasan antara wilayah Klan Yie dengan Kerajaan Bulan, mereka masih memikirkan sebuah cara untuk membawa paksa Yie Munha kembali ke Klan Yie tanpa diketahui oleh Ratu Min Xunzi, Raja Min Lunxi, ataupun kedua putra mereka.


"Bagaimana jika kita menyusup masuk ke dalam." ucap Yie Weinje secara spontan, mereka tak bisa menunggu lebih lama lagi karna sang penguasa Agung akan sangat marah.


"Gerbang bagian utara dan bagian selatan di jaga dengan ketat, haruskah kita melewati gerbang samping?." tanya Yie Gu dengan tatapan bingung, meski saat ini jumlah prajurit Kerajaan Bulan tak sebanyak dulu namun masih cukup untuk menjaga keamanan wilayah mereka.


"Mari kita coba melewati dinding di bagian timur, lebih baik kita melakukan sesuatu daripada hanya berdiam diri di hutan ini." jawab Yie Munha dengan tatapan penuh dengan ambisi. Rencana yang telah dibuat olehnya dan sang suami tak boleh gagal hanya karna mereka tak sanggup membawa Yie Munha sebagai persembahan terakhir untuk Penguasa Agung.


"Mari kita pergi sekarang." ucap Yie Gu yang langsung melesat menuju dinding bagian timur wilayah perbatasan Kerajaan Bulan di susul Yie Weinje di belakangnya.


Setelah sampai di dinding perbatasan bagian timur Kerajaan Bulan, Yie Gu melihat ke sekitar untuk memastikan apakah situasi sudah aman. Setelah dirasa tak ada prajurit ataupun orang yang berlalu lalang di sana Yie Gu menggunakan energi qi miliknya untuk melompat dengan tinggi begitupun dengan Yie Weinje. Pasangan suami istri itu berhasil sampai di atas dinding yang sangat tinggi kemudian mereka turun ke bawah dengan cara melompat.


"Ternyata penjagaan di bagian lain sangatlah lengah, sebaiknya kita pergi ke Istana Kerajaan Bulan sekarang juga." ucap Yie Gu.


Keduanya melesat dengan kecepatan maksimal yang mereka miliki, beberapa penduduk yang masih menjalankan aktivitas mereka harus berhenti secara mendadak karena ada yang menabrak tubuh mereka hingg terjatuh. Setelah cukup lama melesat meninggalkan ilmu meringankan tubuh akhirnya Yie Gu dan Yie Weinje sudah sangat dekat dengan Istana Kerajaan Bulan. Keduanya mulai berjalan secara perlahan agar tak menimbulkan kecurigaan para prajurit yang sedang berpatroli di luar gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan.


"Jika kita berusaha mengalahkan prajurit sebanyak itu maka akan ada keributan yang terjadi. Kemungkinan terburuknya Min Xunzi dan Min Lunxi akan terbangun karena keributan itu." ucap Yie Gu yang sedang memikirkan sebuah cara bagaimana mereka masuk ke dalam istana tanpa harus melawan ataupun mengalahkan para prajurit itu.


"Apa kita tak bisa masuk menggunakan cara yang sama?." tanya Yie Weinje dengan ragu tagu.


"Dinding bagian atas sebuah Istana Kerajaan biasanya dijaga oleh beberapa prajurit yang ahli dalam menggunakan panah, sebaiknya kita mencari jalan lain." jawab Yie Gu penuh dengan pertimbangan.


Di saat Yie Gu dan Yie Weinje bingung memikirkan cara untuk masuk ke dalam Istana Kerajaan Bulan di sisi lain Xiao Ziya dan yang lainnya sudah sampai di penginapan milik Yunha. Xiao Ziya meminta pada pemilik penginapan untuk menyiapkan beberapa kamar untuk adik sepupunya dan kesepuluh bawahan sang adik. Dengan senang hati Yunha menyiapkan sebelas kamar sesuai dengan keinginan Xiao Ziya setelah selesai Xiao Ziya meminta pada sang adik dan bawahannya untuk beristirahat terlebih dahulu.

__ADS_1


"Apa Anda sudah bertemu dengan apa yang Anda cari?." tanya Tuan Elzi, pria itu ingin tau apakah cucu dari Nyonya Yie Linyia sudah menemukan pedang peninggalan dari neneknya.


"Saya sudah berbicara banyak pada nenek, ia berterimakasih pada penduduk Desa Elnz karna telah menerima dan merawatnya dengan baik. Nenek juga meminta maaf karna tak bisa bertahan di desa ini dan memilih untuk mengakhirinya dirinya. Nenek terpaksa melakukan hal itu karna ia tau sosok yang mengejarnya akan tau dimana tempat persembunyiannya." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman manis dan air mata yang menetas membasahi wajah cantik gadis itu.


Xiao Ziya tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya kehidupan sang nenek dalam pelarian selama ini, semua ini karna ulah Yie Gu dan Yie Weinje yang terlalu serakah atas kekuasaan Klan Yie. Setelah kembali dari Desa Elnz ini Xiao Ziya akan membalaskan dendam neneknya itu dan membuat mereka menderita.


Melihat Xiao Ziya menangis seperti itu membuat Ming Angli merasa sedih, wanita itu masuk ke dalam dapur mengambil segelas air putih dingin untuk dan ia berikan pada Xiao Ziya. Ziya menerima segelas air putih itu kemudian meminumnya hingga habis.


"Terimakasih bibi Ming Angli." ucap Xiao Ziya yang sudah merasa sedikit lebih lega.


"Saya mengerti bagaiman kesulitan yang dialami oleh Nyonya Yie Linyia, beliau hanya tak ingin penduduk Desa Elnz menderita karna berusaha menyembunyikan keberadaan Nyonya Yie Linyia." jawab Tuan Elzi dengan raut wajah sedih.


Tuan Elzi berpamitan pada Xiao Ziya karna ia harus kembali ke rumah sekarang juga, pria tua itu bergegas pergi dari penginapan menuju rumahnya. Di sisi lain saat ini dua orang pemuda sedang bersembunyi di sebuah pohon yang ada di dekat Penginapan Yunha, mereka terus memandang ke arah Xiao Ziya dengan tatapan kagum karna tak pernah pernah melihat gadis secantik itu sebelumnya.


"Paman saya pamit untuk beristirahat terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya pada pemilik penginapan itu kemudian ia naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.


"Anda tak berisitirahat Tuan Elf?." tanya Gunzo pada Lunx yang saat itu masih duduk diam di sebuah kuris yang ada di luar penginapannya.


"Saya harus menjaga nona Xiao Ziya dari para pemuda yang ada di desa ini." jawab Lunx dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada sebuah pohon yang ada di dekat penginapan itu.


Gunzo menatap bingung ke arah Lunx, apa yang membuat elf itu terlihat sangat serius menatap ke arah sebuah pohon. Karna penasaran dengan apa yang ada di atas pohon tersebut akhirnya Gunzo mengambil sebuah batu dan melemparnya ke atas pohon. Tuan Muda Denxi Mouzi dan Tuan Muda Esland Mouzi yang saat itu sedang bersembunyi di atas pohon terkejut karna ada sebuah batu yang mengenai kepala mereka berdua.


"Sebaiknya kita tetap berada di atas sini, mungkin salah satu orang yang ada di penginapan itu menyadari keberadaan kita berdua." ucap Tuan Muda Denxi Mouzi dengan sorot mata tajam. Jangan sampai nama baik Keluarga Mouzi hancur hanya karna mereka ketahuan mengintip seorang gadis yang sedang menginap di Penginapan Yunha.


Setelah memastikan tak ada apapun di atas pohon itu Gunzo langsung berbalik badan dan menatap ke arah Lunx yang masih belum berganti posisi itu.


"Tak ada apapun di atas sana Tuan Lunx." ucap Gunzo dengan tatapan bingung.


"Batu yang kau lempar terlalu kecil untuk menyakiti binatang sebesar mereka." jawab Lunx dengan santai, ia menyebut dua tuan muda dari Keluarga Mouzi dengan sebutan binatang.


Lunx berdiri dari tempatnya duduk ia melihat ke halaman penginapan itu untuk mencari batu besar, Lunx menemukan sebuah batu sebesar kepala manusia kemudian ia mengangkat batu itu dan melemparnya ke atas pohon. Setelah beberapa saat terdengar suara sesuatu yang jatuh dari pohon itu, Lunx dan Gunzo segera berlari mendekat dan melihat siapa sebenarnya kedua orang yang terjatuh. Gunzo membelalakkan matanya karna ia sangat mengenai kedua pemuda itu, ia juga merasa bingung mengapa dua tuan muda dari Keluarga Mouzi memata-matai Penginapan Yunha.


"Mengapa Tuan Muda Denxi dan Tuan Muda Esland berada di atas pohon? apakah kalian ingin memata-matai penginapan keluarga saya?." tanya Gunzo dengan tatapan tak suka, beberapa saat yang lalu ayah dari kedua pemuda itu membuat ayahnya babak belur, untunglah Nona Ziya segera menyelamatkan ayahnya.


"Mengapa kami harus memata-matai penginapan jelek ini." jawab Tuan Muda Esland Mouzi dengan tatapan datar, keuntungan apa yang akan mereka dapatkan jika memata-matai Penginapan Yunha.


"Lalu apa yang kalian lakukan di depan penginapan keluarga ku!." bentak Gunzo, meskipun kedua pemuda itu memiliki latar belakang yang cukup menakutkan bukan berati Gunzo tak berani memberi pelajaran pada mereka berdua. Saat sedang marah Gunzo teringat dengan kata kata Tuan Lunx, akhirnya ia mengetahui alasan kedua tuan muda dari Keluarga Mouzi berada di atas pohon yang sangat dekat dengan penginapannya.

__ADS_1


"Kalian sedang mengintip salah satu tamu kami? sungguh perbuatan yang sangat tercela!." ucap Gunzo dengan suara keras hingga beberapa penduduk yang tinggal di sekitar penginapan itu keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi


Denxi Mouzi dan Esland Mouzi saling bertatapan satu sama lain, mereka kebingungan karna banyak orang yang sedang menonton, jika perbuatan mereka sampai diketahui oleh orang banyak maka nama baik Keluarga Mouzi akan benar benar hancur. Kedua tuan muda itu sedang berfikir keras bagaimana cara mereka kabur dalam situasi yang tak menguntungkan itu.


"Mengapa kami harus mengintip tamu yang menginap di tempat mu. Kami berada di atas pohon sana untuk melihat matahari terbit." ucap Tuan Muda Denxi Mouzi dengan tatapan tak suka.


Penduduk Desa Elnz memang memiliki kebiasaan untuk melihat matahari terbit sembari naik di atas pohon yang cukup tinggi, alasan Tuan Muda Denxi mungkin bisa menyelamatkan keduanya dari masalah kali ini. Saat semua orang membenarkan perkataan Tuan Muda Denxi tiba tiba jendela kamar Xiao Ziya yang berhadapan langsung dengan pohon itu terbuka dengan lebar. Xiao Ziya melihat ke bawa dan menyapa semua orang yang sedang berkerumun itu.


"Selamat pagi semua, apa yang sedang kalian lakukan di sana?." tanya Xiao Ziya dengan senyuman cantik serta wajah polos seperti ia tak mengetahui apapun yang sedang terjadi.


Semua orang yang tadinya saling beradu argumen tentang alasan mengapa dua tuan muda dari Keluarga Mouzi berada di atas pohon langsung menatap ke arah gadis cantik yang sedang menyapa mereka. Beberapa orang juga sadar bahwa ketinggian batang pohon itu sejajar dengan jendela tempat gadis cantik itu menginap.


"Jadi benar kalian berdua mengintip tamu yang sedang menginap di Penginapan Yunha!." ucap salah seorang pria paruh baya dengan wajah memerah karena ia sangat tak suka dengan tindakan kedua tuan muda itu.


"Tidak paman kami hanya ingin melihat matahari terbit saja." ucap Esland Mouzi, pemuda itu terus berusaha untuk mengelak.


"Matahari terbit? bukankah pohon itu menghadap ke arah selatan dan utara? sejak kapan matahari terbit dari utara." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah bingung.


"Argh kami tak mungkin mengintip gadis seperti." bentak Denxi Mouzi pada Xiao Ziya dengan raut wajah marah, ia sangat kesal karna gadis itu memberitahukan kemana arah pohon tersebut padahal para penduduk tak menyadarinya.


"Jika saya yang memergokinya aksi kalian itu mungkin kedua bola mata kalian sudah melompat keluar dari tempatnya." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata tajam dan aura membunuh yang meluap luap dari tubuh gadis itu. Seketika Denxi Mouzi dan Esland Mouzi tak dapat menggerakkan tubuh mereka.


Xiao Ziya loncat dari jenderal kamarnya hingga membuat semua orang yang melihat hal itu menjerit karna takut nona muda itu akan terluka, untunglah Ziya mendarat dengan sempurna. Gadis itu dengan segera berjalan mendekat ke arah dua tuan muda dari Keluarga Mouzi, ia menatap mata mereka kemudian tersenyum penuh arti. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengungkap kebusukan yang telah dilakukan oleh Keluarga Mouzi selama ini, semua penduduk Desa Elnz harus tau darimana mereka mendapat pasokan bahan pokok dan sayuran segar.


"Bawa kedua pemuda ini kembali ke rumahnya, biarkan orang tua mereka tau apa yang telah dilakukan oleh anak mereka." triak Xiao Ziya penuh dengan semangat, gadis itu sedang mengompori para penduduk yang terlanjur marah pada kedua tuan muda itu.


Akhirnya Tuan Muda Denxi Mouzi dan Tuan Muda Esland Mouzi diarak menuju kediaman Keluarga Mouzi oleh penduduk setempat, keduanya menjadi tontonan penduduk lain yang baru saja memulai aktivitas mereka di pagi hari. Di barisan paling belakang ada Xiao Ziya, Lunx, dan Gunzo mereka bertiga menunjukkan ekspresi sedih seperti orang yang teraniaya dalam kejadian itu.


Sepasang suami istri berlari dan menghampiri Xiao Ziya yang berjalan sembari menangis di barisan paling belakang arak arakan itu, mereka adalah Yuzeng dan Jinglia yang sempat dibantu oleh Xiao Ziya.


"Apa yang terjadi padamu Nona Xiao Ziya." ucap Jinglia sembari memeluk Xiao Ziya untuk menenangkan gadis cantik itu. Ia ingin tau apa yang telah terjadi hingga membuat beberapa penduduk Desa Elnz sangat marah.


"Kedua Tuan Muda dari Keluarga Mouzi ingin mengintip Nona Ziya yang sedang tidur di kamarnya." jawab Gunzo dengan nada kesal, ia sangat ingin memukul kedua tuan muda itu hingga babak belur.


"Kurang ajar!." ucap Yuzeng sembari meninggikan suaranya, ia ingin maju ke barisan paling depan dan memberi pelajaran pada Denxi Mouzi dan Esland Mouzi namun ditahan oleh sang istri.


"Tenangkan suamiku jangan membuat Nona Ziya ketakutan." ucap Jinglia.

__ADS_1


Di sisi lain Lunx merasa bingung, ia tak tau rencana seperti apa yang sedang dibuat oleh nona mudanya itu. Jika nona mudanya ingin menghancurkan Keluarga Mouzi maka nona mudanya sanggup melakukan hal itu sendirian tanpa bantuan siapapun, namun kali ini sang nona muda berpura pura menjadi gadis lemah dan membutuhkan bantuan penduduk Desa Elnz untuk mendapat keadilan atas namanya. Sepertinya akan ada masalah besar yang akan menimpa Keluarga Mouzi karna mereka dengan berani menantang Nona Muda Xiao Ziya.


Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.


__ADS_2