
Saat ini Xiao Ziya sudah ada di hadapan Kepala Akademi Wunyeng, gadis itu menatap dengan tajam ke arah Kepala Akademi Wunyeng dan kedua ular piton miliknya. Setelahnya Xiao Ziya turun dari punggung Wilre dan berjalan mendekati sang kepala akademi, mata biru cerah milik pria itu sungguh menarik perhatiannya entah mengapa Xiao Ziya merasa pernah melihat mata yang sama seperti itu.
"Siapa kau sebenarnya?." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang penasaran siapa gadis yang ada di hadapannya itu di usianya yang begitu muda ia bisa memiliki piton salju yang sudah berevolusi dengan sempurna.
"Saya hanyalah gadis biasa, nama saya Xiao Ziya." ucap Xiao Ziya yang memperkenalkan dirinya secara singkat tanpa menjelaskan siapa ia sebenarnya dan dimana ia tinggal karna menurutnya pria itu hanya menanyakan namanya saja.
"Perkenalkan saya Welinzo Kepala Akademi Wunyeng." ucap pria itu yang juga memperkenalkan dirinya.
Welinzo menatap ke arah Wilre dengan penuh ketertarikan sepertinya pria itu ingin memiliki piton salju milik Xiao Ziya. Setelah melihat Wilre dari kepala hingga ekornya Kepala Akademi Wunyeng berbaik melihat kearah Xiao Ziya.
"Darimana kau mendapatkan piton salju yang sangat luar biasa ini." ucap Kepala Akademi Wunyeng, ia ingin memegang tubuh piton salju milik Xiao Ziya namun dengan cepat Wilre menghiar. Pinton salju itu tak suka disentuh oleh sembarangan orang yang bisa menyentuhnya hanyalah Xiao Ziya.
"Anda tertarik dengan Wilre? maaf saya tak akan memberikannya pada anda." ucap Xiao Ziya yang mengerti arah dari pembicaraan itu. Xiao Ziya tak suka jika apapun yang sudah menjadi miliknya diambil ataupun direbut oleh orang lain.
"Ah ternyata kau gadis yang pintar bisa mengerti dengan cepat apa yang aku inginkan." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang kini mendekat ke arah Xiao Ziya mata birunya itu mengeluarkan sinar cahaya. Ternyata pria itu ingin membekukan Xiao Ziya dengan sorot mata biru cerahnya.
Tubuh Xiao Ziya tiba tiba membeku dan sangat dingin, Welinzo menatap gadis itu penuh dengan rasa kemenangan dengan kondisinya yang seperti ini tentu saja ia bisa memaksa gadis bernama Xiao Ziya itu untuk memberikan piton salju miliknya jika tidak nyawanya akan terancam.
"Sebaiknya kau berikan piton salju itu padaku jika tidak nyawamu akan melayang." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang ingin memojokkan Xiao Ziya.
Walaupun tubuhnya sudah membeku dengan suhu yang sangat dingin di sekelilingnya namun Xiao Ziya masih sangat tenang seperti tak terjadi apapun pada dirinya. Mata Xiao Ziya tiba tiba berubah menjadi merah, kobaran api hitam dan merah keluar dari tubuh gadis itu dan berhasil melelehkan es yang membelenggu tubuhnya.
"Es mu ini bukan apa apa untukku, bagaimana bisa saya kalah dengan elemen es yang sangat lemah padahal saya sudah pernah merasakan sakitnya terkena racun es abadi." ucap Xiao Ziya dengan senyum iblisnya ditambah lensa matanya yang berwarna merah membuat gadis itu terlihat semakin menyeramkan.
Melihat mata merah milik Xiao Ziya membuat tubuh Welinzo gemetaran entah mengapa elemen es yang membungkus dantiannya seolah olah mencair dan membuatnya menjadi lemah hingga terduduk di lantai. Xiao Ziya yang melihat hal itu hanya tersenyum saja.
"Jika kau lemah seperti ini jangan pernah menatap saya dengan tajam seperti tadi." ucap Xiao Ziya dengan nada dinginnya.
Saat Xiao Ziya ingin pergi dari sana tiba tiba sebuah angin kencang menerjang balkon itu, Welinzo terpental hingga masuk kedalam ruang kerjanya begitupun kedua piton milik pria itu sedangkan Xiao Ziya dan Wilre masih ada di tempat mereka semula tanpa tergeser sedikitpun.
"Ternyata ada bantuan yang datang." ucap Xiao Ziya yang dapat melihat dari kejauhan ada seorang pria tua dengan angin tornado kecilnya sedang menuju kebalkon.
Setelah beberapa saat akhirnya pria tua yang Xiao Ziya lihat sebelumnya sudah ada di hadapannya, pria tua itu menatap kearah Xiao Ziya penuh dengan rasa penasaran. Dari ujung rambut hingga ujung kaki sangat jelas jika gadis yang ada di hadapannya itu bukanlah penduduk asli wilayah Kerajaan Hitam.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan di akademi ini." ucap pria tua itu yang ternyata adalah Pemimpin Akademi Wunyeng, ia memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Kepala Akademi.
"Saya datang hanya untuk berkeliling saja." ucap Xiao Ziya yang menjawab dengan jujur karna niatnya dari awal memang hanya ingin melihat lihat kondisi di dalam Akademi Wunyeng. Namun tiba tiba saja kepala akademi menatap kearahnya dengan tatapan yang tak bersahabat.
"Mengapa kau melukai kepala akademi?." ucap pemimpin akademi yang melihat kearah Welinzo yang sedang tersungkur di ruang kerjanya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pria tua itu membuat Xiao Ziya keheranan, ia tak melakukan apapun pada Kepala Akademi Wunyeng.
"Kepala akademi bisa seperti itu setelah anda datang dengan angin kencang yang membuatnya terlental kedalam ruang kerja." ucap Xiao Ziya dengan wajahnya yang sedikit kesal. Dengan cepat pemimpin akademi menepuk jidatnya ia baru ingat jika kepala akademi jauh ada di bawah dalam tingkatan kultivasi.
"Lalu bagaimana kau masih bisa berdiri tegak disini?." ucap pemimpin akademi yang tak merasakan aura apapun karna saat itu mata Xiao Ziya sudah kembali seperti semula.
"Entahlah anda bisa menebaknya nanti." ucap Xiao Ziya yang langsung melompat ke punggung Wilre kemudian meminta pada piton salju miliknya untuk mengantar ke Istana Kerajaan Hitam.
Pemimpin Akademi Wunyeng menatap kepergian Xiao Ziya penuh dengan rasa penasaran, setelah itu ia masuk kedalam ruang kerja kepala akademi untuk membantunya berdiri.
"Apa yang kau lakukan pada gadis itu?." tanya pemimpin akademi kepada kepala akademi.
"Saya tak melakukan apapun padanya." ucap kepala akademi yang tak ingin mengakui kesalahan yang telah ia lakukan.
"Wilre apakah saya pernah bertemu dengan seseorang yang memiliki sorot mata yang sama dengan kepala akademi tadi?." ucap Xiao Ziya yang mencoba untuk bertanya pada piton salju miliknya siapa tau Wilre bisa mengingatnya.
"Seingat saya baru kali ini saya melihat sorot mata biru cerah seperti itu." jawab Wilre karna ini juga kali pertama baginya melihat sorot mata biru cerah.
Xiao Ziya berusaha mengusir rasa penasarannya pada mata Kepala Akademi Wunyeng, kali ini Xiao Ziya ingin segera menemukan sekte yang terlibat dalam pembakaran penduduk desa yang menyebabkan ratusan nyawa tak berdosa melayang begitu saja. Jika tebakan Xiao Ziya benar maka sekte itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk, jika tidak mereka tak akan melakukan perjanjiaan dengan iblis ataupun roh jahat.
Setelah beberapa saat akhirnya Xiao Ziya dan Wilre sampai di gerbang masuk Istana Kerajaan Hitam. Melihat seekor piton putih dengan ukuran yang besar seta sepasang sayap yang cukup lebar membuat para penjaga gerbang ketakutan. Dengan segera Xiao Ziya turun dari punggung Wilre dan meminta pada piton saljunya itu untuk masuk kembali kedalam cincin semesta miliknya.
"Trimakasih telah mengantarku Wilre, kau bisa kembali sekarang." ucap Xiao Ziya dengan nada lembut dan hangat. Wilrepun masuk kembali kedalam cincin semesta milik Xiao Ziya. Setelah itu Xiao Ziya melangkah masuk mendekati penjaga gerbang masuk yang masih gemetaran.
"Kalian tak perlu takut semua pengikutku tak akan menyakiti siapapun selama kalian tak membuat masalah denganku." ucap Xiao Ziya dengan nada tenangnya kemudian gadis itu masuk ke dalam wilayah Istana Hitam.
Saat berada di halaman depan Istana Kerajaan Hitam Xiao Ziya melihat beberapa orang yang menggunakan jubah putih sepertinya mereka datang untuk bertemu dengan Raja Zeus, entah mengapa melihat orang orang berjubah putih itu membuat Xiao Ziya menjadi kesal tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Karna Xiao Ziya tak memiliki urusan dengan orang orang berjubah putih itu akhirnya ia melewati mereka begitu saja tanpa menegur ataupun memberikan salam, setelahnya prajurit yang menjaga pintu masuk istana membukakan pintu untuk Xiao Ziya. Orang orang berjubah putih itu tentu saja penasaran dengan gadis tak sopan yang baru saja melewati mereka, mengapa ia bisa masuk tanpa menunggu perintah dari Raja Zeus.
"Siapa gadis itu sungguh tak memiliki sopan santun." ucap seorang gadis yang ada dalam kelompok orang orang berjubah putih itu.
"Entahlah saya juga penasaran dengan gadis itu." jawab seorang pria yang merupakan pemimpin dari orang orang berjubah putih.
Tak berapa lama kemudian prajurit penjaga pintu masuk Istana Hitam membukakan pintu utama dan meminta pada orang orang berjubah putih itu untuk masuk kedalam dan langsung menuju aula karna Raja Zeus sudah menunggu mereka di sana. Saat ini Xiao Ziya sedang berada di dalam kamarnya gadis itu baru saja selesai mandi dan sedang memilih gaun yang akan ia gunakan. Akhirnya Xiao Ziya memilih sebuah gaun hitam pendek dan sebuah jubah biru dengan kilauan kilauan permata yang menghiasinya, Xiao Ziya juga menggunakan hiasan rambut berbentuk bunga berwarna merah.
"Mari kita lihat apa yang akan dilakukan oleh orang orang aneh tadi." ucap Xiao Ziya yang kemudian keluar dari kamarnya dan berjalan menuju aula utama.
Saat ini orang orang berjubah putih itu sudah berada di dalam aula utama mereka adalah anggota sekte aliran putih yaitu Sekte Lirong, Sekte ini belum lama berada di Wilayah Kerajaan Hitam mungkin sekitar tiga puluh tahun.
"Salam hormat kami pada Yang Mulia Raja Zeus." ucap orang orang dari Sekte Lirong secara serempak sambil membungkukkan badan mereka.
"Saya trima salam kalian, ada keperluan apa hingga datang kesini?." ucap Raja Zeus yang tak ingin basa basi karna ia tak ingin membuang buang waktunya untuk urusan yang tak penting.
"Kami datang kesini untuk mengirim surat lamaran pada Pangeran Zeeling. Salah satu ketua sekte kami menyukai putra Yang Mulia Raja Zeus." ucap Li Yun, ia adalah pemimpin Sekte Lirong. Kedatangan mereka yang mendadak dengan tujuan melamar Pangeran Zeeling tentu saja membuat Raja Artur sedikit tak senang apalagi yang melamar adalah gadis yang umurnya jauh diatas putranya itu.
Brak
Suara pintu aula utam Istana Kerajaan Hitam yang dibuka dengan kasar, Xiao Ziya tak melakukannya dengan sengaja, saat akan masuk kedalam ia merasa ada sebuah sihir yang menahan agar pintu aula tak bisa dibuka.
"Sampah mana yang telah memberikan sihir pada pintu ini agar tak bisa dibuka." ucap Xiao Ziya dengan nada bicaranya yang sedikit kasar, jika yang melakukannya adalah salah satu dari orang orang berjubah putih itu maka mereka memiliki niatan yang tak baik pada ayah angkatnya.
"Hey siapa kau mengapa kau tiba tiba masuk kedalam." triak Li Ayumi gadis yang mengirimkan lamaran untuk Pangeran Zeeling.
"Diamlah saya tak sedang berbicara padamu." ucap Xiao Ziya dengan nada dinginnya.
Xiao Ziya menatap tajam kearah salah seorang pria yang ada dalam kelompok orang orang berjubah putih itu. Dengan cepat Xiao Ziya melemparkan sebuah pedang berwarna merahnya dan hampir saja menusuk jantung pria itu namun Xiao Ziya menghentikan laju sang pedang saat berada di depan dada pria itu.
"Lancang sekali kau!!!." triak pemimpin sekte Lirong yang tak terima dengan apa yang baru saja dilakukan oleh gadis asing yang ada di hadapan mereka itu.
"Cih apa yang ingin kalian lakukan dengan memberi mantra pada pintu masuk aula? kalian ingin memaksa ayahku untuk menerima lamaran itu? maka bermimpilah." ucap Xiao Ziya yang bisa menebak dengan tepat apa yang ingin dilakukan oleh orang orang berjubah putih itu, mendengar apa yang dikatakan Xiao Ziya membuat anggota Sekte Lirong panik.
__ADS_1
"Apakah benar apa yang baru saja dikatakan oleh putriku!!!." triak Raja Zeus yang marah, dari awal ia memang tak suka dengan keberadaan Sekte Lirong di wilayah kekuasaanya.
Hai hai semua akhirnya author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya guys. Jangan lupa follow buat yang belum follow, vote yang masih ada tiket vote, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, komen, share.