
Setelah mencapai sebuah kesepakatan Xiao Ziya menghancurkan dinding pembatas yang ia buat, ia memperbolehkan para panatua dan petinggi yang lain untuk kembali ke tempat mereka masing masing. Selain itu Xiao Ziya meminta pada Xiao Xun untuk kembali ke asrama, kakak laki lakinya itu perlu beristirahat untuk mempersiapkan diri di pertandingan besok pagi.
Setelah semua orang pergi ke tempat mereka masing masing, Xiao Ziya berjalan jalan di pasar yang dekat dengan akademi. Gadis itu membeli beberapa macam buah kering, asinan, manisan, serta camilan lainnya. Ia juga membeli sebuah selimut yang cukup tebal di sebuah toko dan juga bantal empuk setelah semua persiapannya itu selesai Xiao Ziya langsung masuk kembali kedalam akademi.
Gadis itu melesat menuju salah satu atap asrama laki laki, Xiao Ziya menggelar selimut tebal yang ia beli dan meletakkan bantal empuk miliknya. Selain itu Xiao Ziya juga menata semua camilan yang ia beli lalu memasang mantra pelindung di sekitar asrama laki laki, gadis itu sengaja tidur di atas atap asrama laki laki untuk berjaga jaga jika para panatua yang menyebalkan menyewa pembunuh bayaran untuk melukai Xiao Xun agar terluka sebelum pertandingan besok dilangsungkan. Setelah semuanya siap Xiao Ziya merebahkan dirinya di atas selimut tebal yang ia gelar kemudian menutup tubuhnya dengan selimut yang lain.
"Ternyata tidur di luar seperti ini juga sangat nyaman." ucap Xiao Ziya yang memakan buah kering yang ia beli.
Dari kejauhan nampak Aron yang sedang mengawasi Xiao Ziya dari jauh, pemuda itu khwatir jika ada hal buruk yang terjadi pada Xiao Ziya. Namun hal yang ia lihat adalah Xiao Ziya sedang tidur di atas asrama murid laki laki, ia tak mengerti apa yang ada dalam fikiran nona mudanya itu dan mengapa nonanya juga sangat nyaman tidur di atas atap.
Genzo sang naga hijau yang kini telah menjadi hewan pengikut setia milik Aron muncul dalam wujud manusia, ia juga merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Xiao Ziya. Gadis yang memiliki keturunan darah bangsawan memiliki sikap yang sangat absud.
"Apa yang nonamu itu sedang lakukan tuan muda?." tanya Genzo dengan keheranan.
"Entahlah nona Ziya terkadang memang bersikap aneh." ucap Aron yang kadang tak mengerti dengan jalan fikiran Xiao Ziya.
"Sebaiknya kita pergi saja tuan muda, jangan menganggu waktu istirahat nona anda." ucap Genzo yang memberi saran pada Aron agar pergi dan berhenti mengawasi Xiao Ziya sebelum gadis itu marah.
Aron mengikuti saran yang diberikan oleh Genzo karna nona mudanya itu memang akan marah jika ada orang yang mengganggu waktu istirahatnya yang sangat berharga.
Karna mengantuk akhirnya Xiao Ziya memilih untuk memejamkan matanya, saat gadis itu mulai pulas tiba tiba saja ada pembunuh bayaran yang masuk melalui gerbang belakang, mereka adalah orang orang yang dibayar oleh panatua pertama untuk melukai Xiao Xun dengan parah namun jangan sampai membuat pemuda itu kehilangan nyawanya. Para pembunuh bayara mencari cari dimanakah letak asrama putra, setelah menemukan asrama putra mereka mencoba untuk masuk kedalam namun tiba tiba ada listrik tegangan tinggi yang menyetrum tubuh mereka.
"Sepertinya pintu depan terdapat mantra pelindung." ucap pembunuh bayaran nomer satu.
"Sebaiknya kita masuk lewat atap saja." ucap pembunuh bayaran nomer dua yang menyarankan agar mereka masuk melalui atap.
Akhirnya para pembunuh bayaran itu loncat keatas dan mendarat sempurna di atas atap asrama putra, mereka menemukan letak kamar Xiao Xun namun ada seorang gadis yang sedang tidur nyenyak. Saat mereka ingin melihat lebih dekat dan memastikan siapa gadis itu tubuh mereka kembali tersengat listrik tegangan tinggi.
"Apa apaan ini mengapa banyak sihir pelindung yang dipasang." ucap pembunuh bayaran kedua yang cukup terkejut dengan jumlah sihir pelindung yang di pasang di asrama murid laki laki.
"Orang tua orang tua sialan itu juga tak memberikan informasi apapun mengenai hal ini, apakah mereka ingin menipu kita?." tanya pembunuh bayaran pertama yang merasa kesal karna ditipu oleh para panatua dari Akademi Kekaisaran Qiyu.
Karna kedua pembunuh itu cukup berisik, Xiao Ziyapun terbangun dari tidurnya dan menatap kearah kedua pembunuh bayaran itu. Xiao Ziya mengambil dua bilah piasu dapur dari cincin semesta miliknya, dengan mata yang masih sayu gadis itu melempar pisau tepat mengenai jantung kedua pembunuh bayaran merekapun mati ditempat. Setelah dirasa aman Xiao Ziya melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
Pagipun datang, semua murid sudahberkumpul di lapangan utama setelah mereka mendengar pengumuman dari wakil kepala akademi. Hari ini akan ada pertandingan antara Xiao Xun yang merupakan murid tahun terakhir Akademi Kekaisaran Qiyu dan Min Xinyi yang merupakan guru murid dalam Akademi Kekaisaran Qiyu yang akan memperebutkan posisi sebagai Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu.
"Baiklah kalian semua pasti sudah tau untuk apa pertandingan ini diadakan, saya meminta semua murid untuk hadir sebagai saksi siapa yang akan menang dalam pertandingan kali ini. Dalam pertandingan ini kalian diperbolehkan untuk saling membunuh satu sama lain, dan kalian akan mendapat bantuan dari mereka yang memiliki posisi tinggi di akademi ini. Apa kalian berdua sudah siap?." tanya Yin Siyi wanita itu ditunjuk sebagai pengamat serta pembicar dalam pertandingan kali ini.
__ADS_1
"Dimana Master Ziya mengapa ia belum hadir?." tanya salah seorang petinggi akademi yang tak melihat kehadiran Xiao Ziya.
"Mungkin gadis itu sudah kabur karna merasa takut." ucap panatua pertama yang mungkin saja lupa bagaimana ganasnya gadis itu jika ada orang yang memancing amarahnya.
"Adik saya bukanlah orang seperti itu." ucap Xiao Xun dengan tegas karna ia mengenal Xiao Ziya dengan baik, gadis itu tak akan melarikan diri apapun masalah yang ia hadapi. Karna bagi Xiao Ziya hidup tanpa ada masalah yang datang seperti bubur ayam tanpa ada bubur di dalamnya.
Xiao Ziya yang masih tertidur pulas mulai terusik dengan keributan yang terjdi. Kebetulan asrama murid laki laki berhadap hadapan dengan lapangan utama sehingga suara gaduh itu terdengar jelas di telinga Xiao Ziya.
"Hoaam mengapa kalian ribut sekali." ucap Xiao Ziya yang memposisikan dirinya duduk dengan mata terpejam.
Semua orang yang ada di lapangan utama dapat mendengar suara dari Xiao Ziya namun tak menemukan dimana gadis itu berada, setelah melihat kesana kemari ada beberapa murid yang melihat Xiao Ziya di atas atap asrama murid laki laki dan memberitaukannya pada yang lain.
"Apa yang sedang nona lakukan di atas sana?." tanya waki kepala kademi yang kebingungan melihat masternya sedang berada di atas atap.
"Semalaman saya tidur di sini untuk berjaga jaga jika ada pembunuh bayaran yang datang benar saja ada dua kecoa yang datang." ucap Xiao Ziya dengan santai sambil melipat selimut yang ia jadikan sebagai alas untuk tidur. Setelah itu Xiao Ziya melempar kedua mayat pembunuh bayaran ke atas arena pertandingan. Semua yang ada di sana merasa terkejut termasuk para panatua yang mengirim pembunuh bayaran itu.
Setelah selesai melipat kedua selimutnya Xiao Ziya memasukan selimut itu kedalam cincin semestanya serta bantal yang ia gunakan semalam. Gadis itu membawa sisa camilannya semalam kemudian turun kebawah dan berjalan ke tampat dilansungkannya pertandingan.
"Ah iya saya lupa mengatakannya, siapapun yang mengirim pembunuh bayaran itu semalam bersiaplah untuk kehilangan kepala kalian." ucap Xiao Ziya dengan seringai yang menyeramkan karna ia yakin hal ini tak hanya direncanakan oleh satu orang saja.
"Baiklah karna pendukung dari pihak Xiao Xun sudah datang maka pertandingan akan kita mulai." ucap wakil kepala akademi dengan penuh semangat ia melemparkan sebuah pedang ke atas kemudian pedang itu jatuh dan tertancap di tanah itu artinya pertandingan sudah dimulai.
"Mongi naiklah ke atas arena dan bantu Xun gege untuk memenangkan pertandingan ini." ucap Xiao Ziya yang mengirim srigala apinya sebagai bantuan untuk Xiao Xun.
"Bukankah itu curang namanya?." ucap para panatua yang tak mengira bahwa Xiao Ziya akan meminjamkan srigala apinya pada Xiao Xun.
"Ini bukan kecurangan karna para pendung bisa memberikan bantuan berupa apapun namun dilarang naik ke aras arena." ucap wakil kepala akademi yang masih ingat dengan kesepakatan mereka.
Mongi melihat ke arah Xiao Xun kemudian ia mengatakan pada pemuda itu bahwa mereka harus menang, Xiao Xun mengambil pedang miliknya kemudian mulai menyerang Min Xinyi secara berutal tak ada celah yang pemuda itu buat, Mongi juga mencakar tubuh bagian belakang pria yang menjadi musuh dari Xiao Xun. Pertandingan berjalan tak seimbang karna bantuan yang diberikan Xiao Ziya untuk Xiao Xun terlalu kuat.
"Jika seperti ini terus maka Min Xinyi akan kalah, apa yang harus kita lakukan panatua pertama." tanya para petinggi akademi yang ada di pihak Min Xinyi.
"Mari kita bersatu dan meminjamkan sebagian energi qi yang kita miliki." ucap panatua kedua yang meminta agar mereka bersatu dan mengumpulkan energi qi dalam jumlah yang besar.
Para panatua dan petinggi akademi yang ada di pihak Min Xinyi berkumpul, salah satu panatua membuat pola sihir yang dapat menampung energi qi yang mereka kumpulkan. Setelah semua energi qi di tampung dalam pola sihir itu panatua pertama memberikannya pada Min Xinyi kini di kening pria itu terdapat sebuah pola sihir. Kekuatan Min Xinyi yang tadinya hampir terkuras habis kini kembai pulih, jumlah qi miliknya juga empat kali lebih banyak dari sebelumnya. Min Xinyi mengeluarkan beberapa jurus andalannya untuk membalas serangan dari Xiao Xun serta srigala api yang membantu pemuda itu.
Melihat apa yang dilakukan oleh para panatua dan beberapa petinggi Akademi Kekaisaran Qiyu membuat Xiao Ziya merasa geli, gadis itu tersenyum dengan senyum meremehkan. Jika mereka memberikan energi qi pada Min Xinyi sebagai dukungan maka Xiao Ziya juga bisa melakukan hal yang serupa. Saat Xiao Xun sekarat karna jiwanya diambil oleh dewi rubah, Xiao Ziya sempat menggunakan energi mawar api dan mawar es untuk menstabilkan jiwa kakak laki lakinya itu. Jadi jika saat ini Xiao Ziya memberikan beberapa persen energi mawar apinya pada Xiao Xun maka tubuh pemuda itu dapat menampungnya dengan baik tanpa ada efek samping.
__ADS_1
"Mekarlah." ucap Xiao Ziya setelah ia selesai membaca sebuah mantra sihir.
Tiba tiba saja di atas langit tumbuh sebuah mawar merah yang diselimuti aura yang sangat kuat, mawar itu turun dan masuk kedalam tubuh Xiao Xun. Tubuh Xiao Xun mengelurkan cahaya berwarna merah, akar sihir api yang ada di tubuhnya diperkuat ia merasa seperti dilahirkan kembali.
Xiao Xun mengangkat tangan kanannya muncul ratusan bola api dengan ukuran yang cukup besar, karna kekuatan Xiao Xun meningkat maka bola api yang ia buat lebih panas daripada biasanya.
"Ahahaha apa kau bercanda? saya pernah menjadi gurumu saat kau masih merupakan murid dalam dan saya tau hingga sekarang bola api yang kau buat tidaklah berguna." ucap Min Xinyi, ia merasa bahwa dirinya lebih unggul daripada Xiao Xun.
"Jika begitu anda perlu merasakannya sendiri." ucap Xiao Xun dengan sorot mata tajamnya. Ia melempar ratusan bola api itu secara bersamaan ke arah Min Xinyi.
"Perisai air terbentuklah." ucap Min Xinyi yang membuat sebuah perisai air dengan ukuran yang besar untuk melindungi dirinya dari bola bola api milik Xiao Xun.
Awalnya Min Xinyi mengira bahwa perisai air yang ia buat sudah sangat kuat untuk menahan serangan dari Xiao Xun, namun dugaanya itu salah saat ratusan bola api itu menghantam perisai air miliknya perlahan lahan perisai air itu menguap kemudian hancur, dengan begitu beberapa bola api milik Xiao Xun mengenai anggota tubuh Min Xinyi. Min Xinyi menjerit kesakitan karna rasa perih dan panas yang ia rasakan akibat luka bakar yang timbul di sekujur tubuhnya. Mongi yang saat itu ada di sebelah kiri Min Xinyi tidak tinggal diam, serigala itu menyemburkan apinya ke arah Min Xinyi hingga pria itu pingsan ditempat akibat luka bakar yang sangat parah.
Xiao Ziya tersenyum melihat hasil pertandingan itu, ya ini balasan yang pantas untuk para panatua akademi dan beberapa petinggi yang dengan berani mengabaikan statusnya sebagai Master dari Akademi Kekaisaran Qiyu. Para panatua dan beberapa petinggi berdecak kesal, mereka tak bisa menerima jika akhirnya Xiao Xun lah yang akan menjadi Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu.
"Dasar gadis licik kekuatan hitam apa yang kau berikan pada Xiao Xun agar ia menang." ucap panatua pertama yang menuduh Xiao Ziya telah memberikan sebuah sihir hitam untuk meningkatkan kekuatan dari Xiao Xun.
"Apakah mata anda rabun karna usia anda yang sudah tua?." ucap Xiao Ziya yang melihat ke arah panatua pertama, orang biasapun juga tau bahwa yang Xiao Ziya berikan pada Xiao Xun saat pertandingan tadi adalah sebuah eneegi yang kuat dari mawar merah yang sangat legendaris bagi mereka yang tinggal di dunia bawah.
"Jaga ucapanmu, meskipun kau seorang master kau harus menghargai para panatua yang ada di sini." ucap salah satu petinggi akademi yang sedang memberikan sebuah nasehat pada Ziya agar gadis itu berkata lebih sopan pada para panatua.
"Jika mereka bisa berlaku seenaknya maka saya juga bisa melakukan hal yang sama. Jangan hanya karna para panatua memiliki usia yang jauh lebih tua daripada saya maka saya akan diam saja saat mereka memperlakukan saya dengan buruk." ucap Xiao Ziya dengan tegas, karna gadis itu tak akan pernah menghormati siapapun yang meremehkannya.
"Gadis muda sepertimu tak tau apapun tentang sopan santun." ucap panatua kedua yang ikut mengatai Xiao Ziya.
"Ya ya ya, anggap saja apa yang anda katakan itu benar. Lantas mengapa kalian yang sudah lebih senior daripada saya memberikan contoh yang buruk? usia hanyalah angka bukan penentu kedewasaan." ucap Xiao Ziya dengan santai. Baru kali ini para panatua Akademi Kekaisaran Qiyu dinasehati oleh seorang gadis muda yang usianya belum ada setengah dari usia mereka.
"Kami tetap tak akan menerima jika Xiao Xun yang akan menjadi kepala akademi yang baru." ucap beberapa petinggi akademi yang ada di pihak Min Xinyi.
"Saya tak butuh persetujuan dari kalian untuk menjadikan Xiao Xun sebagai kepala akademi." ucap Xiao Ziya dengan wajah datarnya, ia benar benar tak mengerti mengapa orang orang bodoh seperti mereka bisa memiliki kedudukan sebagai petinggi akademi.
"Kau tetap memerlukan izin dari kami karna kami adalah bagian dari Akademi Kekaisaran Qiyu." ucap panatua pertama yang bersikeras menolak jika Xiao Xun menjadi kepala akademi.
"Saya bisa melakukannya sendiri." ucap Xiao Ziya yang akan mempertahankan argumennya. Karna dalam aturan akademi tertulis jelas bahwa seorang master dapat melakukan apapun yang ia inginkan, bukankah peraturan ini dibuat oleh pendiri akademi? lalu mengapa dengan kekuasaan yang Xiao Ziya miliki ia tak bisa mengangkat Xiao Xun menjadi seorang kepala akademi.
"Untuk menjadi seorang kepala Akademi Kekaisaran Qiyu yang merupakan akademi terbaik pertama yang ada di dunia bawah maka ia harus memiliki pendukung tetap yang menyokongnya dalam beberapa hal seperti harta, kekuatan, dan kekuasaan." ucap panatua ketiga yang menjelaskan mengapa gadis itu tak biasa mengangkat Xiao Xun sebagai kepala akademi yang baru.
__ADS_1
Hai hai semua author back lagi nih, semoga kalian sehat terus ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote ya guys, like like like, komen, rate bintang lima, share juga ya.