RATU IBLIS

RATU IBLIS
Kelompok Elf


__ADS_3

Setelah beberapa saat akhirnya Xiao Ziya sampai di tempat yang dituju, sebuah bangunan tua dengan dua lantai serta halaman yang sangat luas. Gadis itu masuk ke dalam bangunan tua itu dan melihat lihat kesekitar ia tak ingin apa yang terjadi tempo lalu terulang lagi.


"Bangunan ini memang sudah sangat lama, akan tetapi tak wajar jika memiliki suhu dingin seekstrim ini." ucap Xiao Ziya yang mulai mencari cari sumber dari aura dingin yang ia rasakan.


Gadis itu menelusuri setiap tempat dengan teliti di dalam bangunan tua tak ditemukan hal hal aneh hanya ada beberapa patung dan lukisan saja di dalamnya, karna tak ditemukan apapun di dalam sana Xiao Ziya memutuskan untuk mencari di halaman belakang.


Terdapat beberapa pohon tua dengan buah buahan yang mulai matang, tak ada hal ganjil juga yang gadis itu temukan. Lalu dari mana asalnya aura dingin luar biasa ini? jika ia tak bisa menemukan sumber dari aura dingin itu maka tempat ini tak akan cocok dijadikan sekolah seni bela diri. Kedua puluh temannya bisa menahan aura dingin seperti ini namun bagaimana dengan para penduduk dunia semesta tingkat rendah yang akan belajar seni bela diri nantinya? tentu mereka tak akan mampu bertahan lama di tempat yang sangat dingin.


"Jadi dari mana aura dingin ini berasal, tak mungkin sesosok arwah jahat bisa mengeluarkan aura dingin yang kuat karna kekuatan mereka berasal dari dendam dan kebencian." ucap Xiao Ziya yang masih menerka nerka.


Patung patung yang ada di dalam bangunan tua memiliki bentuk seperti manusia manusia kecil yang sedang mengelilingi sesuatu, jika dilihat lebih jelas lagi mungkin saja patung manusia kecil itu sedang melindungi sesuatu.


"Apakah patung itu patung kurcaci?." ucap Xiao Ziya yang masih merasa tak yakin dengan pertimbangannya. Kurcaci memiliki ukuran yang lebih besar daripada patung yang ia lihat tadi, lalu patung apakah itu?.


"Saya akan kembali melihat ke sana." ucap Xiao Ziya, ia akan memecahkan misteri aura dingin ini bagaimanapun caranya. Meski ia bisa menyewa tempat lagi untuk dijadikan sekolah seni bela diri, menurut Ziya tempat inilah yang paling cocok diantara yang lain.


Saat Xiao Ziya kembali masuk kedalam ruangan dengan susunan patung yang aneh dia menyadari satu hal ukuran patung patung itu berubah mereka kini terlihat seperti manusia, selain itu Xiao Ziya merasakan tekanan kuat dari salah satu lukisan yang ada di sana.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?." ucap Xiao Ziya yang menatap tajam ke arah patung patung itu.


Tentu semua patung yang ada di ruangan tersebut hanya diam tak menjawab pertanyaan dari Xiao Ziya, karna tak mendapat respon akhirnya gadis itu melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan oleh para patung itu.


Xiao Ziya menyalakan api hitam di tangan kirinya serta api putih di tangan kanannya ia tersenyum mengerikan ke arah lukisan yang sedang mengeluarkan tekanan kuat itu. Xiao Ziya tau di dalam patung itu ada sesuatu yang sedang di jaga oleh patung patung berukuran kecil yang kemudian berubah menjadi ukuran manusia normal, mungkin mereka mengira bahwa gadis itu akan takut dan pulang ke rumah.


"Karna tak mendapat jawaban atas kecemasan saya ini, lebih baik saya bakar kalian semua agar saya bisa menempati bangunan tua ini dengan tenang." ucap Xiao Ziya yang sudah bersiap membakar salah satu patung yang ada di dekatnya.


Tiba tiba saja aura dingin di ruangan itu semakin pekat, aura dingin itu berusaha memadamkan api yang ada di tangan Xiao Ziya. Sia sia saja usaha mereka karna api milik Ziya hanya bisa dipadamkan oleh perintah gadis itu saja, lagipula mengapa mereka tak menjawab pertanyaan gadis itu daripada lenyap tak bersisa.


Salah satu patung yang ingin di bakar oleh Xiao Ziya merubah posisinya yang semula berdiri menjadi bersujud di hadapan gadis itu seperti sedang meminta pengampunan, dengan itu Xiao Ziya semakin yakin bahwa mereka bukanlah patung biasa.


"Saya tau kalian bukan dari tempat ini." ucap Xiao Ziya dengan nada datar, meski tak yakin akan ada yang menjawab perkataanya itu Xiao Ziya tetap mengatakan beberapa hal yang perlu ia katakan.


"Nantinya saya akan menjadi pemimpin dari dunia semesta tingkat rendah, tentu saya tak akan membiarkan makhluk asing untuk tinggal di sini tanpa izin dari saya. Jika kalian fikir kalian bisa mengalahkan saya maka lakukan." ucap Xiao Ziya yang menghentikan perkataanya, ia kembali melihat ke arah patung patung itu dan fokus pada wajah mereka. Akhirnya Xiao Ziya tau dari golongan mana patung patung itu berasal.


"Dan mengapa para elf ada di sini?." ucap Xiao Ziya dengan santai.


Setelah mendengar kata elf dari gadis itu, seketika patung patung di ruangan itu berubah menjadi manusia dengan telinga runcing dan kulit yang sangat putih itulah ciri ciri dari bangsa elf. Xiao Ziya tak tau di zaman yang ia tinggali saat ini masih ada bangsa elf, ia kira hanya ada para peri saja.


"Bagaimana kau tau bahwa kami adalah bagian dari bangsa elf?." tanya seorang pria tampan pada Xiao Ziya, ia curiga gadis yang sedang ia lihat itu adalah pemburu elf.


"Mudah saja, meski kalian berubah menjadi besar ataupun kecil ada satu hal yang tak akan berubah dan menjadi pusat perhatian." jawab Xiao Ziya, gadis itu sengaja membuat mereka merasa penasaran.


"Jelaskan pada kami secara rinci." ucap pria itu yang memaksa Xiao Ziya agar memberi penjelasan padanya.


Xiao Ziya hanya tersenyum miring ia tak ingin menjelaskan apapun pada mereka, sebagai bagian dari bangsa elf seharusnya mereka tau ciri khas dari bangsa elf yang tak dimiliki oleh ras lain seperti manusia, iblis, ataupun para dewa.


"Bukan tugas saya memberitahu hal itu pada kalian, tempat ini adalah milik saya sekarang jadi silahkan pergi dari sini." ucap Xiao Ziya yang berniat mengusir sekelompok elf itu. Tentu para elf tak terima jika mereka di usir begitu saja karna bangunan tua ini sudah menjadi tempat tinggal mereka selama puluhan tahun.

__ADS_1


"Kau tak bisa mengusir kami begitu saja." ucap seorang gadis elf dengan raut wajah marah, ia mendekat ke arah Xiao Ziya dan ingin menampar gadis itu. Dengan cepat Xiao Ziya menangkap tangan sang gadis elf yang ingin menamparnya, ia tak akan menerima penghinaan semacam ini dari siapapun.


"Lepaskan ini menyakitkan." ucap gadis elf itu, ia merasa mungkin pergelangan tangannya saat ini membengkak akibat cengkraman yang sangat kuat dari gadis yang tak ia kenal itu. Gadis elf itu juga kebingungan bagaimana bisa manusia biasa memiliki kekuatan fisik setangguh ini.


"Satu kali tangan anda menyentuh pipi saya, akan saya pastikan tangan anda hilang untuk selamanya." ucap Xiao Ziya dengan raut wajah serius, para elf tak seharusnya memiliki tempramen yang buruk seperti ini.


"Tolong maafkan kelancangan putri saya." ucap seorang pria dari bangsa elf yang meminta maaf atas nama gadis itu, Xiao Ziya menatap ke arah pria itu dengan tatapan tajam.


"Ajarkan putri anda untuk bersikap lebih sopan." ucap Xiao Ziya dengan nada dingin yang terdengar sangat menyebalkan.


"Kau tak bisa mengusir kami seperti ini, kami sudah ada di sini dalam jangka waktu yang cukup lama jadi tempat ini adalah milik kami." ucap seorang kakek tua, mungkin dia adalah ketua dari para elf yang tinggal di sini.


"Pertama ini adalah dunia semesta tingkat rendah bukan dunia para elf, kedua saya telah membayar sewa atas tempat ini untuk beberapa tahun kedepan apakah kalian sudah menyewa tempat ini sebelumnya? yang terkahir kalian tak memiliki izin untuk tinggal di sini secara resmi. Pergilah selama saya masih memiliki kesabaran lebih." ucap Xiao Ziya, ia memberi penjelasan pada beberapa elf yang ada di hadapannya itu. Jika mereka terus keras kepala seperti ini maka Xiao Ziya akan menggunakan kekerasan.


"Tidak bisakah anda berbelas kasih pada kami nona?." tanya pria tua itu dengan wajah penuh kesedihan, tatapan itu tak akan pernah menipu mata Xiao Ziya yang sudah bertemu dengan ribuan jenis orang di berbagai macam lapisan dunia.


"Siapa yang ingin anda tipu?." ucap Xiao Ziya dengan senyum meledeknya, mereka berfikir Xiao Ziya adalah gadis muda yang polos.


Para elf itu saling bertatapan satu sama lain, mereka bingung harus melakukan hal apa untuk mengusir gadis itu dari sana.


"Kami tak akan membiarkan tempat ini jatuh ke tanganmu." ucap beberapa elf secara bersamaan mereka mulai membuat formasi sihir untuk mengeluarkan Xiao Ziya dari tempat itu secara paksa.


Sebuah pola sihir berbentuk segitiga dengan warna hijau yang sangat mencolok muncul di bawah kaki Xiao Ziya, pola sihir itu mengeluarkan semacam gas beracun yang dapat membuat manusia biasa pingsan dan melupakan apa yang baru saja mereka alami. Sepertinya kelompok elf itu tak ingin keberadaan mereka sampai tersebar dan menyebabkan sang penyihir hitam datang untuk membawa mereka.


"Maaf kami harus bertindak kasar." ucap beberapa elf yang tak enak hati melakukan pengusiran paksa seperti ini.


Xiao Ziya hanya diam sambil memperhatikan seberapa kuat sihir yang dimiliki oleh bangsa elf, apakah sihir itu cukup untuk membuatnya merasa takut? atau hanya sebuah sihir yang tak akan menimbulkan apapun padanya. Benar tebakan Xiao Ziya, ia masih berdiri dengan tegak tanpa ada efek samping sedikitpun.


"Kalian fikir saya ini siapa?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu membuat para elf merinding ketakutan.


"Siapa kau sebenarnya? apakah kau utusan penyihir jahat?." ucap kakek tua itu, ia tak tau harus berbuat apa jika gadis yang ada di hadapan mereka benar benar utusan dari penyihir jahat.


"Hey siapa itu penyihir jahat? apakah saya terlihat seperti seorang penyihir yang sudah hidup ribuan tahun? ayolah tebakan kalian meleset sangat jauh." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis. Para elf itu semakin kebingungan apakah di dunia yang mereka tempati saat ini ada manusia super yang sangat kuat seperti gadis itu?.


"Dari dunia mana kau berasal?." tanya salah seorang elf yang memberanikan diri bertanya pada Xiao Ziya.


"Haruskah saya menjawab pertanyaan anda?." balas Xiao Ziya yang membuat para elf semakin kesal, lukisan gunung emas yang ada di belakang mereka jangan sampai jatuh ke tangan gadis aneh seperti itu.


"Kami bertanya baik baik padamu, tak bisakah kau menjawab dengan baik juga!!." triak gadis elf yang sempat ingin menampar Xiao Ziya tadi.


Perhatian Xiao Ziya teralihkan pada sebuah lukisan yang ada di belakang para elf itu, sebuah lukisan gunung emas yang aneh apakah ada sesuatu di dalam lukisan itu?. Xiao Ziya menggunakan mata iblisnya untuk melihat makhluk apa yang tinggal di dalam lukisan gunung emas itu, dan dia menemukan sesuatu yang sangat luar biasa.


"Apa yang sedang kau lihat!!." triak gadis elf itu, ia memiliki perasaan tak enak saat melihat Xiao Ziya menatap ke belakang mereka.


"Seekor Phoenix emas." ucap Xiao Ziya dengan lantang dan membuat lukisan gunung emas itu bergetar dengan hebat.


Kini keberadaan sang Phoenix emas dewa dari bangsa elf sudah diketahui oleh seorang gadis yang masuk dalam golongan manusia biasa. Hal ini menjadi ancaman bagi para elf yang tinggal di tempat itu, mereka mulai menatap Xiao Ziya dengan tajam dan memikirkan rencana bagaimana cara membunuh gadis tersebut.

__ADS_1


"Jangan sembarangan mengatakan sesuatu!." triak sang kakek tua.


"Ah kalian ingin memulai perang antara alam neraka dan dunia bangsa elf?." ucap Xiao Ziya dengan santai dengan senyum menjengkelkannya itu. Ia tau saat ini para elf sedang was was padanya, karna mereka menganggap Xiao Ziya ancaman terbesar untuk saat ini.


"Mengapa kami akan berperang dengan alam neraka, kami tak pernah membuat masalah." ucap sang kakek tua dengan percaya diri.


"Karna kalian sudah membahayakan nyawa penerus dari Raja Artur." jawab Xiao Ziya dengan singkat dan mengejutkan para elf.


Sang kakek tua itu menatap tak percaya ke arah Xiao Ziya, tubuhnya gemetaran dan tak bisa mengatakan apapun. Pantas saja jika gadis itu tak terpengaruh oleh sihir yang mereka gunakan karna seorang penerus tahta alam neraka memiliki status yang tinggi seperti Raja dari Dunia Peri.


"Kau jangan coba coba untuk membodohi kami semua." ucap gadis elf yang memancing kekesalan Xiao Ziya karna dari tadi gadis itu berteriak padanya.


Xiao Ziya mengeluarkan sulut hitam dari tangan kirinya ia mengarahkan sulur hitam itu pada sang gadis elf, sulur hitam itu melilit sang gadis elf dengan sangat erat hingga kesulitan bernafas.


"Kau sangat bersisik." ucap Xiao Ziya dengan mata merah menyala. Gadis elf itu ketakutan saat matanya bertemu dengan mata merah milik Xiao Ziya.


"Tolong ampuni putri saya, saya salah karna tak mengajarinya sopan santun dengan benar." ucap seorang pria yang kini berlutut di hadapan Xiao Ziya untuk keselamatan putri tercintanya.


"Haruskah saya mengampuni nyawa putri anda?." ucap Xiao Ziya yang mulai memainkan sebuah drama seru.


Pria itu tak tau harus mengatakan apa lagi, putrinya memang sudah sangat keterlaluan namun putrinya hanya seorang gadis yang baru menginjak usia sembilan belas tahun.


"Putri saya masih sangat muda, ia tak memahami tata krama dengan baik." ucap pria itu yang mencari sebuah alasan dibalik sifat buruk putrinya itu.


"Berapa usia putri anda?." tanya Xiao Ziya yang merasa penasaran, karna dilihat dari wajahnya saja gadis elf ini jauh lebih tua darinya.


"Putri saya baru menginjak usia sembilan belas tahun beberapa bulan yang lalu." ucap pria itu yang membuat Xiao Ziya tertawa dengan sangat keras. Apa apaan ini? seorang gadis berusia sembilan belas tahun tak bisa bertata krama dengan baik karna ia masih kecil?.


"Jika Putri anda yang sudah berusia sembilan belas tahun memperlakukan saya dengan buruk karna masih kecil dan belum mengerti tata krama, maka anda harus berlapang dada seorang bayi berusia tiga belas tahun telah membunuh putri anda." ucap Xiao Ziya, mental pria itu benar benar terguncang mengetahui bahwa gadis yang sedang ada di hadapannya masih berusia tiga belas tahun. Apalagi yang harus ia lakukan untuk keselamatan sang putri?.


"Berani sekali kau mengancam mereka." ucap seseorang dari dalam lukisan gunung emas. Lukisan ini tiba tiba saja mengeluarkan cahaya berwarna emas dan muncul seekor Phoenix yang berubah menjadi seorang pria tampan berambut emas.


"Ah siapa sangka dewa Phoenix emas ada di sini." ucap Xiao Ziya yang langsung mengenali identitas pria itu, sebagai Dewi Agung tentu ia bisa membedakan orang orang yang telah menjadi dewa ataupun Dewi.


"Anda mengetahui identitas saya padahal kita baru saja bertemu." ucap sang Dewa Phoenix emas dengan tatapan tak suka, mengapa gadis ini mengetahui banyak hal mengenai bangsa elf. Jika terus dibiarkan akan menimbulkan masalah besar bagi bangsa elf yang ia jaga selama ratusan tahun tersebut.


"Tentu saya tau siapa anda, sangat disayangkan anda tak mengenal siapa saya karna terlalu lama berada di luar alam dewa." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lembutnya, gadis itu tentu memahami situasi saat ini. Sang dewa Phoenix hanya ingin melindungi pengikutnya saja tanpa berniat menyinggung Xiao Ziya.


"Jangan mencoba menipu saja dengan kata kata tak berarti." ucap sang Dewa Phoenix emas, sorot mata emas pria itu sangat mengganggu Xiao Ziya. Gadis itu sangat ingin mencongkel kedua mata sang dewa yang terus menatap tajam ke arahnya.


"Tundukkan pandanganmu." ucap Xiao Ziya secara mutlak, kali ini kata katanya disertasi dengan kuasa sebagai sang Dewi Agung.


Dewa Phoenix emas tak mengerti mengapa tiba tiba ia tak berani menatap ke arah gadis itu lagi seperti ada tekanan yang sangat kuat memaksanya mengalihkan pandangan kebawah. Xiao Ziya tersenyum puas karna pria itu tak menunjukkan tatapan mengenalkannya.


"Kalian harus menyadari beberapa hal." ucap Xiao Ziya dengan santai, perkataanya menarik perhatian seluruh elf yang ada di sana.


"Apa yang harus kami sadari tentang keberadaan mu di tempat kami ini?." ucap beberapa elf yang tetap tak suka jika Xiao Ziya mengambil alih tempat itu.

__ADS_1


"Saya tak akan memberitahukan keberadaan kalian pada penduduk dunia semesta tingkat rendah, akan tetapi jika kalian terus berada di tempat ini maka keberadaan kalian lambat lain akan diketahui juga karna saya akan membuka sekolah bela diri di sini. Kedua jangan kira dewa kalian ini selamanya bisa menyelamatkan kalian dari ancaman yang besar karna sebagai kuasanya sebagai seorang dewa mulai memudar, Dewa Phoenix Emas sudah lama tak berkunjung ke alam para dewa untuk memulihkan kekuatannya. Dan hal terpenting yang perlu kalian pahami, saya bukanlah orang yang bisa kalian singgung dengan seenak hati." ucap Xiao Ziya secara detail, jelas, dan akurat.


Hai hai semuanya gimana kabar kalian semoga kalian selalu diberi kesehatan ya, cuaca saat ini sedang ekstrim banyak yang deket lalu dighosting, ada yang udah pacaran bertahun tahun tapi di tinggal nikah, ada yang belum pacaran tapi udah putus. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share ke temen temen kalian juga.


__ADS_2