
"Salam hormat kami pada Nona Xiao Ziya." ucap beberapa prajurit yang sedang berjaga di sekitar desa tersebut.
"Apa Putri Zo Ruhi baik baik saja saat saya pergi?." tanya Xiao Ziya pada beberapa prajurit yang ada di sana. Ia cukup lama meninggalkan putri kecil itu dan khawatir sesuatu terjadi pada sang putri.
"Kami baru saja kembali dari penginapan yang Anda tempati bersama Putri Zo Ruhi akan tetapi salah satu pekerja di penginapan itu mengatakan bahwa sang putri sudah keluar sejak tadi dan belum kembali." jawab salah seorang prajurit dengan jujur meskipun ia merasa sedikit takut jika nona mudanya akan marah karna hal ini.
"Segeralah pergi ke wilayah perbatasan, tanya pada prajurit yang ada di sana apakah ada orang asing yang masuk ke wilayah Kerajaan Binglin dengan gelagat aneh." perintah Xiao Ziya pada beberapa prajurit yang ada di hadapannya.
"Baik kami akan segera mencari informasi tersebut. Kami permisi terlebih dahulu Nona Ziya." ucap para prajurit itu secara bersamaan sembari membungkukkan badan mereka.
Para prajurit itu segera berlari menuju wilayah perbatasan yang jaraknya sekitar tiga desa dari tempat mereka berada sekarang ini. Sembari menunggu adanya informasi Xiao Ziya mengajak Xiao Yan untuk mampir di salah satu kedai makanan terkenal di desa itu.
Di sisi lain saat ini Kaisar Yuzang Yanglang mencoba untuk masuk ke area Istana Kerajaan Binglin namun ada sebuah penghalang yang
terus menerus menabrak tubuhnya. Kaisar Yuzang Yanglang merasa kesal dan menyerang sihir pembatas itu menggunakan beberapa jurus yang ia miliki namun naasnya jurus itu malah kembali padanya. Beberapa penduduk desa keheranan melihat tingkah aneh sang pengemis itu, mereka mulai curiga bahwa ada yang tidak beres dengannya.
"Apakah wajar seorang pengemis memiliki kekuatan sebesar itu, dan apakah kalian tidak merasa familiar dengan wajah pengemis tersebut?." tanya salah seorang penduduk dengan tatapan curiga.
"Aku juga merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya tapi dimana?." ucap penduduk lain yang mencoba untuk mengingat ingat kembali.
Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun menatap lekat ke arah wajah sang pengemis dan seketika ia mengingat sesuatu, secara spontan wanita tersebut berteriak menyebut sebuah nama. Sontak para penduduk yang ada di sekitarnya merasa terkejut begitupun dengan sang pengemis tua yang tidak menyangka bahwa penyamarannya telah terbongkar.
"Itu Kaisar Yuzang Yanglang!!." triak wanita tersebut dengan suara yang cukup kencang hingga menarik perhatian banyak orang, ia juga menunjuk ke arah pengemis tua itu.
"Ya benar dia adalah Kaisar Yuzang Yanglang, untuk apa dia ada di sini. Segeralah melapor pada Nona Xiao Ziya bahwa ada penyusup yang masuk ke wilayahnya." ucap salah seorang penduduk dengan rasa khawatir.
Kaisar Yuzang Yanglang menjadi sangat panik ketika penyamarannya terbongkar, ia harus segera menutup mulut para penduduk itu dan mencegah mereka melapor pada Xiao Ziya. Sang kaisar mengeluarkan sebuah pedang yang ia sembunyikan di dalam karung miliknya kemudian berlari untuk menyerang para penduduk. Putri Zo Ruhi yang tadinya hanya diam dan bersembunyi memilih untuk turun tangan menyelamatkan para penduduk, sang putri menahan serangan Kaisar Yuzang Yanglang menggunakan pedang berwarna biru muda.
"Kalian segeralah pergi untuk melapor pada para prajurit ataupun Nona Muda Xiao Ziya jika ia sudah kembali. Saya tidak bisa jika harus menahan pria ini terlalu lama." ucap Putri Zo Ruhi, saat ini ia sudah menggunakan seperempat energi qi nya untuk menahan pedang Kaisar Yuzang Yanglang.
"Baik Tuan Putri, terimakasih bantuannya. Kami akan segera pergi untuk melapor pada Nona Xiao Ziya." jawab para penduduk yang langsung lari berhamburan menuju perbatasan desa.
__ADS_1
Kaisar Yuzang Yanglang merasa kesal karna aksinya ditahan oleh Putri Zo Ruhi, ia gagal menghentikan para penduduk itu karna ulah sang putri. Dengan kemarahan yang meluap Kaisar Yuzang Yanglang menekan pedangnya dengan lebih kuat lagi hingga Putri Ruhi semakin terpojok. Kaisar Yuzang Yanglang berhasil mendorong mundur sang putri dan membuat jarak diantara mereka.
"Sebelum membunuh para penduduk itu sepertinya saya harus membunuh mu terlebih dahulu. Bukankah kau dalang di balik bocornya rencana penyerangan yang kami lakukan beberapa waktu lalu!." bentak Kaisar Yuzang Yanglang dengan wajah memerah.
"Saya akan terus bertahan hingga Nona Xiao Ziya datang. Orang seperti Anda sejak awal memang tidak pantas menjadi Kaisar baru bagi wilayah Kekaisaran Binzo!!." triak Putri Zo Ruhi, ia sudah menahan amarahnya selama ini. Mungkin ini waktu yang tepat untuk melampiaskan amarahnya itu meski ia akan mati di tangan Kaisar Yuzang Yanglang.
Sang kaisar mulai menyerang Putri Zo Ruhi dengan gerakan pedang yang sangat cepat, sayang sekali karna sang putri tidak sanggup mengimbangi gerakan itu. Putri Zo Ruhi sudah terluka sejak awal pertarungan ini dimulai, selisih kekuatan diantara keduanya sangatlah besar namun Putri Zo Ruhi tidak menyerah. Ia akan berjuang sekuat tenaga hingga Nona Xiao Ziya kembali.
Di sisi lain para prajurit yang diutus oleh Xiao Ziya sudah kembali dari wilayah perbatasan, kini mereka sedang melaporkan semua informasi yang didapat.
"Bagaimana hasilnya?." tanya Xiao Ziya dengan sorot mata tajam.
"Mereka mengatakan siang tadi ada seorang pengemis tua yang memaksa masuk untuk mendapatkan obat dari seorang tabib yang memiliki penawar wabah, namun hingga saat ini pengemis tua itu belum kembali." ucap salah seorang prajurit yang melapor pada Xiao Ziya.
Di sisi lain seorang kultivator dengan ranah yang cukup rendah berlari ke arah Xiao Ziya menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat pertama. Kultivator itu sampai terjatuh di belakang Ziya dan membuat gadis itu terkejut. Dengan segera Xiao Ziya mengulurkan tangannya dan membantu kultivator itu untuk berdiri.
"Ada apa? mengapa Tuan berlarian seperti ini." tanya Xiao Ziya sembari menatap bingung ke arah pria itu.
Xiao Ziya meminta para prajurit untuk menanyai beberapa penduduk yang menjadi saksi mata kejadian itu sedangkan ia dan Xiao Yan melesat secepat yang mereka bisa menuju tempat pertarungan.
Saat ini semua tenaga Putri Zo Ruhi sudah terkuras habis, ia tidak sanggup lagi jika harus menahan serangan dari Kaisar Yuzang Yanglang. Sang kaisar yang melihat sebuah kesempatan emas berlari ke arah Putri Zo Ruhi dan hendak menghunuskan pedang pada sang putri. Sebuah tangan mencekal ujung pedang milik sang kaisar dengan tatapan tajam penuh kemarahan.
Telapak tangan Xiao Ziya dilumuri oleh darah segar namun ia tidak menghiraukan hal itu. Jika Ziya terlambat satu detik saja mungkin saat ini nyawa Putri Zo Ruhi sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
"Bawa Putri Ruhi pergi Yan Gege, biarkan saya yang menyelesaikan masalah ini." perintah Xiao Ziya pada kakak laki-lakinya.
"Lalu bagaimana dengan mu? saat ini kau sedang terluka adik." ucap Xiao Yan yang merasa enggan untuk meninggalkan adik perempuannya itu.
"Pergilah saya bisa mengatasi masalah ini sendiri, saat ini kondisi Putri Ruhi sedang tidak baik. Bawalah ia ke tabib terdekat." perintah Xiao Ziya dengan sedikit berteriak agar kakak pertamanya itu tidak membantah lagi.
Xiao Yan membopong tubuh Putri Zo Ruhi kemudian ia pergi meninggalkan area pertarungan. Kini Xiao Ziya fokus menatap Kaisar Yuzang Yanglang penuh dengan kebencian, cahaya berwarna merah kehitaman keluar dari kedua bola mata Ziya dan seketika darah yang mengalir dari telapak tangannya berbuah warna menjadi hitam pekat. Pedang milik Kaisar Yuzang Yanglang meleleh akibat darah hitam itu, sang kaisar dengan segera melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Tidak ada kata maaf untuk Anda, waktu itu adalah kesempatan terakhir yang saya berikan untuk Anda." ucap Xiao Ziya sembari menunjuk ke arah Kaisar Yuzang Yanglang.
Seketika tubuh sang kaisar gemetaran, ia merasa bahwa kematiannya sudah dekat. Darah hitam milik Xiao Ziya merambat ke seluruh tubuh Kaisar Yuzang Yanglang kemudian menutupi seluruh bagian tubuhnya kecuali mulut.
"Lepaskan, tolong lepaskan saya Nona Muda Xiao Ziya. Saya mengaku telah melakukan kesalahan besar, tolong ampuni nyawa saya." triak histeris Kaisar Yuzang Yanglang yang meminta pengampunan pada Xiao Ziya.
"Tidak ada lagi pengampunan untuk Anda, selamat tinggal Yang Mulia Kaisar Yuzang Yanglang. Akan saya pastikan surga dan neraka tidak akan menerima jiwa Anda, kita tidak akan pernah bertemu lagi karna jiwa Anda tidak akan berreingkarnasi." ucap Xiao Ziya kemudian gadis itu tertawa dengan suara tawa menyeramkan.
"Matilah untuk saya!." triak Xiao Ziya sembari menggenggam tangannya dengan kuat dan seketika tubuh Kaisar Yuzang Yanglang hancur.
Kini masalahnya dengan Kaisar Yuzang Yanglang telah selesai, pria yang selalu mengganggunya itu sudah mati dan tidak akan pernah kembali. Darah hitam milik Xiao Ziya kembali masuk ke dalam tubuhnya melalui kulit dan menembus sel-sel darah milik Ziya.
"Argh!!!!!." Xiao Ziya menjerit dengan sangat kencang hingga menimbulkan gelombang suara yang begitu kuat. Gelombang suara tersebut hingga dapat terdengar oleh para Dewa dan Dewi yang tinggi di Nirwana serta Raja Artur yang berada di Alam Neraka.
Raja Artur membelalakkan mata setelah mendengar suara jeritan dari Xiao Ziya, ia tidak tau apa yang sedang terjadi pada gadis itu hingga berteriak begitu kencang dan sampai terdengar ke alam neraka. Dengan segera Raja Artur keluar dari ruang kerjanya dan bersiap pergi ke dunia bawah untuk melihat kondisi Xiao Ziya, di sisi lain Dewa Hiloz berencana untuk menjadi perwakilan alam Dewa Dewi untuk melihat apa yang sedang menimpa Dewi Agung mereka.
Xiao Yan yang tadinya sedang berada di rumah seorang tabib untuk menunggu Putri Zo Ruhi sangat terkejut saat mendengar suara jeritan dari sang adik, ia menitipkan Putri Ruhi pada tabib itu kemudian berlari ke luar untuk melihat apa yang terjadi pada adiknya.
Xiao Yan membelalakkan mata saat melihat perubahan besar yang terjadi pada penampilan adiknya itu. Rambut Xiao Ziya berwarna hitam pekat dengan kobaran api berwarna hitam yang memancarkan aura mencekam, matanya berubah warna menjadi merah kehitaman dengan tatapan tajam, disertai sebuah tanduk iblis yang cukup besar.
"Apa yang terjadi pada mu adik." ucap Xiao Yan yang hendak pergi untuk melihat kondisi Xiao Ziya lebih dekat.
Dengan segera beberapa penduduk mencegah Xiao Yan untuk pergi ke sana karna hal itu terlalu berbahaya. Mereka hanya takut saat ini Nona Muda Xiao Ziya sedang berada di luar kendali dan dapat melukai siapa saja yang mendekat ke arahnya.
"Argh hentikan!!!." jerit Xiao Ziya lagi. Kini perasaan Xiao Yan benat benar cemas, keselamatan adiknya jauh lebih penting dari apapun. Xiao Yan yang saat itu di halangi oleh beberapa penduduk berusaha memberontak dan mencoba mendekat ke arah Ziya.
"Tolong jangan bertindak gegabah Tuan Muda Xiao Yan. Nona Ziya akan sangat sedih jika mengetahui Anda terluka karenanya." ucap salah seorang prajurit dengan tegas.
"Bagaimana jika adik saya terluka? apakah kalian semua mau bertanggungjawab jika sesuatu terjadi padanya!." bentak Xiao Yan.
"Jangan seperti ini Tuan Muda, kami semua mencemaskan kondisi Nona Ziya sama seperti Anda." tegur seorang kepala desa.
__ADS_1
Hai hai semua author balik lagi gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun makasih banget, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.