
Mendengar jawaban dari sang gadis yang sedang duduk di samping Lee Brian membuat Xiao Zuren berlinangan air mata. Setelah sekian lama menjadi bagian dari anggota sayap putih akhirnya ia bertemu dengan keturunannya.
Xiao Ziya yang tidak tau apa-apa hanya diam sembari menatap ke arah pria paruh baya itu dengan tatapan bingung.
"Kemarilah cucuku, akhirnya kakek bisa bertemu dengan mu." ucap Xiao Zuren yang membuat semua orang terkejut termasuk sang Kaisar Langit.
Mendengar ucapan dari pria paruh baya itu Ziya langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian berlari ke arah sang kakek sembari menunjukkan senyuman lebar. Xiao Zuren tak sempat melihat cucu perempuannya lahir ke dunia karna dia sudah mati jauh sebelum kelahiran Xiao Ziya.
"Senang bisa bertemu dengan kakek." ucap Ziya yang memeluk erat kakeknya.
Ziya merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh sang kakek, tidak ada detak jantung yang dapat gadis itu dengar. Gadis itu tidak menanyakan apapun mengenai keanehan pada tubuh kakeknya.
Semua itu adalah hal yang wajar, beberapa anggota sayap putih diambil dari jiwa orang yang telah mati namun memiliki kebaikan yang sangat besar di dalam hatinya. Sang pencipta memberikan kesempatan kedua pada jiwa jiwa manusia untuk menebarkan kebaikan.
"Kau sangat cantik seperti ibumu. Bagaimana kabar ayahmu saat ini? apakah dia bahagia setelah menjalin hubungan dengan ibumu?." tanya Xiao Zuren.
Zuren tidak pernah tau bagaimana kabar anggota keluarganya yang masih hidup dan tinggal di dunia manusia. Sebagai bagian dari sayap kanan ada beberapa aturan yang tidak boleh ia langgar seperti turun ke dunia manusia ataupun mencampuri urusan manusia.
"Sejak saya lahir ibu telah kembali ke dunia tempat dia tinggal dan ayah membesarkan saya sendirian penuh dengan kasih sayang. Beberapa bulan yang lalu saya datang ke dunia tempat ibu tinggal dan bertemu dengannya. Tidak ada yang saya salahkan atas perpecahan orang tua kandung saya, memang seperti inilah takdir." jelas Xiao Ziya yang terlihat begitu tegar ketika menceritakan bagaimana kondisi keluarganya pada sang kakek.
"Terimakasih telah tumbuh menjadi gadis yang tangguh dan berhati besar cucuku. Kakek tak pernah menyangka kau adalah keponakan dari Tuan Lee Brian. Kembalilah ke tempat duduk mu, kita akan mengobrol setelah pertemuan ini berakhir." ucap Xiao Zuren sembari melepaskan pelukannya pada Xiao Ziya.
Dengan segera Ziya berjalan ke arah sang paman dan kembali duduk di kursi yang telah pamannya persiapkan. Sedari tadi Su Mingji masih menatapnya ke arah Ziya dengan tatapan penuh rasa dendam.
"Saya tidak menyetujui pembatalan pertunangan ini, jika Tuan Lee Brian ingin membatalkannya maka penuhi syarat dari saya." ucap Su Mingji. Wanita itu menunjukkan tatapan serius.
"Apa yang Nona Su Mingji inginkan?." tanya Lee Brian yang menatap curiga ke arah Su Mingji. Bisa saja wanita itu merencanakan sesuatu yang membahayakan nyawa keponakannya.
"Saya ingin bertarung melawan Nona Xiao Ziya. Jika saya menang pertunangan ini akan tetap dilanjutkan, dan jika saya kalah maka pertunangan ini resmi dibatalkan. Apakah Tuan Lee Brian dan Nona Muda Xiao Ziya menyanggupi permintaan saya?." tanya Su Mingji sembari menunjukkan senyum jahat.
"Saya menyetujuinya, jangan mengingkari kesepakatan yang telah Anda buat." jawab Xiao Ziya tanpa berfikir panjang. Apapun itu akan Ziya lakukan agar sang paman terbebas dari jeratan wanita seperti Su Mingji.
Lee Brian menatap tajam ke arah Xiao Ziya, bagaimana bisa gadis itu menyetujui tantangan dari Su Mingji tanpa meminta saran ataupun persetujuannya terlebih dahulu. Satu hal yang Lee Brian takutkan, Su Mingji sudah menyiapkan rencana licik untuk memenangkan pertarungan ini.
__ADS_1
"Anda serius Nona Ziya?. Bertarung melawan salah satu anggota sayap kanan bukanlah hal yang mudah. Kami semua memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia biasa." tegur Ling Munzo. Sebagai pemimpin anggota sayap kanan pria itu ingin Xiao Ziya mempertimbangkan keputusannya lagi.
"Tidak ada kata kalah sebelum berperang Tuan Ling Munzo, terimakasih telah mengkhawatirkan keselamatan saya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipis.
Beberapa anggota sayap kanan menatap ke arah Xiao Ziya, mereka tidak menemukan keraguan ataupun rasa takut di dalam sorot mata gadis itu. Mungkin ini kali pertama bagi anggota sayap kanan menemukan seorang manusia dengan keberanian setangguh itu.
"Baiklah mari kita pergi ke halaman belakang kastil ini, di sana ada sebuah arena pertarungan yang biasa digunakan oleh para prajurit." ajak Lee Brian pada semua orang yang ada di dalam aula utama kastil miliknya.
Sejujurnya Lee Brian sangat menghawatirkan keselamatan Xiao Ziya saat pertarungan berlangsung, namun kali ini ia mencoba untuk percaya pada kemampuan gadis itu.
"Baiklah mari kita pergi sekarang." jawab Kaisar Langit.
Semua orang mulai pergi meninggalkan aula utama menunju halaman belakang kastil tersebut. Para prajurit yang ditugaskan untuk berjaga- di pintu masuk aula merasa keheranan, mereka yakin pertemuan antara malaikat kematian dengan anggota sayap kanan baru berlangsung beberapa menit lantas mengapa mereka semua sudah pergi meninggalkan aula?.
"Permisi Tuan Min Yuzang, apakah pertemuan sudah berakhir?." tanya salah seorang prajurit pada Min Yuzang yang berjalan di barisan paling belakang.
"Kami semua akan pergi menuju halaman belakang untuk menyaksikan pertarungan antara Nona Muda Xiao Ziya dan Nona Su Mingji." jawab Min Yuzang dengan apa adanya.
"Saya tidak tau dengan pasti alasan Tuan Lee Brian membatalkan pertunangan ini. Pertarungan antara Nona Ziya dan Nona Su Mingji adalah salah satu syarat yang diminta Nona Su Mingji jika pertunangan akan dibatalkan. Saya permisi." setelah menjelaskan kronologi kejadian secara singkat pada para prajurit, Min Yuzang berlari untuk menyusul para malaikat kematian lain yang sudah berjalan jauh darinya.
Para prajurit saling bertatapan satu sama lain. Mereka merasa sangat lega karna sang pemimpi memilih membatalkan pertunangannya dengan wanita licik itu, namun di sisi lain mereka sangat khawatir jika Nona Ziya terluka parah.
"Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Nona Xiao Ziya? saya tidak ingin keponakan Tuan Lee Brian terluka karna wanita licik itu." ucap salah seorang prajurit yang sedang berjaga di depan pintu aula.
"Kita tidak bisa berbuat apapun, semoga saja Tuan Lee Brian selalu menjaga Nona Ziya." jawab prajurit lain.
Kini semua orang telah sampai di halaman belakang Kastil Pemimpin Malaikat Kematian, yang pertama kali menyita perhatian mereka adalah Zier dan Piter yang bermain kejar-kejaran di taman belakang. Harimau bersurai emas dan macan hitam itu tampak akrab seperti mereka sudah saling mengenal sejak lama.
"Apakah Tuan Lee Brian baru saja menambah koleksi binatang peliharaannya?." tanya Zu Junhi yang terpesona dengan kegagahan harimau bersurai emas.
"Harimau itu tampak lebih kuat daripada sang macan hitam. Dimana Tuan Lee Brian memungutnya?." tanya sang Kaisar Langit dengan bahasa yang sedikit kasar.
Xiao Ziya menoleh kebelakang dan kembali menatap tajam ke arah Kaisar Langit. Gadis itu tidak terima disaat harimau yang ia rawat dan besarkan sejak kecil dianggap sebagai hewan pungut oleh sang Kaisar Langit.
__ADS_1
"Harimau itu adalah milik saya." jawab Ziya atas rasa penasaran semua orang yang berjalan dibelakangnya.
"Anda sedang bergurau dengan kami Nona Muda, harimau itu bukankah binatang biasa dia memiliki kemampuan yang mengerikan." balas Zu Junhi yang tidak mempercayai perkataan Xiao Ziya.
"Harimau itu memang milik keponakan saya, dialah yang merawat harimau itu sejak bayi hingga dewasa." ucap Lee Brian.
Seketika semua orang terdiam, tidak ada lagi yang berani berkomentar mengenai asal usul sang harimau yang telah mengikat hati mereka.
"Kita sudah sampai." ucap Lee Brian.
Mereka semua telah sampai di sebuah lapangan yang cukup luas, di tengah tengah lapangan tersebut terdapat beberapa arena yang digunakan untuk bertarung. Lee Brian mempersilahkan anggota sayap kanan, Kaisar Langit, dan beberapa anggota malaikat kematian untuk duduk di kursi kursi yang ada di dekat area pertarungan.
"Saya persilahkan pada Xiao Ziya dan Nona Su Mingji untuk naik ke atas arena, dilarang saling membunuh dalam pertarungan kali ini. Jika salah satu diantara kalian dalam kondisi sekatat maka saya akan menghentikan pertarungan ini secara paksa." jelas Lee Brian mengenai aturan selama pertandingan berlangsung.
"Baiklah saya akan mematuhi aturan yang ada." jawab Su Mingji sembari mengedipkan sebelah matanya pada Lee Brian.
"Saya akan berusaha untuk mengendalikan emosi di saat pertanda berlangsung. Jika saya kehilangan kendali tolong hentikan saya paman." pesan Xiao Ziya pada sang paman dan langsung mendapat jawaban berupa sebuah anggukan.
Pertarungan antara Xiao Ziya dan Su Mingji pun dimulai. Su Mingji mengeluarkan sebilah pedang berwarna perak yang memancarkan sedikit aura kematian. Melihat pedang milik lawannya Xiao Ziya berusaha untuk menahan tawa, mungkin saja pedang itu memiliki aura lain yang lebih dominan.
"Ada apa dengan ekspresi wajah Anda Nona Xiao Ziya!! berani beraninya manusia seperti Anda meremehkan senjata milik anggota sayap kanan." bentak Su Mingji. Wajah wanita itu memerah dengan mata membelalak lebar.
"Saya tidak meremehkan senjata yang Anda miliki, saya hanya tidak terbiasa dengan senjata dengan aura seperti milik Anda." jawab Xiao Ziya.
"Omong kosong!!." triak Su Mingji sembari berlari secepat mungkin ke arah Xiao Ziya dan berusaha menghunuskan pedang peraknya itu pada Ziya.
Trang.......
Suara dentingan yang sangat nyaring saat dua bilah pedang saling bertabrakan satu sama lain. Kaki Su Mingji seketika bergetar ketika melihat pedang hitam dengan ukuran besar yang sedang dipegang oleh Xiao Ziya. Pedang itu memancarkan aura membunuh yang sangat kuat hingga dapat dirasakan oleh anggota sayap kanan yang lain.
"Darimana gadis manusia seperti Anda mendapatkan senjata semengerikan itu, apakah Anda mencurinya dari Alam Neraka?." tuduh Su Mingji.
"Untuk apa saya mencuri di Alam Neraka?. Saya adalah bagian dari mereka." jawab Xiao Ziya dengan tatapan membubuh.
__ADS_1