
Saat ini Min Xome dan Min Wungi telah sampai di perbatasan Kerajaan Bulan dengan Klan Yie, kedua pemuda itu menatap kesal ke arah Yie Laingfu yang tengah memarahi beberapa prajurit penjaga perbatasan karna prajurit yang dikirim ke istana tak kunjung datang.
"Sebaiknya Anda lebih bersabar lagi Tuan Yie Laingfu karna keberadaan Klan Yie di wilayah Kerajaan Bulan adalah hal yang tabu." ucap Min Wungi dengan tatapan sinis, ia sangat tak suka dengan cara berbicara pria itu dengan para prajurit penjaga perbatasan.
Yie Laingfu segera menoleh ke arah sumber suara, ia melihat ke arah dua pemuda yang sedang menatapnya dengan sinis ini. Mengapa bukan kakak perempuannya saja yang datang? mengapa harus kedua keponakannya yang sangat keras kepala itu. Yie Laingfu mendekat ke arah Min Xome dan Min Wungi kemudian tersenyum dengan lebar pada mereka berdua, melihat senyuman itu membuat keduanya ingin memukul wajah Yie Laingfu hingga babak belur.
"Apa yang ingin paman lakukan di wilayah Kerajaan Bulan? saat ini adik Ziya sedang pergi dan istana kerajaan tak bisa menerima tamu tanpa izin pemimpinnya." ucap Min Xome dengan tatapan serius, meskipun pria yang ada di hadapannya itu salah satu adik dari sang ibu namun kedua pemuda itu tak pernah menganggap keberadaannya.
"Paman ingin bertemu dengan putri paman untuk mengatakan beberapa hal, izinkan paman untuk masuk ke dalam istana." ucap Yie Laingfu dengan sorot mata sedih, ia akan melakukan apapun untuk bertemu dengan putrinya itu demi kelancaran rencana yang telah di buat oleh sang ayah dan ibu.
"Anda bisa datang lagi ketika Adik Ziya sudah kembali dalam perjalanan panjangnya, meski saat ini Kerajaan Bulan dititipkan pada kami bukan berarti kami bisa bertindak sesuka hati." jawan Min Xome dengan bijaksana, di Kerajaan Bulan Xiao Ziya tetaplah pemegang kekuasaan tertinggi.
"Paman hanya ingin bertemu dengan Yie Munha, tak akan ada kekacauan yang terjadi paman janji." ucap Yie Laingfu yang mulai membujuk kedua keponakannya itu dengan kata kata manis. Untunglah Min Xome dan Min Wungi bukanlah orang yang gampang terbujuk dengan kata kata palsu seperti itu.
Dari kejauhan Yie Munha berusaha menyusul kedua tuan muda itu dengan sekuat tenaga, setelah waktu yang cukup lama akhirnya ia sampai di perbatasan Kerajaan Bulan dengan Klan Yie. Gadis itu melihat sang ayah sedang memohon dihadapan Min Xome dan Min Wungi, bukannya merasa kasihan dengan ayahnya Yie Munha malah merasa malu. Mengapa sang ayah berani datang ketika ia memilih untuk meninggalkan putrinya di Istana Bulan dan mendapat hukuman dari Xiao Ziya? jika bukan karna kebaikan dari Xiao Ziya yang memberinya kesempatan kedua maka saat ini gadis itu hanya tinggal nama.
"Pergilah ayah, saya tak ingin melihat Anda berkeliaran di wilayah kekuasaan Nona Besar Xiao Ziya." ucap Yie Munha dengan tatapan serius, biarlah ia dianggap sebagai anak yang tak berbakti karna pada kenyataanya sang ayah juga bukan ayah yang baik, bukan ayah yang akan melindungi putrinya ketika sedang dalam bahaya.
"Akhirnya kau datang putriku, ayah sangat merindukan mu." ucap Yie Laingfu yang ingin memeluk Yie Munha namun gadis itu langsung mundur beberapa langkah. Tak ada yang tau apa yang sedang direncanakan oleh Klan Yie saat ini, bisa saja Yie Laingfu memeluk putrinya hanya untuk menancapkan pisau padanya saja.
"Mengapa kau menjadi seperti ini? bukankah kau selalu senang jika berada di dalam pelukan ayah?." tanya Yie Laingfu dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.
Yie Munha memutar bola matanya dengan malas, sudah lama ia bekerja sama dengan pria itu dan memerankan banyak karakter yang diminta olehnya, karna itulah Yie Munha tau bahwa saat ini sang ayah hanya sedang berpura pura menangis untuk mendapatkan simpati darinya.
"Apakah Anda lupa berapa lama saya tinggal bersama dengan Anda? dan berapa banyak peran yang Anda ajarkan pada saya?." ucap Yie Munha dengan raut wajah datar.
"Saat ini nenek mu sedang dalam kondisi kritis, ia ingin bertemu dengan cucu perempuan kesayangannya sebelum ajal menjemputnya." ucap Yie Laingfu sembari memohon pada Yie Munha agar gadis itu mau kembali ke Klan Yie untuk bertemu dengan sang nenek yang sedang sekarat.
"Apa Anda mendengar itu Tuan malaikat maut? bagaimana jika Anda mencabut nyawa wanita tua itu agar ia tak merasa kesakitan lagi??" ucap Yie e sembari memandang ke atas langit, ia tak yakin jika neneknya ingin bertemu dengannya dengan alasan rindu.
"Jaga ucapan mu, bukankah selama ini kau bisa hidup dengan enak karna kasih sayang nenek dan kakek mu itu!" ucap Yie Laingfu dengan suara yang sedikit ia kencangkan.
Yie Munha sangat muak jika harus menanggapi drama yang sedang dibuat sang ayah serta kakek neneknya agar ia mau kembali ke Klan Yie, gadis itu mengeluarkan sebuah pedang berwarna ungu yang diberikan oleh Xiao Ziya kepadanya sebagai hadiah karna ia berhasil membawa surat wasiat yang ditinggalkan oleh nenek Xiao Ziya. Yie Laingfu menatap ke arah putrinya dengan tatapan tak percaya, sekarang Yie Munha memiliki keberanian untuk melawan ayahnya sendiri. Pengaruh buruk apa yang telah diberikan oleh Xiao Ziya pada putri kesayangannya itu.
"Sekarang kau tumbuh menjadi anak pembangkang yang tak mematuhi perkataan ayahmu sendiri? apa yang telah diajarkan oleh gadis itu hingga kau berubah seperti ini putriku!!!." bentak Yie Laingfu pada Yie Munha.
Min Xome dan Min Wungi ingin membantu gadis itu untuk melawan Yie Laingfu, dengan segera Yie Munha menahan keduanya dan mengatakan bahwa masalah ini akan ia selesaikan sendiri.
__ADS_1
"Baiklah kami akan mengawasi Anda dari belakang, dan bila terjadi sesuatu maka kami akan mengambil tindakan." ucap Min Xome yang mengizinkan gadis itu untuk menyelesaikan masalah pribadinya sendiri. Min Xome yakin ajaran yang diberikan oleh Xiao Ziya untuk gadis itu sudah cukup untuk melawan Yie Laingfu meskipun Yie Munha harus menerima beberapa luka yang cukup parah nantinya.
"Baiklah jika itu keputusan mu, maka ayah akan membawamu kembali ke Klan Yie secara paksa." ucap Yie Laingfu, pria itu mengeluarkan sebuah tombak yang ia ikat di punggungnya.
Pasangan ayah dan anak itu saling menatap sinis satu sama lain, Yie Munha mengambil kuda kuda dan siap untuk menyerang ataupun bertahan dari serangan yang akan dilakukan oleh ayahnya. Yie Laingfu berlari ke arah Yie Munha dengan kecepatan tinggi, ia melakukan gerakan menusuk dengan cepat menggunakan tombak yang ia bawa sedangkan Yie Munha berusaha menangkisnya menggunakan pedang pemberian Xiao Ziya. Suara dentingan yang cukup nyaring ketika pedang milik Yie Munha berbenturan dengan ujung tombak milik ayahnya, Yie Laingfu mulai serius dan berhasil melukai lengan gadis itu.
"Menyerah lah dan ikut ayah kembali ke Klan Yie." ucap Yie Laingfu sembari mempercepat gerakan tombaknya itu.
"Saya tak akan pernah kembali ke tempat mengetikan itu selama Yie Gu yang menjadi pemimpinnya." jawab Yie Munha dengan tegas, ia tak ingin dimanfaatkan lagi oleh kakek neneknya.
"Dasar gadis keras kepala, siapa yang mengajari mu hal hal seperti ini." ucap Yie Laingfu dengan tatapan kesal, pria itu hampir menusuk jantung Yie Munha namun untungnya gadis itu bisa menghindar dengan cepat sehingga hanya bajunya saja yang terkoyak.
Yie Munha tak akan kalah dalam pertarungan kali ini, setelah melihat sang ayah secara sengaja mengincar nyawanya, Yie Munha mulai serius dalam pertarungan dan ia melakukan langkah pertama dari jurus pedang penghancur bumi. Yie Munha melakukan beberapa gerakan dengan sangat cepat, sebuah serangan datang pada Yie Laingfu dan pria itu gagal menghindarinya. Langkah pertama dari jurus pedang penghancur bumi dapat memukul mundur Yie Laingfu, ia sampai mengalami luka yang cukup parah dan memuntahkan darah dalam jumlah banyak.
"Jika ayah bisa mengorbankan nyawa wanita yang ayah cintai, artinya ayah juga sanggup mengorbankan darah daging ayah sendiri. Jangan kira saya tak tau apa yang telah terjadi pada ibu." ucap Yie Munha dengan kemarahan yang meluap luap, ia mendapatkan informasi tentang kematian ibunya dari salah satu mata mata milik Xiao Ziya yang ditempatkan di Klan Yie.
"Ibumu sudah tak berguna lagi setelah melahirkan mu, apa kau tega melihat ayahmu ini kerepotan mengurus wanita cacat sepertinya?." ucap Yie Laingfu dengan suara tawa yang memekik telinga.
"Ayah pantas mati!!!!." triak Yie Munha yang berlari ke arah ayahnya. Gadis itu ingin menusukkan pedang yang ia genggam pada jantung Yie Laingfu namun tiba tiba gadis itu terjatuh di tanah karna energi qi yang ia miliki terkuras habis setelah melakukan langkah pertama dari jurus pedang penghancur bumi.
"Jaga dirimu dengan baik putriku, entah setelah ini kau masih bisa melihat ayah lagi atau tidak." ucap Yie Laingfu yang berusaha untuk bangun, setelah berhasil pria itu langsung berjalan kembali menuju Klan Yie. Mungkin setelah sampai di sana ia akan mendengar kata kata hinaan yang dilontarkan oleh ayah dan ibunya karna gagal membawa Yie Munha kembali.
Pagi telah tiba namun tak ada sinar matahari yang dapat masuk ke dalam bagian dalam dari Hutan Pasir Hitam, Xiao Ziya masih tertidur dengan pulas di atas atap istana tanpa terganggu oleh sinar matahari yang menyoroti wajah cantiknya itu. Xiao Ziya sangat enggan membuka mata karna ia harus memulai harinya yang sangat melelahkan, namun gadis itu juga tak bisa menolak jalan yang seharusnya ia tempuh. Dengan terpaksa Xiao Ziya membuka matanya secara perlahan dan samar samar melihat ke atas langit.
"Ternyata masih malam." ucap Xiao Ziya yang kembali memejamkan matanya karna ia masih mengantuk.
Saat Xiao Ziya ingin kembali terlelap dalam tidurnya tiba tiba saja Jeinza Lee naik ke atas atap istana dan mengejutkan gadis itu. Jeinza Lee yang saat ini sudah menjadi pengikut setia dari Xiao Ziya hanya ingin mengingatkan pada nona mudanya bahwa di wilayah tersebut tak akan pernah ditembus oleh sinar matahari.
"Jadi maksudmu sekarang ini sudah pagi?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan malas, ia masih ingin tidur dengan nyaman dan mengistirahatkan otak serta hatinya yang terasa lelah.
"Benar, sebaiknya nona segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri kemudian langsung pergi ke ruang makan karna yang lain sedang menunggu kedatangan Anda." ucap Jeinza Lee yang langsung terjun langsung dari atap menuju ke bawah, setelah menjadi pengikut dari Xiao Ziya sifat wanita itu sedikit bar bar seperti Nona Besarnya.
Xiao Ziya melihat kepergian pengikut setianya itu, ia meregangkan tubuh kemudian turun dengan cara berguling hingga jatuh ke tanah. Untung tubuh gadis itu sudah dilapisi dengan sihir pelindung sehingga tak merasa sakit ketika terjun langsung dari atas ke bawah, beberapa prajurit kalajengking iblis langsung menghampiri Xiao Ziya karna takut Junjungan Muda mereka terluka.
"Apa yang terjadi hingga Junjungan Muda jatuh dari atap? apakah ada seseorang yang menyerang Anda?. Kami siap melindungi Junjungan Muda dengan sepenuh hati. ucap para prajurit kalajengking iblis itu dengan sedikit berlebihan hingga membuat Xiao Ziya semakin malas.
"Saya baik baik saja, kalian segera kembali ke tempat masing masing." ucap Xiao Ziya dengan tegas, gadis itu memberikan perintah meski ia bukan pemimpin di kerjaan tersebut.
__ADS_1
Tak ingin menciptakan keributan yang lebih besar lagi akhirnya Xiao Ziya memilih untuk masuk ke dalam istana dan bergegas pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, di sepanjang lorong menuju kamar para pelayan dan prajurit kalajengking iblis yang berpapasan dengannya langsung membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan. Setelah sampai di depan pintu kamar tamu tanpa basa basi Ziya langsung masuk ke dalam dan menguncinya dengan rapat, setelah itu ia pergi ke kamar mandi. Di sisi lain saat ini Lunzie Xu, Yanze Xu, dan Raja Artur sudah berada di ruang makan mereka bertiga sedang menunggu kedatangan Xiao Ziya dengan suasana hening yang menyelimuti ruang makan itu.
"Sepertinya Nona Besar Xiao Ziya masih tidur, apakah kita perlu meminta pelayan untuk membangunkannya?." tanya Lunzie Xu dengan tatapan bingung, haruskah ia membangunkan Nona Besarnya itu atau memulai sarapan terlebih dahulu?.
"Sebaiknya kita menunggu sebentar lagi, mungkin Nona Besar sedang bersiap untuk datang kemari." ucap Yanze Xu.
Raja Artur hanya diam menatap ke arah kakak beradik yang saling berbincang bincang satu sama lain, ia tak berani mengatakan apapun karna masih cukup trauma hukuman yang diberikan oleh Xiao Ziya untuknya. Setalah menunggu beberapa saat pintu ruang makan terbuka dengan lebar menampakkan seorang gadis dengan wajah mengantuk, Xiao Ziya memilih duduk di samping Raja Artur meski ia merasakan bahwa kakek tua itu ketakutan dengannya.
"Selamat pagi semuanya maaf karna membuat mereka menunggu lama." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tanpa rasa bersalah.
"Selamat pagi Nona Xiao Ziya." ucap ketiganya secara bersamaan.
"Silahkan makan terlebih dahulu karna saya masih sangat mengantuk." ucap Xiao Ziya yang hampir memejamkan matanya lagi. Raja Artur yang tadinya merasa takut pada Xiao Ziya malah menahan tawa karna ulah gadis nakal itu.
"Tidurlah gadis nakal jika kau masih mengantuk." ucap Raja Artur sembari mengusap kepala gadis itu dengan pelan.
Xiao Ziya menoleh ke arah Raja Artur kemudian ia tersenyum manis dengan mata yang masih tertutup. Akhirnya Raja Artur, Lunzie Xu, dan Yanze Xu tak dapat menahan tawa meraka lagi, ketiganya tertawa dengan sangat kencang karna melihat wajah lucu dari Xiao Ziya. Ziya yang saat itu sedang ditertawakan hanya diam dan menutup matanya, gadis itu hampir terjauh kebelakang untung saja Raja Artur menahan kusir gadis itu.
"Terimakasih kakek tua, lain kali jangan membuat kesalahan yang merepotkan saya. Apakah Anda tak tau bahwa masih banyak tugas yang harus saya lakukan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis, gadis itu berusaha membuka matanya namun ia tak sanggup karna rasa kantuk yang teramat sangat. Meski sudah mandi dan membasuh wajahnya berkali kali, itu tak berpengaruh sama sekali terhadap rasa kantuk yang melanda Xiao Ziya.
"Bisakah salah satu dari kalian mengambilkan makanan untuk saya, saya sangat lapar namun tak dapat membuka mata." ucap Xiao Ziya yang meminta bantuan pada ketiga pria yang sedang berada di ruang makan yang sama dengannya.
Lunzie Xu dan Yanze Xu saling bertatapan satu sama lain mereka tak tau makanan yang disukai ataupun tak disukai oleh junjungan muda, pada akhirnya Raja Artur lah yang mengambilkan dua potong besar daging bakar serta beberapa sayuran untuk Xiao Ziya.
"Terimakasih Yang Mulia Raja Artur." ucap Xiao Ziya yang memasukkan potongan daging dengan ukuran yang cukup besar itu langsung kedalam mulutnya, gadis itu hanya tak ingin salah memotong sesuatu jika ia harus memegang pisau.
"Apa kau tak tidur semalam hingga mengantuk seperti ini?." tanya Raja Artur dengan tatapan keheranan sembari memotong daging bakar itu dengan ukuran yang lebih kecil lagi.
"Semalam saya tidur hampir bersamaan dengan matahari terbit, tadinya saya ingin tidur kembali namun saya baru mengingat bahwa matahari tak dapat menembus bagian terdalam dari Hutan Pasir Hitam ini." jawab Xiao Ziya masih dengan mata terpejam.
"Sebaiknya sebelum Anda melanjutkan perjalanan, Anda perlu beristirahat beberapa jam lagi." ucap Yanze Xu yang memberikan saran pada Xiao Ziya sembari mengunyah daging di dalam mulutnya.
"Saya tak ingin membuang buang waktu terlalu banyak, setelah urusan di Dunia Manusia Abadi ini selesai saya harus pergi ke Alam Neraka untuk memukul kepala pemimpin kelompok Kalajengking Iblis hingga ia mati." ucap Xiao Ziya dengan serius meski matanya masih terpejam.
"Saya akan menunggu saat saat itu datang." balas Yanze Xu penuh dengan semangat.
Hai hai semua author balik lagi nih gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1