
Raja Yongling Zu melihat kepergian putra keduanya dengan tatapan bingung, sihir apa yang telah digunakan oleh Xiao Ziya hingga meluluh hati dingin dari Pangeran Jongsu Zu. Pangeran Jongsu Zu memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan ketiga saudaranya yang lain, ia tak suka ikut campur dalam masalah seseorang atau membela seseorang yang ia kenal saat tertimpa masalah. Bagi Pangeran Jongsu Zu hal semacam itu sangatlah merepotkan, dan ia tak ingin membuang buang waktu untuk hal yang tak berguna. Pangeran Jongsu Zu sangat jarang berbicara panjang lebar pada orang lain, ia cenderung memilih untuk diam dan mendengar tanpa mengutarakan saran atau pendapat yang ia miliki. Karna gak itu wajar saja jika Raja Yongling Zu terkejut dengan sikap putra keduanya hari ini.
Saat sang raja sedang memikirkan apa yang sedang terjadi pada Pangeran Jongsu Zu, tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya. Raja Yongling Zu mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam, ternyata yang datang Pangeran Xilian Zu dengan Putri Ming Zu. Mereka berdua adalah anak dari Mue Zu yang selama ini ingin merebut posisi Junyi menjadi seorang ratu.
"Salam hormat kami pada ayah." ucap Pangeran Xilian Zu dan Putri Ming Zu secara bersamaan. Entah mengapa raut wajah Raja Yongling Zu berubah menjadi kesal.
"Ucapkan salam dengan benar!." bentak Raja Yongling Zu kepada kedua anak selirnya itu.
"Anda adalah ayah kami, lalu apa yang salah dengan salam yang telah kami ucapkan?." tanya Putri Ming Zu dengan sangat berani, padahal sang putri tau ayahnya memiliki tempramen yang sangat buruk.
"Pergilah jika tak ingin mengucap salam dengan benar, sudah berkali kali saya memberitahu hal ini pada kalian berdua." ucap Raja Yongling Zu yang tak ingin tekanan darahnya naik hanya karna mengurus kedua anak selir.
"Maafkan kami Yang Mulia Raja Yongling Zu, lain kali kami berdua akan mengingat perkataan anda." ucap Pangeran Xilian Zu yang memilih untuk mengalah, posisi mereka akan semakin terancam jika menjadi anak anak yang suka membangkang.
"Ada keperluan apa kalian berdua mencari saya?." tanya Raja Yongling Zu dengan nada datar, sang raja memang tak menyukai kedua anaknya itu.
Alasan Raja Yongling Zu tak menyukai kedua anak dari selir itu karna mereka berdua tak memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang kultivasi, sihir, ataupun bidang sastra. Dengan kata lain kedua anak selir itu tak akan berguna bagi Kerajaan Bintang Timur di masa sekarang ataupun di masa depan. Ketidak mampuannya kedua anak itu menjadi aib bagi Raja Yongling Zu, kerap kali beberapa temannya mengejek karna seorang raja yang hebat memiliki keturunan yang tak berguna.
"Kami baru saja melihat saudara saudara kami keluar dari ruang kerja ayah, apa ayah ingin membagi rencana yang telah ayah buat dengan kami berdua?." tanya Pangeran Xilian Zu dengan sangat berhati hati.
"Kalian berdua tak perlu ikut campur dalam permasalahan kali ini." jawab Raja Yongling Zu dengan ketus.
"Kami berdua juga anak kandung ayah, mengapa ayah selalu membandingkan kami dengan mereka!." triak Putri Ming Zu, ia sangat kesal dengan perlakuan tak adil dari sang ayah.
"Mengapa kalian lahir sebagai anak anak yang tak berguna? setidaknya kalian harus memiliki kemampuan untuk pantas menjadi anak saya." ucap Raja Yongling Zu, sang raja memberikan isyarat agar kedua anaknya segera keluar dari ruang kerjanya itu.
Pangeran Xilian Zu mengucapkan salam kemudian membawa adik perempuannya pergi secara paksa sebelum sang ayah benar benar marah pada mereka berdua. Setelah berada di luar ruang kerja Raja Yongling Zu, Pangeran Xilian Zu memarahi sang adik atas sikapnya barusan.
"Bersikaplah lebih baik jika tak ingin ditendang keluar dari istana ini." tegas Pangeran Xilian Zu pada Putri Ming Zu.
"Aku akan mencobanya lain kali, sangat sulit menekan emosi saat mendengar kata kata menyakitkan itu." ucap Putri Ming Zu yang langsung pergi meninggalkan kakak laki lakinya.
Hari sudah menjelang siang, pasukan sekutu Xiao Ziya yang berada di markas sudah sampai di Kerajaan Bulan. Saat ini Ratu Rexuca sedang memegangi Putri Jifana yang sedang memberontak, sang putri tak percaya jika sang ayah kalah melawan Xiao Ziya. Putri Jifana yakin bahwa mereka yang berada di pihak Xiao Ziya telah melakukan hal hal licik untuk menipu pasukan Kerajaan Bulan sehingga bisa merebut tahta yang seharusnya menjadi miliknya saat ia sudah berusia dua puluh tahun nanti.
"Lepaskan aku, kalian sekumpulan orang orang licik. Pasti kalian memenangkan peperangan dengan cara curang!" triak Putri Jifana dengan dangat kencang, ia menggigit lengan Ratu Rexuca yang sedang memegangnya. Untung saja Ratu Rexuca tak melepaskan gadis itu karna sang ratu tau Putri Jifana hanya akan membuat kekacauan.
__ADS_1
"Kalian para prajurit Kerajaan Bulan tolong bantu saya menyingkirkan para penghianatan ini." ucap Putri Jifana yang ingin meminta bantuan para prajurit Kerajaan Bulan yang sedang berkumpul di sekitar gerbang masuk istana.
Prajurit prajurit itu hanya diam, mereka tak akan mendengar perintah dari Putri Jifana lagi karna pemimpin sudah berganti. Semua prajurit yang tersisa di Kerajaan Bulan sangat kecewa dengan mendiang raja mereka yang dengan tega menimbun harta kerajaan untuk kepentingan pribadi. Merasa diabaikan oleh bawahannya membuat Putri Jifana semakin marah, ia memaki maki Xiao Ziya karna telah mencuci otak semua pekerja yang ada di Istana Kerajaan Bulan.
"Gadis itu tak bisa memberikan apapun pada kalian, mengapa kalian lebih menghormatinya daripada saya!." triak Putri Jifana lagi dengan kesalahan yang memuncak.
"Ayah anda telah kalah dalam peperangan, tahta Kerajaan Bulan sudah ditempati oleh Nona Besar Xiao Ziya. Raja Anling Zee bukanlah raja yang baik karna ia menyimpan harta kerajaan untuk kepentingan pribadi, karna itulah kami dan para penduduk Kerajaan Bulan tak pernah merasakan hidup dalam kemakmuran." jawab salah seorang prajurit dengan tatapan penuh kebencian yang ia perlihatkan pada Putri Jifana.
"Siapa yang telah membohongi kalian hah! ayah tak pernah melakukan hal semacam itu." balas Putri Jifana, ia tak percaya bahwa sang ayah bisa melakukan tindakan keji seperti yang prajurit itu katakan. Selama ini ayahnya selalu memberikan upah dan membantu para penduduk Kerajaan Bulan saat kemarau panjang datang.
"Selama ini keluarga Kerajaan Bulan selalu hidup dengan mewah meski rakyat sedang menderita kelaparan, bantuan yang mendiang Raja Anling Zee berikan hanya diperuntukkan untuk para kepala desa dan beberapa orang yang memiliki bisnis besar saja. Kami memang mendapat gaji, namun gaji yang kami terima tak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu bulan." jawab prajurit lain dengan tenang.
"Kami lebih percaya dengan pemimpin baru kami ini. Ia bisa mengadakan pesta perayaan kemenangan tanpa menggunakan uang kerajaan sepeserpun." ucap prajurit lain, ia rasa Xiao Ziya jauh lebih baik dari Putri Jifana.
"Otak kalian pasti sudah di cuci oleh gadis itu, mana mungkin seorang gadis yang lahir dan dibesarkan di dunia bawah memiliki harta melimpah?." ucap Putri Jifana dengan senyum meremehkan.
Karna sudah muak mendengar ocehan dari Putri Jifana, akhirnya dengan paksa Ratu Rexuca menarik gadis itu masuk kedalam Istana Kerajaan Bulan. Di dalam istana terlihat ratusan ribu prajurit yang sedang menikmati berbagai hidangan yang sudah disediakan oleh para pelayan, Putri Jifana cukup terkejut karna semua hidangan itu sangat banyak dan terkesan mewah. Ratu Rexuca membawa Putri Jifana kehadapan Xiao Ziya yang sedang berbincang bincang dengan Raja Artur.
"Senang bertemu dengan anda Nona Ziya. Saya sudah membawa gadis sampah ini untuk anda." ucap Ratu Rexuca yang melempar tubuh Putri Jifana hingga berlutut di bawah Xiao Ziya.
Xiao Ziya menundukkan kepala dan melihat ke arah Putri Jifana, Ziya tersenyum miring melihat kondisi mengenaskan yang sedang dialami oleh sang putri.
"Anda sudah puas merebut semua yang saya miliki?" ucap Putri Jifana seolah olah Xiao Ziya adalah perusak dalam kehidupannya.
"Ya saya sangat puas, siapapun yang menantang saya akan mendapatkan akhir seburuk ini." jawab Xiao Ziya dengan tenang dan nada bicara yang cukup menyebalkan.
"Ayah saya pasti sudah anda bunuh, dimana kakak saya berada?." tanya Putri Jifana, entah mengapa sang putri juga berharap bahwa Pangeran Yozan Zee juga sudah dibunuh oleh gadis kejam itu.
Xiao Ziya sempat berfikir sejenak, sepertinya ia melupakan Pangeran Yozan Zee yang selama ini terkurung di dalam cincin semesta. Gadis itu hanya berharap semoga Pangeran Yozan Zee tak mati kelaparan di dalam cincin semestanya itu, Xiao Ziya mengibaskan tangan kanannya dan muncullah seorang pemuda dalam kondisi yang sangat sehat.
"Bukankah terkahir kali kondisimu sangat mengenaskan? baguslah jika sang dewi merawat mu dengan baik." ucap Xiao Ziya dengan perasaan lega, bagaimana cara dia memberitahukan tentang kemenangannya pada Pangeran Yozan Zee jika pemuda itu masih dalam kondisi sekarat.
"Mengapa kau mengeluarkan saya dari tempat indah itu, saya ingin masuk kesana lagi." ucap Pangeran Yozan Zee dengan tatapan kesal. Selama di dalam tempat aneh itu ia dirawat oleh seorang wanita yang sangat cantik, dan ada seorang pria yang selalu menatap tajam ke arahnya.
"Jangan berharap untuk masuk kesana lagi, kali ini anda harus menghadapi kenyataan bahwa Kerajaan Bulan telah jatuh ke tangan saya." balas Xiao Ziya pada Pangeran Yozan Zee, gadis itu tak akan membiarkan sang pangeran terlalu dekat dengan Dewi yang ada di dalam cincin semestanya.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus saya lakukan? jika ayah sudah kalah maka kerajaan ini menjadi milikmu sekarang. Saya tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, yang saya inginkan hanya kembali ke dalam tempat aneh itu." ucap Pangeran Yozan Zee dengan keras kepala.
"Otakmu sudah rusak gege? seharusnya kita merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita dari gadis itu." ucap Putri Jifana dengan raut wajah marah.
"Lakukan saja jika kau ingin melakukannya, aku sudah menyerah." ucap Pangeran Yozan Zee dengan sangat pasrah.
"Dewi Yin Yuer membantu merawat mu atas perintah saya, anda juga perlu mengetahui bahwa sang dewi sudah memiliki kekasih." ucap Xiao Ziya pada Pangeran Yozan Zee dengan tatapan datar. Sang pangeran tak akan cocok jika bersanding dengan Dewi Yin Yuer.
"Kekasih? yang benar saja. Saya hanya melihat seorang pria yang sedang menatap saya dengan tajam sepanjang waktu. Bagaimana bisa pria jelek itu menjadi kekasih dewi yang begitu cantik?." ucap Pangeran Yozan Zee yang sedang menghina Lunzie Xu.
"Pria itu adalah kekasih Dewi Yin Yuer, dia lebih baik dari segi apapun dibandingkan dengan anda. Saya sudah merestui hubungan mereka karna saat ini Dewi Yin Yuer hanya akan mendengar perintah saya saja." jawab Xiao Ziya dengan lebih jelas agar Pangeran Yozan Zee tak terus bermimpi untuk mendapatkan Dewi Yin Yuer.
"Mengapa seperti itu!!! saya sangat mencintai sang dewi. Tolong masukkan saya kedalam tempat itu lagi, saya akan menanyakan hal ini pada dewi itu secara langsung." ucap Pangeran Yozan Zee yang sedang memohon pada Xiao Ziya. Ziya hanya menghela nafas pasrah, Pangeran Yozan Zee tak akan mendengar apa yang ia katakan. Lebih baik Xiao Ziya memasukkannya kembali ke dalam cincin semesta dan membiarkan Dewi Yin Yuer menjelaskan semuanya pada pemuda itu.
Xiao Ziya kembali mengibaskan tangannya dan Pangeran Yozan Zee seketika menghilang, setelah kepergian sang pangeran kini tinggal Putri Jifana yang masih ingin merebut tahta Kerajaan Bulan dari Xiao Ziya.
"Bunuh saja gadis ini, suaranya sangat mengganggu telinga." ucap Raja Artur dengan tatapan mematikan, ia tak ingin gendang telinganya pecah karna terlalu lama mendengar ocehan Putri Jifana yang tak masuk akal.
"Terlalu cepat baginya untuk mati, gadis ini masih sedikit berguna karna ada satu anggota Keluarga Kerajaan Bulan yang belum kembali." ucap Xiao Ziya dengan senyuman miring, gadis itu sangat menantikan bagaimana reaksi Ratu Jinha Zee setelah mengetahui kekalahan suaminya.
"Jangan berani menyentuh ibu saya, dia tak ikut campur dalam masalah yang kami buat." ucap Putri Jifana dengan raut wajah khawatir, ia lupa bahwa saat ini ibunya masih berada di rumah kakek dan nenek yang berada di kerajaan lain.
"Itu tergantung bagaimana caramu bersikap nanti, jika kau terus memberontak maka nyawa ibumu tak akan selamat." ucap Xiao Ziya yang sedang mengancam Putri Jifana. Sang putri langsung terdiam dan tak mengatakan apapun, untuk sementara waktu ia akan menjadi gadis penurut demi keselamatan ibunya.
"Bawa gadis ini ke penjara bawah tanah, jauhkan ia dari Yie Munha." ucap Xiao Ziya yang masih ingat bahwa Yie Munha masih berada di dalam penjara bawah tanah. Jika Yie Munha dan Putri Jifana bersatu, maka mereka akan mencari cara untuk membalas dendam atas tindakan Xiao Ziya selama ini.
"Baik kami mengerti nona besar." ucap beberapa prajurit yang langsung membawa Putri Jifana pergi dari tempat pesta perayaan kemenangan Xiao Ziya.
Setelah Putri Jifana dibawa pergi, pesta terus berlanjut hingga mereka semua puas menikmati hidangan yang disajikan. Xiao Ziya mempersilahkan para prajurit dan pelayan yang berada di Istana Kerajaan Bulan untuk ikut berpartisipasi dalam perayaan kali ini, terlihat para prajurit dan pelayan itu begitu senang.
"Setelah ini kami harus segera kembali." ucap Ratu Rexuca pada Xiao Ziya, saat ini suaminya sedang menunggu di Dunia Peri dengan rasa cemas.
"Saya sangat berterimakasih atas bantuan yang telah anda berikan, jika suatu saat anda membutuhkan bantuan saya maka saya akan datang kapanpun." ucap Xiao Ziya, ia tak tau harus mengatakan apa lagi.
"Saya juga senang bisa membantu anda, kalau begitu saya permisi." ucap Ratu Rexuca, sang ratu membawa pasukan peri untuk keluar dari Istana Kerajaan Bulan setelah itu mereka membaca mantra secara bersamaan dan menghilang begitu saja.
__ADS_1
Saat Xiao Ziya dan para sekutunya yang tersisa masih menikmati pesta perayaan, di sisi lain Yie Gu dan Yie Laingfu baru saja tiba di Klan Yuang Yie dalam konsisi yang sangat mengenaskan.
Hai hai semuanya author balik lagi nih, kalian lagi sekolah ya? semangat sekolahnya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.