
Jadi gadis yang sedang berbincang bincang dan merayakan ulang tahun adalah putri angkat dari Raja Zeuz seorang raja yang memimpin kerajaan terbesar dan terkuat yang ada di dunia atas.
"Maafkan kami yang lancang pada tuan putri." ucap beberapa kultivator yang merasa tak nyaman dan takut menyinggung putri angkat dari Raja Zeus.
"Kalian tenang saja tak perlu sungkan, jika kalian tak membuat masalah semuanya akan baik baik saja." ucap Xiao Ziya yang melanjutkan memakan beberapa menu yang ada di hadapannya.
Pesta ulang tahun Xiao Ziya yang kedua belas berjalan hingga sore hari, semua orang yang hadir di acara itu mengucapkan trimakasih atas jamuan pesta yang diadakan oleh Xiao Ziya. Pemilik restoran sangat bersyukur karna memiliki pelanggan yang sangat baik.
Saat Xiao Ziya keluar dari restoran ia berpapasan dengan seorang pemuda yang merupakan anak kedua dari pemilik restoran. Saat hendak berjalan lagi Xiao Ziya merasakan kehadiran orang lain dengan aura membunuh yang cukup pekat, gadis itu sudah bersiap dengan pedang hitam yang ia genggam di tangannya.
"Awas." ucap Xiao Ziya yang langsung menarik pemuda itu untuk menjauh karna ada sebuah pisah kecil berlumuran racun yang dilemparkan ke arah sang pemuda.
Tuan Wining dan Anling yang masih ada di depan restoran juga terkejut dengan penyerangan yang tiba tiba saja terjadi. Apalagi sasarannya adalah Wulong yang baru saja pulang dari rumah sepupunya.
"Putraku apakah kau baik baik saja, trimakasih nona Ziya." ucap Tuan Wining yang lega karna putranya baik baik saja.
"Mereka masih ada di sekitar sini." ucap Xiao Ziya yang memperingatkan pada ketiga orang yang ada di belakangnya. Entah apa yang telah dilakukan oleh pemuda bernama Wulong itu sehingga ia diikuti oleh beberapa penjahat.
"Mengapa mereka mengikutiku." ucap Wulong yang tak mengerti karna ia tak menyinggung siapapun akhir akhir ini.
Wulong adalah pemuda yang cukup terkenal karna ia adalah putra dari pemilik restoran bintang lima, selain itu ia adalah murid berbakat di akademinya, parasnya juga bisa dibilang tampan sehingga ada beberapa pihak yang iri padanya.
"Entahlah saya tak bisa memastikan hal itu." ucap Xiao Ziya karna ia memang tak mengenal pemuda yang ada di hadapannya dan apa alasan para penjahat itu mengikutinya.
Xiao Ziya melihat kesana kemari ia menemukan beberapa orang yang sedang bersembunyi di beberapa kedai yang tak jauh dari restoran itu. Xiao Ziya melesat secara zigzag, gadis itu mengeluarkan sulur hitamnya untuk mengikat para penjahat itu kemudian ia membawanya dihadapan Wulong, Tuan Wining, dan Anling.
"Katakan pada saya mengapa kalian berlima mengikuti pemuda itu." ucap Xiao Ziya yang ingin tau mengapa kelima orang itu ingin mencelakai Wulong.
"Pergilah gadis kecil kami tak ada urusan denganmu." ucap seorang pemuda yang meminta pada Xiao Ziya untuk pergi karna mereka tak ada urusan dengan gadis itu.
"Cepatlah bicara saya tak punya banyak waktu." ucap Xiao Ziya yang tak ingin menunggu lebih lama lagi. Mata gadis itu kini berubah menjadi merah dan menatap kelima pemuda itu dengan tajam.
"Kami semua adalah para pemuda rakyat biasa, kami sangat iri dengan Tuan Muda Wulong. Ia memiliki paras yang tampan, dan terlahir dari pemuda yang kaya. Sedangkan kami hanya memiliki takdir yang buruk." ucap salah seorang dari kelima pemuda itu yang ternyata iri pada Tuan Muda Wulong.
Xiao Ziya menatap kelima pemuda itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, gadis itu keheranan mengapa mereka berlima berniat untuk membunuh orang hanya karna iri.
"Hah kalian ini membuatku lelah saja." ucap Xiao Ziya yang menepuk jidatnya karna ini adalah kasus terbaru yang baru saja ia temui.
"Maafkan kami nona, kami hanya merasa bahwa takdir sangat tak adil." ucap salah satu dari kelima pemuda itu.
"Datanglah ketempat ini besok pagi, jangan bertindak seperti ini lagi." ucap Xiao Ziya yang melepaskan sulur sulur hitamnya dari kelima pemuda itu. Kemudian gadis itu melesat pergi ke penginapannya.
"Hah sungguh melelahkan." ucap Xiao Ziya yang langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur kemudian memejamkan matanya. Gadis itu mulai terlelap dalam mimpi, di dalam mimpinya Xiao Ziya bertemu dengan seorang kakek tua yang pernah ia temui sebelumnya.
"Bagaimana kabarmu cucuku." ucap laki laki tua itu yang merupakan kakek dari Xiao Ziya. Namun Xiao Ziya tak tau dimana kakeknya berada sekarang.
"Saya baik baik saja, dimana kakek dan ibu tinggal saya ingin bertemu dengan kalian." ucap Xiao Ziya yang ingin segera bertemu dengan kakek dan juga ibunya.
"Perjalananmu masih sangat panjang cucuku, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu di dunia nyata." ucap kakek Xiao Ziya yang memeluk cucunya sebentar kemudian kakek tua itu menghilang.
__ADS_1
Entahlah mengapa hanya untuk bertemu dengan ibu dan keluarganya yang lain Xiao Ziya harus melakukan perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan seperti ini.
"Kapan saya bisa membuka buku itu." ucap Xiao Ziya yang teringat pada buku bersampul tengkorak yang ia simpan di dalam cincin penguasa mutlaknya. Kalung dengan liontin kunci juga masih Xiao Ziya kenakan setiap hari.
Gadis itu sempat mengira jika ia sudah sampai di dunia atas maka ia langsung bisa membuka buku bersampul tengkorak itu, entah apa yang harus ia cari atau selesaikan agar dapat membukanya, Xiao Ziya akan menyelesaikan setiap takdir takdir menakjubkan yang telah menunggunya.
Waktu berlalu dengan begitu cepat kini pagipun telah tiba, Xiao Ziya baru saja terbangun dalam tidur lelapnya. Gadis itu segera membersihkan diri kemudian menggunakan gaun berwarna biru muda yang sangat cerah dan juga cantik. Xiao Ziya keluar dari penginapan kemudian berpamitan pada wanita pemilik penginapan itu karna ia sudah tinggal tiga malam di sana.
"Trimakasih karna bibi telah menerima saya dengan baik." ucap Xiao Ziya yang merasa sangat terbantu dengan adanya penginapan milik wanita itu.
"Lain kali jika nona membutuhkan penginapan harian lagi datanglah ketempat saya." ucap pemilik penginapan yang juga senang karna memiliki tamu yang sangat ramah.
Xiao Ziya melangkah keluar dari penginapan itu, ia pergi menuju restoran bintang lima. Xiao Ziya memiliki janji pertemuan dengan kelima pemuda yang kemarin malam hampir membunuh putra dari pemilik restoran bintang lima. Saat sampai di depan restoran terlihat kelima pemuda sudah ada di sana, Xiao Ziya sangat suka dengan mereka yang bisa tepat waktu.
"Selamat pagi nona, kami semua telah hadir di sini, sebenarnya apa yang ingin nona lakukan sehingga meminta pada kami untuk datang sepagi ini." ucap salah seorang dari mereka. Pemuda itu bernama Xi Yurong. Sebenarnya ia cukup tampan namun mungkin saja tak memiliki kepercayaan diri yang cukup sehingga merasa iri dengan putra pemilik restoran.
"Apakah kalian sudah sarapan?." tanya Xiao Ziya yang ingin sarapan terlebih dahulu sebelum mulai membahas hal lain. Kelima pemuda itu menggelengkan kepala mereka secara bersamaan.
Xiao Ziya mengajak kelima pemuda untuk masuk kedalam restoran. Saat Xiao Ziya masuk Anling menyambutnya dengan ramah, namun gadis itu menatap tajam kearah lima pemuda yang ingin melukai adik kesayangannya.
"Sudahlah Anling jiejie kemarin mereka hanya tak bisa mengendalikan rasa irinya saja." ucap Xiao Ziya yang mencoba untuk menenangkan gadis yang lebih tua darinya itu. Anling hanya menganggukkan kepalanya karna ia tak ingin membuat Xiao Ziya merasa tak nyaman.
"Baiklah, apa yang ingin nona Ziya pesan?." tanya Anling yang ingin mencatat pesanan dari Xiao Ziya.
"Siapkan enam porsi sarapan kelas satu." ucap Xiao Ziya yang sudah memutuskan dengan apa mereka berenam akan sarapan karna ia tau kelima pemuda itu tak akan mengatakan apapun walau ia menanyainya berkali kali.
"Baiklah kalian tunggu sebentar." ucap Anling yang langsung pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan yang Xiao Ziya pesan.
"Kalian tenang saja saya yang akan membayarnya." ucap Xiao Ziya yang mengerti bahwa mereka berlima tak memiliki banyak koin emas untuk membayar pesanan.
Akhirnya kelima pemuda itu merasa tenang karna mereka berlima memang tak membawa satu keping emas ataupun perak, mereka berlima hanya berasumsi akan berbincang bincang sebentar dengan Xiao Ziya.
Setelah sedikit lama menunggu pesanan merekapun datang, keemam orang itu menikmati sarapan masing masing. Sedangkan Anling menatap Xiao Ziya penuh dengan keheranan untuk apa gadis muda itu mengajak kelima pemuda yang hampir mencelakai adiknya untuk sarapan bersama. Jika bukan karna Xiao Ziya ada di sana mungkin saja Anling akan menaburkan racun kedalam makanan kelima pemuda itu.
"Saya akan mengatakan mengapa saya mengajak kalian berlima kesini?." ucap Xiao Ziya yang sudah menyelesaikan memakan sarapannya. Kelima pemuda itu makan sembari menatap Xiao Ziya dengan serius.
"Kemarin kalian mengatakan bahwa kalian berlima iri dengan takdir yang dimiliki oleh Wulong." ucap Xiao Ziya yang meralat kembali apa yang kelima pemuda itu katakan kemarin. Kelima pemuda itu menganggukkan kepalanya sebagai pertanda apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya adalah kebenaran.
"Apakah kalian ingin berlatih dengan giat, meningkatkan kultivasi kalian, dan menjadi orang yang lebih baik lagi? jika kalian siap untuk ikut dengan saya maka saya yang akan menjamin keberhasilan kalian dalam dunia kultivator ini." ucap Xiao Ziya yang bertanya pada kelima pemuda itu.
Xi Yurong salah satu dari kelima pemuda itu tersedak makananya sendiri, apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Begitupula dengan Min Cenli yang merasa bahwa dirinya sedang bermimpi, ia kira gadis yang ada di hadapannya itu akan marah dan memukul mereka berlima.
"Apakah nona sedang bergurau dengan kami?." tanya Wu Binjo yang masih tak percaya.
"Apakah saya terlihat seperti orang yang sedang bercanda?." ucap Xiao Ziya yang menatap pemuda itu dengan tajam. Dengan cepat Wu Binjo menggelengkan kepalanya walau gadis yang ada di hadapannya itu jauh lebih muda namun kekuatan dan aura yang dikeluarkan bukanlah abal abal.
"Kami siap menjadi murid sekaligus pengikut dari nona Ziya." ucap mereka berlima secara serempak, Xiao Ziya tersenyum karna ia tau kelima pemuda itu memiliki sisi baik yang masih bisa dibenahi.
Melihat kelima pemuda yang tadinya sangat iri dengan takdir baik milik adiknya kini menjadi murid dari seorang kultivator muda yang hebat tentu saja membut Anling tak bisa tinggal diam, ia juga ingin mendaftarkan adiknya menjadi murid dari Xiao Ziya.
__ADS_1
"Nona Ziya bisakan adikku Wulong juga menjadi muridmu juga?." tanya Anling yang diam diam tak ingin adiknya disaingi oleh pemuda yang lain. Xiao Ziya tau niatan dari Anling, untung saja dari awal ia tak ingin merekrut Wulong menjadi muridnya.
"Maaf Anling jiejie namun ini adalah takdir baik dari kelima pemuda ini." ucap Xiao Ziya yang menolak Wulong secara terang terangan. Mendapat penolakan seperti itu Anling hanya bisa diam karna ia tak memiliki hak untuk memaksa Xiao Ziya mengangkat adiknya menjadi murid.
Xiao Ziya dan kelima pemuda itu telah selesai sarapan dan membayar apa yang mereka makan. Kini Xiao Ziya mengajak kelima pemuda itu untuk pergi ke pasar terdekat dan membali baju yang cocok untuk mereka berlima atau kain yang akan digunakan untuk membuat seragam.
"Kita akan mencari kain yang bagus sebagai bahan membuat seragam untuk kalian semua." ucap Xiao Ziya yang berhenti di sebuah toko kain yang menjual berbagai jenis kain.
"Karna kami pria nona bisa memilihkan kain kain dengan warna gelap." ucap Su Renji yang terlihat begitu bersemangat saat memilih milih kain.
"Baiklah kita akan membeli tiga warna yaitu merah, hitam, dan biru." ucap Xiao Ziya yang sudah memilih beberapa kain yang cocok.
Kelima pemuda itu setuju dengan kain yang dipilih oleh Xiao Ziya karna warnanya sangat cocok dengan selera mereka berlima, setelah selesai membeli kain Xiao Ziya mencari seorang penjahit yang dapat membuatkan baju seragam dalam waktu yang dekat.
"Apa yang sedang kita cari sekarang nona?." tanya Xi Yurong yang gemas saat melihat Xiao Ziya sedang menengok ke sana kemari seperti seorang anak hilang yang sedang mencari ibunya.
"Tentu saja seorang penjahit, kau kira kain kain ini bisa berubah dengan sendirinya?." ucap Xiao Ziya yang memutar bola matanya dengan malas, entah mengapa kelima pemuda itu membuatnya sakit kepala.
"Ibu Min Cenli adalah seorang penjahit handal sebaiknya nona membuat seragam untuk kami di sana saja." ucap Su Renji yang baru saja ingat bahwa ibu dari temannya adalah seorang penjahit profesional yang biasa menyelesaikan jahitan atau pesanan baju dalam waktu dekat.
"Mengapa kau tak memberitauku sedari tadi." ucap Xiao Ziya yang sedang menahan dirinya agar tak memukul mereka satu persatu.
Akhirnya mereka berenam pergi menuju rumah Min Cenli, setelah sampai di sana tampak sebuah rumah sederhana dengan halaman depan yang cukup luas dan ditanami oleh berbagai macam bunga yang cantik. Min Cenli mempersilahkan Xiao Ziya dan keempat temannya untuk masuk kedalam sedangkan ia sedang menemui ibunya.
"Ibu ada tamu yang ingin membuat beberapa seragam." ucap Min Cenli pada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk dengan alat jahit dan juga kain yang ada di tangannya.
"Tunggu sebentar ibu akan menemui mereka." ucap ibu dari Min Cenli yang terlihat begitu senang karna ada orang yang ingin membuat seragam di tempatnya. Min Cenli dan ibunya pergi ke ruang tunggu untuk menemui Xiao Ziya.
"Selamat pagi nona muda, apa yang bisa saya bantu?." tanya wanita paruh baya itu.
"Saya ingin meminta bantuan pada anda untuk membuatkan seragam untuk kelima pemuda ini, saya telah membeli bahan bahannya soal biyaya saya akan memberi sesuai dengan kecepatan anda menyelesaikan pesanan saya. Semakin cepat maka akan semakin banyak bayaran yang anda dapatkan." ucap Xiao Ziya yang mengeluarkan ketiga kain dengan kualitas tinggi itu dan menunjukkannya pada ibu Min Cenli.
"Bukankah di sini hanya ada empat pemuda lalu di mana pemuda satunya? agar saya bisa mengukur badannya." ucap wanita paruh baya itu yang menengok kesana kemari namun hanya mereka saja yang ada di sana.
"Ah putra anda juga salah satu dari kelima pemuda itu." ucap Xiao Ziya yang mengerti bahwa wanita paruh baya itu tak menghitung anaknya sendiri.
"Mengapa anak saya juga? apa yang ingin anda lakukan?." tanya wanita paruh baya itu yang takut putranya akan ikut dalam sebuah aliansi hitam.
"Saya akan melatih kelima pemuda ini dengan baik dan menjadikan mereka pemuda yang bertanggung jawab dan memiliki kepercayaan diri. Selain itu saya tak ingin mereka merasa iri lagi pada takdir orang lain." ucap Xiao Ziya secara singkat namun Xiao Ziya tak memberitau pada wanita paruh baya itu jika putranta hampir saja membunuh pemuda lain.
Mendengar jawaban dari Xiao Ziya tentu saja membuat sang wanita paruh baya menjadi tenang, aura yang dikeluarkan Xiao Ziya juga dominan dengan aura agung.
"Baiklah saya akan mempercayakan putra saya pada nona, lusa nona sudah bisa mengambil pesanan nona." ucap wanita paruh baya itu yang kemudian membawa masuk semua kain kesebuah ruangan khusus tempatnya menjahait.
"Besok kalian datanglah ke lapangan yang ada di dekat pasar tad, saya akan memperkenalkan beberapa orang kepercayaan saya yang akan melatih kalian berlima. Sebelum berangkat saya harap kalian sudah meminta izin pada orang tua masing masing." ucap Xiao Ziya yang meminta pada kelima pemuda itu untuk berkumpul lagi esok pagi.
"Baik kami akan mematuhi perintah nona Ziya." ucap Xi Yurong yang mewakili teman temannya.
Akhirnya mereka bubar dan pulang kerumah masing masing sedangkan Xiao Ziya pergi menuju sebuah tempat yang harus ia datangi yaitu Klan Xiao yang ada di dunia atas.
__ADS_1
Hai hai semuanya aku up malem banget guys biasalah pagi sibuk siang tepar, sore nunggu buka puasa sambil beberes. Semangat buat kalian yang jalanin puasa ya. Jangan lupa follow, vote, gift, like, komen, rate, share.