
Setelah selesai membagikan manisan buah itu Zoe berjalan mendekati Xiao Ziya, anak laki laki itu mengajak Xiao Ziya untuk kembali ke Klan Xiao mungkin karna Zoe kecil sudah cukup lelah bermain hingga hari hampir saja siang. Xiao Ziya menggendong adiknya itu kemudian berjalan menuju Klan Xiao diikuti oleh ketika kakak laki lakinya. Setelrah sampai di Klan Xiao, Xiao Ziya masuk kedalam paviliun sang ayah.
"Jiejie ada urusan sebentar, Zoe bermain dengan mereka terlebih dahulu ya." ucap Xiao Ziya yang menitipkan Zoe pada para pelayan yang ada di paviliun ayahnya. Setelah itu Xiao Ziya pergi menuju lapangan belakang Klan Xiao untuk menemui ketiga kakak laki lakinya yang menunggu di sana.
Setelah sampai di lapangan belakang Xiao Ziya menatap tajam ke arah Xiao Yan dan Xiao Xun kemudian ia mendekat ke arah mereka berdua, sedangkan Jenderal Zue hanya diam karna ia tak tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Setelah Xiao Ziya ada di hadapan mereka bertiga Xiao Yan dan Xiao Xun langsung menundukkan kepala mereka karna merasa bersalah.
"Jadi apakah kalian berdua sudah tidak bertengkar lagi?." tanya Xiao Ziya dengan nada dingin yang membuat perasaan Xiao Yan dan Xiao Xun semakin tak karuan.
"Belum." ucap Xiao Yan dan Xiao Xun secara bersamaan. Mereka tak ingin membohongi Xiao Ziya karna adik mereka akan tau kebenarannya.
"Ah jadi begitu lalu mengapa kalian berani menunjukkan wajah kalian berdua di depanku?." tanya Xiao Ziya dengan wajah datarnya. Mendengar apa yang dikatakan oleh adik perempuan mereka membuat Xiao Yan dan Xiao Xun seperti ingin menangis. Entah mengapa Xiao Ziya terdengar seperti emak emak yang sedang memarahi anaknya.
"Kami minta maaf karna membuat adik merasa kesal." ucap Xiao Yan dengan nada suar yang bergetar seperti ingin menangis.
Sedangkan Xiao Xun hanya diam menunduk dengan air mata yang sudah menetes di tanah, Xiao Ziya menatap kedua kakak laki lakinya dengan keheranan mengapa mereka berdua menangis padahal gadis itu sama sekali tak membentak.
"Kalian menangis?." tanya Xiao Ziya yang berjongkok kemudian melihat ke arah wajah Xiao Xun yang sedang menangis sambil menunduk, pipi Xiao Ziya terkena air mata Xiao Xun yang berjatuhan.
Jenderal Zue baru pertama kali melihat Kaisar Yan dan adik laki lakinya menangis seperti itu, selama ia menjadi Pangeran Kegelapan ini adalah sesuatu yang baru. Karna baru baginya melihat laki laki menangis seperti itu karna alasan yang bisa dibilang tak jelas.
"Mereka benar benar menangis adik?." tanya Jenderal Zue yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ya mereka berdua sedang menangis." ucap Xiao Ziya yang sudah kembali berdiri.
"Maafkan kami karna telah membuat adik marah, kami tak akan mengulanginya lagi." ucap Xiao Yan dengan nada yang bergetar, pemuda itu sudah menangis sejadi jadinya dengan ingus yang keluar dari hidung.
Xiao Ziya memijat kepalanya pelan menggunakan jari jarinya, ia bingung mengapa kedua kakak laki lakinya menjadi seperti ini.
"Baiklah baiklah, hal yang harus kalian lakukan adalah berhenti menangis." ucap Xiao Ziya yang tak ingin melihat kedua kakak laki lakinya menangis seperti itu karna di lapangan belakang Klan Xiao banyak murid Klan Xiao yang sedang berlatih di sana, bisa bisa Xiao Yan dan Xiao Xun akan ditertawakan oleh mereka apalagi Xiao Yan adalah seorang kaisar.
Xiao Yan dan Xiao Xun akhirnya berhenti menangis, mereka mengusap air mata yang tersisa dengan lengan baju masing masing. Setelahnya Xiao Ziya meminta pada kedua kakak laki lakinya untuk melihat ke arahnya, tanpa ada bantahan mereka berdua melihat ke arah Xiao Ziya.
"Jadi kalian siap menerima hukuman apapun." ucap Xiao Ziya yang bertanya pada Xiao Yan dan Xiao Xun.
__ADS_1
"Kami siap menerima hukuman apapun asal adik Ziya bersedia memaafkan kami." ucap Xiao Yan dan Xiao Xun secara bersamaan.
Xiao Ziya meminta pada kedua kakak laki lakinya itu untuk berlari menglilingi lapangan belakang Klan Xiao sebanyak lima puluh kali, dengan segera kedua pemuda itu menjalankan hukuman yang diberikan oleh Xiao Ziya. Sambil menunggu kedua kakak laki lakinya menjalankan hukuman Xiao Ziya duduk bersandar di bawah pohon besar yang rindang sedangkan Jenderal Zie pamit untuk kembali ke Istana Kekaisaran Qiyu.
"Ku rasa Yan gege dan Xun gege menggalami sedikit gangguan." ucap Xiao Ziya yang masih belum mengerti mengapa kedua kakak laki lakinya tadi menangis.
Matahari semakin terik Xiao Yan dan Xiao Xun sudah sedikit merasa lelah setelah mengelilingi lapangan yang cukup besar itu sebanyak tiga puluh enam kali, mereka ingin istirahat sebentar namun Xiao Ziya mengawasi dari tepi lapangan sehingga mereka berdua tak berani melakukannya. Setelah perjuangan yang sangat melelahkan akhirnya Xiao Yan dan Xiao Xun menyelesaikan hukuman yang diberikan pada mereka.
"Kami telah menyelesaikan hukumannya." ucap Xiao Xun dengan nafas yang tersengal sengal karna kelelahan.
"Beristirahatlah jika kalian lelah." ucap Xiao Ziya yang meminta pada Xiao Yan dan Xiao Xun untuk ikut duduk bersandar di pohon besar tempat Xiao Ziya beristirahat.
Xiao Yan duduk di sebelah kanan Xiao Ziya sedangkan Xiao Xun duduk di sebelah kiri Xiao Ziya mereka berdua menyandarkan kepala di bahu Ziya dan mencoba untuk bernafas dengan baik. Tanpa di sadari kedua pemuda itu malah tertidur saat masih dalam posisi bersandar di pundak adik mereka.
"Jika seperti ini maka saya tak bisa pergi kemana mana sebelum mereka bangun." ucap Xiao Ziya yang memilih untuk memejamkan matanya dan ikut tidur bersama kedua kakak laki lakinya itu.
Ditempat lain tepatnya Akademi Kekaisaran Qiyu sedang kedatangan tamu yaitu beberapa ketua dari Klan Xiao, saat ini mereka tengah berada di ruang kerja kepala sekolah dan membahas tentang keinginan Xiao Ziya untuk menyelenggarakan pesta ulang tahun sederhana di wilayah Akademi Kekaisaran Qiyu.
"Jadi bagaimana dengan permintaan kami kepala akademi?." tanya Xiao Ciyun yang sedang mewakili para ketua Klan Xiao yang lain.
"Jika memang kepala akademi tak bisa memberikan izin maka kami akan menyampaikannya pada nona muda." ucap Xiao Yuza yang tak ingin memaksakan kehendak mereka. Saat rombongan dari Klan Xiao akan pergi kepala akademi memanggil mereka lagi dan mengatakan pesta bisa diadakan besok hanya dalam waktu satu hari saja.
"Trimakasih karna kepala akademi sudah memberikan izin." ucap Xiao Cunyu yang senang karna keinginan putrinya akan tercapai.
Setelah itu mereka keluar dari ruang kepala akademi, ada beberapa siswa yang sedang menatap ke arah rombongan Klan Xiao dengan tajam. Jika di ingat ingat mereka adalah murid Akademi Kekaisaran Qiyu yang berasal dari Sekte Bambu Perak yang berarti mereka adalah teman teman dari Muyen yang telah dibunuh oleh Xiao Ziya.
"Apa benar Xiao Ziya telah membunuh teman kami." ucap Felix salah satu teman dekat dari Muyen.
Teman teman Muyen tak mengetahu kabar tentang diculiknya Kaisar Yan ataupun apa yang waktu itu direncanakan oleh Muyen dan keluarganya, yang mereka ketahui hanyalah Muyen meminta izin cuti satu bulan pada Kepala Akademi karna ia harus membantu sang ayah mengurus kekaisaran yang sedang dalam masalah.
"Siapa yang kau maksut nak?." tanya Xiao Ciyun pada Felix karna ia tak tau siapa teman dari pemuda itu yang telah dibunuh oleh keponakannya.
"Teman kami Muyen." ucap Felix dengan nada bicara marahnya, ia tak terima setelah mendengar kabar bahwa Muyen dan keluarganya telah dibantai habis habisan oleh Xiao Ziya.
__ADS_1
"Ah pemuda bernama Muyen itu telah menculik Kaisar Yan dan merencanakan pemberontakan serta penyerangan pada beberapa wilayah yang ada di bawah kekuasaan Nona Ziya." ucap Xiao Ciyun yang menjelaskan sedikit yang ia ketahui tentang alasan dimusnahkannya Keluarga Bangsawan Mung-e.
Ling Zoho, Su Miji, Yienran, dan Felix tak percaya dengan penjelasan yang diberikan oleh pemimpin Klan Xiao, mereka menganggap alasan itu sengaja dibuat untuk menutupi kesalahan yang telah Xiao Ziya lakukan.
"Jangan membohongi kami, sudah jelas Muyen adalah kekaisih dari Xiao Yuna salah satu anggota Klan Xiao. Mana mungkin teman kami memiliki fikiran seperti itu." ucap Yienran yang sangat marah pemuda itu bahkan mengeluarkan sebuah pedang dari balik seragam akademi yang ia kenakan. Yienran ingin menebaskan pedang itu ada Xiao Cunyu namun sebuah pedang lain menghalanginya.
Yang menghalangi pemuda itu untuk melukai Xiao Cunyu adalah Ling An sang kepala akademi. Ia tau beberapa teman Muyen takan terima ketika mereka mendengar kabar mengenai kematian teman mereka.
"Mengapa kepala akademi menghentikan saya!!." triak Yienran yang tak terima saat serangannya digagalkan.
"Kalian harus bisa menerima kenyataanya." ucap Kepala Akademi Kekaisaran Qiyu yang menghela nafasnya panjang.
Tak lama kemudian Xiao Yun datang menghampiri mereka karna mendengar pertengkaran mengenai Muyen mantan kekasihnya yang telah meninggal. Ia akan memberikan penjelaslan pada teman teman Muyen apa yang sebenarnya terjadi.
"Hentikan apa yang kalian lakukan." ucap Xiao Yuna yang menengahi pertengkaran itu.
"Mengapa kau diam saja saat mendengar kabar kekasihmu dibunuh oleh saudara perempuanmu itu." ucap Su Miji yang memarahi Xiao Yuna.
Plak.
Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi sebelah kanan Su Miji, Xiao Yuna sangat kesal karna gadis yang ada di hadapannya tak tau apapun yang sebenarnya terjadi.
"Jika kau tak tau apapun jangan bicara seenaknya." ucap Xiao Yuna dengan tatapan tajamnya ke arah Su Miji yang kini sedang memengang pipi sebelah kanan yang terasa sangat sakit akibat tamparan keras Xiao Yuna.
"Mengapa kau membiarkan kekasihmu tiada." ucap Su Miji yang tetap keras kepala dan menyalahlan Xiao Yuna atas kejadian yang menimpa Muyen.
"Apa kau tau temanmu itu telah menghianatiku, dia sedang mempersiapkan pertunangan dengan seorang keluarga bangsawan." ucap Xiao Yuna yang berbicara dengan nada kesalnya.
Su Miji terdiam mendengar perkataan dari Xiao Yuna, jika dilihat dari sorot mata Xiao Yuna jelas gadis itu tak sedang berbohong. Su Miji tak bisa mempercayai hal itu sepenuhnya bagaimana bisa Muyen yang sangat mencintai gadis bernama Xiao Yuna itu bisa menghianati kekasihnya sendiri seperti itu.
"Dia menghianati adik Ziya yang memberikan Kekaisaran Lungzo untuk keluarganya, bisakah kalian merasakan kekecewaan yang adik Ziya rasakan? apa kalian tau teman kalian itu telah menculik Kaisar Yan? kalian semua terlalu percaya padanya hingga menjadi boneka bodoh!!!." triak Xiao Yuna yang telah kehilangan kesabarannya, amarahnya memuncak setelah menahan semuanya selama ini. Melihat putrinya sedang merasa sangat sedih Xiao Yuza langsung menghampiri Xiao Yuna dan memeluk putrinya dengan sangat erat.
"Tenanglah putriku, sekarang semuanya sudah baik baik saja." ucap Xiao Yuza yang mengusap kepala Xiao Yuna dengan pelan.
__ADS_1
Semua teman Muyen terdiam dan memilih pergi dari tempat itu, sebaiknya mereka pergi mencari Xiao Ziya dan menanyakan kebenarannya pada gadis itu daripada harus ribut dengan anggota Klan Xiao yang lain. Xiao Ciyun mengajak rombongannya untuk kembali ke wilayah Klan Xiao karna tak baik meninggalkan klan dalam waktu yang lama.
Hai hai semuanya gimana kabarnya semoga baik baik aja ya, jangan lupa follow buat yang belum. Vote ya guys karna wajib, jangan lupa gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share.