
Pagi telah tiba, Xiao Ziya dan kedua pemuda dari Klan Zu sudah sampai di depan gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan. Para prajurit penjaga perbatasan langsung berbaris dengan rapi setelah melihat pemimpin mereka kembali dari perjalanan yang cukup panjang, seluruh prajurit penjaga perbatasan yang ada di sana membungkukkan badan mereka untuk memberi penghormatan sekaligus menyambut kepulangan Xiao Ziya.
"Terimakasih atas sambutan kalian semua, silahkan kembali ke posisi masing masing. Maaf saya tak bisa menyapa kalian satu persatu karna harus segera kembali ke istana." ucap Xiao Ziya dengan sebuah senyuman yang ia paksakan untuk terukir di wajah cantiknya itu. Saat ini suasana hati Xiao Ziya sangatlah buruk, gadis itu berusaha menahan diri agar tak menangis di hadapan banyak orang dan memperlihatkan kelemahannya pada orang lain.
"Kami mengerti dengan kondisi Anda saat ini, selamat datang kembali Nona Ziya kami semua menyambut kepulangan Anda." ucap para prajurit penjaga perbatasan yang langsung membukakan gerbang masuk wilayah Kerajaan Bulan.
Xiao Ziya melangkah masuk ke dalam di susul Zu Junyang dan Zu Genzi, ketiganya berjalan dengan cukup cepat agar segera sampai ke istana. Banyak penduduk Kerajaan Bulan menyapa Xiao Ziya di sepanjang jalan, gadis itu hanya tersenyum lebar untuk membalas sapaan mereka. Setelah perjalanan yang cukup panjang Xiao Ziya sampai di depan gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan, para prajurit penjaga gerbang mempersilahkan pemimpin mereka masuk ke dalam.
"Dimana Ratu Min Xunzi saat ini?." tanya Xiao Ziya pada salah seorang prajurit penjaga gerbang masuk istana.
"Saat ini beliau ada di ruang keluarga bersama dengan yang lain." jawab sang prajurit penjaga gerbang dengan menundukkan kepalanya. Pria itu tak berani menatap langsung ke arah Xiao Ziya, bukan karna ia takut akan di penggal oleh gadis itu namun ia sangat menghormati Xiao Ziya sebagai pemimpin baru di Kerajaan Bulan.
"Baiklah terimakasih atas informasinya." ucap Xiao Ziya yang langsung berjalan masuk ke dalam istana, gadis itu pergi menuju ruang keluarga yang berada di bagian tengah istananya itu. Zu Junyang dan Zu Genzi hanya diam dan mengikuti Xiao Ziya dari belakang, mereka sangat kagum dengan sambutan yang diberikan oleh para pelayan maupun prajurit dari Kerajaan Bulan terhadap pemimpin mereka. Selain itu Kerajaan Bulan tampak lebih hangat dan nyaman daripada Istana Kerajaan Bintang Timur, entah apa yang membuat perbedaan suasana diantara kedua wilayah itu.
Sebelum sampai di ruang keluarga, Xiao Ziya berhenti sejenak dan menengok kebelakang. Gadis itu lupa bahwa saat ini Zu Junyang dan Zu Genzi masih mengikutinya di belakang, dengan segera Xiao Ziya memanggil beberapa pelayan untuk mengantar kedua pemuda itu menuju kamar tamu.
"Kalian pergilah ke kamar masing masing terlebih dahulu, ada hal pribadi yang perlu saya sampaikan pada bibi saya." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipisnya.
"Baiklah Nona Ziya, selama tinggal di istana ini kami akan menuruti setiap perintah Anda." ucap Zu Junyang, pemuda itu membungkukkan badan untuk memberi penghormatan kepada Xiao Ziya kemudian pergi mengikuti salah satu pelayan menuju ruang tamu.
Zu Genzi melihat ke arah Xiao Ziya sebentar, pemuda itu ingin mengatakan sesuatu namun ia tak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Zu Genzi, sebelum datang menemui Xiao Ziya untuk ikut pergi ke wilayah Kerajaan Bulan pemuda itu sempat mendengar sebuah kabar bahwa Xiao Ziya adalah anak dari Ratu Junyi Zu dengan seorang pria dari dunia bawah, mungkinkah kabar itu benar atau hanya bualan orang orang tak bertanggung jawab saja.
"Ada apa?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan bingung, ia tak mengerti mengapa Zu Genzi melihatnya seperti itu.
"Ahahaha bukan apa apa Nona Ziya, saya permisi terlebih dahulu." ucap Zu Genzi yang langsung berlari untuk menyusul Zu Junyang yang sudah cukup jauh dengannya.
Setelah kedua pemuda itu pergi menuju kamar mereka masing masing Xiao Ziya bergegas pergi menuju ruang keluarga, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Xiao Ziya membuka sebuah pintu ruangan kemudian masuk ke dalam. Ratu Min Xunzi, Raja Min Lunxi, Min Xome, Min Wungi, dan Yie Munha menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan terkejut. Mereka semua tak memperkirakan bahwa hari ini gadis itu akan kembali ke Istana Kerajaan Bulan, Ratu Min Xunzi dengan segera berlari ke arah Xiao Ziya kemudian memeluk keponakannya itu dengan sangat erat setelah sebuah air mata keluar dari mata cantik gadis itu. Ratu Min Xunzi tak tau apa yang terjadi selama Xiao Ziya tinggal di Istana Kerajaan Bintang Timur, namun melihat kesedihan di mata keponakannya itu membuat Ratu Min Xunzi berasumsi ada hal buruk yang terjadi.
Setelah mendapat pelukan dari bibinya, Xiao Ziya langsung menangis dengan suara yang cukup kencang. Gadis itu masih belum bisa menerima semua ucapan dari Ratu Junyi Zu ketika ia ingin memberikan hadiah untuk wanita yang seharusnya menjadi ibu kandungnya itu.
"Apa yang terjadi padamu sayang, mengapa kau menangis seperti ini?." ucap Ratu Min Xunzi dengan ekspresi khawatir. Jika ada seseorang yang berani menyakiti keponakan kesayangannya itu selama tinggal di Istana Kerajaan Bintang terus maka Ratu Min Xunzi akan memukul orang itu dengan kencang.
Xiao Ziya tak mengatakan apapun, gadis itu masih menangis sesenggukan. Min Xome dan Min Wungi saling bertatapan satu sama lain, hati mereka terasa sakit ketika melihat adik sepupu mereka menangis seperti itu. Di sisi lain Yie Munha tertegun, untuk pertama kalinya ia melihat Xiao Ziya seorang gadis dengan kehidupan yang sangat sempurna menangis seperti seorang anak kecil, ternyata menjadi kuat tak menjamin seseorang akan selalu bahagia kemanapun mereka pergi.
__ADS_1
"Siapa yang berani membuatmu sampai seperti ini? katakan pada bibi." ucap Ratu Min Xunzi yang sudah sangat marah, aura kematian keluar dari tubuh wanita itu.
"Tenanglah sayang, jangan membuat Xiao Ziya menjadi tertekan karna merasakan kemarahan mu itu." ucap Raja Min Lunxi yang berusaha menenangkan kemarahan istrinya itu.
Setelah cukup lama menangis di dalam pelukan bibinya Xiao Ziya mulai tenang, gadis itu melepaskan pelukan sang bibi kemudian mengusap air mata yang masih tersisa di wajah cantiknya itu. Ratu Min Xunzi mengajak Xiao Ziya untuk duduk agar gadis itu beristirahat sejenak setelah tangis yang sangat melelahkan untuknya.
"Maaf karna saya kembali dengan konsisi seperti ini." ucap Xiao Ziya yang meminta maaf pada yang lain, seharusnya ia bisa menahan diri lebih lama lagi.
"Bibi tau saat ini kau sangat lelah, menangis bukan pilihan yang buruk untuk meluapkan kesedihan mu sayang." ucap Ratu Min Xunzi sembari mengusap kepala Xiao Ziya dengan lembut. Ia sudah tak sabar mendengar cerita langsung dari keponakannya itu tentang seseorang yang telah membuat sang keponakan sesedih ini.
" Kami sangat khawatir ketika adik Ziya kembali dan menangis seperti tadi." ucap Min Xome, pemuda itu menggenggam erat tangannya dan menahan kemarahan yang meluap.
"Mungkin ini hanyalah masalah kecil namun saya tak terbiasa dengan situasi semacam itu." ucap Xiao Ziya dengan tatapan dingin, gadis itu masih mengingat dengan jelas saat Ratu Junyi Zu mengatakan bahwa ia bukanlah anak kandung dari sang ratu.
"Jika kau sudah siap kami siap mendengar cerita mu." ucap Ratu Min Xunzi dengan suara lembut.
Xiao Ziya diam beberapa saat kemudian gadis itu menghela nafas panjang. Xiao Ziya mempersiapkan dirinya untuk menceritakan hal itu pada Ratu Min Xunzi dan yang lain, entah bagaimana ekspresi bibinya nanti. Kemungkinan besar Ratu Min Xunzi tak akan percaya dengan perkataan Xiao Ziya namun gadis itu akan terus menceritakannya.
"Ibu...ah bukan maksud saya Ratu Junyi Zu mengatakan bahwa saya bukanlah putri kandung beliau meski saya keluar dari rahimnya." ucap Xiao Ziya dengan suara pelan namun masih bisa terdengar jelas.
"Bukankah dia tetap ibu kandung Anda? Ratu Junyi Zu tak menyangkal bahwa Anda keluar langsung dari dalam rahimnya." ucap Yie Munha dengan ekspresi bingung, mengapa Ratu Junyi Zu mengatakan hal yang sangat menyakitkan pada Xiao Ziya. Seingat Yie Munha saat ini Ratu Junyi Zu tak mengingat apapun kejadian saat ia tinggal di dunia bawah, lalu mengapa kata kata sekejam itu bisa terlintas di otak sang ratu.
"Mungkin dia sedang bercanda." ucap Ratu Min Xunzi, saat ini ingatan kakaknya belum kembali jadi kalimat seperti itu tak mungkin keluar langsung dari mulut sang kakak.
"Ratu Junyi Zu mengatakan hal itu dengan tatapan serius, beliau terlihat sangat marah ketika mengatakan hal tersebut." jawab Xiao Ziya dengan nada pasrah. Ia ingin tau kebenaran dari ucapan Ratu Junyi Zu, jika wanita itu bukan ibu kandungnya lalu siapa lagi yang akan menjadi ibu kandung dari Xiao Ziya?.
"Saya masih mengingat saat kakek membawa paksa Ratu Junyi Zu kemudian mengirimnya kembali ke Istana Kerajaan Bintang Timur, saat itu kakek mengatakan bahwa sang ratu harus melupakan putrinya." ucap Yie Munha, ingatan gadis itu sangatlah tajam hingga ia bisa mengingat kejadian belasan tahun yang lalu. Mungkin saat itu Yie Munha masih berusia empat atau lima tahun.
"Bibi juga sangat yakin jika kau adalah anak kandung dari Junyi Zu, mungkin ada sesuatu yang memasuki fikiran ibumu hingga ia mengatakan hal itu secara tak sengaja." ucap Ratu Min Xunzi, entah akhirnya nanti Xiao Ziya keponakannya ataukah bukan, Ratu Min Xunzi akan tetap menyayangi gadis itu tanpa ada perasaan yang berkurang sedikitpun.
"Akhir akhir ini memang banyak kejadian aneh yang muncul secara tiba tiba, apakah Anda memiliki musuh lain keponakan ku?." tanya Raja Min Lunxi, ia sedang memprediksi apakah hal yang terjadi akhir akhir ini ada hubungannya dengan Xiao Ziya ataukah hanya kebetulan semata.
"Saya mengenal musuh musuh saya dengan baik namun saya tak tau dengan pasti siapa saja yang tak menyukai kehadiran saya di dunia ini." jawab Xiao Ziya dengan sangat jelas. Banyak orang yang mengenal serta mendengar kisah tentang Xiao Ziya, mungkin sebagian diantara mereka ada yang merasa iri ataupun tersaingi dalam hal kekuatan ataupun kecantikan dengan gadis itu.
__ADS_1
"Sepertinya ini bukan ulah orang orang yang berada di lapisan atas karna mereka memiliki aturan yang sangat ketat." ucap Ratu Min Xunzi dengan serius.
"Sebelum menyelesaikan hal lain, saya ingin mengetahui informasi yang didapatkan oleh Yie Munha mengenai siapa nenek kandung saya." ucap Xiao Ziya, gadis itu sudah tak sabar mengetahui seperti apa neneknya itu.
Yie Munha mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari dalam cincin ruang yang diberikan oleh salah seorang ketua Klan Yie sebelum ia pergi untuk menemui Xiao Ziya. Yie Munha menyerahkan gulungan kertas itu kepada Xiao Ziya kemudian membungkukkan badannya beberapa kali.
"Maaf karna saya pernah memiliki pemikiran untuk membuka gulungan kertas itu, Anda tenang saja karna saya belum melakukannya." ucap Yie Munha yang merasa sangat bersalah pada Xiao Ziya karna tindakannya itu.
"Saya mengerti bahwa kau sangat penasaran dengan isi gulungan ini, terimakasih karna telah mengatakannya dengan jujur." ucap Xiao Ziya yang tak mempermasalahkan tindakan Yie Munha karna gadis itu sudah berani jujur atas tindakan yang ia lakukan.
Xiao Ziya ingin membuka gulungan kertas itu namun ada sesuatu yang membuat gulungan itu tak bisa di buka seperti gulungan kertas pada umumnya. Kenzo sang buku tengkorak milik Xiao Ziya yang tadinya tertidur cukup lama di dalam dantian gadis itu langsung terbangun ketika merasakan aura yang sangat familiar baginya. Kenzo mengatakan bagaimana cara membuka gulungan tersebut pada Xiao Ziya melalui fikiran gadis itu.
"Anda perlu meneteskan darah untuk membuka gulungan tersebut nona." ucap Kenzo.
"Ah ternyata begitu, terimakasih karna sudah memberitahu saya." batin Xiao Ziya.
Xiao Ziya mengeluarkan sebuah belati dari dalam cincin semesta miliknya kemudian belati itu ia gunakan untuk menggores ibu jarinya. Setelah terkena tetesan darah milik Xiao Ziya gulungan tersebut mengeluarkan cahaya berwarna merah dan biru secara bersamaan, Xiao Ziya membukanya secara perlahan dan mulai membaca apa yang ada di dalam gulungan tersebut.
Xiao Ziya membaca secara perlahan setiap kata yang tertuang di dalam sana, Yie Linyia adalah nama dari nenek kandung Xiao Ziya ia adalah anak tunggal dari pasangan Yie Xuen (pemimpin Klan Yie) dan Yie Junha (wakil pemimpin). Karna ayah dan ibu dari Yie Linyia hanya memiliki seorang anak akhirnya Yie Linyia diangkat menjadi pemimpin dari Klan Yie. Beberapa tahun setelah ia menjadi pemimpin Klan Yie wanita itu menikah dengan seorang pria dari wilayah kerajaan lain yaitu Ming Gu, setelah menikah dan memiliki beberapa anak dengan pria itu Yie Linyia memberikan kekuasaannya pada sang suami karna ia ingin fokus merawat anak anaknya saja. Akhirnya cinta yang diberikan oleh Yie Linyia untuk Yie Gu kalah dengan perhatian seorang wanita yang merusak rumah tangga keduanya, Yie Gu lebih memilih wanita itu kemudian membunuh Yie Linyia tanpa sepengetahuan orang lain termasuk para ketua Klan Yie.
"Sialan." umpat Xiao Ziya ketika membaca bagian awal dari gulungan tersebut. Ternyata Yie Gu hanyalah laki laki sampah yang tak bisa menghargai ketulusan seorang wanita.
Jika Xiao Ziya mengetahui hal ini lebih awal mungkin saja ia akan menyiksa Yie Weinje dengan lebih kejam lagi, ada saatnya nanti Xiao Ziya akan kembali ke Klan Yie untuk mengambil semua kekuasaan milik nenek kandungnya yang telah direbut oleh Yie Gu dan Yie Weinje.
Di bagian akhir gulungan tersebut ada sebuah pesan yang ditinggalkan oleh Yie Linyia untuk cucunya.
"Saya memang sudah mati bagi mereka namun jiwa saya akan tetap hidup di dunia, saya bukan seorang ibu ataupun nenek yang baik. Siapapun diantara anak ataupun cucu saya yang terpilih oleh takdir maka ia akan mendapat dan membuka surat wasiat saya ini. Temukanlah sisa jiwa saya yang berada di dalam sebuah pedang, carilah pedang tersebut di tempat paling dingin lapisan dunia ini." salam hangat Yie Linyia. Itulah pesan terakhir yang ditinggalkan oleh nenek kandung Xiao Ziya.
"Saya akan menemukan sisa jiwa anda dimana pun berada." ucap Xiao Ziya dengan sorot mata serius.
Ratu Min Xunzi dan yang lain penasaran dengan isi gulungan tersebut mereka ingin meminjamkannya dari Xiao Ziya, namun ketika Ratu Min Xunzi menyentuhnya tiba tiba gulungan itu terbakar dan tak menyisakan apapun.
"Sepertinya ibu hanya ingin meninggalkan pesan untukmu saja." ucap Ratu Min Xunzi dengan pasrah, ia tak bisa memaksa Xiao Ziya untuk menceritakan apa yang ada di dalam gulungan tersebut.
__ADS_1
"Saya akan kembali ke kamar untuk beristirahat setelah itu kita akan membicarakan pesan yang ditinggalkan oleh nenek." ucap Xiao Ziya yang tak merasa keberatan untuk membagikan pesan itu pada Ratu Min Xunzi dan cucu lain dari neneknya. Gadis itu hanya perlu mengisi tenaganya kembali dengan beristirahat di dalam kamar.
Hai hai semua author balik lagi nih setelah libur lebaran, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya guys.