
Lee Brian membopong tubuh Xiao Ziya dan dibawa keluar dari ruang kesehatan yang masih dilapisi oleh es tebal, Ratu Min Xunzi dan yang lain juga ikut keluar dari ruang kesehatan.
"Dimana kamar Xiao Ziya?." tanya Lee Brian dengan raut wajah datar meski saat ini ia sedang berbicara dengan kakak perempuannya. Mungkin Lee Brian hanya menunjukkan senyumannya pada Xiao Ziya saja, sungguh hubungan antara paman dan keponakan yang tak biasa.
"Sebuah kamar dengan pintu berwarna hitam keemasan, cobalah untuk sedikit tersenyum saat berbicara dengan kakak mu ini." jawab Ratu Min Xunzi, wanita itu menunjukkan ekspresi kesal dengan cara berbicara dan wajah yang ditunjukkan Lee Brian saat berbicara dengannya.
"Saya tak peduli dengan hal itu." jawab Lee Brian yang langsung pergi dari depan ruang kesehatan menuju kamar pribadi Xiao Ziya.
Semua orang menatap kepergian pria itu dengan tatapan bingung terutama Raja Artur dan Zu Aoai, keduanya merasa bahwa Lee Brian memiliki perasaan lebih pada Xiao Ziya. Raja Artur langsung menepis fikiran anehnya itu karna ia tak ingin menyinggung seseorang dengan identitas sebagai malaikat kematian.
"Saya harus kembali sekarang karna ada beberapa tugas yang harus diselesaikan sekarang juga, saya akan datang lagi nanti." ucap Raja Artur, ia berpamitan pada semua yang ada di sana.
"Maaf jika istri saya membawa Anda pergi secara tiba tiba. Sampai jumpa Yang Mulia Raja Artur." ucap Raja Min Lunxi, ia meminta maaf atas nama Ratu Min Xunzi.
"Itu bukan sebuah masalah, saya mengerti bahwa keadaannya sangat mendesak. Sampai jumpa semuanya." ucap Raja Artur, ia membaca sebuah mantra kemudian langsung menghilang dari pandangan semua orang.
Setelah kepergian Raja Artur, Dewa Hiloz pamit untuk kembali ke kamarnya. Dewa Hiloz perlu menetralkan kembali aliran energi suci yang ada di dalam tubuhnya, energi milik Dewa Hiloz sempat berantakan saat ia memegang jarum emas berisikan energi suci milik Xiao Ziya. Kini Dewa Hiloz mengerti mengapa Dewa Agung yang sebelumnya kalah saat bertarung dengan gadis itu, kekuatan para Dewa dan Dewi yang disatukan sekalipun tak akan menghasilkan energi suci sebesar itu. Kini yang tersisa tinggal Ratu Min Xunzi, Raja Min Lunxi, dan Zu Aoai.
"Mari saya antar menuju kamar Nyonya Zu Aoai untuk beristirahat. Pasti sangat melelahkan setelah mengeluarkan tenaga dan energi dalam jumlah banyak." ucap Ratu Min Xunzi yang akan mengantar Zu Aoai menuju salah satu kamar tamu yang ada di Istana Kerajaan Bulan.
"Saya masih mencemaskan kondisi putra dan keponakan saya. Apakah mereka belum datang?." tanya Zu Aoai dengan raut wajah khawatir, lawan mereka sangatlah kuat dibanding kekuatan kedua pemuda itu untuk saat ini.
"Mereka sepertinya sudah kembali beberapa saat yang lalu, kalau begitu mari saya antar menuju kamar yang ditempati oleh putra Anda." ucap Ratu Min Xunzi dengan senyuman ramah, jika bukan karna bantuan dari Zu Aoai mungkin mereka tak akan pernah menemukan cara untuk mengobati Xiao Ziya.
Ratu Min Xunzi dan Zu Aoai pergi menuju kamar yang ditempati oleh Zu Genzi sedangkan Raja Min Lunxi sedang membereskan sisa kekacauan yang ada di ruang kesehatan, bongkahan es yang tersisa dari aura dingin yang dikeluarkan oleh tubuh keponakannya tak bisa mencair ataupun menghilang secara tiba tiba karna itu Raja Min Lunxi harus turun tangan membereskan semua itu. Di sisi lain saat ini Lee Brian sudah masuk ke dalam kamar pribadi Xiao Ziya, pria itu menutup rapat kamar keponakannya dan mengunci kamar itu agar tak ada orang lain yang masuk ke dalam. Lee Brian membaringkan tubuh Xiao Ziya di atas tempat tidur kemudian menyelimutinya, Lee Brian menatap wajah keponakannya itu dengan lekat kemudian mengusap pipi Xiao Ziya perlahan.
"Saya akan membantumu untuk mendapatkan tempat tertinggi, maaf karna dalam kehidupan yang lalu saya tak bisa menjaga mu dengan baik. Ziya tetaplah Ziya, seorang gadis yang lebih mementingkan keselamatan orang lain dari dirinya sendiri. Jika bukan karna pengorbanan mu mungkin saat ini saya sudah menjadi manusia biasa. Sepertinya dalam kehidupan kali ini kita memang ditakuti menjadi paman dan keponakan saja." ucap Lee Brian dengan mata berkaca-kaca meskipun air matanya tak menetes.
Ada rahasia besar yang hanya diketahui oleh Lee Brian, entah apa yang sedang disembunyikan oleh pria itu namun ia memang pernah bertemu dengan Xiao Ziya pada kehidupan sebelumnya. Mungkin kehidupan yang Lee Brian maksud sebelum Ziya menjadi Zoya? atau mereka memang sering bertemu pada beberapa periode reinkarnasi yang terjadi pada Xiao Ziya.
"Terimakasih telah menjadikan manusia paling baik yang pernah saya temui selama ini, semoga di kehidupan selanjutnya kita bisa mengulang kisah sepuluh ribu tahun yang lalu tanpa ada pengorbanan yang merenggut nyawa mu." ucap Lee Brian dengan suara yang bergetar, ia mencium kening Xiao Ziya kemudian berjalan keluar dari kamar pribadi gadis itu. Lee Brian membuka kunci kamar tersebut dan langsung keluar, saat itu ia tak sengaja bertemu dengan Yie Munha yang ingin melihat kondisi Xiao Ziya.
__ADS_1
Yie Munha menatap ke arah Lee Brian dengan tatapan penuh selidik, gadis itu belum pernah bertemu dengan Lee Brian sebelumnya sehingga ia tak mengetahui pria itu adalah paman dari Xiao Ziya. Saat Lee Brian ingin melangkah pergi tiba tiba Yie Munha menghadang dan menanyakan apa yang Lee Brian lakukan di dalam kamar pribadi Nona Muda itu.
"Siapa Anda? mengapa Anda bisa masuk ke dalam kamar Nona Muda Xiao Ziya?." tanya Yie Munha dengan sorot mata tajam, nona nya baru saja tersadar jangan sampai ada penyusup yang mencoba untuk melukai Nona Mudanya lagi.
"Saya pamannya, ada apa?" jawab Lee Brian dengan ekspresi wajah yang sangat datar jauh lebih datar daripada saat ia berbicara dengan Ratu Min Xunzi.
"Paman Nona Ziya? Ah iya Anda adalah Tuan Lee Brian. Maaf karna saya tak bisa mengenali wajah Anda, Ratu Min Xunzi dan Nona Muda Xiao Ziya sering bercerita tentang Anda." ucap Yie Munha dengan senyuman ramah namun tiba tiba Lee Brian melewatinya begitu saja.
"Mengapa Nona Ziya memiliki seorang paman yang sangat menyebalkan seperti itu." gumang Yie Munha sembari masuk ke dalam kamar pribadi Xiao Ziya.
Yie Munha tersenyum senang melihat wajah Xiao Ziya yang sudah kembali normal meski rambutnya masih berwarna putih, Yie Munha mengambil berbuah kursi yang ada di kamar Xiao Ziya kemudian meletakkan kursi itu di samping tempat tidur Xiao Ziya. Yie Munha menggenggam tangan nona mudanya dengan cukup erat, ia kembali menegaskan air mata meskipun saat ini nona mudanya sudah baik baik saja.
"Terimakasih untuk semua kebaikan yang telah Nona Muda Xiao Ziya berikan pada saya, sekarang saya memiliki tempat tinggal yang nyaman tanpa harus berada di bawah tekanan orang lain. Semua pelayan dan prajurit yang ada di Istana Kerajaan Bulan memperlakukan saya dengan baik, sangat jauh berbeda ketika saya masih tinggal di Klan Yie. Semua ini saya dapatkan karna kebaikan dari Nona Xiao Ziya." ucap Yie Munha dengan suara pelan, punggung gadis itu bergetar karna ia menangis sampai sesenggukan.
Yie Junghwa dan Yie Cinling masuk ke salam kamar pribadi Xiao Ziya karna saat melintas di depan kamar tersebut mereka melihat Yie Munha yang sedang menangis sembari memegang telapak tangan Xiao Ziya. Yie Junhwa menepuk punggung adik perempuannya itu secara perlahan, ia tau betapa sulitnya kehidupan yang dijalani oleh Yie Munha selama tinggal di Kastil Klan Yie.
"Sudahlah jangan menangis seperti itu, bagaimana jika ingus mu sampai menetes di baju Nona Xiao Ziya." ucap Yie Junhwa yang sedang meledek adik perempuannya itu.
Yie Munha mengusap air matanya kemudian menoleh kebelakang, ia melihat ke arah kedua kakak laki laki dengan kesal. Mengapa mereka berdua merusak suasana haru yang sudah ia buat, Yie Munha hanya ingin mengucapkan terimakasih atas semua kebaikan yang telah diberikan padanya.
"Tapi aku belum selesai berterimakasih pada Nona Xiao Ziya." ucap Yie Munha yang tak ingin pergi meninggalkan kamar pribadi nona mudanya itu sebelum ia selesai mengungkapkan rasa terimakasihnya.
"Kau bisa mengatakan hal itu lain kali, yang terpenting saat ini adalah pemulihan kondisi Nona Xiao Ziya." ucap Yie Junghwa.
Yie Junhwa dan Yie Cinling menyeret paksa adik perempuan mereka itu untuk keluar dari kamar pribadi Nona Xiao Ziya, setelah berhasil menyeret Yie Munha keluar dari kamar tersebut, Yie Junghwa langsung menutup pintu kamar dan bergegas pergi dari sana.
Di sisi lain saat ini Xiao Cunyu sudah sadar dari pingsannya, pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi bingung. Xiao Cunyu ingat dengan betul bahwa saat itu ia berada di dalam ruang kesehatan untuk menjaga putrinya, lalu dimana dia sekarang? mengapa tubuhnya di rendam di dalam bak mandi dan ia dijaga oleh kedua putranya.
"Mengapa ayah berada di sini? apa yang sedang terjadi?" tanya Xiao Cunyu pada kedua putranya itu.
"Ayah pingsan saat sedang menjaga adik Ziya, seorang tabib wanita mengatakan bahwa ayah sedang mengalami pembekuan pada beberapa sel sel darah dan juga organ dalam. Tabib wanita itu memberikannya bubuk obat untuk memulihkan kondisi ayah, karna itu kami merendam tubuh ayah di dalam air hangat." jelas Xiao Xun tentang apa yang terjadi pada ayahnya itu.
__ADS_1
"Syukurlah jika saat ini ayah sudah baik biak saja. Kami sudah menyiapkan baju ganti untuk ayah di sebelah sana, silahkan ayah menggunakan pakaian terlebih dahulu dan kami akan menunggu di luar." ucap Xiao Yan, ia dan Xiao Xun langsung keluar dari ruangan itu.
Xiao Cunyu segera keluar dari dalam bak mandi berisi air hangat dan ramuan obat, Xiao Cunyu mengambil pakaian yang telah disiapkan oleh kedua putranya dan langsung memakainya. Setelah selesai Xiao Cunyu keluar dari ruangan itu dan menemui kedua putranya yang sudah menunggu di depan pintu.
"Ayah sudah merasa lebih baik sekarang? jika tubuh ayah masih terasa lemas sebaiknya ayah beristirahat di dalam kamar untuk beberapa waktu." ucap Xiao Xun, ia tak akan mengizinkan ayahnya untuk kembali ke ruang kesehatan dan menunggu adik perempuannya itu tersadar sepanjang malam.
"Ayah sudah baik baik saja, ayah akan kembali ke ruangan itu untuk menjaga adik kalian." ucap Xiao Cunyu dengan senyuman lebar untuk meyakinkan kedua putranya bahwa ia sudah baik baik saja.
"Kami tak akan mengizinkan ayah untuk pergi ke sana, sebaiknya ayah beristirahat terlebih dahulu. Adik Ziya akan merasa sedih jika saat ia bangun nanti ayahnya malah jatuh sakit." ucap Xiao Yan yang melarang ayahnya pergi dengan tegas.
Saat ayah dan kedua anaknya itu sedang berdebat, tiba tiba saja mereka melihat seorang gadis yang sedang diseret oleh dua orang pemuda. Dari pembicaraan yang di dengar oleh Xiao Yan dan Xiao Xun, mereka bertiga adalah kakak beradik. Yie Munha tak sengaja melihat ke arah ayah dari nona mudanya, ia langsung menghempaskan tangan kedua kakak laki lakinya itu dan menghampiri ayah nona mudanya.
"Selamat malam Tuan Xiao Cunyu, bagaimana dengan kondisi Anda saat ini?." tanya Yie Munha dengan senyuman manis.
"Saat ini saya merasa jauh lebih baik. Apakah nona mengetahui bagaimana keadaan putri saya saat ini?." tanya Xiao Cunyu yang berharap semoga saja gadis yang ada di depannya itu mengetahui kondisi Xiao Ziya saat ini.
"Nona Muda Xiao Ziya berhasil melewati masa kritisnya, saat ini Nona Muda sedang beristirahat di dalam kamar. Jika Tuan ingin mengunjunginya lebih baik esok pagi saja, saat ini Nona Muda memerlukan banyak waktu untuk memulihkan tenaganya." jawab Yie Munha dengan ekspresi senang, ia tak tau lagi harus melakukan apa jika nona mudanya tak kunjung bangun.
"Syukurlah putriku sudah siuman. Terimakasih atas informasinya nona, maaf karna sudah mengganggu waktu Anda." ucap Xiao Cunyu dengan senyuman lebar, kini ia bisa beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu pagi tiba.
"Kalau begitu saya dan kedua kakak saya permisi terlebih dahulu." ucap Yie Munha. Ia dan kedua kakaknya membungkukkan badan di hadapan Xiao Cunyu kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Ayah sudah mendengar semuanya kan? sekarang ayah harus berbuat." ucap Xiao Xun.
"Baik ayah akan pergi ke kamar sekarang." ucap Xiao Cunyu yang langsung pergi meninggalkan kedua putranya itu. Xiao Cunyu berjalan menuju kamarnya yang lumayan jauh dari tempatnya saat ini, pria itu bisa bernafas sedikit lega setelah mendengar kabar bahwa putrinya berhasil melewati masa kritis.
Xiao Yan dan Xiao Xun menggelengkan kepalanya mereka saat melihat tingkah ayahnya itu, tadinya sang ayah tak mau di suruh untuk beristirahat namun lihatlah sekarang, ayah mereka langsung bergegas pergi menuju kamar. Karna belum mengantuk akhirnya Xiao Yan dan Xiao Xun memutuskan untuk berjalan jalan di sekitar Istana Kerajaan Bulan, mereka masih tak menyangka bahwa adik perempuan mereka bisa memiliki sebuah wilayah kekuasaan di Lapisan Dunia Manusia Abadi.
"Udara di sini sangatlah sejuk, Lapisan Dunia Manusia Abadi memiliki banyak hal unik yang tak ada di Dunia Bawah. Udaranya saja mengandung banyak enegi qi, mungkin kita bisa naik tingkat lebih cepat jika tinggal di sini untuk beberapa hari." ucap Xiao Xun yang dapat merasakan kepadatan yang berbeda pada energi qi di sekitar tempat itu.
"Mungkin adik selalu memiliki wilayah yang ia kuasai saat pergi ke beberapa lapisan dunia lain, namun ia akan selalu kembali pulang ke dunia bawah." ucap Xiao Yan yang tak bisa membayangkan bagaimana jika ia yang berada di posisi Xiao Ziya, mungkin ia tak akan pernah menginjakkan kaki di tempat kelahirannya lagi.
__ADS_1
"Kekuatan yang diimbangi dengan hati baik selalu memiliki tempat dimana pun ia pergi." ucap Xiao Xun, ia mengerti mengapa Penguasa Alam Semesta memberikan kekuatan yang sangat besar pada adik perempuannya itu. Pengendalian sikap dan perilaku sang adik sangatlah luar biasa, ia tak pernah sombong meskipun identitasnya jauh di atas para kultivator biasa.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.