
Xiao Ziya menatap ke arah pemimpin akademi dengan tatapan seolah mempertanyakan apakah keinginannya untuk menjadi guru murid inti akan tetap ditolak ataukah diterima.
"Namun putri anda memang tak cocok jika ingin menjadi guru dari para murid inti." ucap Wonyong Gu yang tetep kekeh pada pendiriannya bahwa Xiao Ziya tak pantas menjagu guru dari murid inti.
"Apa yang membuat putri saya tak pantas menjadi guru para murid inti?." tanya Raja Zeus yang ingin tau alasan mengapa para murid jenius tetap menolak keinginan Xiao Ziya.
"Pertama putri anda masih sangat muda jika ingin menjadi guru para murid inti." ucap Wonyoung Gu yang memberi tau alasan pertama mengapa Xiao Ziya tak pantas menjadi guru dari para murid inti.
"Kedua putri anda tak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang guru." ucap Zinren yang memberikan alasan kedua mengapa Xiao Ziya tak pantas menjadi guru dari Akademi Wunyeng.
"Ketiga kemampuan putri anda masih lemah sehingga jika ia menjadi guru dari junior kami maka meraka tak bisa berkembang." ucap Xu Banzi yang memberikan alasan terakhir mengapa para murid jenius menantang keinginan Xiao Ziya.
Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz mengepalkan tangan mereja dengan kuat dan bersiap untuk memukul para murid jenius yang dengan terang terangan menganggup adik kesayangan mereka adalah orang yang lemah. Bugh bugh bugh suara pukulan yang cukup keras, sebuah tinju melayang pada kelima pemuda yang sedari tadi banyak bicara itu.
"Hentikan gege." ucap Xiao Ziya yang membuat Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz berhenti memukuli kelima murid jenius itu.
"Jika kalian menganggap saya lemah dan tak berpengalaman maka mari bertanding dengan saya, jika saya menang maka saya akan menjadi guru dari murid inti selama dua minggu dan setelah itu kalian bisa bertarung melawan murid didikan saya itu kita lihat nanti siapa yang tak bisa mendidik muridnya dengan benar." ucap Xiao Ziya yang menantang para murid jenius untuk bertarung melawannya, para murid jenius dan pemimpin Akademi Wunyeng setuju dengan apa yang dikatakan oleh Xiao Ziya.
Akhirnya mereka semua pergi menuju lapangan utama karna di sana ada benerapa arena pertarungan yang digunakan oleh para murid untuk melatih kemampuan dan jurus jurus mereka. Setelah sampai di lapangan utama Xiao Ziya langsung naik kesebuah arena pertarungan.
"Jadi siapa yang ingin melawan saya terlebih dahulu." ucap Xiao Ziya dengan wajah datarnya.
Seorang pemuda bernama Xu Banzi naik keatas arena ia adalah seorang murid jenius yang ada di peringkat ketiga di antara para murid jenius yang lain. Setelah Xu Banzi naik ke atas arena pemuda itu mengeluarkan sebuah tombak yang biasa ia gunakan sebagai senjata saat bertarung sedangkan Xiao Ziya mengeluarkan sebuah pedang berwarna putih yang belum pernah ia gunakan sebelumnya gadis itu ingin melihat seberapa kuat pedang putih yang sudah tersimpan lama di dalam cincin penguasa mutlaknya.
"Pedang yang gadis itu gemggam bukanlah pedang sembarangan." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang tak menyangka selain memiliki binatang pengikut yang sangat kuat gadis itu juga memiliki senjata spiritual yang hebat bahkan belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Hari ini akan ku buktikan jika kau memang tak pantas menjadi guru dari para mudir inti." ucap Xu Banzi yang mulai menyerang Xiao Ziya menggunakan tombak miliknya, walau serangan Xu Banzi cukup intens namun belum mampu menandingin Xiao Ziya apalagi pedang putih yang sedang gadis itu gunakan.
Xiao Ziya melakukan serangan balasan tanpa menggunakan jurus apapun ia hanya mengandalkan pedang putihnya itu, dalam waktu singkat Xu Banzi sudah kewalahan. Sebuah tinju dengan tangan kosong Xiao Ziya arahkan pada pemuda itu seketika tubuh sang pemuda terpental beberapa meter dan memuntahkan seteguk darah.
"Sialan berani beraninya kau melukai temanku." ucap Zinren yang langsung loncat ke arena pertandingan, pemuda itu tersulut emosi akibat melihat teman satu kelasnya terluka parah karna tinju yang dilayangkan oleh Xiao Ziya.
"Bukankah dalam pertandingan menang dan kalah adalah hal yang biasa?." ucap Xiao Ziya yang merasa tak ada yang salah dengan apa yang ia lakukan, jika ia tak menyerang dan melumpuhkan musuh maka ialah yang akan luka dan kalah dalam pertandingan itu.
"Tetap saja aku tak terima kau telah melukai temanku." ucap Zinren yang merupakan peringkat kedua dari para murid inti.
Pemuda itu menatap Xiao Ziya dengan tajam dan mulai membaca sebuah mantra sihir, setelah ia selesai membaca mantra sihir muncul seratus golem api berukuran kepalan tangan di atas pemuda itu. Golem golem api itu tampak kuat namun tak mampu membuat Xiao Ziya merasa takut.
"Jadi kau ingin aku melawannya dengan apa? api juga? air? atau es?." ucap Xiao Ziya yang menanyakan pada Zinren. Baru kali ini dalam pertandingan ada pihak yang menanyakan pada pihak musuh ingin dibalas dengan jurus apa.
"Mari kita adu golem api milikku dan api milikmu." ucap Zinren dengan percaya diri, pemuda itu berfikir jika ia meminta Xiao Ziya membalas serangannya dengan mantra air atau es maka ia akan kalah. Namun jika api dengan api besar kemungkinan dia yang akan menang ataupun hasilnya akan imbang.
Xiao Ziya mengangkat kedua telapak tangannya agak tinggi, kemudian di tangan kirinya muncul api berwarna hitam sedangkan di tangan kananya muncul api berwarna putih. Melihat api milik Xiao Ziya tentu saja membuat Zinren merasa sedikit khawatir ia tak tau jika gadis itu memiliki dua akar api yang berbeda apalagi api milik Xiao Ziya sangat langka dan belum pernah ia lihat sebelumnya.
__ADS_1
Api hitam dan api putih itu melepaskan diri mereka dari telapak tangan Xiao Ziya kemudian melayang di atas tubuh gadis itu. Zinren memerintahkan seratus golem api miliknya untuk menyerang api hitam dan api putih itu, golem golem api milik Zinren melesat ke arah Xiao Ziya.
Api putih milik Xiao Ziya membentuk sebuab perisai pelindung untuk melindungi gadis itu dari serangan golem api sedangkan sang api hitam berkobar dengan besar dan membakar golem golem api milik Zinren. Dalam sekejab saja golem golem api itu musnah tanpa ada sisa, Zinren tak terima saat melihat golem golem api miliknya kalah begitu saja di hadapan api hitam dan api putih milik Xiao Ziya.
"Sialan kau aku tak akan kalah darimu." ucap Zinren yang marah elemen api meledak dari tubuh pemuda itu bahkan tubuhnya terlapisi api merah yang cukup kuat. Melihat itu Xiao Ziya tersenyum miring dan mulai melakukan hal yang sama ia melapisi tubuhnya dengan tiga senis api sekaligus yaitu api merah, api hitam, dan api putih.
"Arghh mengapa kau bisa lebih unggul daripada diriku padahal kau hanya putri manja dari seorang raja!!." triak Zinren pada Xiao Ziya, mungkin pemuda itu tak bisa terima karna ia kalah dalam berbagai hal oleh seorang gadis yang sangat menyebalkan baginya. Namun pemuda itu tak tau bahwa perkataanya barusan menyulut emosi Xiao Ziya yang sedari tadi sudah berusaha menahannya.
"Kau tadi bilang apa?." tanya Xiao Ziya dengan wajah marahnya yang sedikit menyeramkan bagi orang orang yang belum pernah mrlihat gadis itu marah, Zuren gemetaran melihat tatapan Xiao Ziya yang seolah olah ingin menelannya hidup hidup.
"K..kau adalah seorang putri manja." ucap Zinren yang dengan berani mengulang perkataanya tadi.
Berani beraninya seorang pemuda antah berantah yang tak tau kisah hidupnya yang begitu rumit dan melelahkan dengan mudahnya mengatakan bahwa ia adalah seorang putri yang manja hanya karna ia adalah putri angkat dari Raja Zeus, Xiao Ziya mendapatkan semua yang ia miliki saat ini karna perjuangan dan usahanya sendiri dibantu oleh orang orang terdekatnya. Xiao Ziya yang sudah sangat marah itu tak akan bisa ditahan oleh siapapun bahkan Raja Zeus dan kedua pangeran yang ada di sana hanya bisa menyaksikan saja, mereka tau bahwa Xiao Ziya memiliki tempramen yang cukup buruk saat ia sudah tak terkendali lagi. Duaaar suara ledakan aura membunuh yang sangat kuat keluar dari tubuh Xiao Ziya bahkan kali ini gadis itu mengeluarkan setengah dari aura membunuh yang ia miliki.
Dalam sekejap mata Xiao Ziya sudah berada di hadapan Zinren, gadis itu memukul Zinren dengan sangat kuat hingga pemuda itu terpental jauh dan menabrak tembok kelas murid luar senior. Melihat Zinren yang sudah lemas dan seluruh tubuhnya merasa kesakitan tak membuat Xiao Ziya kasian, gadis itu melesat kearah Zinren menarik pemuda itu dan membawanya kembali ke atas arena pertarungan.
"Hentikan nona Xiao Ziya." ucap Kepala Akademi Wunyeng yang berusaha untuk menghentikan Xiao Ziya.
"Kau tak perlu ikut campur dengan urusanku, kemarin saya menyelamatkamu bisa saja hari ini saya membunuhmu jika kau ikut campur." ucap Xiao Ziya yang memperingatkan Kepala Akademi Wunyeng untuk tetap diam saja dan menonton apa yang akan ia lakukan tanpa berusaha menghentikannya.
Kepala Akademi Wunyeng meneguk ludahnya dengan kasar ia tak berani mengatakan apapun lagi karna kelihatannya Xiao Ziya benar benar marah saat ini, pemimpin akademi tak tega melihat salah satu muridnya dihajar habis habisan oleh Xiao Ziya. Pemimpin Akademi Wunyeng naik ke atas arena kemudian ia mengambil sebuah pedang dari cincin ruangnya, pedang itu ia tancapkan di atas arena tiba tiba muncul sebuah pola sihir berbentuk segitiga di atas tubuh Xiao Ziya. Dalam sekejab pola sihir itu menjerat tubuh Xiao Ziya, merasa situasinya sudah lumayan aman pemimpin akademi menyelamatkan Zinren yang sudah kehilangan banyak darah karna dibukuli Xiao Ziya dengan kepalan tangannya yang mengandung aura kematian yang sangat kuat.
"Mengapa kau ikut campur dalam urusanku pemimpin akademi?." ucap Xiao Ziya dengan raut wajahnya yang tak senang, sepertinya gadis itu sudah berada dalam mode iblis walau tubuhnya tak terjadi perubahan apapun.
"Apa kau tak mengajari murid bodoh mu itu agar tak sembarangan mengomentari hidup seseorang?." ucap Xiao Ziya dengan tajam, gadis itu sedikit kesakitan karna mantra sihir kuno yang menjerat tubuhnya semakin mengekang dirinya.
"Kau tak akan bisa melepaskan diri dari mantra sihir kuno itu, karna saya mendapatkannya dari salah seorang dewa." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang merasa berhasil membuat Xiao Ziya tak berdaya lagi. Satu tetes darah Xiao Ziya mengenai cincin penguasa mutlak miliknya.
Darah itu menetes mengenai sabit hitam kematian yang Xiao Ziya simpan di dalam cincin penguasa mutlaknya karna sabit hitam itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Satu tetes darah Xiao Ziya membangkitkan kemarahan dari sang sabit hitam, tanpa diminta untuk keluar dari cincin penguasa mutlak sabit hitam itu bisa keluar sendiri. Saat sabit hitam itu keluar cuaca yang tadinya cerah tiba tiba menjadi mendung dengan awan hitam yang memenuhi langit suara petir mulai bergemuruh membuat suasana semakin mencekam.
"Ada apa ini?." ucap pemimpin akademi dan beberapa orang yang merasa keheranan dengen perubahan cuaca yang sangat mendadak itu.
Sabit hitam milik Xiao Ziya bergerak sendiri mendekati Pemimpin Akademi Wunyeng, sabit hitam itu mengeluarkan aura kematian yang sangat kuat, terlihat ia sangat marah pada pria tua yang telah membuat nona yang sedang ia lindungi terluka.
"Apa apaan ini dari mana sabit kematian ini datang." ucap pemimpin akademi yang sudah ketakutan setengah mati. Sabit hitam kematian biasanya hanya muncul saat pemiliknya terluka namun mana mungkin Xiao Ziya adalah pemilik dari sabit hitam kematian itu.
"Kemarilah, mengapa kau bisa keluar?." ucap Xiao Ziya pada sabit hitamnya itu, sabit hitam kematian melesat ke arah Xiao Ziya dan memasukkan kembali aura kematian kedalam dirinya agar tak melukai nona mudanya itu.
Sabit itu berkomunikasi dengan Xiao Ziya melalui batin gadis itu, dan ia mengatakan bahwa ia sangat marah karna nonanya terluka. Sabit itu juga mengatakan ia akan membuat siapapun yang telah melukai nonanya akan mendapatkan siksa yang sangat kejam setelah orang itu tiada dan masuk ke alam kematian. Xiao Ziya yang tak mengerti maksut dari sabit hitam miliknya hanya diam dan berusaha berfikir dengan jernih mungkin saja alam kematian yang dimaksut oleh sabit itu adalah alam neraka.
"Ah kau begitu menyayangi saya, trimakasih. Namun masalah kali ini tak bisa diselesaikan hanya dengan kematian pria tua itu, jadi tenanglah." ucap Xiao Ziya yang meminta pada sabit hitamnya untuk tenang dan tak melakukan hal yang aneh seperti tiba tiba membunuh Pemimpin Akademi Wunyeng.
Dengan patuh sabit hitam itu menuruti perkataan Xiao Ziya dan kemarahannya mulai hilang secara perlahan, sepertinya sabit hitam milik Xiao Ziya mempunya jiwa sendiri sehingga ia bisa merasq begitu senang saat nona mudanya bertrimakasih padanya. Awan hitam dan langit yang gelap telah sirna kini cuaca kembali seperti semula sedangkan Pemimpin Akademi Wunyeng masih terdiam mematung saat melihat kenyataan yang begitu mengerikan.
__ADS_1
"Jadi sabit hitam itu milikmu?." tanya pemimpin akademi yang memberanikan diri untuk bertanya pada Xiao Ziya menenai sabit itam yang berdiri tegak di samping gadis itu tanpa perlu digenggam ataupun dipegang.
"Iya sabit hitam ini milik saya." jawab Xiao Ziya dengan singkat. Pemimpin akademi gemetaran bukan main dengan segera pria tua itu melepaskan mantra sihir yang menjerat tubuh Xiao Ziya.
Setelah melepaskan mantra sihirnya, pemimpin Akademi Wunyeng langsung mendekat ke arah Xiao Ziya dan bersuduh di hadapan gadis itu. Tentu tindakan pemimpin akademi membuat semua orang terkejut terutama para murid jenius yang tak mengerti mengapa pemimpin akademi melakukan hal seperti itu.
"Maafkan saya karna telah melukai Yang Mulia." ucap pemimpin akademi dengan nada dan tubuh yang gemetaran.
Mendengar pemimpin Akademi Wunyeng menyebut dirinya dengan sebutan Yang Mulia tentu saja membuat Xiao Ziya kebingungan, apa yang sebenarnya ada di dalam fikiran pria tua itu.
"Mengapa kau memanggilku dengan sebutan Yang Mulia, saya adalah Xiao Ziya dan saya bukan Raja atau Ratumu." ucap Xiao Ziya yang tak mengerti lagi. Sabit hitam yang ada di samping Xiao Ziya menghilang dan masuk kembali kedalam cincin penguasa mutlak.
"Tolong terima saya sebagai murid anda Yang Mulia." ucap pemimpin Akademi Wunyeng yang semakin membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main, mengapa pemimpin akademi semakin aneh saja.
"Saya hanya ingin menjadi guru dari para murid inti bukan menjadi guru anda, jadi maaf saya tak biasa mengabulkan permintaan anda." ucap Xiao Ziya yang sama sekali tak tertarik untuk menjadi guru dari pemimpin Akademi Wunyeng yang masih bersujud dihadapannya.
"Saya mohon pada Yang Mulia." ucap Pemimpin Akademi Wunyeng yang tetap memohon pada Xiao Ziya agar dijadikan murid.
"Berdirilah, saya tetap tak ingin menjadikan anda sebagai murid saya. Mulai besok hingga empat belas hari yang akan datang saya akan menjadi guru dari parq murid inti. Suka tidak suka, mau tidak mau saya akan tetap melakukannya." ucap Xiao Ziya yang sudah mengambil keputusan. Pemimpin Akademi Wunyeng hanya bisa pasrah ia telah salah menilai gadis itu ternyata ia adalah gadis yang pernah diramalkan oleh gurunya yang telah meninggal dua puluh tahun yang lalu.
"Selama putri saya menjadi guru di akademi ini saya harap kalian memperlakukannya dengan baik." ucap Raja Zeus yang memberikan peringatan pada orang orang Akademi Wunyeng agar memperlakukan Xiao Ziya dengan baik, jika tidak yang akan menjadi lawan mereka adalah anggota Kerajaan Hitam.
Raja Zeus, Pangeran Zeeling, dan Pangeran Anz berpamitan pada Xiao Ziya karna mereka ingin menyelesaikan beberapa urusan pemerintahan yang sempat tertunda, Xiao Ziya mengucapkan trimakasih pada mereka karna bersedia datang ke Akademi Wunyeng bersama dengannya, dan gadis itu juga meminta maaf karna membuat pekerjaan mereka tertunda.
"Kami pergi dulu putriku jaga dirimu baik baik, jangan lupa pulang untuk makan malam bersama." ucap Raja Zeus yang mencium kening Xiao Ziya, kemudian ia pergi bersama pasukan yang ia bawa.
"Jika nanti ada yang membuatmu kesal beritau kami, agar kami berdua bisa memberinya pelajaran." ucap Pangeran Zeeling dan Pangeran Anz secara bersamaan.
"Nanti malam saya akan pulang untuk makan malam bersama kalian semua, dan saat ada yang berani mengganggu saya, saya akan meminta pada Zeeling gege dan Anz gege untuk memukul kepalanya." ucap Xiao Ziya dengan sebuah tawa riangnya, gadis itu bersikap seolah olah tak ada hal buruk yang baru saja terjadi.
Pangeran Zeeling, dan Pangeran Anz juga pergi dari sana. Para murid jenius pergi dari lapangan utama dan kembali ke kelas mereka. Kepala akademi dan pemimpin akademi kembali ke ruang kerja mereka, sedangkan Xiao Ziya berjalan menuju kelas murid inti untuk memberitaukan pada mereka mulai besok ialah yang akan mengajar mereka semua.
Xiao Ziya telah sampai di depan pintu masuk kelas murid inti, gadis itu mengetuk pintu bebapa kali. Setelah mendapatkan izin untuk masuk kedalam Xiao Ziyapun masuk, ternyata mereka masih ada pelajaran.
"Ada keperluan apa nona masuk saat saya masih mengajar?." ucap Ayunzo yang terlihat sedikit kesal karna Xiao Ziya telah mengganggunya.
"Mulai besok anda tak perlu mengajar lagi karna mulai besok hingga empat belas hari kedepan saya yang akan menjadi guru mereka." ucap Xiao Ziya, para murid inti yang mendengarnya langsung bersorak gembira karna mereka akan diajar oleh gadis yang cantik, manis, dan sangat hebat.
Tiba tiba guru Ayunzo juga berteriak senang entah apa yang membuat pria itu terlihat sangat senang.
"Trimakasih karna sudah menggantikan tugas saya selama dua minggu, saya akan mengajukan cuti dan berlibur bersama istri saya. Anak anak saya harap kalian bersikap baik pada guru baru kalian, saya pamit dulu." ucap Ayunzo yang langsung keluar dari kelas murid inti dengan eskpresi senangnya yang tak bisa ditutupi lagi. Melihat itu membuat Xiao Ziya menggeleng gelengkan kepalanya.
Hai hai semua gimana kabar kalian semoga baik baik aja ya, makasih udah stay sama cerita ini walau author kadang tiba tiba ngilang. Jangan lupa follow buat yang belum follow, vote ya guys wajib, gift hadiah apapun makasih banget guys, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, jangan lupa share ke temen temen kalian juga ya. Love you guys.
__ADS_1