
Saat ini Xiao Ziya berada di aula utama istana Kekaisaran Binzo, saat ini raja dan juga beberapa anggota kekaisaran sedang memutuskan hukuman yang tepat untuk Permaisuri Zo Nixu.
"Hah ini sungguh berat, mengapa kau memiliki niatan untuk membunuh Ratu Zo Binji padahal ratu sudah menganggap anda sebagai saudarinya sendiri." ucap Raja Zo Linzu yang masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapannya itu.
Permaisuri Zo Nixu hanya terdiam dan hanya bisa menundukkan kepalanya karna merasa sangat malu. Jika tau dari awal bahwa anaknya sendiri yang menolak posisi itu maka ia juga tak akan melakukan hal sejauh ini. Dan fatalnya ia juga melibatkan orang luar dalam rencananya.
"Maaf atas semua kejahatan yang telah saya lakukan, saya tau bahwa kata maaf saja tak akan pernah bisa menebus semua perbuatan saya." ucap permaisuri yang langsung teringat kejadian saat ia diangkat menjadi permaisuri.
"Bagaimana caraku menghukummu, walau saya pernah berkata tak mencintai anda namun bukan berarti saya membenci anda." ucap Raja Zo Linzu yang masih kebingungan memutuskan hukuman yang tepat untuk permaisurinya.
"Saya rasa dengan hukuman penjara selama satu tahun dan juga pelayanan terhadap masyarakat selama beberapa bulan sudah cukup." ucap Ratu Zo Binji yang menyarankan hukuman untuk permaisuri.
Xiao Ziya mengamati dan mendengar apa yang sedang mereka bahas namun gadis itu kali ini memilih untuk diam, walau ia terlibat dalam permasalahan ini namun ia tak dirugikan sama sekali. Apapun hukuman untuk permaisuri nanti walau ia rasa hukuman itu sangat kurang Xiao Ziya berusaha untuk menerima.
"Bagaimana pendapat nona Ziya, nona juga terluka karna ulah ibu saya." ucap Pangeran pertama yang meminta pendapat dari Xiao Ziya, pangeran pertama hanya takut keputusan yang mereka buat nanti akan membuat Xiao Ziya merasa tak puas dan melaporkan semua itu pada Kaisar Yan, maka masalah akan semakin membasar.
"Saya akan ikut dengan keputusan kalian, namun jika diperbolehlan saya ingin memberikan sebuah hukuman pada permaisuri." ucap Xiao Ziya yang ingin melakukan sesuatu agar permaisuri jera dan tak memiliki pemikiran untuk mengulangi hal itu lagi.
"Silahkan jika nona ingin melakukannya sekarang." ucap Raja Zo Linzu yang hanya bisa menyetujui keinginan dari Xiao Ziya.
Xiao Ziya menatap permaisuri dengan tajam, matanya berubah menjadi merah sehingga sang permaisuri tak berni menatap mata Xiao Ziya.
"Tatap mataku ini perintah." ucap Xiao Ziya dengan tegas dan meminta Permaisuri Zo Nixu untuk menatap kedua bola matanya.
Perlahan lahan Permaisuri Zo Nixu mengangkat kepalanya dan melihat lurus kedepan tepat dikedua mata Xiao Ziya. Tiba tiba tubuh sang permaisuri terasa sangat sesak ia melihat sesuatu yang mengerikan di sana. Jiwa jiwa yang dibakar dan si siksa dengan kejam, tubuh permaisuri Zo Nixu terasa seperti terbakar. Keringat mulai bercucuran seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat.
Raja, ratu, dan yang lain hanya menatap dengan keheranan sebenarnya hukuman apa yang sedang Xiao Ziya berikan pada permaisuri Zo Nixu.
Setelah beberapa saat Xiao Ziya menyudahinya dan lenasa mata gadis itu kembali menjadi hitam, permaisuri Zo Nixu terduduk di hadapan Xiao Ziya lalu ia menangis sejadi jadinya.
"Maafkan saya, maafkan saya yang rendahan ini. Saya telah lancang melukai anda." ucap permaisuri Zo Nixu yang sedang bersujud di hadapan Xiao Ziya.
__ADS_1
"Bangunlah jangan ulangi hal yang sama, kau beruntung karna telah melahirkan putra dan putri yang baik." ucap Xiao Ziya yang tersenyum dengan hangat.
Setelah merasa urusannya kali ini sudah selesai, Xiao Ziya pamit untuk kembali ke penginapannya biarlah hukuman yang lainnya ditentukan oleh anggota Kekaisaran Binzo.
"Aku ingin segera pulang dan menemui keluargaku." ucap Xiao Ziya yany mulai merindukan suasana yang ada di Kelaisaran Qiyu.
Saat masuk kedalam penginapan, sang pemilik penginapan menyambut kedatangan Xiao Ziya dengan ramah dan mengatakan bahwa ada beberapa orang yang sempat mencari Xiao Ziya tadi, namun karna mereka terlalu lama menunggu akhirnya mereka pergi.
"Apakah yang mencariku adalah dua orang pria? dan yang satunya adalah seorang kakek tua?." tanya Xiao Ziya yang curiga bahwa yang mencarinya adalah Raja Artur dan juga Yuan Zie.
"Keduanya pemuda tampan nona tak ada kakek tua yang nona sebut." ucap pemilik penginapan itu yang tidak mengerti dengan jalan fikiran gadis yang ada di hadapannya.
Karna sudah malam dan tak ingin berdebat dengan pemilik penginapan Xiao Ziya memilih untuk naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamarnya. Xiao Ziya membaringkan dirinya diatas tempat tidur yang nyaman.
Sedangkan dilain tempat saat ini Raja Artur dan Yuan Zie sedang berjalan jalan di sekitar Kekaisaran Binzo.
"Sebaiknya kita mendatangi gadis nakal itu besok saja, pasti saat ini ia sudah tertidur dengan nyenyak." ucap Raja Artur yang sudah hafal dengan tingkah laku penerusnya yang sangat absurd itu.
"Kenapa kakek begitu khawatir dengan nona Ziya?." tanya Yuan Zie yang penasaran dengan alasan kakeknya yang tiba tiba saja menarik tangannya kemudian membawanya ke Kekaisaran Binzo tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Keesokan paginya seperti biasa Xiao Ziya sudah sampai di tempat turnamen sebelum yang lainnya, dan ia merasakan aura yang tak asing baginya.
"Hah yang benar saja apa yang sedang Yang Mulia Raja Artur lakukan di sini." ucap Xiao Ziya yang merasakan aura Raja Artur dan juga cucunya di tempat itu.
Raja Artur dan Yuan Zie yang tadinya sedang bersembunyi dan hendak mengejutkan Xiao Ziya namun rencana mereka gagal karna gadis itu menyadari keberadaan mereka begitu cepat.
"Seharusnya kau pura pura tak tau keberadaan kami." ucap Raja Artur yang sepertinya sedang merajuk pada Xiao Ziya.
"Mengapa aku harua berpura pura tak tau keberadaan kalian berdua." ucap Xiao Ziya yang tak ingin kalah saat sedang beradu argumen dengan Raja Artur.
"Karna kami berdua ingin mengagetkanmu." ucap Raja Artur yang terdengat begitu konyol.
__ADS_1
Xiao Ziya menatap Raja Artur dengan keheranan, tidak bertemu beberapa hari saja mengapa kakek tua yang ada di hadapannya itu semakin aneh, apakah kepalanya kemasukan air beserta ikan ikannya, atau kepala kekek itu dijatuhi oleh durian.
"Terserah kau saja kakek tua, sekarang aku akan ikut turnamen sebaiknya kalian berdua duduk di kursi penonton." ucap Xiao Ziya yang mengusir Raja Artur den Yuan Zie dengan halus.
Dengan sangat keras kepala Raja Artur tetap duduk di kursi peserta yang ada di sebelah Xiao Ziya, sedangkan Yuan Zie berusaha untuk menarik kakeknya agar mau duduk di kursi penonton.
"Aku akan duduk di kursi penonton jika bocah nakal mengatakan bahwa aku tampan." ucap Raja Artur yang memberikan syarat pada Xiao Ziya jika gadis itu ingin ia pindah tempat.
"Dalam mimpimu saja." ucap Xiao Ziya yang sudah kesal pada kakek tua yang ada di sampingnya itu. Mengapa bertambah usia tak membuatnya bertambah sadar diri namun menjadi sangat narsis.
"Ayolah kau hanya perlu bilang bahwa aku tampan." ucap Raja Artur dengan sedikit paksaan agar Xiao Ziya mau mengatakan hal itu.
"Gadis nakal ini tak ingin berbohong dengan mengatakan hal itu." ucap Xiao Ziya yang memang menganggap Raja Artur itu tidak tampan, dan ia tak peduli dengan tanggapan orang lain tentang bagaimana rupa dari Raja Artur.
Akhirnya Raja Artur mengalah dan pindah ke kursi penonton. Ternyata membujuk gadis nakal bukanlah hal yang mudah. Mengapa Raja Artur memanggil Xiao Ziya gadis yang nakal karna Xiao Ziya sangat susah saat diberitau untuk menjaga jam tidurnya dan juga menjaga pola makan, namun aneh sekali walai gadis itu makan banyak namun ia tak pernah gendut.
"Akhirnya kakek mau mengalah pada nona Ziya." ucap Yuan Zie yang merasa lega karna kakeknya mau mengalah juga.
Tak berapa lama semua orang mulai berdatangan ke tampat turnamen, kuris perserta dan penonton sudah penuh. Semua juri dan juga anggota kekaisaran sudah ada di posisi mereka masing masing.
"Baiklah karna semuanya sudah berkumpul di sini, maka tahap keempat turnamen antar murid akademi yang ada di dunia bawah akan dimulai." ucap Min Funze yang membuka turnamen hari ini. Antusias penonton tak berkurang sama sekali mereka menyemangati Xiao Ziya.
"Dalam tahap keempat ini semua peserta bisa menggunakan pedang yang mereka miliki atau bawa untuk saling bertanding pedang di atas arena." ucap Min Funze yang membuat beberapa peserta menjadi cemas karna mereka tak membawa senjata apapun karna tak ada pemberitahuan tentang hal itu.
"Untuk peserta yang tak membawa pedang panitia sudah menyiapkannya, kalian bisa mengambil di sisi kiri arena." ucap Min Funze yang menunjukkan segunung pedang yang sudah dipersiapkan.
Para peserta yang tak membawa pedang sama sekali langsung naik ke atas arena dan memilih pedang mereka hingga ada yang saling berebut. Sedangkan Xiao Ziya hanya berdiri di atas arena dan menunggu kondisinya agar lebih tenang.
"Nona Ziya mengapa anda tak memilih pedang anda sekarang, jika anda diam seperti itu maka anda akan mendapat pedang sisa dengan kualitas buruk." ucap Min Funze yang memberikan isyarat agar Xiao Ziya juga segera mengambil sebuah pedang.
"Itu bukan masalah." jawab Xiao Ziya dengan singkat.
__ADS_1
Mendengar ucapan Xiao Ziya membuat Raja Artur teringat akan kejadian di masa lalu, mungkin dulu ia adalah kebalikan dari Xiao Ziya.
Hai hai semua aku update lagi hari ini jangan lupa dukung aku dengan cara follow, vote yang masih punya tiket vote, gift hadiah apapun, like like like, komen sebanyak banyaknya, rate bintang lima, share ke temen temen kalian.