
Xiao Ziya melewati dimensi ruang dan waktu dengan sangat cepat hingga tiba tiba gadis itu muncul di gerbang masuk Istana Kerajaan Bulan, para prajurit penjaga gerbang mulai terbiasa dengan hal hal mengejutkan seperti itu, mereka langsung membungkukkan badan saat Xiao Ziya melintas di hadapan mereka. Xiao Ziya berjalan masuk ke dalam ia ingin bertemu dengan yang lain untuk berpamitan karna Dunia Bawah membutuhkan bantuannya saat ini.
"Anda sudah kembali?" tanya Putri Beiling Zu pada adik tirinya, sang putri menatap ke arah Xiao Ziya dengan tatapan bingung. Apakah gadis itu berlari dengan secepat yang ia bisa agar segera sampai di Istana Kerajaan Bulan?.
"Saya sudah kembali, dimana yang lain? saya harus berpamitan pada mereka." tanya Xiao Ziya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan yang lain.
"Entahlah saya hanya berjalan sendirian sedari tadi, mungkin yang lain sedang di dalam kamar atau di ruangan lainnya. Apakah Adik Ziya akan pergi sekarang? ini sudah larut malam sebaiknya adik ke kembali besok pagi saja." ucap Putri Beiling Zu yang merasa berat hari karna harus melepas kepergian asik perempuan kesayangannya itu. Sejak awal Putri Beiling Zu menganggap Xiao Ziya sebagai saudari kandung karna mereka lahir dari rahim yang sama meski memiliki ayah yang berbeda. Hal yang membuat Putri Beiling Zu semakin sedih karna ia tak memiliki saudari perempuan selain Xiao Ziya, semua kakak dan adiknya laki laki.
"Maaf saya tak bisa menunda terlalu lama, ah jangan jangan Beiling jiejie tak ingin kehilangan adik perempuan secantik saya ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman meledek.
"Haih, bagaimana bisa adik Ziya tau apa yang sedang saya pikirkan?. Anda satu satunya saudari perempuan yang saya miliki." ucap Putri Beiling Zu dengan sorot mata sedih, andai saja ia lebih kuat dari adik perempuannya itu pasti sang putri sudah menahan Xiao Ziya agar tak kembali ke dunia bawah.
"Masih ada Putri Ming Zu, bukankah dia juga saudari perempuan Anda." ucap Xiao Ziya dengan tatapan polos seolah olah tidak mengetahui apapun.
Putri Beiling Zu membelalakkan matanya, ia menunjukkan ekspresi kesal dan hendak memukul punggung Xiao Ziya. Sebelum hal itu terjadi Xiao Ziya terlebih dahulu lari untuk menyelamatkan dirinya, Putri Beiling Zu terlihat sangat menyeramkan ketika ia sedang marah.
"Hei jangan lari, awas saja kau!!." triak Putri Beiling Zu yang langsung mengejar Xiao Ziya. Bagaimana bisa ia menganggap anak dari Selir Mue Zu sebagai saudarinya? tak ada yang tau kebenaran mengenai kedua anak sang selir, apakah mereka benar benar darah daging Raja Yongling Zu ataupun hasil hubungan gelap antara Selir Mue Zu dengan pria lain.
Xiao Ziya berlari menyusuri lorong-lorong yang ada di Istana Kerajaan Bulan, gadis itu masih dikejar oleh Putri Beiling Zu yang sedang marah padanya. Suasana sepi di istana kini berubah menjadi sedikit ramai karna di sepanjang jalan Xiao Ziya selalu tertawa, ternyata mengerjai Putri Beiling Zu sangatlah seru. Saat sedang berlari Xiao Ziya tak sengaja menabrak Pangeran Jongsu Zu yang baru saja keluar dari kamarnya, untung sang pangeran hanya terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Apa yang sedang Adik Ziya lakukan? mengapa adik berlarian seperti itu." tanya Pangeran Jongsu Zu dengan tatapan penuh selidik.
"Bisakah Jongsu Gege menyembunyikan saya? Beiling jiejie sedang mengejar saya dan sepertinya ia sedang marah." ucap Xiao Ziya dengan mata berkaca-kaca, ia sengaja menunjukkan ekspresi sedih untuk menarik simpati dari Pangeran Jongsu Zu.
Tanpa menanyakan apapun lagi Pangeran Jongsu Zu menarik tangan Xiao Ziya dengan pelan kemudian meminta Ziya untuk bersembunyi di belakang. Beberapa saat setelahnya Putri Beiling Zu lewat dan ia tampak kebingungan, sang putri merasa bingung karna tiba tiba saja adiknya menghilang padahal saat berlari jarak mereka tak terlalu jauh.
Putri Beiling Zu menoleh ke samping dan menatap Pangeran Jongsu Zu dengan tatapan curiga karena kemungkinan besar kakak laki lakinya menyembunyikan Xiao Ziya.
"Apakah Gege melihat adik Ziya berlari ke arah sini?." tanya Putri Beiling Zu dengan tatapan datar.
"Aku baru saja keluar dari kamar, bagaimana aku bisa tau apakah adik Ziya meminta melewati lorong ini." jawab Pangeran Jongsu Zu dengan ekspresi datar agar Putri Beiling Zu percaya padanya.
"Baiklah kau begitu saya mencarinya di tempat lain dan awas saja jika sampai Gege berbohong." ancam Putri Beiling Zu pada Pangeran Jongsu Zu, sang putri menatap kakak laki lakinya dengan tatapan tajam kemudian pergi dari tempat itu untuk lanjut mencari xiao Ziya.
Setelah jarak antara Pangeran Jongsu Zu dan Putri Beiling Zu sudah jauh, Xiao Ziya Muncul dari tempat persembunyiannya kemudian tertawa pelan. Ternyata Putri Beiling Zu juga sangat galak pada saudara kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Apakah Beiling jiejie selalu ganas seperti itu ketika sedang merasa kesal?." tanya Xiao Ziya dengan tawa pelan.
"Dia selalu seperti itu ketika sedang marah, lebih baik Adik Ziya berhati hati. Sebagai kakak laki laki yang baik saya khawatir Putri Beiling Zu akan menelan Anda." jawab Pangerang Jongsu Zu.
Baru saja mereka berdua bersenda gurau tiba tiba Putri Beiling Zu datang dengan kemarahan yang semakin memuncak, ia menghampiri Pangeran Jongsu Zu kemudian memukul kepala sang pangeran dengan cukup kencang. Xiao Ziya diam di tempatnya sembari berusaha untuk menahan tawa, gadis itu tau bahwa Putri Beiling Zu tak pergi jauh melainkan bersembunyi di balik dinding yang ada di sisi lain kamar Pangeran Jongsu Zu.
"Argh sakit, bagaimana jika Gege mu yang tampan ini tiba tiba kehilangan ingatannya. Apakah kau tak merasa kasihan pada ku." gerutu Pangeran Jongsu Zu sembari memegangi kepalanya yang baru saja dipukul dengan kencang oleh Putri Beiling Zu.
"Tampan? apakah selama ini Gege melihat pantulan wajah dari kubangan air?. Jika dilihat dari sisi manapun Putra Mahkota Yunzo Zu jauh lebih tampan, dia juga baik hati dan tak narsis seperti mu." ucap Putri Beiling Zu dengan tatapan sinis. Bagaimana bisa sang ibu melahirkan anak laki laki yang sangat aneh seperti itu.
"Sudahlah kalian jangan bertengkar, saya harus segera pergi untuk menemui yang lain." ucap Xiao Ziya yang tiba tiba pergi meninggalkan Putri Beiling Zu dan Pangeran Jongsu Zu, keduanya saling bertatapan satu sama lain.
"Mengapa adik Ziya terlihat sangat terburu buru?." tanya Pangeran Jongsu Zu yang belum mengetahui jika adik tirinya itu akan kembali ke Dunia Bawah sekarang juga.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Pangeran Jongsu Zu, Putri Beiling Zu langsung berlari menyusul Xiao Ziya. Karna merasa diabaikan begitu saja sang pangeran memutuskan untuk ikut menyusul Xiao Ziya agar tau apa yang sedang terjadi saat ini. Setelah berkeliling di sekitar istana akhirnya Xiao Ziya menemukan semua orang sedang berada di ruang tamu membicarakan beberapa hal penting.
"Nona Besar Xiao Ziya memasuki ruangan!!." triak salah seorang prajurit yang berada di depan pintu masuk ruang tamu Istana Kerajaan Bulan.
Pintu ruangan tersebut terbuka dengan lebar kemudian Xiao Ziya masuk ke dalamnya, semua yang berada di dalam mengalihkan pandangan mereka ke arah Xiao Ziya.
"Selamat malam semuanya maaf karna saya mengganggu pembicaraan kalian." ucap Xiao Ziya dengan senyuman tipis. Ia merasa berat saat harus meninggalkan Dunia Manusia Abadi karna di sini ada banyak orang yang sangat menyayanginya termasuk sang ibu.
Xiao Ziya duduk di sebelah ayah dan kedua saudara laki lakinya, tiba tiba suasana di dalam ruangan itu hening tak ada orang yang membuka pembicaraan. Xiao Ziya menatap satu persatu wajah semua orang, ia menghela nafas dengan sangat berat.
"Kami sudah tau kau akan kembali malam ini, lakukanlah keponakan ku, bagaimanapun Dunia Bawah adalah tempat mu dilahirkan dan banyak orang yang membutuhkan bantuan mu di sana." ucap Ratu Min Xunzi sembari tersenyum hangat ke arah Xiao Ziya. Sang ratu mengerti bagaimana perasaan keponakannya saat itu, Xiao Ziya merasa berat karna harus pergi meninggalkan sang ibu dan saudaranya yang lain.
"Saya harap kalian semua menjaga diri dengan baik, jika ada waktu luang maka saya akan datang berkunjung." ucap Xiao Ziya dengan menundukkan kepalanya.
"Ibu akan menunggu kedatangan mu putriku, perjalanan mu masih panjang dan banyak orang yang membutuhkan bantuan mu di sana. Jika ada kesempatan ibu dan Raja Yongling Zu akan datang berkunjung, bukankah begitu suamiku." ucap Ratu Junyi Zu sembari menepuk pundak sang suami.
"Kami pasti akan datang untuk mengunjungi mu, selama kau tak ada di sini percayakan keselamatan ibu mu pada ku." ucap Raja Yongling Zu.
"Ah saya merasa sangat lega mendengar semua itu, terimakasih karna menerima saya dengan baik selama berada di Dunia Manusia Abadi ini dan maaf jika saya melakukan beberapa kesalahan." ucap Xiao Ziya dengan senyuman lebar namun air matanya jatuh, bagaimanapun sangat berat bagi gadis itu untuk meninggalkan rumah keduanya.
Ratu Junyi Zu menghampiri Xiao Ziya kemudian memeluknya dengan sangat erat, sang ratu masih merindukan putri kecilnya yang kini sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja cantik dan pemberani. Jika di izinkan Ratu Junyi Zu ingin mengambil Xiao Ziya dari Xiao Cunyu namun ia tak memiliki hak itu melakukan hal itu meski faktanya ialah wanita yang telah mengandung dan melahirkan Xiao Ziya.
__ADS_1
"Ibu akan sangat merindukan mu putri ku." ucap Ratu Junyi Zu dengan suara pelan dan punggung bergetar. Wanita itu tak dapat menahan kesedihannya lagi.
"Saya sangat menyayangi ibu, terimakasih karna telah melahirkan saya ke dunia ini. Sampaikan pesan saya pada Putra Mahkota Yunzo Zu dan Pangeran Honzi Zu bahwa saya sangat beruntung memiliki kakak laki laki seperti mereka. Ini sangat berat karna saya harus meninggalkan Beiling jiejie dan Jongsu Gege." ucap Xiao Ziya.
Ratu Junyi Zu melepaskan pelukannya kemudian mencium pipi kanan dan pipi kiri Xiao Ziya, entah berapa lama ia harus menunggu hingga putrinya itu datang menemuinya lagi.
"Membantu orang lain adalah tugas yang mulia namun jangan pernah melupakan bahwa keselamatan mu jauh lebih penting dari segalanya. Ibu tak ingin mendengar kabar bahwa kau terluka dalam sebuah pertarungan, jadilah lebih kuat dan lindungi semua orang yang kau sayangi di sini ibu akan selalu menunggu mu." pesan Ratu Junyi Zu pada Xiao Ziya.
"Baiklah saya akan mengingat pesan ibu dengan baik." jawab Xiao Ziya.
Semua orang keluar dari ruang tamu dan pergi menuju halaman depan Istana Kerajaan Bulan untuk melepas kepergian Xiao Ziya, para pelayan dan prajurit yang bertugas di dalam istana susah berbaris dengan rapi di halaman depan. Ribuan penduduk yang mendengar kabar bahwa pemimpin baru mereka harus kembali ke dunia bawah malam ini juga merasa sangat sedih, walaupun Xiao Ziya sangat jarang berasa di wilayah kekuasaannya sendiri namun ia selalu melindungi semua orang.
Saat ini semua orang telah berkumpul, Xiao Ziya menatap ke arah para prajurit dan pelayan dengan tatapan bingung. Apa yang sedang mereka lakukan? apakah mereka juga ingin mengantar kepergiannya menuju Dunia Bawah?.
Tiba tiba saja seluruh penduduk Kerajaan Bulan yang berada di luar gerbang masuk istana membungkukkan badan mereka di susul oleh para prajurit dan juga pelayan.
"Sangat berat bagi kami melepas kepergian Nona Besar Xiao Ziya, meskipun Anda baru saja menjadi pemimpin Kerajaan Bulan namun Anda adalah sosok pemimpin yang sangat baik dan bertanggung jawab. Terimakasih atas pengabdian Anda selama beberapa bulan untuk kerajaan ini, kami tak akan pernah melupakan sosok gadis pemberi seperti Anda. Jika suatu hari ada kesempatan maka datanglah ke kerajaan ini dan kami semua akan menyambut kedatangan Anda dengan penuh suka cita. Hanya itu saja yang bisa kami sampaikan, semoga Nona Besar Xiao Ziya selalu dalam lindungan Sang Pencipta Alam Semesta." ucap seluruh penduduk Kerajaan Bulan secara bersamaan.
"Kami para prajurit dari Kerajaan Bulan merasa tersanjung karna bisa melayani Nona Besar Xiao Ziya meski dalam waktu yang singkat, terimakasih karna telah memperlakukan kami layaknya manusia. Selama Anda tak ada di sini maka kami semua akan menjaga keamanan dan kedamaian Kerajaan Bulan dengan segenap hati. Terimakasih atas pengorbanan yang telah Anda lakukan untuk kami semua!." ucap para prajurit Kerajaan Bulan dengan tegas dan suara lantang.
"Sebagai seorang pelayan yang bekerja dalam sebuah kerajaan baru kali ini kami merasa begitu bersemangat untuk melakukan pekerjaan yang ada, Nona Xiao Ziya selalu memperlakukannya kami dengan baik dan memberikan kelayakan pada kami semua. Terimakasih banyak, berkat Anda kami tak perlu menderita lagi di bawah kaki raja sebelumnya. Semoga Nona Xiao Ziya dapat menjalani hidup dengan baik dan mendapat kebahagiaan." ucap para pelayan yang bekerja untuk Istana Kerajaan Bulan.
Xiao Ziya tersenyum lebar saat mendengar kata kata yang mereka semua sampaikan untuknya, Xiao Cunyu, Ratu Junyi Zu, dan yang lain sampai meneteskan air.
"Saya merasa sangat berat untuk meninggalkan kalian semua namun ada tugas lain yang sudah menunggu saya. Terimakasih atas perhatian kalian semua, saya harap untuk kedepannya Kerajaan Bulan bisa berkembang dan menjadi sebuah kerajaan yang disegani oleh yang lain. Setelah kepergian saya, tahta Kerajaan Bulan akan saya serahkan pada Ratu Min Xunzi dan Raja Min Lunxi jadi jika kalian tak perlu merasa cemas jika ada pihak luar yang ingin merusak tatanan di kerajaan ini." ucap Xiao Ziya.
Xiao Ziya menatap ke arah ayah dan juga kedua kakak laki lakinya, ia memberikan instruksi agar mereka mendekat ke arah gadis itu. Xiao Ziya menggenggam tangan sang ayah dan kedua kakak laki lakinya kemudian gadis bersiap untuk membaca mantra teleportasi.
"Sampai jumpa semua, jaga diri kalian baik baik." triak Xiao Ziya dengan suara kencang kemudian mulai membaca mantra teleportasi.
Xiao Ziya, Xiao Cunyu, Xiao Xun, dan Xiao Yun menghilang dari hadapan semua orang. Setelah kepergian mereka berempat, semua orang yang masih berada di halaman depan Istana Kerajaan Bulan menangis sejadi-jadinya.
"Huwaaaaaa adik Ziya." tangis Pangeran Jongsu Zu yang langsung duduk di rerumputan yang ada di halaman depan istana.
"Mengapa kau menangis seperti anak kecil." ucap Putri Beiling Zu, ia juga menangis namun tak seheboh Pangeran Jongsu Zu.
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku kehilangan adik secantik Xiao Ziya, apa kau tak tau bahwa aku sudah bosan melihat wajahmu itu." ucap Pangeran Jongsu Zu dengan ekspresi kesal yang ia tujukan pada Putri Beiling Zu.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.