
Mokuzo sang naga hitam terbang ke atas langit dengan mengepakkan kedua sayap besarnya, naga hitam itu menatap tajam ke arah orang orang yang berani meremehkan nona besarnya itu. Mokizo menyemburkan api panas beberapa kali ke arah pasukan yang dibawa oleh Raja Anling Zee, ribuan di prajurit dalam pasukan itu mengalami luka bakar yang sangat serius pada serangan ketiga dari Mokuzo dan mati saat Mokuzo menyerang mereka lagi. Piton salju milik Xiao Ziya membekukan setiap prajurit musuh yang ia temui lalu menghancurkannya menjadi serpihan es dengan ukuran yang sangat kecil. Serigala es dan Serigala api menyerang secara bersama sama, mereka mampu mengalahkan beberapa Jenderal Besar dari Kerajaan Bulan. Tanduk tajam dari banteng hitam besar menembus perut dan kepala beberapa prajurit di pihak musuh, naga putih juga terus menyerang dengan sangat agresif. Situasi semakin memanas Raja Anling Zee tak menyangka binatang binatang itu memiliki kekuatan yang lebih kuat dari pasukannya, jika hal ini terus berlanjut ia akan kalah dan Kerajaan Bulan akan jatuh ke tangan Xiao Ziya.
"Sialan, semuanya benar benar kacau." ucap Raja Anling Zee dengan raut wajah panik, ia melihat kesana kemari tak ada celah untuk kabur.
Xiao Ziya dan harimau kesayangan masih memantau dari jarak aman, gadis itu melihat ke arah Raja Anling Zee yang sedang kebingungan. Awalnya Xiao Ziya hanya ingin membunuh seratus ribu prajurit dari pihak musuh, namun karna Raja Anling Zee sangat menyebalkan akhirnya Xiao Ziya berniat untuk menghabiskan mereka semua tanpa terkecuali.
"Kau liat pria yang sedang kebingungan itu Zier?." tanya Xiao Ziya pada harimau kesayangannya itu.
"Saya melihatnya nona." jawab Zier.
"Bunuh dia untuk saya, saya sangat malas mengotori tangan saya dengan darah busuknya." ucap Xiao Ziya yang akhirnya memberikan sebuah perintah untuk Zier. Sedari tadi harimau itu menunggu untuk ikut dalam pertarungan seperti teman temannya yang lain, namun nona besarnya meminta Zier untuk menunggu sampai diberikan tugas.
"Saya akan membunuhnya dengan kejam, dia adalah pria yang telah menculik adik laki laki anda." jawab Zier dengan semangat membara, dengan kecepatan maksimal Zier berlari ke arah Raja Anling Zee dan mengigit leher pria itu dengan kuat.
Raja Anling Zee mengerang kesakitan, pria itu berusaha melepaskan gigitan harimau itu. Zier melepaskan gigitannya, perkataan nona besarnya benar darah dari pria ini sangatlah busuk dan menjijikkan.
"Pergilah harimau sialan." umpat Raja Anling Zee pada Zier dengan tatapan kesal. Ia sedang memikirkan cara untuk kabur namun diganggu oleh harimau itu.
"Saya akan mengambil nyawa anda untuk Nona Ziya." ucap Zier yang kembali menyerang Raja Anling Zee dengan cakar cakar besar dan tajamnya itu.
Pasukan sekutu Xiao Ziya yang masih beristirahat di markas melihat semua itu, mereka benar benar takjub dengan kekuatan yang di miliki oleh Xiao Ziya. Menaklukkan binatang iblis ataupun binatang ilahi bukanlah hal yang mudah, mereka akan mengakui seorang manusia sebagai tuan atau nonanya jika manusia itu sangat kuat seperti standar yang telah mereka tetapkan. Tuan Muda Min Xome pernah melawan seekor naga dengan tingkatan di bawah naga hitam milik Xiao Ziya, sangat disayangkan pemuda itu kalah dari sang naga dan gagal memiliki binatang setia.
"Seberapa kuat adik sepupu?." tanya Min Xome pada dirinya sendiri, ia ingin tau batas kekuatan dari Xiao Ziya. Min Xome merasa heran, bukankah setiap orang memiliki kelemahan? namun apa kelemahan dari Xiao Ziya.
"Dia jauh ada di atas kita, sepertinya kita perlu berlatih lebih keras lagi agat setara dengan adik sepupu." ucap Tuan Muda Min Wungi dengan senyuman tampannya, mungkin saja kehidupan yang dijalani oleh Xiao Ziya sangatlah berat hingga tumbuh menjadi sekuat itu.
"Kau benar adikku, kita akan berjalan bersama dengan adik sepupu." ucap Tuan Muda Min Xome penuh dengan semangat. Setelah kembali ke wilayah penyihir hitam nanti, ia akan memulai pelatihan yang lebih keras daripada biasanya.
Jumlah pasukan Kerajaan Bulan semakin berkurang secara drastis, para Jenderal Besar yang ikut serta dalam peperangan juga tersisa beberapa orang lagi. Semangat juang dari pasukan Kerajaan Bulan sudah mulai menghilang, para prajuritnya tak bisa melakukan perlawanan yang lebih karna mereka terlihat sangat lelah. Binatang setia milik Xiao Ziya terus menyerang tanpa mengenal ampun, sepertinya mereka mempunyai dendam tersendiri ada orang orang itu.
"Tolong ampuni saya dan yang lain." ucap Raja Anling Zee, tubuh pria itu penuh dengan luka cakaran. Ia tak ingin melihat pasukannya mati dengan sia sia, Kerajaan Bulan tak boleh jatuh di tangan Xiao Ziya. Apa yang harus Raja Anling Zee katakan lada leluhurnya nanti saat mereka bertemu di alam kematian?.
"Anda yang sudah memulai semua ini, ada harga yang harus anda bayar setelah menantang saya dan rekan saya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman miring dan mata yang tiba tiba saja berubah menjadi hitam seluruhnya.
Raja Artur yang berada di dalam markas milik Kerajaan Bulan melihat perubahan Xiao Ziya, dengan segera Raja Artur menghampiri gadis itu jika tidak Xiao Ziya akan benar benar menggila. Siapa yang menyangka mata iblis milik leluhur tertua dari alam neraka diturunkan langsung untuk gadis itu, mata hitam dengan aura membunuh yang dapat menghilangkan nyawa seorang dewa hanya dengan satu kedipan mata saja. Mata iblis itu gagal di dapatkan oleh Raja Artur entah dengan alasan apa leluhur tertuanya malah memberikan pada Xiao Ziya.
__ADS_1
"Cepat tutup mata Xiao Ziya dengan apapun!!!." triak Raja Artur pada rekannya yang ada di dalam pertarungan bersama dengan Xiao Ziya.
Mendengar teriakan dari Raja Artur membuat semua orang menghentikan pertarungan mereka dan fokus ada Xiao Ziya. Ratu Rexuca, Ratu Min Xunzi, dan Raja Min Lunxi tak mengerti mengapa Raja Artur meminta mereka untuk menutup mata dari Xiao Ziya. Ratu Rexuca gemetaran saat bertatapan langsung dengan mata iblis milik Xiao Ziya yang masih aktif itu, untunglah Raja Artur segera datang dan menutupnya dengan sebuah kain berwarna hitam pekat.
"Apa yang terjadi!!." triak Ratu Min Xunzi dari kejauhan karna dia masih melanjutkan pertarungan dengan beberapa prajurit Kerajaan Bulan.
"Jangan menatap matanya saat berwarna hitam seperti ini." ucap Raja Artur mengingatkan semua orang yang ada di sana, Raja Anling Zee merasa penasaran dengan alasan dibalik larangan itu.
"Apa yang akan terjadi jika kita menatapnya?." tanya Ratu Rexuca dengan tatapan bingung.
"Kalian akan mati dalam hitungan detik, mata ini mampu membunuh seorang Dewa Agung dengan satu kali kedipan saja. Ingat itu baik baik, kalian mengerti." ucap Raja Artur lagi dengan suara cukup keras.
"Mengapa saya masih bisa melihat mereka?." tanya Xiao Ziya. Saat semua orang sedang bingung dengan kondisi gadis itu, Xiao Ziya sendiri malah bingung karna dia masih bisa melihat semua orang meski matanya sudah di tutup dengan kain hitam yang tebal.
"Tenangkan dirimu, kau belum bisa mengendalikan mata iblis itu penerus ku." ucap Raja Artur, ia berusaha menenangkan Xiao Ziya agar tak terjadi hal hal yang tak diinginkan.
"Baiklah saya akan bertarung dengan mata tertutup saja, jadi lepaskan kain hitam ini." ucap Xiao Ziya, sangat tak nyaman mata miliknya terhalang oleh kain seperti itu.
Mau tak mau Raja Artur menuruti permintaan Xiao Ziya, jika tidak gadis itu akan semakin marah dan melesakkan kekuatannya lagi. Setelah kain hitam itu dilepas, Xiao Ziya langsung memejamkan matanya gadis itu menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan.
"Kami masih bisa bertaring dengan penuh semangat saat ini." ucap Ratu Min Xunzi yang tak mempermasalahkan hal tadi.
Xiao Ziya mengambil sebuah pedang dari dalam cincin semestanya, pedang berwarna emas dengan cahaya yang sangat menyilaukan. Pedang itu Xiao Ziya dapatkan setelah ia menjadi Dewi Agung dari Alam Dewa Dewi, melihat pedang itu membuat Raja Anling Zee semakin bingung. Bukankah Xiao Ziya penerus dari Raja Artur dari alam neraka? lalu mengapa gadis itu memiliki pedang suci dari alam dewa, sebenarnya siapa yang sedang mereka lawan itu. Raja Artur memutuskan untuk ikut bertarung bersama yang lain, ia akan memastikan Xiao Ziya dalam kondisi aman dan amarah yang stabil.
Peperangan masih berlangsung hingga malam tiba, jumlah pasukan dari Kerajaan Bulan tersisa dua puluh ribu prajurit saja dengan tiga Jenderal Besar dan Raja Anling Zee yang masih bisa bertahan hidup hingga sekarang. Setidaknya Raja Anling Zee memiliki semangat untuk tetap hidup dan terus melawan Zier meski hasilnya akan tetap sama, pria itu lambat laun akan kehabisan darah dan sampai ke kondisi kritisnya.
"Mengapa saya bisa kalah seperti ini." ucap Raja Anling Zee, tubuh pria itu terbaring lemah di atas tanah dengan darah yang terus mengalir keluar dari tubuhnya.
Sebelum menjawab pertanyaan dari pria itu, Xiao Ziya memasukkan semua binatang setianya kedalam cincin semestanya lagi. Xiao Ziya berterimakasih karna ketujuh binatang setianya telah bertarung dan mengalahkan banyak prajurit, kini saatnya mereka untuk beristirahat di dalam cincin semesta milik Xiao Ziya dan memulihkan tenaga.
"Jika nona besar memerlukan bantuan, kami siap membantu anda kapanpun." ucap Mokuzo yang mewakili teman temannya yang lain.
"Beristirahatlah dengan baik, kalian telah berjuang sangat keras hari ini." ucap Xiao Ziya dengan senyuman senang kemudian memasukkan mereka semua kedalam cincin semestanya.
"Anda ingin tau mengapa anda tak bisa mengalahkan kami?." tanya Xiao Ziya dengan tatapan dingin yang ia berikan pada Raja Anling Zee.
__ADS_1
"Katakan darimana kau berasal." bentak Raja Anling Zee dengan semua kekuatan yang masih tersisa.
"Anggap saja saya adalah malaikat kematian mu." jawab Xiao Ziya, gadis itu membuka matanya yang masih berwarna hitam. Seketika tubuh Raja Anling Zee membeku, dalam hitungan dua detik pria itu tak bernafas lagi.
"Kami semua mengaku kalah!!!." ucap dua puluh ribu prajurit Kerajaan Bulan yang masih tersisa, mereka akan tunduk pada pemimpin baru daripada mati seperti rekan yang lain.
Xiao Ziya menatap dua puluh ribu pasukan Kerajaan Bulan, gadis itu pergi menemui Ratu Rexuca dan Ratu Min Xunzi untuk meminta pendapat mereka berdua. Apakah dua puluh ribu prajurit itu pantas dimaafkan ataukah tidak, bagaimana jika mereka melakukan pemberontakan suatu hari nanti ketika Xiao Ziya sudah kembali ke dunia bawah?.
"Apa saya harus mengampuni nyawa mereka, atau membunuh mereka semua tanpa menyisakan satu orang pun?." tanya Xiao Ziya pada Ratu Rexuca dan Ratu Min Xunzi yang berada di depan gadis itu.
"Sangat sulit memutuskannya." ucap Ratu Min Xunzi, ia tak yakin harus memberikan saran seperti apa mengenai hal ini.
"Apa yang sedang kau pertimbangkan mengenai mereka?." tanya Ratu Rexuca, ia ingin tau hal hal yang masih menjadi kekhawatiran Xiao Ziya jika ingin memberi pengampunan pada dua puluh ribu prajurit Kerajaan Bulan itu.
"Mereka akan berkhianat suatu hari nanti, mereka akan membocorkan formasi perang yang pernah saya gunakan, mereka akan menjual informasi mengenai saya pada orang lain." jawab Xiao Ziya dengan singkat, dan jelas. Mempercayai orang orang yang pernah menjadi musuh dalam satu medan perang bukanlah hal yang baik. Mereka pasti memiliki dendam yang di simpan di dalam hati, entah karna kerajaan yang mereka junjung tinggi menjadi hancur, ataupun karna kematian rekan rekan seperjuangan mereka.
"Jika hal itu yang anda cemaskan, anda memiliki dua pilihan." ucap Ratu Rexuca.
"Pilihan apa?." tanya Xiao Ziya pada Ratu Rexuca.
"Pertama kau bisa membunuh mereka semua tanpa menyisakan satu orang pun, atau kau akan membuat segel perjanjian pada dua puluh ribu prajurit itu. Dengan segel perjanjian, siapapun yang berani menghianati mu akan mati dengan mengenaskan." ucap Ratu Rexuca, hanya itu saja yang bisa ia sarankan pada Xiao Ziya.
Xiao Ziya tampak terdiam sejenak, gadis itu masih memikirkan beberapa hal yang perlu ia pertimbangkan lagi. Dua puluh ribu prajurit itu akan berguna untuknya, akan tetapi segel perjanjian hanya akan aktif sesudah mereka membocorkan informasi ataupun berencana untuk menghianati Xiao Ziya. Gadis itu tak ingin mengambil resiko yang lebih tinggi, soal para penghianat ia bisa mengatasi dengan mudah lagipula Kerajaan Bulan masih memiliki ratusan ribu prajurit di dalam wilayah mereka. Jika informasi mengenai cara Xiao Ziya berperang dan kartu as apa saja yang dimiliki oleh gadis itu sampai bocor ke pihak lain, maka Ziya akan kesulitan menghadapi musuhnya yang lain.
"Bunuh saja mereka semua, jangan sisakan satu orang pun." ucap Xiao Ziya, gadis itu menyerahkan kedua puluh ribu pasukan Kerajaan Bulan yang masih hidup pada Pasukan Neraka dan Pasukan Kerajaan Hitam.
"Baik kami mengerti nona Ziya." ucap kedua kelompok prajurit itu, mereka langsung menyerang tanpa ampun pihak musuh.
"Mengapa keputusan itu yang kau ambil gadis nakal?." tanya Raja Artur pada Xiao Ziya dengan tatapan bingung.
"Mereka bukanlah orang orang yang bersedia setia pada saya." jawab Xiao Ziya dengan senyuman tipis, tatapan kebencian dari dua puluh ribu prajurit Kerajaan Bulan dapat dilihat dengan jelas oleh gadis itu.
Peperangan antara Xiao Ziya dan Kerajaan Bulan akhirnya selesai dengan kemenangan di pihak Xiao Ziya. Gadis itu meminta pasukan sekutunya untuk kembali ke markas dan beristirahat untuk beberapa hari, Xiao Ziya dan beberapa pemimpin akan pergi ke Kerajaan Bulan untuk mengumumkan kekalahan Raja Anling Zee pada penduduk Kerajaan Bulan. Setelah itu Xiao Ziya akan membuat pesta perayaan kemenangannya di aula utama Kerajaan Bulan, siapapun yang menentang kemenangan gadis itu pasti akan berakhir dengan tragis.
Hai hai semua author balik lagi nih, gimana kabar kalian semoga sehat selalu ya. Jangan lupa follow buat yang belum, vote karna wajib, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga ya.
__ADS_1