
Karna di sana ada banyak sekali bangunan bangunan yang berdiri dengan lahan yang cukup luas. Karna tak ingin sampai salah memasuki rumah akhirnya Xiao Ziya bertanya pada prajurit yang ia bayar tadi. Prajurit itu berkata bahwa kediaman bangsawan Mung-e bercat biru tua.
"Mari kita cari rumah kekasihmu jiejie." ucap Xiao Ziya yang langsung melesat pergi diikuti Xiao Yuna dibelakangnya.
Setelah sekian lama mencari cari kediaman Bangsawan Mung-e akhirnya ketemu. Disana penjagaanya juga sangat ketat Xiao Ziya langsung mendarat di halaman belakang Kediaman Bangsawan Mung-e. Xiao Yuna sedikit kesulitan mengimbangi kecepatan dari Xiao Ziya sehingga gadis itu ketinggalan di belakang.
"Sepertinya Yuna Jiejie ketinggalan." ucap Xiao Ziya menepuk jidatnya karna ia sampai lupa bahwa bukan dia sendiri yang datang kesana.
Karna tak ingin ada hal buruk yang terjadi pada jiejienya akhirnya Xiao Ziya menyusul kakak sepupunya itu. Benar saja Xiao Yuna tampak kebingungan saat kehilangan jejak sang adik. Untung saja belum ada yang menyadari kehadiran gadis itu.
"Kenapa jiejie bisa tertinggal." ucap Xiao Ziya yang sangat gemas dan langsung menarik tangan jiejienya itu agar tak tertinggal lagi.
Kini kedua gadis itu sudah ada di halaman belakang kediaman Bangsawan Mung-e. Xiao Ziya memikirkan sebuah cara agar mereka bisa masuk kedalam karna sebentar lagi pagi akan datang.
"Aku ingin bertemu dengan Muyen." ucap Xiao Yuna yang sudah tak sabar dan hendak pergi menemui kekasihnya namun dicegah oleh Xiao Ziya karna mereka bisa ketauan bila tergesa gesa seperti itu.
Xiao Ziya melihat ada dua pelayan yang ingin menjemur cucian basah di halaman belakang. Xiao Ziya mendekati kedua pelayan itu saat mereka ingin berteriak Xiao Ziya membungkam mulut mereka.
"Husst kalian diamlah kami bukan orang jahat." ucap Xiao Ziya yang memperingatkan kedua pelayan itu untuk tak berteriak. Kedua pelayan itu menganggukkan kepala mereka dengan patuh, Xiao Ziyapun melepaskan tangannya yang tadi sempat membungkam mulut mereka.
"Apa yang nona nona ini lakukan di Kediaman tuan Murong Xu, dan siapa kalian mengapa kalian berdua memakai cadar?." tanya salah satu pelayan yang ingin memastikan bahwa kedua gadis yang ada di hadapannya bukanlah orang jahat.
Xiao Ziya menunjukkan token identitasnya sebagai master dari Akademi Kekaisaran Qiyu. Kedua pelayan itu mengangguk paham mereka mengerti jika kedua gadis yang ada di hadapan mereka adalah teman dari tuan muda Muyen.
"Bagaimana kalian bisa menembus keamanan yang begitu ketat bukankah itu sangat berbahaya?." tanya pelayan yang satunya, karna ia tau penjagaan di wilayah para bangsawan sedang diperketat.
"Itu bukan masalah untuk kami, jika saya boleh tau apa alasan Muyen diminta kembali kerumahnya dengan tergesa gesa?." tanya Xiao Ziya yang ingin mengetahui alasan apa yang membuay Muyen pergi begitu saja namun tak berpamitan pada saudarinya.
"Tuan muda Muyen mendapat titah dari Kaisar Lu Yunha untuk bertunangan dengan Putri Lu Yu." jawab pelayan itu dengan raut wajah sedih.
"Apakah dia menerima titah itu?." tanya Xiao Yuna dengan suara yang bergetar karna sedang menahan tangisnya.
"Tidak, tuan muda selalu berkata ia sudah memiliki kekasih dan ia hanya ingin menikah dengan kekasihnya itu. Namun kondisi mendesaknya Kaisar Lu Yunha mengancam akan membunuh seluruh anggota keluarganya jika tuan muda Muyen menolak." ucap pelayan itu yang merasa kasihan dengan tuan muda mereka.
"Ah saya kekasihnya." ucap Xiao Yuna yang sudah tak bisa membendung air matanya. Ternyata kekasihnya tetap memegang janji yang telah ia buat.
Kedua pelayan itu tampak terkejut saat salah satu dari gadis yang ada di depan mereka adalah kekasih dari Muyen. Xiao Ziya dan Xiao Yuna melepas cadar mereka. Pelayan itu tambah terkejut karna kedua gadis itu sangat cantik.
"Saya Xiao Ziya putri dari Ketua kelima Klan Xiao sekaligus adik dari Kaisar Yan." ucap Xiao Ziya yang memperkenalkan dirinya pada kedua pelayan itu.
"Perkenalkan saya Xiao Yuna putri satu satunya dari ketua ke dua Klan Xiao, sekaligus kekasih dari Muyen." ucap Xiao Yuna yang memperkenalkan dirinya dengan suara yang gemetar.
__ADS_1
"Ah kami hanya pelayan rendahan senang bisa berkenalan dengan nona nona ini." ucap kedua pelayan itu dengan serempak.
Xiao Ziya memberikan masing masing seratus koin emas pada kedua pelayan itu dan ia meminta pada kedua pelayan agar mau meminjamkan baju mereka. Xiao Ziya mengganti baju pelayan itu dengan dua gaun yang ia beli beberapa hari yang lalu.
"Trimakasih nona, kami akan membantu nona." ucap kedua pelayan itu yang ternyata memiliki baju pelayan cadangan.
Xiao Ziya dan Xiao Yuna sudah memakai baju pelayan dari kediaman Bangsawan Mung-e. Baju pelayan yang mereka kenakan cukup bagus dengan warna biru cerah yang terlihat ceria.
Xiao Ziya pergi dengan seorang pelayan yang ia bayar untuk membersihkan ruang kerja Murong Xu mungkin dengan melakukan hal itu ia bisa menemukan informasi yang penting. Sedangkan Xiao Yuna dan pelayan yang satunya mengantar sarapan untuk Muyen yang sedang mengurung dirinya di dalam kamar.
Saat membersihkan ruang kerja milik Murong Xu, tiba tiba saja Murong Xu masuk keruangan itu bersama Linsinhu yaitu istrinya sendiri.
"Kau tak bisa memaksa putramu untuk bertunangan dan menikah dengan wanita yang tak ia cintai." ucap Linsinhu yang sedang marah pada suaminya. Ia tak ingin hidup putra ketiganya hancur.
"Apa kau tak dengar Kaisar Lu Yuhna mengancam akan membunuh kita semua jika tak menuruti keinginanya." ucap Murong Xu yang terlihat sangat gusar karna tak bisa berbuat apa apa.
Mereka berdua tetap berdebat dalam jangka waktu yang sangat lama. Sedangkan saat ini Xiao Yuna dan pelayan yang satunya sedang berada di depan kamar Muyen. Mereka sedang mengetuk ngetuk pintu namun tak juga ada jawaban.
"Tuan muda kami datang mengantarkan sarapan." ucap pelayan yang mendampingi Xiao Yuna.
"Bawa kembali aku tak ingin makan apapun." ucap Muyen dari dalam kamarnya ia sangat tak berselera makan dan sangat merindukan kekasihnya.
"Lebih baik aku sakit daripada harus bertunangan dan menikah dengan putri Lu Yu." ucap Muyen yang ingin kabur dari rumahnya namun penjagaan yang sangat ketat membuatnya gagal.
Karna merasa gemas dengan tingkah sang kekasih Xiao Yunapun mendobrak pintu kamar Muyen dengan paksa.
"Sudah ku bilang jangan masuk aku ingin sendirian." ucap Muyen yang terlihat kesal saat seseorang mendobrak pintunya.
"Hei aku sudah jauh jauh datang kesini dan kau malah mengusirku baiklah aku akan pulang." ucap Xiao Yuna yang sedang menatap Muyen yang tengah berbaring itu dengan kesal.
Muyen yang sangat mengenali suara dari kekasihnya langsung membalikkan badan dan melihat kearah pintu kamar yang terbuka. Disana ia melihat wajah wanita yang ia cintai wanita kedua yang ia cintai setelah ibunya itu.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini?." tanya Muyen yang tak percaya bahwa gadis yang ada di hadapannya itu adalah kekasihnya.
"Apa kau lupa aku memiliki saudari yang luar biasa." ucap Xiao Ziya yang membuat Muyen langsung mengerti bahwa kekasihnya tak datang sendirian.
Muyen langsung berdiri dan menghampiri Xiao Yuna yang masih tetap pada posisinya itu. Muyen memeluk Xiao Yuna dengan erat ia begitu senang melihat gadis itu ada di hadapannya.
"Maaf aku telah pergi tanpa berpamitan padamu, aku tak sanggup pergi bila melihatmu." ucap Muyen yang menangis di dalam pelukan Xiao Yuna begitupun dengan gadis itu.
"Kau tak tau aku sangat khawatir, bagaimana jika sesuatu terjadi padamu." ucap Xiao Yuna yang merasa lega kekasihnya baik baik saja.
__ADS_1
Pelayan yang ada di belakang merekapun ikut menangis karna merasa terharu dengan perjuangan kekasih tuan mudanya itu untuk sampai di kediaman Bangsawan Mung-e.
Sedangkan saat ini Xiao Ziya masih berada di ruang kerja Murong Xu, suami istri itu masih bertengkat hingga saat ini dan membuat Xiao Ziya merasa sangat kesal. Gadis itu melempar sapu yang ia pegang di hadapan suami istri itu.
Murong Xu dan Linsinhu sangat terkejut dan langsung menatap ke arah Xiao Ziya.
"Apa yang kau lakukan?." tanya Murong Xu yang mengira bahwa pelayannya itu tak sengaja melakukan hal tersebut.
"Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar, apa kalian fikir dengan bertengkar seperti itu pemasalahan Muyen akan selesai." ucap Xiao Ziya yang menunjukkan identitasnya dengan terang terangan. Ia sudah muak mendengar pertengkaran suami istri yang tak berguna.
"Kau siapa?." tanya Linsinhu yang merasa asing dengan wajah Xiao Ziya.
"Tunggu sebentar saya ingin berganti pakaian." ucap Xiao Ziya yang pergi ke kamar pelayan yang ia bayar dan mengganti pakaian pelayan itu dengan seragam master miliknya. Lalu ia kembali ke ruang kerja Murong Xu.
"Saya Xiao Ziya adik sepupu dari kekasih putra anda." ucap Xiao Ziya yang memperkenalkan dirinya dengan singkat.
"Lalu dimana kekasih putraku?." ucap Linsinhu yang tampak begitu bersemangat. Adik sepupunya sangat cantik dan lucu pasti kekasih dari putranya juga cantik.
"Mungkin mereka ada di kamar?." ucap Xiao Ziya yang juga tak tau dimana mereka berdua berada.
Akhirnya Xiao Ziya, Murong Xu, Linsinhu, dan pelayan yang dibayat oleh Xiao Ziya pergi ke kamar Muyen benar saja saat sampai di sana Muyen dan Xiao Yuna masih berpelukan dan menangis bersama sama.
Akhienya Murong Xu meminta mereka semua untuk berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan hal yang sangat penting, semua anggota keluarga Bangsawan Mung-e berkumpul.
"Baiklah bagaimana cara kalian bisa masuk kedalam kediaman ini tanpa diketahui siapapun?." tanya Murong Xu yang merasa penjagaan kediaman Mung-e sudah sangat ketat. kaisar Yunha saja tak bisa masuk kedalam tanpa izinnya.
"Selama ada Master Ziya maka semua ketidak mungkinan akan menjadi mungkin." ucap Muyen yang tersenyum kearah Xiao Ziya, ia sangat bertrimakasih karna Xiao Ziya mau mengantar kekasihnya dengan selamat.
Anggota keluarga Muyen yang belum tau siapa master Ziya dan mana yang bernama Master Ziya hanya bisa menyimak saja.
"Apakah yang kau sebut master itu juga ada di sini?." tanya Murong Xu yang ingin tau.
Muyen menunjuk kearah seorang gadis yang duduk di sebelah kiri Jinlie, sontak semua terkejut karna yang Muyen panggil dengan sebutan Master Ziya adalah seorang gadis yang baru berusia sebelas tahun. Jika dilihat dari aura yang memancar dari tubuh Xiao Ziya dia memang terlihat sangat kuat.
"Maaf atas kelancangan kami pada master." ucap Linsinhu yang merasa tak enak karna sudah bertengkar dengan suaminya dihadapan seorang master.
"Baiklah apakah kalian memang tak memiliki rencana untuk melawan titah kaisar sialan itu?." tanya Xiao Ziya. Anggota bangsawan Mung-e melihat Xiao Ziya dengan pandangan yang sulit diartikan karna gadis itu dengan berani menghina kaisar.
**Hai hai guys maaf ya kalau agak gimana gitu alurnya aku tuh sebenarnya agak ga enak badan tapi ga mungkin ga up nanti ngecewain kalian jadi otakku kan agak lag kalau ada yang ga nyambung ya mohon maaf.
Jangan lupa follow aku yang belum follow, vote novel aku ya, gift hadiah apapun, like like like, komen buat ninggalin jejak, rate bintang lima, share juga. Jangan lupa like 10 kali game ganti bajuku yang ada di profil**
__ADS_1